Perempuan merelakan bagian tubuhnya yang paling istimewa, yang tak dimiliki pria, berubah, membesar, berdarah, demi seseorang yang dianggapnya paling penting. Dia harus menanggung kesakitan demi kesakitan dengan tabah. Kalau bukan karena cinta, kekuatan apa lagi yang lebih besar dari itu yang mampu memaksa manusia? Karena itulah aku bercita-cita menjadi ibu.
—Korpus Uterus, Sasti Gotama
Korpus Uterus (2025)—selanjutnya disebut KU—karya Sasti Gotama, peraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2025 untuk kategori kumpulan cerpen ini berkisah tentang Luh atau Panuluh, seorang anak laki-laki yang lahir dari hasil pemerkosaan terhadap ibunya, Kalimah, korban peristiwa kelam 1965. Sebab terlahir dari benih aparat yang melakukan kekejian, Luh mengalami penolakan dari ibunya. Setelah gagal diaborsi, dia lahir dan tumbuh tanpa kasih sayang sang ibu, lantas hidup dalam lingkungan yang keras di daerah lokalisasi Dolly yang membuatnya memutuskan menjadi seorang ahli aborsi untuk membantu perempuan-perempuan yang mengalami kehamilan tidak diinginkan. Lebih dari lima ribu janin yang telah dikeluarkannya dari rahim melalui prosedur medis secara ilegal membuatnya diburu polisi.
Luh mendapatkan keahlian itu karena kegigihannya dalam belajar secara otodidak dengan membaca banyak buku sains dan didukung oleh kebaikan seorang dokter kandungan bernama Marcia Kusmini, atau Dokter Markus, yang secara instingtif terobsesi pada aroma tubuh Luh, yang menurunkan ilmu ginekologinya. Tak sekadar cerdas mendekati genius, Luh juga mempunyai keistimewaan dari bawaan cacat pada organ telinganya yang berkemungkinan akibat percobaan pengguguran kandungan yang pernah dilakukan Kalimah, tetapi gagal. Cacat tersebut membuat daun telinga Luh berelung-relung seperti kelopak bunga lobak yang sekaligus memberinya sejenis kekuatan super bisa mendengar berbagai bunyi hingga frekuensi rendah, misalnya desir angin, kasak-kusuk di luar rumah, dan bunyi detak jantung dari jarak tertentu. Tak cuma itu, hanya dengan mendengar suara, Luh mampu membayangkan deskripsi peristiwa secara detail, kemudian merekonstruksinya secara presisi.
Diabaikan sang ibu layaknya tahi anjing tidak membuat jiwa Luh membusuk bernanah sarat dendam, tapi justru dipenuhi empati terhadap janin-janin yang terjebak di dalam perut perempuan yang tidak menghendakinya atau tidak berdaya menyelamatkannya dari kekejaman dunia. Bagi Luh, janin-janin itu sepatutnya dikeluarkan dari rahim agar tidak terlahir sebagai manusia yang hanya akan menderita seperti dirinya. Akan tetapi, meski tidak mendapatkan cinta dari sang ibu, Luh tetap tidak dapat menghapus ingatannya pada perempuan penulis roman picisan bernama samaran Mardi S. Ingatan terakhir yang tetap melekat di otak Luh adalah sosok sang ibu dalam pose nyaris telanjang tengah berdiri seorang diri di kamar hanya memakai bra dan celana dalam merah, sambil menyentuh bayangannya di cermin lemari, diiringi alunan lagu “Flamboyan” dari Bimbo yang menggema melalui gramofon. Visi terakhir atas sosok sang ibu tersebut membuat Luh berkembang menjadi lelaki aseksual yang melampiaskan hasrat pada bayangannya sendiri di cermin dengan mengenakan kutang dan sempak merah, seperti penglihatan terakhirnya atas sang ibu yang mengusirnya dengan bentakan, “Sana! Sana! Sanaaaa!” Tali pusar boleh putus, tapi ikatan batin anak dan ibu tetap kokoh. Luh mencintai Kalimah seperti tokoh dalam mitologi Yunani, Oedipus, yang mengawini Jocasta, ibunya.
Keganjilan seksual Panuluh membuatnya tidak bisa menerima cinta Kalara, gadis cantik berjantung lemah yang punya bakat menjadi pujangga. “Dia menyayangi Lara, seperti dia menyayangi Nur, seperti dia menyayangi Farida, seperti dia menyayangi Dokter Markus. Namun, sebagaimana kepada Nur, Farida, dan Dokter Markus, tak sedikit pun dia punya keinginan untuk menyentuh, apalagi bersetubuh dengan Lara. Perasaannya tak seperti yang Lara harapkan.” (hal. 196)
Di hadapan Luh yang selesai bercinta dengan bayangannya sendiri di cermin, Kalara menghadapi sakaratul maut karena syok dan patah hati melihat sepasang bra dan celana dalam merah berenda teronggok di ranjang Luh. Lara pernah mengungkapkan kepada Luh bahwa dia bercita-cita menjadi seorang ibu. Ibu dari anak-anak Luh, tentunya. Namun, akhirnya mereka hanya sepasang kehilangan yang tidak dapat bersatu. Meniru perilaku sang mentor, dokter Markus yang mengabadikan rahim ibunya di dalam stoples, Luh mengangkat rahim Lara sebelum mengubur jenazah si perawan lugu di bawah rumpun bebunga alamanda, kemboja, dan kembang sepatu bersama ribuan jasad janin hasil aborsi.
Hubungan kompleks Luh membuat saya teringat pada karakter Shangguan Jintong di dalam novel tebal Mo Yan berjudul Big Breasts and Wide Hips (1996)—selanjutnya disebut BBWH. Dalam novel ini, Jintong digambarkan sebagai anak laki-laki yang dilahirkan seorang perempuan Cina bernama Lu, hasil hubungan gelapnya dengan pastor misionaris Swedia bernama Malory. Jintong lahir dengan saudara kembar perempuannya, Yunu, yang buta, tepat saat pendudukan Jepang pada 1939. Jintong adalah anak bungsu dari sembilan bersaudara. Kedelapan kakaknya perempuan, yakni Laidi, Zhaodi, Lingdi, Xiangdi, Pandi, Niandi, Qiudi, dan Yunu. Jintong tumbuh dengan keganjilan tidak bisa lepas dari susu ibunya, bahkan hingga berusia 9 tahun, ketika payudara sang ibu tak mampu menyusuinya lagi sehingga si bocah lelaki terpaksa menyusu kepada kambing. Bagi Jintong, air susu ibunya adalah cinta, puisi, surga tertinggi, dan tanah subuh di bawah gelombang tanaman gandum yang keemasan, sedangkan payudara ibunya adalah kehidupan yang ingar bingar, gairah yang mendesak-desak (hal. 431). Kelak, ketika dia sudah berusia lebih dari lima puluh tahun dan ibunya menjelang sekarat, Jintong tetap berperilaku dan diperlakukan sebagai bayi kecil rapuh sang ibu.
KU dan BBWH sama-sama berpusat pada tokoh anak laki-laki yang terbelit hubungan psikologis yang rumit dengan sang ibu. Di luar itu, ada latar sosial politik yang memberi intervensi terhadap kehidupan mereka yang membuat tokoh-tokoh tersebut mempunyai pandangan hidup dan cara menyikapi realitas. Dalam KU, Kalimah yang kehilangan otoritas terhadap tubuhnya karena diperkosa aparat negara, menolak kehadiran sang anak, Luh. Luh yang di dalam perjalanan hidupnya menyaksikan perempuan-perempuan kehilangan hak atas rahim dan janin-janin yang dihadang nasib buruk bila terlahir sebagai manusia yang tidak diharapkan, memilih berpihak pada tindakan aborsi.
Di sisi lain, dalam BBWH, Lu yang bernama kecil Xuan’er memilih menyerahkan tubuhnya kepada lelaki-lelaki yang diinginkannya daripada kepada suami yang tidak dia cintai sehingga dia melahirkan sembilan orang anak sebagai manifestasi otonominya atas diri. Sebagai seorang ibu, dia berdiri tegak menghidupi dan membela seluruh anak-cucunya dengan penuh cinta dan kebanggaan meski harus berhadapan dengan tentara dan ancaman kematian, sekalipun mereka melakukan kesalahan dan tindakan bodoh. Shangguan Lu baru menyerah kepada maut pada tahun 1993 dalam usia 94 tahun setelah seluruh anak-cucunya direnggut kematian tragis dan hanya menyisakan seorang cucu lelaki dan si anak bungsu, Jintong, yang tetap berjiwa senaif bocah kecil pada usia 54 tahun.
Ada tiga hal menarik yang saya catat dari kedua novel luar biasa ini. Pertama, sejarah suram suatu bangsa. Kedua, otonomi atas tubuh dan pilihan hidup. Ketiga, ikatan ibu-anak, khususnya ibu dan anak laki-laki. Di KU, sejarah hadir sebagai fondasi kerangka kisah, yakni peristiwa pemberantasan orang-orang yang terlibat dalam PKI pada 1965. Pada masa itu, orang-orang yang diduga komunis dan simpatisannya ditangkap, diinterogasi, dan dijatuhi hukuman. Penculikan, pemerkosaan, hingga pembantaian massal terjadi pada masa itu. Tak hanya mengungkit kekerasan berbasis gender pasca-1965, KU juga mengungkap pemerkosaan terhadap 130 orang pada kerusuhan Mei 1998. Sementara itu, dalam BBWH, sejarah kelam Cina direntang sejak 1900, ketika invasi Jerman yang kemudian disusul penjajahan oleh Jepang, diikuti perang saudara silih berganti karena perubahan ideologi. Perjalanan panjang sejarah Cina modern tersebut dibentangkan melalui sosok perempuan tangguh Shangguan Lu dengan anak lelaki istimewanya. Hingga matanya buta dimakan usia, Lu menjadi saksi perubahan negerinya, dari dusun tradisional sampai bertransformasi menjadi kota metropolitan dengan rangkaian konflik berdarah yang menewaskan ribuan penduduk.
Isu menarik berikutnya adalah sikap atas otonomi tubuh. Dalam BBWH, kemerdekaan atas tubuh ditunjukkan melalui perbuatan Shangguan Lu yang menyerahkan diri kepada lelaki yang dia kehendaki sebagai wujud otoritas atas tubuhnya dan penolakan atas pernikahan paksa. Hal yang sama terjadi pula pada anak-anak perempuannya yang menentukan nasib sendiri, memilih suami, pekerjaan, dan paham politik, termasuk menjadi peri dan menjual diri kepada muncikari demi membeli sekeranjang bakpao untuk menyelamatkan keluarga dari mati kelaparan. Semua itu mereka lakukan dengan komitmen tinggi dan rela menanggung konsekuensinya, bahkan ketika harus mengorbankan leher mereka dipancung. Meski hidup dalam belenggu penjajahan rezim demi rezim, Shangguan Lu secara sadar merayakan kemerdekaan keluarganya. Dalam GU, otonomi atas tubuh bergelut di antara sisi-sisi yang berseberangan: hak untuk hidup dengan mematikan yang lain atau hak untuk mati agar tidak mendatangkan keburukan. Otonomi atas tubuh ini disajikan melalui tindakan aborsi yang juga terbelah antara yang proaktif dengan kontraproduktif. Polemik ini tergambar pada perdebatan Luh dan Dokter Markus:
“Orang-orang berpikir, yang penting janin harus lahir. Sebab jika diaborsi, Tuhan akan marah. Bila Tuhan marah, Dia akan mengazab si ibu dan orang-orang di sekitarnya. Mereka hanya tidak mau ikut kena azab. Bagi mereka, moral harus ditegakkan, tanpa peduli nasib si ibu dan si janin. Mau si ibu dan si janin menderita, mereka tak mau ambil pusing. Menurut saya itu sangat egois. Jadi, izinkan saya membantu si ibu dan si janin. Saya sudah belajar banyak. Saya bisa melakukannya dengan baik.”
“Sombong!” sergah Dokter Markus. “Di kota ini tak ada dokter yang lebih ahli daripada saya untuk urusan demikian. Walau begitu, cara terbaik untuk mengeluarkan bayi ya dengan cara melahirkannya. Plasenta terlepas secara alami sehingga tak ada jaringan parut. Rahim harus tetap dibiarkan indah, mulus, dan tanpa cacat sebagaimana mestinya.” (hal. 148)
Sebagai petugas medis, Dokter Markus memandang si janin harus dilahirkan sebagai bayi, sekalipun si ibu menginginkan aborsi. Namun, bagi Luh, si ibu berhak untuk mengeluarkan janin yang tidak dia inginkan ada dalam tubuhnya dan si janin pun berhak untuk tidak dilahirkan. Prinsip Luh ini sejalan dengan Lima alias Kalimah yang telah bermetaformofis menjadi aktivis perempuan Yayasan Suluh dalam memperjuangkan legalitas aborsi.
“Tanpa legalisasi, mereka akan mencari jalan secara sembunyi-sembunyi. Hasilnya? Banyak yang terkena infeksi setelah aborsi. Tapi yang begitu lebih beruntung, karena sisanya banyak pula yang mati kehabisan darah.” Lima terdiam, lalu mencondongkan tubuh ke arah Tetuko. Dia memandang tajam kepadanya. “Perempuan punya hak atas tubuh mereka sendiri. Atas rahim mereka sendiri. Anda tak punya hak untuk melarang karena bukan Anda yang menjalani.”
“Bagaimana menurut Ibu tentang hak hidup janin?” tanya Tetuko.
Lima menyandarkan kembali punggungnya ke sofa, lalu ujung bibirnya sebelah kiri terangkat. “Hak apa? Hak itu melekat pada manusia yang telah lahir. Ada manusia yang bernapas dan tengah menjalani hidup. Si ibu. Tunaikan hak mereka dulu.” (hal. 180)
Isu aborsi telah menjadi perdebatan karena persilangan pandangan berbagai pihak. Sebagian pihak menolak aborsi dengan asumsi bahwa aborsi sering dilakukan akibat kehamilan di luar pernikahan. Menormalisasi aborsi sama saja dengan mendukung perilaku seks bebas, khususnya di kalangan generasi muda. Di sisi lain, pendukung aborsi memandang aspek lain yang membuat tindakan aborsi menjadi pilihan yang layak dilakukan, misalnya kehamilan anak di bawah umur, korban pemerkosaan, jarak kehamilan yang terlalu rapat, dan lain-lain. Keberanian Sasti Gotama mengangkat dua isu sensitif ini layak diapresiasi.
Selain momok sejarah suram dan isu otonomi tubuh, hubungan problematis antara anak laki-laki dengan ibunya dalam KU sertaBBWH juga menarik untuk disorot. Melahirkan anak laki-laki telah menjadi kewajiban yang harus dipenuhi Shangguan Lu setelah terikat pernikahan sehingga dia mesti melahirkan sembilan kali sampai si anak laki-laki lahir: Jintong, si Putra Emas—meski harus “meminta” benih dari sejumlah lelaki. Hal ini membuatnya memperlakukan Jintong secara istimewa, terutama dalam pemberian privilese menyusu di luar kewajaran. Kebiasaan menyusu tersebut membuat Jintong tidak bisa mengonsumsi makanan lain dan sangat berhasrat pada payudara perempuan dalam konteks sebagai sumber air susu yang lezat. Dia tidak berhasrat kepada perempuan sebagai satu jenis kelamin, tetapi hanya suka pada payudara untuk menyusu, menyesap asupan kehidupan. Dia pun tumbuh menjadi laki-laki yang rapuh secara psikologis dan sosial. Setiap menghadapi masalah, Jintong akan pulang kepada ibunya, bahkan hingga dia menjadi laki-laki paruh baya dan ibunya telah menjadi nenek-nenek renta. Berbagai hal buruk telah dialaminya: dipukuli beramai-ramai, ditelanjangi, diperkosa perempuan mandor peternakan kerja paksa, ditipu, dihina, dilecehkan, dan sebagainya. Namun, dia tidak bisa membela diri dan akhirnya tetap “mengadu” ke dada sang ibu. Jintong mengalami apa yang disebut sindrom Peter Pan.
Hal menyedihkan juga terjadi pada diri Panuluh yang “dicampakkan” ibunya karena terlahir dari air mani sang interogator yang memperkosa Kalimah. Luh yang secara diam-diam selalu memperhatikan sang ibu yang sibuk mengarang novel porno untuk membiayai hidup, mematri penglihatan terakhirnya atas sosok sang ibu: tubuh nyaris telanjang yang memakai BH dan sempak merah. Duka hidup tanpa dekapan orang tua membuatnya tergila-gila pada bayangan di cermin itu yang lantas menjadi obsesi dan manifestasi seksualitasnya. Ketika bertemu dengan perempuan-perempuan yang secara fisik dan sosial menarik, Luh sama sekali tidak tertarik karena dalam dirinya dia telah menemukan siluet sosok yang dirindukannya itu. Panuluh mengalami apa yang disebut sindrom Oedipus Kompleks.
Hubungan patologis antara Luh dengan Lima dan antara Jintong dengan Lu membuat anak-anak lelaki itu tumbuh menjadi manusia yang tidak normal menurut nilai masyarakatnya. Mereka tumbuh menjadi pribadi-pribadi abnormal yang rentan sebagai liyan di masyarakat. Meski begitu, mereka sanggup bertahan menghadapi rintangan hidup yang demikian sulit dan merasakan kebahagiaanya sendiri.
Di luar isu-isu tersebut, saya sangat terkesan dengan kedua buku ini karena eksplorasi karakter-karakter tokoh yang unik dan komplet sehingga terasa nyata sebagai manusia yang benar-benar hidup. Gaya bahasa yang deskriptif dan imajinatif sangat membantu pembaca hanyut ke dalam dunia di dalam cerita. Nilai plus dari KU, yaitu setiap bab diberi judul-judul yang puitis dan metaforik. Juga diperkaya narasi yang sinematis, ganjil, tetapi sangat relevan dengan realitas kehidupan.
Sebelum pergi ke daerah lain untuk melanjutkan misi suci, Luh meletakkan sekuntum kembang sepatu di atas kuburan tubuh janin-janin mati (korpus uterus) di ambang senja yang ungu. Entah disengaja atau tidak, Sasti berulang kali menghadirkan objek bunga sepatu atau bunga raya, si bunga di tepi jalan. Metafora untuk jenis perempuan-perempuan yang eksis di Gang Dolly, lokalisasi prostitusi terbesar di Asia Tenggara. Juga analogis dengan organ reproduksi wanita yang menyerupai liang kuntum bunga. Metafora yang puitik sekaligus cerdik.
Padang, 2026
Ragdi F. Daye adalah penulis buku Perempuan Bawang dan Lelaki Kayu (2010), Rumah yang Menggigil (2016), Esok yang Selalu Kemarin (2019), dan Singkarak, Riang dan Sendunya (2026). Penulis yang kini tinggal di Padang ini pernah diundang di Ubud Writers and Readers Festival 2011.
Editor: Royyan Julian
Foto: Asief Abdi


