Jika kamu bertanya satu kata tentang Singaraja Literary Festival (SLF), saya akan menjawab: jambon. Warna itu, dari segala penjuru, langsung menyerbuki mata begitu saya memasuki kompleks Museum Buleleng yang menyimpan ribuan naskah lontar dan prasasti. Rona jambon memancar dari poster, baliho, kaus panitia, tanda pengenal, bahkan dari gincu dan perona pipi relawan putri yang kiyut-kiyut.
Bila peka, dalam poster SLF, kamu akan mendapati tiga jenis rona jambon: fuschia, baby pink, dan blush pink. Dari sebagian besar warna jambon itu, yang membedakannya cuma satu: kadar putih yang dituangkan ke dalam merah. Atau, bisa jadi sebaliknya, berapa banyak merah yang dipeluk putih. Saya yakin jambon dipilih sepenuh hati oleh Direktur SLF Kadek Sonia Piscayanti dengan mempertimbangkan tema festival tahun ini yang diambil dari salah satu manuskrip Gedong Kirtya Stri Sasana.
Secara etimologis, stri berarti “perempuan”, sedangkan sasana berarti “ajaran”, “etika”, atau “landasan moral”. Sebelum menghadiri acara ini, Royyan Julian, mengirimi saya buku digital Stri Sasana, teks gaguritan beserta artinya. Saya membacanya tiga kali. Pada percobaan perdana, saya hanya menangkap bahwa naskah ini berisi standar etika perempuan. Perempuan yang baik kudu begini dan begitu. Pedoman menjadi istri saleha—kalau boleh meminjam ungkapan Royyan.
Saya agak terusik karena merasa bahwa konten naskah tersebut begitu patriarkal. Dan agaknya saya tidak meyakininya sendiri. Saya tahu itu dari menguping obrolan di area makan festival, ehm. Saya—dan beberapa orang—bertanya-tanya, mengapa SLF mengangkat Stri Sasana sebagai tema besar yang kemudian dihubungkan dengan energi keseimbangan semesta. Padahal, beberapa diskusi panel menghadirkan berbagai wacana feminisme dengan pembicara para feminis. Karena penasaran, saya membaca ulang Stri Sasana dengan kepala—yang saya harap—lebih dingin. Sayangnya, kepala saya masih dikutuk kegamangan.
Saya baru menemukan sepercik petunjuk tatkala menyimak wawancara Sonia di RRI. Dalam perbincangan itu, ia mendedahkan bahwa naskah lontar tak sepatutnya dihakimi dengan kacamata masa kini—bukan berarti ia bermaksud mengagungkan seluruh manuskrip. Ia juga berpendapat bahwa feminisme tidak selalu bertentangan dengan tradisi. Justru tradisi, seperti Stri Sasana, bisa menjadi sumber pengetahuan untuk membaca ulang nilai-nilai kesetaraan dalam masyarakat.
Menurutnya, Stri Sasana juga memuat nilai ketangguhan, kebijaksanaan, dan peran perempuan. Dari pemahaman itu, ia menghadirkan ruang-ruang diskusi kritis di SLF untuk membaca ulang naskah lontar. Menurut dugaan saya, bisa jadi, karena sebagian besar belahan dunia dicengkeram gurita patriarkal, gatra-gatra dalam manuskrip yang sejatinya adil dan netral, ditafsirkan secara berbeda sehingga seolah-olah menafikan peran perempuan di semesta.
Di sela mengisi dan menghadiri diskusi panel SLF, saya mulai berselancar, mencari referensi lain di berbagai media, sebelum membaca Stri Sasana untuk ketiga kalinya. Di salah satu artikel, saya menemukan bahwa manuskrip-manuskrip lainnya kerap menghadirkan puan sebagai shakti, energi Ilahiah yang menggerakkan kehidupan. Atau dengan kata lain, energi feminin yang menjelma salah satu kekuatan esensial semesta.
Rigveda, salah satu kitab Hindu, bahkan mempersonifikasikan Vak—sabda Ilahi yang lahir dari kesadaran tertinggi dan menjadi sumber semesta—sebagai seorang dewi, putri Prajapati Daksha. Sang puan melambangkan kebenaran, kebijaksanaan, dan kekuatan sabda yang melahirkan pengetahuan serta menggerakkan jagat. Hal ini mengingatkan saya pada arketipe Bunda Agung di berbagai kebudayaan.
Dari situ, saya mulai menemukan seutas benang merah yang menghubungkan perempuan dengan semangat festival: energi keseimbangan semesta. Namun, segalanya masih terasa taksa. Dan padatnya diskusi sastra, kuliah umum, lokakarya, pameran, pertunjukan seni yang semuanya amat menarik membuat saya terkapar di kamar setiap malam sehingga tak sempat membaca ulang Stri Sasana.
Dari tiga hari berlalu-lalang, menyusup sana-sini di kawasan museum, pelan-pelan saya merasakan energi keseimbangan semesta di berbagai diskusi. Pada diskusi buku Anatomi Rasa karya Ayu Utami dan Ataraxia karya A. Setyo Wibowo, misalnya. Ayu, lewat tokoh fiksi Parang Jati menawarkan Rasa, sedangkan Setyo menyajikan stoikisme sebagai perkakas untuk menghadapi carut-marut kehidupan. Apalagi saat ini, menjadi WNI telah menjelma ibadah terberat, bahkan lebih berat ketimbang pernikahan, eh.
Dalam diskusi itu, saya agak resah dengan konsep stoikisme yang ditawarkan. Demi hidup selaras dengan alam, manusia seolah-olah diminta pasif, pasrah, tak melawan. Ibarat warna putih yang menjauhi segala warna demi mempertahankan kemurnian. Berkebalikan dengan prinsip itu, saya pikir, terkadang kegelisahan, kemarahan, dan kaos jiwa lainnya, dibutuhkan. Bukankah karena Ledakan Besar, semesta tercipta?
Kaos itu tercermin dalam konflik cerpen tiga belas emerging writers SLF pada presentasi dan diskusi karya di hari ketiga. Para penulis yang berasal dari Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur dengan lihai menyelami Stri Sasana, lantas mengupas perkara yang dihadapi tokoh perempuan yang terbelit tentakel patriarki.
Saya membayangkan kemarahan di sanubari tokoh perempuan yang terepresi bagaikan percikan jambon. Lebih tepatnya, muncratan cahaya merah yang tumpah di sanubari putih. Simbol ini tergambarkan dengan ciamik dalam pentas monolog yang menutup festival: Dur-padi. Saya pikir, konsep yang ditawarkan sutradara Putu Fajar Arcana tentang Durga sungguh cerdas. Aku bukan Drupadi yang lemah dan pasrah. Akulah Dur-padi. Durga dalam diri Drupadi. Perempuan berkekuatan semesta yang akan meleburmu dari bencana ke bencana.
Di atas panggung, Drupadi tidak berubah secara lahiriah menjadi Durga sebagaimana dr. Jekill yang menjelma Hyde. Ia tetap Drupadi yang bergaun putih, tetapi berlumur cahaya merah. Semacam laku simbolik bahwa perempuan, bahkan yang paling lembut dan putih, bila ditindas, dipermalukan, direndahkan martabatnya, akan memberontak serta menyemburkan sifat-sifat Durga: ledakan amarah, merahnya merah.
Dalam tradisi Hindu, Durga bukan semata-mata simbol amarah dan dewi perang yang memorak-porandakan semesta. Ia menghancurkan segala sesuatu tatkala dunia dikuasai angkara. Tujuannya hanya satu, yakni menjaga harmoni. Karena itu, ia berada di ruang taksa, antara ditakuti dan dihormati.
Tak seperti Drupadi yang patuh pada titah Kunti—untuk menikahi kelima putranya dan pasrah tatkala martabatnya menjadi taruhan di meja judi yang membuatnya dilecehkan Dursasana—Durga adalah sosok pemberontak. Dengan demikian, hakulyakin ia akan menolak mentah-mentah paham stoikisme meski dibujuk Epictetus atau Marcus Aurelius. Ia butuh amarah untuk menegakkan darma. Ia butuh merah paling merah demi melahirkan keseimbangan semesta.
Bila semangat perlawanan adalah napas SLF, merah agaknya menjadi warna yang lebih mendekati. Tetapi, mengapa jambon? Dalam bekap kabut pertanyaan, saya membaca ulang Stri Sasana ketiga kalinya. Dan mata saya jatuh pada bait: Tetap berpegang teguhlah pada pikiran yang dharma, bersama-sama (suami) untuk mendasarinya, jalinan cinta dalam berumah tangga (bersuami-istri), yang tak ubahnya sebagai sepasang sapi dalam membajak, supaya sama tindakannya, bersama-sama menarik, dalam satu uga dan yang dipikul adalah beban yang satu juga.
Anggaplah ini cocokologi, tapi di sini saya melihat metafora yang indah: Harmoni tercipta kala bajak dipanggul dua sapi. Keseimbangan semesta hadir bila ditopang energi feminin dan maskulin secara bersamaan. Tidak ada yang saling mengalahkan. Yang ada hanya sinergi. Keselarasan.
Dalam teropong sains, saya malah menemukan alusi yang lain. Secara biologis, dalam diri setiap manusia terdapat hormon-hormon yang mengatur femininitas dan maskulinitas. Testosteron bukan monopoli pria. Wanita pun memilikinya. Begitu juga estrogen. Tubuh pria dan wanita sama-sama memproduksi estrogen.
Kali ini izinkan saya menggunakan warna merah dan putih sebagai kiasan hormon testosteron dan estrogen. “Energi” maskulin vs. feminin. Lantas, bayangkan senyawa dua komponen itu pada setiap diri manusia bisa menghasilkan jambon beraneka rona.
Bukan mustahil, pria punya sisi feminin dan wanita punya sisi maskulin. Tak ada rona yang murni pekat merah atau pekat putih. Banyak rona di antaranya. Baby pink, blush pink, fuscia, dan saya bisa menyebutkan hingga 47 lainnya agar genap 50. Tetapi, rona manusia, saya yakin miliaran jumlahnya. Hal itu wajar belaka. Semua adalah harmoni biologis.
Saya jadi teringat tema besar SLF: energi keseimbangan semesta. Dan jasad kita adalah neraca persenyawaan yang sesungguhnya. Antara feminin dan maskulin. Antara Durga dan Drupadi. Antara merah dan putih. Dan sungguh, masing-masing kita adalah jambon, apa pun ronanya.
Sasti Gotama adalah Pemimpin Redaksi sivitaskotheka.org.
Editor: Royyan Julian
Foto: Wardedy Rosi


