Di antara suara pengumuman panggilan keberangkatan yang berkumandang dalam bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa Melayu Kepulauan Riau di Bandar Udara Hang Nadim Batam, saya mendengar suara isak seorang perempuan.
Kala itu, saya dalam perjalanan menuju Balige untuk mengikuti lokakarya kepenulisan Balige Writers Festival 2026. Kendati sama-sama berada di Sumatera, perjalanan nyatanya tidak sederhana. Tiket saya terbit menjelang keberangkatan. Bukan penerbangan langsung menuju Kualanamu, apalagi Silangit, melainkan penerbangan yang mengharuskan saya transit terlebih dahulu di Batam. Akibatnya saya harus menunggu selama tujuh jam di Hang Nadim.
Tujuh jam adalah waktu yang terlalu panjang untuk sekadar menunggu. Pada titik tertentu, sebuah bandara berhenti menjadi tempat transit dan berubah menjadi tempat mengamati manusia.
Perempuan paruh baya itu melangkah lesu. Tangannya menyeret sebuah koper dan tas jinjing yang tampak sarat barang. Sambil berjalan, ia terus menelepon seseorang, seakan-akan ada urusan yang belum selesai.
Di balik selendang yang menudungi kepalanya, ada sepasang mata bola sembap yang sulit menyembunyikan kesedihan. Wajahnya pucat dan polos, belum sempat dipulas kosmetik.
Ketika akhirnya duduk di bangku tunggu, ia mengeluarkan bedak dan memperbaiki penampilan sekenanya. Setelah itu, ia berpindah-pindah mencari colokan listrik untuk mengisi daya telepon genggamnya.
Tak lama kemudian ia membuka WhatsApp. Sesekali membalas pesan. Sesekali mengusap lelehan air mata di wajahnya. Sebuah pesan suara diputar berulang kali. Suara seorang lelaki terdengar memintanya untuk bersabar.
Saya tidak bermaksud menguping. Namun, di ruang tunggu yang panjang dan lengang, suara-suara macam itu sulit diabaikan.
Beberapa saat kemudian, layar panggilan videonya menampilkan seseorang yang menangis. Suara gaduh orang-orang ramai. Sekilas tampak tubuh yang telah dikafani. Jenazah!
Ia menangis tersedu-sedu.
Saya tidak tahu siapa yang meninggal. Mungkin ayahnya. Mungkin ibunya. Atau saudaranya. Atau orang lain.
Saya juga tidak tahu dari mana ia datang dan ke mana ia akan pergi. Mungkin dari sebuah pulau lain menuju Batam. Mungkin ia akan terbang ke Kualanamu, Deli Serdang. Lalu, ke Medan. Atau melanjutkan perjalanan darat berjam-jam menuju sebuah tempat yang lebih jauh.
Akan tetapi, saya bisa membayangkan apa yang sedang ia rasakan. Betapa panjang perjalanan untuk menemui seseorang yang tidak lagi bisa menyambut kedatangan kita. Betapa menyakitkannya terlambat.
Saat itulah saya berpikir bahwa jarak dan waktu telah membuat upacara kematian harus menunggu. Menunggu anak. Menunggu cucu. Menunggu keluarga yang sedang berada jauh di perantauan.
***
Perempuan itu terus terbayang sepanjang perjalanan menuju Balige. Sebab, sesungguhnya saya sedang hidup dalam kemungkinan yang sama.
Saya tinggal terpisah dari orang tua. Mereka bermukim di Palembang, sedangkan saya di Lubuklinggau. Jarak antara kedua kota itu sekitar 309 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih enam jam tiga puluh menit.
Saya membayangkan kemungkinan yang tidak pernah ingin dibayangkan siapa pun. Apakah suatu hari saya akan mendapatkan kesempatan berada di samping orang tua ketika mereka mengembuskan napas terakhir? Apakah saya akan sempat menuntun mereka melafalkan kalimat tauhid? Atau saya akan seperti perempuan itu, berlari mengejar penerbangan dan transit sambil berharap waktu berjalan sedikit lebih lambat?
Pertanyaan itu membawa saya pada pertanyaan lain.
Untuk menuju Balige, Kabupaten Toba, Sumatera Utara, saja saya harus naik kereta menuju Palembang, terbang ke Batam, menunggu berjam-jam, lalu terbang ke Medan. Dari Medan, perjalanan masih harus dilanjutkan berkendara selama empat jam menuju tepian Danau Toba. Praktis sehari semalam habis di jalan.
Mengapa perjalanan di Sumatera masih terasa demikian panjang?
Padahal Sumatera bukan wilayah kecil yang tertinggal dari denyut nadi ekonomi nasional. Pulau ini dihuni lebih dari lima puluh lima juta jiwa. Dari tanahnya tumbuh dan mengalirkan minyak sawit, karet, kopi, serta memuntahkan minyak bumi, batu bara, dan gas alam. Tahun lalu, Sumatera menyumbang lebih dari 22 persen produk domestik bruto Indonesia. Artinya, sekitar 1 dari setiap 5 rupiah yang dihasilkan perekonomian Indonesia berasal dari Sumatera.
Kekayaan itu tampak di mana-mana. Hutan dibuka menjadi perkebunan. Bukit-bukit dikeruk menjadi tambang. Truk-truk batu bara dan babaranjang melintas siang dan malam. Pipa-pipa minyak membelah rawang dan hutan. Dari tanah Sumatera mengalir komoditas yang menghidupi kota-kota jauh di luar pulau ini. Namun, saya kerap bertanya-tanya: Mengapa hasil bumi dapat bergerak lebih cepat daripada manusianya?
Mengapa batu bara dapat mencapai pelabuhan dengan lancar, sedangkan seseorang yang hendak pulang menemui orang tuanya harus berganti kereta, pesawat, ruang tunggu, dan kendaraan darat selama berpuluh-puluh jam?
Barangkali karena sejak lama pembangunan di Sumatera lebih banyak mengikuti jalur komoditas daripada jalur manusia. Jalan dibangun untuk menghubungkan kebun dengan pelabuhan. Jaringan rel kereta dibangun untuk mengangkut hasil bumi dan tambang. Pelabuhan dibangun untuk mengirim barang ke pulau dan benua lain. Sementara itu, kebutuhan manusia untuk saling menjangkau sering datang belakangan. Dan dianggap selalu dapat menunggu …
Padahal impian untuk menghubungkan Sumatera bukanlah mimpi baru.
Pada permulaan abad XX, pemerintah kolonial punya rencana besar untuk menyatukan jalur kereta yang dikelola Atjeh Staatsspoorwegen, N.V. Deli Spoorweg Maatschappij, Staatsspoorwegen ter Sumatra’s Westkust, dan Zuid-Sumatra Staatsspoorwegen yang tercerai-berai. Gemuruh Depresi Besar yang melanda dunia pada 1920-an terpaksa mengubur ambisi tersebut. Rencana pembangunan dan penyambungan rel Sumatera pun terhenti, menyisakan jaringan kereta api yang berkembang secara terpisah hingga masa kemerdekaan.
Awal abad XXI, pada masa pemerintahan Petruk (Dadi Ratu), proyek Jalan Tol Trans Sumatera mulai dikebut. Dan pada masa pemerintahan Boma (Narakasura), sayup-sayup Rencana Induk Perkeretaapian Nasional untuk mengembangkan jalur kereta api Trans Sumatera ditiupkan ulang. Dalam arti lain, menghidupkan kembali gagasan lama menyatukan Sumatera melalui jaringan transportasi yang terhubung dari ujung ke ujung pulau.
Namun, selama perjalanan menuju Balige, semua itu masih terasa sebagai masa depan yang amat jauh. Semua itu masih ada dalam peta dengan garis putus-putus. Jalan tol belum terkoneksi. Jalur kereta masih diperam di pucuk langit.
Dari uluan Sumatera Selatan menuju Danau Toba, saya harus berganti moda transportasi berkali-kali. Menumpang kereta, pesawat, menyambung pesawat lagi, lalu kendaraan darat. Sehari semalam habis hanya untuk berpindah dari satu bagian Sumatera ke bagian Sumatera yang lain. Di atas peta, Sumatera adalah satu bentang daratan yang utuh. Dalam kenyataannya, banyak bagiannya masih berjauhan.
***
Nama Balige pertama kali saya dengar dari tuturan seorang tentor BT/BS Medica di sebuah ruko tiga lantai di Jalan Mayjen H.M. Ryacudu, Palembang. BT/BS Medica, sebagaimana Ganesha Operation, Primagama, BTA 70 Jakarta, Bimbel Matrix, LBB Alumni, dan Super Bimbel GSC, merupakan lembaga bimbingan belajar yang sedang naik daun ketika saya sekolah menengah atas, sekira lima belas tahun silam.
“Asal Kakak dari Balige,” katanya saat perkenalan. “Sebelas dua belas dengan Belgia.”
Saat itu, saya hanya mengenalnya sebagai kampung halaman guru bimbel saya, yang kebanyakan berasal dari Sumatera Utara dan bersuku Batak, sebagai orang-orang yang pandai hitungan dan menyelesaikan sederet pertanyaan rumit.
“Macam tak soal,” kalimat yang sering kali saya dengar saban kali ia selesai menjelaskan butir demi butir soal latihan dan kuis.
Lima belas tahun kemudian saya akhirnya menjenguk Balige.
Bakda subuh hari kedua, saya berjalan pagi menyusuri jalanan Balige yang sepi. Hanya satu-dua kendaraan melintas. Tujuan saya tentulah Tao Toba Nauli yang kilau airnya telah saya lihat dari kejauhan dari puncak penginapan The Boat Balige’s Sanctuary yang bertengger di tepi jurang dan hutan Sangkarnihuta. Namun, yang mencuri perhatian saya kemudian justru bukan Danau Toba, melainkan deretan papan reklame bimbingan belajar. Di sana terpampang baliho besar berisi wajah siswa yang berhasil masuk perguruan tinggi negeri terkemuka, sekolah kedinasan, akademi militer, dan akademi kepolisian.
Seolah-olah seluruh kota sedang mendidik anak-anaknya untuk pergi. Pergi ke Medan. Pergi ke Jakarta. Pergi ke kota-kota lain yang menjanjikan masa depan lebih baik.
Balige, atau lebih luas lagi Toba, dikenal sebagai kampung halaman banyak tokoh penting. Sejak masa kemerdekaan, putra-putra Balige pergi mendaftar sebagai tentara hingga duduk sebagai pucuk pimpinan angkatan bersenjata. Sebutlah D.I. Panjaitan, Maraden Pangabean, T.B. Silalahi, hingga Luhut Binsar Panjaitan.
“Dari dulu, Jalan Tarutung ini, jalan besar, semua armada bus lewat sini,” kata Sebastian Hutabarat, aktivis lingkungan dan pemilik The Boat. “Balige ini sejak masa Belanda sudah diprediksi akan menjadi kota besar.”
Namun, ketika melihat wajah-wajah muda pada baliho-baliho itu, saya justru mengacungkan tanda tanya, jika semua orang terbaik pergi, siapa yang tinggal?
“Ya, itu persoalannya. Orang tua di sini menganggap orang-orang terbaik itu harus keluar. Seolah-olah hal terbaik itu hanya ada di luar Balige. Kalau tinggal, tidak ada yang bisa dilakukan.”
Mereka yang sukses-sukses dan punya nama itu akan kembali saat mati. Tulang-belulangnya yang pulang. Lalu menjadi patung dan tugu-tugu. “Batak itu besar, tapi tidak orangnya,” lanjut Sebastian.
Pertanyaan itu sesungguhnya tidak hanya milik Balige. Saya menemukannya di banyak tempat lain. Termasuk di kampung orang tua saya sendiri di Ogan Komering Ulu Timur dan Empat Lawang. Sudah sejak berpuluh-puluh tahun lalu, anak-anak muda pergi. Yang berpendidikan pergi. Yang memiliki modal sosial pergi. Kampung menghasilkan manusia, sedangkan kota-kota besar menyedot habis menikmati hasilnya.
Sawah tetap ada. Rumah tetap berdiri. Tetapi, penghuninya semakin tua. Orang-orang menunggu kiriman uang. Menunggu telepon. Menunggu anak pulang. Menunggu cucu datang saat hari raya. Menunggu kabar. Menunggu, menunggu, dan menunggu.
***
Malamnya, Balige gelap gulita. Saya menggerutu karena daya baterai ponsel saya lemah. Hitung mundur ponsel itu akan mati, saya menggulir-gulir layar, menemukan kawan-kawan di jagat maya mengeluhkan hal yang sama. Sebagian besar wilayah Sumatera mengalami pemadaman listrik pada waktu yang hampir bersamaan. Dari Aceh hingga Lampung, orang-orang membicarakan hal yang sama: blackout Sumatera!
Ironisnya, dalam kegelapan itulah saya menyadari betapa terhubungnya pulau ini. Gangguan di satu titik dapat dirasakan hingga ratusan kilometer jauhnya. Kita tersambung oleh jaringan listrik. Oleh jaringan telekomunikasi. Oleh distribusi barang. Oleh aliran komoditas. Tapi, manusianya masih tertatih-tatih melintasi Sumatera.
Menjelang meninggalkan Balige, saya kembali teringat perempuan di Hang Nadim. Mungkin karena tanpa saya sadari, ia dan kota ini sedang bercerita tentang hal yang sama. Tentang orang-orang yang pergi jauh. Tentang kampung yang ditinggalkan. Tentang perjalanan panjang untuk pulang.
Di sepanjang jalan Balige saya melihat baliho-baliho besar yang menampilkan wajah siswa berprestasi. Semula saya mengira itu hanya iklan keberhasilan. Namun, semakin lama saya memikirkannya, semakin terasa bahwa baliho-baliho itu juga merupakan pengumuman keberangkatan.
Anak-anak itu akan pergi. Menuju Medan, Jakarta, Magelang, atau Semarang. Sebagian mungkin menuju negeri yang lebih jauh lagi.
Kelak, bertahun-tahun kemudian, mereka mungkin akan mengulang perjalanan yang sama seperti perempuan yang saya temui di Hang Nadim. Perjalanan pulang. Perjalanan yang sering kali ditunda oleh pekerjaan, oleh jarak, oleh jadwal penerbangan, oleh kesibukan, hingga akhirnya dipercepat oleh kabar duka.
Mungkin itulah cara terbaik membaca Sumatera. Bukan melalui peta besar pengembangan infrastruktur yang tak jadi-jadi. Bukan pula melalui angka-angka statistik yang tak berarti. Melainkan melalui orang-orang yang terus meninggalkannya, dan sekaligus mencari jalan untuk terus kembali.
Wendy Fermana adalah pendidik dan penulis.
Editor: Royyan Julian
Foto: Wendy Fermana


