Esai Budaya

Berhala Agung

Saat Namrud dan para penduduk kota pergi, Ibrahim memilih untuk tetap tinggal. Dengan kapak di tangan kanan dan keberanian di tangan kirinya, ia menghancurkan ketakutan dalam dadanya, pun semua berhala yang ada di pusat kota. Kecuali berhala paling agung, di mana ia mengalungkan kapaknya—sedang keberaniannya ia bawa pulang. Tatkala Namrud kembali dari perburuan, ia murka. Ibrahim pun dipanggil untuk diadili.

Dengan keberanian dalam genggaman, Ibrahim dengan enteng berkata kalau sang berhala agung lah yang menghancurkan berhala-berhala lain—demikianlah ia tinggal sendirian. Konyol. Mana ada berhala yang menghancurkan berhala lainnya sambil mengabaikan ke-berhala-annya sendiri? Lagi pula, bukankah ia lebih besar dibanding berhala lainnya? Bila sang berhala agung ingin menghancurkan pesaing-pesaingnya, mestinya ia bunuh diri dulu. Namun, praktik pemberhalaan macam itu bukan hanya kisah kuno dalam kitab suci.

Zaman sekarang, kita jamak menemui sekian banyak fakta saintifik untuk diberhalakan. Sampai-sampai, sains menjelma sebentuk keimanan kolot alih-alih pola pikir yang progresif. Sebagai mahasiswa biologi, rasanya cukup menyenangkan mengetahui sekian proses biologis yang mampu menjelaskan berbagai fenomena sehari-hari. Tak melulu membahas fenomena-fenomena biologis—katakanlah itu aktivitas seluler dan metabolisme, biologi kerap menawarkan satu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan lain yang tampaknya  non-biologis sama sekali.

Misalnya, mengapa manusia beragama atau kenapa manusia rela menjalani hidup berserikat dalam suatu negara dengan sekian aturan birokrasi yang rumit nan menyiksa. Demikian pula mengapa bahasa begitu adiktif bagi manusia. Jawaban-jawaban atas pertanyaan demikian, tak melulu secara fardhu dipandang dari sudut pandang suatu sistem pengetahuan yang, katakanlah, terdefinisi secara dikotomis—terkhusus dalam disiplin masing-masing sehingga terisolasi dari disiplin lainnya.

Maka, problematika agama tak hanya menyangkut perkara teologi belaka. Sebab terkadang terdapat pertanyaan-pertanyaan yang butuh bantuan disiplin lain. Sebab, tak dapat dipungkiri bahwa disiplin keilmuan apapun mestilah bersinggung-senggol dengan disiplin ilmu yang lain. Bahkan spesialisasi disiplin-disiplin tersebut merupakan konsekuensi perkembangan pengetahuan. Karenanya dalam berbagai problematika tertentu jawaban yang dibutuhkan mesti menyeberang ke berbagai domain disiplin.

Pertanyaan “mengapa manusia membutuhkan agama?” misalnya, dapat dijawab secara biologi evolusioner—bahwa ukuran komunitas meningkatkan peluang sintas suatu spesies. Yuval Harari dalam Sapiens menulis bahwa berkumpulnya individu primata di atas bilangan ratusan bahkan ribuan bukanlah sebuah perilaku “alami”. Agama, dengan berbagai mistifikasi yang dilakukannya, dengan berbagai mitos yang dijualnya, menyediakan suatu medium yang memfasilitasi terwujudnya perkumpulan individu sebesar itu—dengan hanya berlandaskan pada keberadaan suatu entitas metafisik semata.

Dengan demikian, eksistensi agama sah dipahami sebagai suatu fenomena alam yang sama naturalnya dengan keberadaan ekor merak atau nyanyian burung—setidaknya dalam hal bahwa ketiganya memberikan keuntungan tertentu dalam proses evolusi sehingga satu spesies bisa lolos seleksi alam.

Namun, mesti disadari pula kalau jawaban yang demikian tak selamanya memadai—kendati seandainya jawaban itu benar. Akan selalu tersisa pertanyaan “mengapa?”. Bila keuntungan agama semata-mata diukur dari kesuksesan eksistensi manusia sebagai sebuah komunitas, mengapa seorang muslim berkeyakinan bahwa “agamanya harus Islam”—seolah hanya beragama tak cukup memuaskan? Bukankah setiap agama yang lain sama-sama menyediakan fasilitas untuk berkumpul?

Bila secara biologis apa yang tampaknya tujuan adalah menghindari seleksi—dengan cara hidup selama mungkin setidaknya hingga berketurunan—mengapa seseorang sampai rela mengorbankan hidup hanya demi suatu gagasan bernama “agama”? Oleh karena itu, pada akhirnya kita patut bertanya: Apakah jawaban dari sekian pertanyaan berikutnya bisa dijelaskan dengan mekanisme evolusi saja? Saya kira tidak. Sebab, beragam pertanyaan tersebut seakan berwatak kontra-evolusioner, tapi dengan suatu cara, telah menjadikan militansi beragama semacam itu suatu kewajaran—kealamian yang non-alamiah.

Dari sini, disiplin lain mengambil alih—yang mungkin juga menawarkan penjelasan yang melampaui biologi. Bagaimanapun, menghasilkan jawaban yang memuaskan tak didapat dari pendekatan tunggal—sebagaimana makanan yang nikmat dibuat menggunakan bermacam bumbu dan alat masak. Maka, seperti itu pula perdebatan yang ramai berseliweran di media sosial tentang manfaat dandan bagi perempuan. Jawaban dari sudut pandang biologi—bahwa karena pejantan Homo sapiens tak tampil semarak layaknya burung-burung jantan, sehingga para betinalah yang mesti berdandan sebagai upaya menarik perhatian lawan jenis—menghasilkan jawaban yang terlampau condong pada satu kutub keilmuan; bahwa dandan ialah undangan perempuan kepada laki-laki untuk kawin—semacam memerahnya pantat pada sebagian spesies babun.

Argumen tersebut seakan mengimajinasikan bahwa kehidupan manusia hanya berkisar seputar kawin-mawin. Stitch pun bermunculan. Seorang konten kreator perempuan menandingi argumen “undangan berhubungan seks” itu dengan sudut pandang berbeda: Secara sosiologis dan psikologis, dandan menandakan status sosial; dandan ialah sebentuk medium ekspresi diri perempuan—sebuah tarikan berbeda pada kutub keilmuan lain. Pemikiran tandingan macam itu membayangkan bahwa status sosial bukanlah skenario lain dari perilaku seksual; juga ekspresi diri sebagai penanda eksistensi suatu individu seakan terlepas dari motif seksualitas.

Kedua sisi tersebut, sebetulnya sama-sama didukung sebongkah fakta, sekian judul bacaan, juga beragam teori. Keduanya, juga menjadikan disiplin ilmu tertentu sebagai dasar pijakan. Lalu, diantara gempuran kuat ombak antar-disiplin semacam itu, tak dapat dipungkiri muncul suatu kebingungan, keheranan akan bagaimana ilmu pengetahuan sebaiknya bekerja. Bila dandan semata merupakan undangan seksual betina, mengapa perempuan yang sedang tak berhasrat berhubungan seksual ikut berdandan? Bila dandan ialah sebentuk ekspresi diri, juga penegasan akan status sosial seorang betina, mengapa ekspresi semacam itu tak muncul pada jenis kelamin sebaliknya?

Maka, problematika demikian layaknya disikapi dengan pola pikir yang juga ilmiah—sama dengan fakta-fakta yang ada. Sebuah fakta dalam ranah sains bukanlah objek kultus seorang individu, sebagaimana sebuah teori bukanlah sesembahan yang diimani sepenuh hati. Dalam ranah sains, kebenaran mendapat legitimasinya dari kemungkinannya untuk diuji, dibuktikan, juga dipertentangkan. Dalam problematika dandan misalnya, terlebih dahulu mesti diakui manusia ialah hewan-yang-bukan-hewan. Secara fisik, ia tetap tersusun dari sel-sel yang melakukan metabolisme. Namun, sama pentingnya mengingat bahwa manusia bukan hanya seonggok daging yang berfungsi secara fisiologis; bahwa manusia ialah seorang akal-budi.

Sekian fakta biologis yang menegaskan kalau manusia adalah hewan di saat bersamaan menegaskan kekhasannya yang bukan-hewan. Manusia, secara khusus telah melampaui batas-batas fisik hewaninya. Akan tetapi, sejauh apapun ia melampaui batas itu, tidak ada fenomena yang menegasikan fitur biologisnya. Maksud saya, keberatan-keberatan dari sudut pandang sosiologis dan psikologis hendaknya tak serta-merta disikapi dengan “Oh, itu kan dari sudut pandang biologis. Ya sudahlah, dari sudut pandang psikologis-sosiologis seperti ini”. Reaksi-reaksi semacam itu mengasumsikan bahwa ranah keilmuan yang berbeda-beda itu tegas batas luarnya. P

Perbedaan pandang yang dianggap dari perspektif pengetahuan lain kemudian terasa tidak relevan disikapi selain dengan hanya beradu teori dan daftar bacaan belaka. “Biologi bilang begini, Psikologi bilang begitu”, selesai. Problematika yang muncul kemudian diabaikan sebab kita merasa teori sebaiknya diimani. Karena teori mewujud keimanan yang tak patut dipertanyakan, teori lain—yang dianggap keimanan-yang-lain—tak perlu disikapi. Sikap semacam itu, misalnya, dapat anda temui bila anda menanyai seorang muslim mengenai keabsahan Injil. Seperti itu pula konten kreator yang seakan menyatakan “Biologi boleh berpendapat A, namun Psikologi juga boleh bilang B”—seakan terbentang jurang dan konstruksi keilmuan untuk menjembatani dua disiplin keilmuan tak mungkin dibangun. Bila sikap demikian ditunjukkan dalam daerah di mana seharusnya pola pikir saintifik berlaku, sikap semacam itu tentu bertelur pertanyaan: Apakah jembatan itu memang mustahil dikonstruksi? Atau kemustahilan itu hanya muncul dari kemalasan pikir dan analisa yang alakadarnya?

Gagasan seperti “dandan ialah bentuk undangan untuk berhubungan seksual” bisa jadi benar secara saintifik, tapi adalah sebuah langkah yang teramat jauh untuk menyimpulkan bahwa motif dandan yang demikian menegasikan fungsi dandan yang lain—katakanlah, sebagai sarana ekspresi diri. Maka, menyimpulkan kalau upaya ekspresi itu bertentangan dengan sains ialah langkah yang lebih jauh lagi.

Pemikiran penuh bias ini bisa jadi diakibatkan mitos-mitos non-saintifik yang dikutip saintis-alakadarnya—saintis mana pun yang hanya mampu merapal sekian teori dan fakta sambil membuka mulut penuh mitos yang “menyegarkan” hanya karena perbedaaan bahasa. Padahal, mitos demikian tak seharusnya serta-merta dianggap justifikasi terhadap klaim-klaim saintifik hanya karena ia ditulis dalam buku berbahasa Inggris.

Ketakrelevanan dandan sebagai undangan perilaku seksual, kiranya menumbuhkan pertanyaan: untuk apa kiranya dandan dilakukan hari ini? Mengapa perilaku dandan masih relevan? Saya kira, sedikit-banyak jawaban psikologis-sosiologis dari konten kreator perempuan dapat membantu menjawabnya: perilaku dandan ialah sebentuk ekspresi diri seorang perempuan dan status sosialnya. Dalam alasan “ekspresi diri” itu pun, Saintis-alakadarnya menyanggah dengan alasan mengapa dandan kemudian sering kali rela dilakukan hingga taraf yang tak hanya menyulitkan, namun juga menyakitkan? Adakah ekspresi diri semacam itu?

Mendengar pertanyaan demikian, keheranan adalah reaksi naluriah saya. Mengapa setelah sekian buku berbahasa asing dengan mudahnya dibaca, saintis-alakadarnya tampak begitu sulit membaca kenyataan. Jangankan ekspresi diri yang menyakitkan, manusia dengan bias yang telah ditatah dalam struktur otaknya bahkan secara wajar mengebiri-diri, hingga membahayakan dan menghilangkan nyawanya sendiri hanya demi sebuah gagasan dalam kepalanya. Berapa banyak revolusi, peperangan, kekerasan, hidup selibat yang telah dilakukan demi sebuah hasrat metafisis—yang mungkin hanya pengejewantahan ekspresi diri semata?

Belum lagi bila kita memperhitungkan berapa besar biaya yang perlu dikeluarkan demi alasan-alasan yang secara kasar non-make sense secara biologis. Alasan biologis macam apa yang diyakini Firaun saat membangun piramida? Hanya untuk alasan kesintasan dan hubungan seksual? Saya kira tidak. Piramida lebih pantas disebut sebagai ekspresi keagamaan sang Firaun. Gagasan-gagasan dalam kepala manusia (agama, ideologi negara, atau semisalnya) dalam analogi Daniel Dennet serupa Toxoplasma gondii, yakni parasit yang bila merasuki tikus dan membuat binatang malang itu nekat mendekati kucing, memancing si kucing untuk memangsa tikus tersebut sehingga sang parasit dapat berpindah inang.

Lalu, bila dandan telah menjadi ekspresi diri, atau sejenis legitimasi sosial, mengapa perilaku itu berkurang setelah menikah? Bukankah hal tersebut menunjukkan bahwa dandan tak lagi diperlukan sebab perempuan pascamenikah telah menemukan pasangan seksualnya? Sebentar, realitas mana yang ia observasi sehingga dapat mencapai kesimpulan demikian? Bagaimana dengan sekian perempuan pascamenikah lain yang tetap berdandan? “Bertentangan dengan sains” lagi kah vonis yang dijatuhkan oleh saintis-alakadarnya mengenai fenomena tersebut?

Konten kreator perempuan mungkin malas menggali sintesa antar-disiplin keilmuan sewaktu menandingi argumen sok-biologis saintis-alakadarnya dengan serta-merta menerima pendapat tersebut dan mengajukan opini dari disiplin lain. Ini menjadikan diskusi melar di antara tarikan kutub utara  dua magnet di arah yang berlawanan. Dandan mungkin sebentuk ekspresi diri, atau legitimasi status sosial, tapi alasan mengapa hanya perempuan yang berekspresi dan mengukur status sosial dengan dandan kembali pada alasan-alasan seksualitas yang memerlukan pisau iris biologi—selain pada perkembangannya nanti terkait dengan budaya patriarki dan kapitalisme. Namun, kealpaan konten kreator perempuan tersebut setidaknya lebih dapat dimaklumi ketimbang pemberhalaan fakta-fakta saintifik—itu saja bila seandainya memang fakta—dengan berlindung di balik ketiak “sains”.

Sains ialah suatu cara pembacaan tertentu terhadap realitas, sehingga dalam pembacaan saintifik tak ada satu pun realitas yang bertentangan dengan sains. Bila sains kemudian bertentangan dengan realitas, maka sains mesti menyesuaikan ulang dirinya. Masalah apakah sains pada akhirnya mampu menjawabnya atau tidak, adalah problematika lain. Akan tetapi, menganggap “sains bertentangan dengan realitas” ialah sebuah keangkuhan.

Kemampuan inilah yang pada akhirnya membuat sains terus progresif. Ia senantiasa merelevan-ulangkan diri. Lantaran sains terus-menerus perlu merevisi dirinya, berarti akan selalu ada yang salah dalam sains—semapan apapun Anda memandangnya. Dalam sains, kesalahan itu niscaya—alih-alih aib. Kesalahan ialah bahan baku pembelajaran; dengannya sains bisa bertumbuh lebih baik lagi. Jika agama merasa mengetahui segalanya, sains malah seakan tidak mengetahui apa-apa—itulah sebabnya ia berhasrat mengetahui segalanya.

Maka, saintis yang merasa tahu segala hal sebetulnya telah meninggalkan pola pikir saintifik, tak peduli sekian fakta sains yang dihafalnya atau segunung teori diketahuinya; sains yang ia yakini pun membatu jadi berhala—kalau sudah begitu baiknya ia segera mengganti jas laboratorium di tubuhnya dengan jubah Arab Zaman Jahiliyah. Padahal, sejak awal sains adalah ayunan kapak yang berhasrat menghancurkan berhala-berhala mitos itu. Namun nahas, sekarang ia sering kali menjelma berhala agung dengan kapak nalar terkalung di leher.

Dengan demikian, menjadi seorang biolog secara kaffah sama sekali tidak berarti berpikir dengan logika evolusioner semata. Richard Dawkins mungkin akan menjadi ahli biologi darwinian pertama yang terlintas dalam pikiran saya—Dawkins dalam satu artian teramat darwinian hingga Charles Darwin sendiri jadi nampak kurang darwinian. Namun, Dawkins jelas tak akan menghadiri suatu acara hanya dengan kaos oblong dan celana rumahan hanya karena alasan cara berpakaian semacam itu tak bertentangan dengan kesintasan dan kemampuan reproduksi.

Bisa jadi, berpikir tak hanya dilakukan manusia, tapi pemikiran yang reflektif jelas hanya milik spesies kita. Demikian pula dengan fakta saintifik. Ia tak hanya diketahui saintis, tapi pola pikir saintifiklah yang membedakan saintis dengan selainnya. Sebagaimana pula bahan masak yang baik saja tak mencukupi, teknik masak yang terampil jauh lebih menentukan kualitas kenikmatan sebuah masakan. Oleh karena itu, hendaknya kita berhati-hati: pengetahuan yang digunakan masturbasi intelektual semata sering menimbulkan efek ejakulasi kognitif secara dini berupa keimanan palsu. Padahal, bila agama adalah jawaban yang tak terbatas, sains ialah pertanyaan yang tiada habis akan dunia.


Naufal Rifky Ramadhan belajar biologi di Universitas Negeri Malang (UM). 

Editor: Asief Abdi
Foto: Asief Abdi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *