Kritik Seni

Syair dan Gugatan Jurang Kemiskinan

“Tapi, sayang, sayang, sayang, seribu kali sayang.”

Lantunan Silampukau pada lagu “Jurang Kemiskinan” mengajak bernostalgia dengan lagu “Fatwa Pujangga”, sebuah lagu yang ditulis oleh Said Effendi. Lantunan Melayu yang terus menggema di rumah-rumah ketika Minggu pagi, saat acara pernikahan, atau musik karaoke pada zamannya. Namun, lagu “Jurang Kemiskinan” pada album Stambul Arkipelagia Vol. 1 garapan Silampukau tidak menjadi syair cinta pujangga Melayu pada umumnya yang pernah kita dengar dari P. Ramlee, Iklim, Saleem, dan para pujangga Melayu era 50-an sampai 90-an. Silampukau justru menjelma menjadi sebuah lantunan yang menuntut sekaligus menggambarkan zaman lewat dua albumnya, Stambul Arkipelagia Vol. 1 dan Vol. 2.

Silampukau menangkap kegetiran dan frustrasi zaman di tengah keadaan yang terus-menerus mendesak. Dari kumpulan lagu pada album Stambul Arkipelagia Vol. 1 dan Vol. 2, salah satu lagu yang berulang kali mengajak bernostalgia dengan suara radio, rumah panggung, dan hamparan pulau adalah “Jurang Kemiskinan”. Kita akan terlena jika tidak menghayati liriknya. Silampukau masuk dengan lantunan yang biasa digunakan musik-musik Melayu klasik untuk menyampaikam kerinduan dan sukacita. Tetapi, pada keseluruhan lagu ini, terlempar lirik yang begitu gelap dan suram.

Ai, ya, sayang,
Beginilah nasib bonus demografi:
Nirdaya kala diperdaya negara;
Pakan infernal invertebrata neraka.

Pada bagian ini, sontak saja saya yang berulang kali memutar lagu ini menghentikan aktivitas dan teringat pada suatu Minggu pagi pada tahun 2000-an. Saat itu di rumah kami menggema suara Eddy Silitonga menyanyikan “Fatwa Pujangga”. Namun, bukan untuk kekasih seperti yang dinyanyikan Eddy, intro “Ai, ya, sayang” dari Silampukau adalah sebuah gugatan. Gugatan dari negeri dengan demografi yang menguntungkan kepada pemangku kebijakan yang suka memperdaya rakyatnya sendiri.

Silampukau menghadirkan folk dengan syair Melayu yang relevan dengan masalah masa kini sekaligus mampu menjaganya tidak terjatuh pada klise.

Jika folk Melayu yang hidup semasa Bob Dylan terdengar seperti petuah, syair dari seorang pujangga merindu, atau lagu pengantar tidur, Silampukau mengemas semua lantunan itu dengan apik dengan perpaduan beberapa corak sekaligus. Mulai dari P. Ramlee, Eddy Silitonga, hingga pada beberapa napas terdengar seperti “Soliram”, sebuah lagu pengantar tidur Melayu yang pernah dinyanyikan musisi folk dunia seperti Pete Seeger dan Nina Simone.

“Jurang Kemiskinan” menjadi tonggak gugatan. Ia menyeruak keluar sebagai api yang mengingatkan semua orang bahwa negara ini sedang tidak baik-baik saja: kemiskinan struktural, hilangnya ruang hidup, hingga kerusakan alam yang masif. Kondisi-kondisi ini merampas cita-cita masyarakat, sekaligus membuat cita-cita founding fathers pada Pancasila terdengar sebagai sesuatu yang remeh.

Bahasa Melayu yang menjelma menjadi lingua franca pada zamannya menandai betapa kuat pengaruh demografi negeri ini, seperti terkutip di lagu “Jurang Kemiskinan”. Pelabuhan-pelabuhan dibangun dan menjadi persinggahan banyak kapal dan budaya dari tanah asing. Bahasa Melayu pun menjadi bahasa perdagangan. Namun, dengan warisan kekayaan itu kita justru mendapati banyak muslihat yang terus mengikat menuju jurang bernama kemiskinan. Bukan sebuah kemakmuran dan kesejahteraan.

Jika pada era 80-an kita mendapati lirik-lirik protes pada musik folk seperti yang dinyanyikan oleh Leo Kristi, Kantata Takwa, dan Iwan Fals, hari ini Silampukau menandai era baru dengan hadir menjadi bagian dari musik folk yang terus melantunkan kenyataan zaman lewat gugatan.

Kata ‘sayang’ di lirik awal Silampukau terdengar seperti umpatan. Kata ini dilantunkan ketika hal-hal yang mestinya mudah kita didapatkan hangus begitu saja karena pemangku kebijakan yang inkompeten. “Ai, ya, sayang” terdengar seperti ungkapan “Sayang sekali, harusnya …” dan sejenisnya dalam konteks hari-hari ini.

Jika pada kemunculan Silampukau kita mendapati duo Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening yang bercerita tentang Surabaya dan menyorot suasana urban, permasalahan sosial, dan potret-potret gelap kota yang jarang terlirik, kini mereka hadir dengan formasi grup orkes. Mereka menjelma grup musik folk yang lantang menyuarakan persoalan yang lebih luas hari ini. Tidak lagi hanya menyoal Surabaya, mereka menjadi pengingat para pendengar bahwa hari ini penguasa membuat sistem yang terus membodohi rakyat. Rilisan terbaru mereka memotret sebuah negeri kaya yang bersiap meluncur ke jurang kehancuran nan mengenaskan. Meski dialog pada Arkipelagia tak terdengar sebagai teriakan atau makian, ia menjadi dendang dan lantunan yang menggugat, mengajak, dan merobohkan kursi nyaman pendengar. Inilah yang akan kita temui pada Stambul Arkipelagia Vol. 1 dan Vol. 2.

Babak baru ini menjadi sebuah sinyal bahwa Silampukau telah bertransformasi. Tidak hanya dari aspek formasi personel, tetapi juga dari karya-karya yang lebih berwarna dan universal. Persoalan yang tidak hanya berpusat di Surabaya, keresahan yang dibagi menjadi milik bersama, dan lantunan gugatan yang terus menghantui. Silampukau membagikan itu lewat lagu-lagu mereka dan pendengar mesti menyiapkan sebuah rencana bersama untuk menghantam tiran. Meski itu terlontar lewat nyanyian, Silampukau memantik kesadaran kritis itu. Terima kasih tak terhingga untuk Silampukau yang telah menghidangkan karya ini. Semoga berumur panjang perlawanan.

Palembang, 07 Juli 2026


Mahesa Putra adalah penulis yang bergiat di komunitas Opus Sastra dan mengasuh kedai kopi Roemah Tumbuh Kembang.

Editor: Ikrar Izzul Haq
Foto: Ikrar Izzul Haq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *