Sebuah film komedi dengan sekelumit balutan science fiction, digarap dengan paduan animasi, berlatar tempat rombengan, berdurasi lebih kurang 120 menit, hampir di setiap jeda dialognya mengundang tawa, tapi kesan yang dibawa keluar penonton adalah perasaan haru, itulah Foufo. Di luar itu, film ini masih menyimpan pertentangan-pertentangan yang lain. Para aktornya bukan aktor, aktrisnya bukan aktris. Meskipun berkisah dan berlatar keluarga Madura, penulis naskah dan sutradaranya (konon) bukan orang Madura. Foufo adalah paket lengkap keganjilan keunikan.
Pusat cerita (kernel) ada pada Muslim dan ibunya, Saiqonah. Muslim berambisi untuk memberangkathajikan ibunya tapi dana tidak cukup untuk biaya pelunasan. Itulah sebabnya ia meminjam uang ke bank dengan alasan modal usaha. Sampai di sini, tergambar bagaimana orang Madura melihat rukun Islam nomor lima tersebut mesti diperjuangkan. Memang, menyebut naik haji sebagai cita-cita tertinggi orang Madura itu tidak mutlak salah, tapi banyak benarnya.
Kamera sinema terfokus pada satu keluarga yang tumpek-blek tinggal bersama, ipar/menantu dan keponakan/cucu, di bawah satu atap rumah yang lebih pantas disebut gudang rombengan. Di dalamnya, terdapat setumpuk masalah: Latif, anak tertua, menganggur karena sakit-sakitan; Ipul, ipar Muslim, banyak pendapat tapi sedikit pendapatan; Kacong, orang luar tapi nimbrung menjadi bagian dari keluarga besar. Semua ini—dalam pandangan Seymour Chatman—menjadi satellite yang mengelilingi kernel. Inilah yang sejatinya menguatkan cerita, bahkan menghidupkannya.
Konflik mulai berjejalar saat mereka menemukan “Foufo” (sebutan untuk UFO dari ragam dialek Madura yang sering kali membuat kata ulang tidak lengkap) yang terjatuh. Alien diselamatkan, bahkan menjadi bagian keluarga mereka. Namun, usaha Muslim agar ia bisa kembali ke pesawat induknya, gagal. Di saat yang sama, konflik batin mencuat manakala sang Ibu yang hampir pasti bisa naik haji “tahun ini”, tiba-tiba gagal karena biaya pelunasannya dipakai si adik ipar tanpa pamit. Alasannya rasional, diterima penonton, bahkan mempertajam ketegangan. Di sinilah konflik memusat dan meledak: Muslim menyerahkan keris—yang mengandung unsur rodium—untuk kepentingan alien; alien menyembuhkan batuk Latif dan katarak Saiqonah serta melakukan USG janin Siti; Latif sembuh dan membantu alien memperbaiki pesawatnya; alien membantu sang ibu dengan membawanya pergi ke Mekkah.
Pada momentum seperti ini tersirat pesan tentang konsep “membantu dengan tulus” dan efek domino yang diciptakannya. Meskipun ajaran ini universal, ia diterapkan betul dalam kosmologi Madura, seperti konsep jung-rojung atau ater-ater yang masih berlaku dan berjalan sampai hari ini. Terbukti, pada detik-detik akhir, balasan itu terjadi. Alien yang telah pergi tiba-tiba datang kembali sebagai kejutan. Ia menjemput Ibu Saiqonah untuk diantar ke Mekkah. Sebetulnya, scene ini adalah deus ex machina yang merusak plot. Namun dalam film komedi, hal-hal seperti ini bisa menjadi pelintiran alur yang ‘logis’.
Demadurologi, Rasisme, dan Subordnasi dalam Stereotip
Untuk melihat bagaimana rasisme dan stigma negatif bekerja di dalam alam pikir liyan tentang Madura, kita perlu melihat teks di luar film. Dalam hal ini, penonton non-Madura yang mengenal Madura hanya lewat buku Prof. Kuntowijoyo, Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris Madura 1850-1940 atau sejenisnya, tidak akan menemukan latar kemaduraan dalam film ini. Perspektif beliau adalah agrikultural, yang menurut Syaiful Anam, melalui buku Demadurologi, cenderung menggunakan sudut pandang javanisasi/jawanisasi sehingga menjadi kesalahan epistimologis dalam melihat Madura secara holistik. Akibatnya serius: visi kemaritiman Madura tertutup. Padahal, kenyataannya Madura erat dengan budaya maritim.
Persoalan stereotip atau pandangan inferior terhadap orang/suku Madura telah lama terjadi dan berlangsung hingga hari ini. Sindhunata menyampaikan pandangannya di majalah BASIS (Desember, 1995) terkait ini dengan tajuk “Teganya Jawa, Malangnya Orang Madura”. Ia membuat tanggapan atas bunga rampai artikel tentang Madura yang dieditori oleh Hubb de Jonge: Across Madura Strait: The Dynamics of an Insular Society, terbitan KITLV Press, 1995. Menurutnya, orang Madura selalu jadi bulan-bulanan stigma negatif oleh orang Jawa yang—sialnya—terkadang berterima di dalam masyarakat Madura sendiri. Boleh jadi, upaya seperti ini merupakan “proyek rahasia” politik identitas untuk menolak apa pun yang berhubungan dengan kemaduraan. Beberapa budayawan mencontohkan kata toron (turun) yang bermakna “pulang” bagi para Madura rantau. Ada dampak psikologis yang muncul di sini, yang mengesankan Madura lebih rendah dibandingkan tetangganya, Jawa. Baik sebagai etnis maupun sebagai wilayah.
Apakah Foufo turut melanggengkan stigma ini atau berhasil membuka pandangan baru tentang Madura untuk liyan (orang lain)? Kecuali adegan rencana pencurian rel (dilakukan oleh Kacong), secara keseluruhan tidak ditemukan fasal scene terkait ini. Justru yang tergambar adalah kesabaran dan kegigihan dalam menghadapi serangan stigma itu. Lihat saja adegan penghinaan kepada Saiqonah hanya karena dia miskin. Bahkan terhadap bocah Mustofa (cucunya) hanya karena dia orang Madura. Bayu Skak menggambarkan bentuk pelecehan dan rasisme dengan sangat bagus dan ia gandengkan beserta narasi tandingannya berupa statemen-statemen kesabaran si ibu dan kembalinya rasa percaya diri si bocah Mustofa karena prestasinya. Tindakan rasisme seperti ini masih berlangsung sampai sekarang, seperti pemberitaan pencuri kabel yang dilabeli secara rasial dengan menyebut “Pemuda Madura”, tapi di saat yang sama tidak ada penyebutan marga atau unsur kedaerahan lain bagi para pencuri uang negara triliunan rupiah.
Belakangan, muncul alusi kata Mexico untuk Madura yang asosiasinya adalah kriminalitas. Ternyata, ungkapan seperti ini ada muasalnya, yaitu ketika Madura disebut sebagai “Sisilia of Java” oleh—antara lain—Elly Touwen-Bouwsma. Penyebutan ini berbeda dengan alusi yang menyebut Bandung sebagai “Paris van Java”, sebab pada Mexico ada stigma negatif dan Sisilia mafhum diketahui publik sebagai pusat kehidupan mafia di Italia. Peneliti lain menolak atas penyederhanaan pandangan ini, walaupun ada kemiripan dalam hal mempertahankan kehormatan, yaitu dengan mempertaruhkan nyawa.
Melihat yang Tersirat
Saat ini, stereotip minor umumnya terbangun lewat narasi-narasi berita, humor-humor satire, dan paradigma keterbelakangan yang terkadang dibentuk sendiri oleh orang Madura gara-gara mereka telanjur percaya pada visi “orang Madura menurut orang non-Madura”. Jika hanya berdasarkan potongan-potongan gambar Foufo semata, simplifikasi juga bisa lahir dari film ini. Sebelum era media sosial, tak semua perantau Madura mengerti bahwa orang Jawa (atau luar Madura) mengidentifikasi mereka dengan kata kunci “sate”, “besi tua”, dan “tello’ lema’ alias tiga lima”. Sebab, ketiga hal ini tidak akrab sama sekali dengan warga Madura Timur (Sumenep, Pamekasan, dan sekitarnya). Celakanya, ia dianggap representasi kemaduraan, padahal hanya secuplik gambaran sisi barat, yaitu “kebangkalanan”.
Wacana di atas sejatinya dapat disentuh oleh film ini tanpa harus mengubah script. Kekayaan khazanah kemaduraan masih sangat mungkin dielaborasi tanpa perlu mengulur alur. Lewat penggunaan ragam dialek, misalnya. Yang muncul dalam film barulah dialek pandhalungan oleh Ra Jakfar (Habib Ja’far). Dialek sangghit yang biasa terdengar di wilayah Sumenep atau Situbondo, yang mempunyai kekhasan cengkok mengayun saat berbicara, tidak muncul. Padahal, penjaga toko kelontong Madura banyak yang memakai dialek ini. Dan Mahendra (pemeran Cak Latif) pun merupakan pengguna dialek ini. Namun sayang, perannya dalam film tidak memungkinkan untuk mengelaborasi dialek ini.
Pertaruhan besar dibuat oleh produser dengan membuat perekrutan terbuka, open casting. Walhasil, para pemain Foufo nyaris warga biasa. Padahal film ini merangkap banyak genre: komedi, scifi, bahkan religi. Cara ini dapat untung dua kali. Pertama, modal lebih ringan daripada mengajak aktor terkenal. Kedua, pemeranan orang Madura dan Jawa Timuran tidak perlu naturalisasi lebih dulu demi aksen dan logat yang oke dalam dialog-dialognya. Sebab itulah, percakapan tokoh Nur dan Siti terasa alamiah karena konflik dibangun memang melalui dialog dua atau tiga arah.
Walhasil, Foufo adalah film yang menghibur untuk manusia Indonesia yang sehari-hari diliputi ketegangan, bahkan andaipun kita tidak ingat lagi seperti apa plotnya. Di dalamnya terdapat komedi, dalam komedi ada drama, dalam drama ada science fiction, dalam scifi terselip animasi, dalam animasi ada kosmologi, dalam kosmologi terdapat religiositas, dan di dalam religiusitas itulah orang Madura menemukan kebahagiaan. Kebahagiaan yang di tempat lain selalu saja diukur dengan kemajuan, kemodernan, dan uang.
M. Faizi menulis dan mengasuh pondok pesantren.
Editor: Ikrar Izzul Haq
Foto: Ikrar Izzul Haq


