Angka 153,8 muncul pada satu pagi ketika saya iseng menarik garis di Google Maps untuk mengukur jarak Pulau Bali dari kursi di mana saya meletakkan bokong. Bukan sederet kilometer yang panjang untuk ukuran antarpulau-antarprovinsi. Namun, saya tetap sulit menafikan perasaan bahwa Bali masihlah tanah yang jauh. Sebab, sedari kanak, saya sudah paham kalau pulau itu adalah permata wisata bagi warga Indonesia sekaligus surga bagi para pelancong mancanegara.
Ini kali pertama saya menyeberang ke Pulau Dewata. Bukan untuk berpakansi di Pantai Kuta atau Nusa Penida. Saya diutus untuk menyaksikan, menyimak, dan merasakan hasil kerja kawan-kawan Mahima di Singaraja Literary Festival (SLF).
Menapak Bali, saya belum juga bisa berjarak dengan perkara jarak. Mendengar warlok bicara, melihat sesajen di tepi jalan, dan sesekali wajah-wajah Kaukasia, saya merasa berpijak di tanah yang asing. Namun, pelan-pelan, malam menghapus jarak ketika saya berjumpa dan mengobrol dengan orang-orang yang juga akan meramaikan SLF.
“Sebenarnya, apa motif kita bikin festival?” tanya seorang penyair asal Lombok. Terdengar provokatif, tapi pertanyaan itu telah memberi titik terang soal kegelisahan saya ihwal jarak. “Jawabannya sederhana,” tanggap seseorang. “Cuma kepengin ketemu teman-teman yang sejauh ini hanya bisa kusapa di dunia maya.” Tentu ini bukan jawaban dari penyelenggara. Tapi, saya kira, pernyataan tadi tidak melenceng dari visi SLF.
Saya tidak sedang ingin membesar-besarkan bahwa sastralah yang memungkinkan semua ini terjadi. Terlampau banyak cara yang bisa kita pakai sebagai modus pertemuan. Namun, di satu panel diskusi yang saya simak, SLF menghadirkan tiga penulis dengan asal dan latar budaya yang berbeda. Diskusi tersebut memang berfokus pada isu lokalitas yang menjadi identitas ketiganya. Sejumlah pertanyaan dan tanggapan dilempar pada forum itu, terutama perkara bagaimana mereka mengartikulasikan aspek lokal dalam karya sastra.
Tentu saja ketiganya punya strategi yang berbeda. Dan tak seorang pun yang dapat mengganggu-gugat jarak kreatif tersebut. Di sinilah misi perjumpaan itu berlangsung. Baik secara fisik maupun gagasan. Ketiga penulis dan audiens insaf bahwa mereka duduk di satu ruang yang dibangun oleh kesadaran untuk saling kenal. Untuk saling terhubung, alih-alih memperlebar jarak identitas.
Di luar diskusi-diskusi formal dan bertopik spesifik, jarak itu kian lebur lewat obrolan-obrolan tengah malam. Berbagi trik pengelolaan toko buku, siasat sintas penerbitan, hingga keluh kesah hidup di cuaca gerah sastra Indonesia. Ada rasa senasib sepenanggungan dalam percakapan-percakapan itu. Rasa yang sulit ditukar secara mendalam bila hajat semacam ini tak pernah digelar.
Namun, di antara berbagai obrolan yang diobral, satu pertanyaan cukup mengusik, “Mengapa kurator SLF mengangkat naskah lontar Stri Sasana sebagai tema?” Sejumlah orang yang saya temui menganggap naskah tersebut misoginis. Saya pun berusaha membacanya sambil berharap bahwa opini seksis atas manuskrip tua itu hanya syak wasangka. Hasilnya, lagi-lagi saya merasa berjarak. Kali ini bukan lagi jarak geografis atau identitas, melainkan jarak zaman.
Saya menangkap Stri Sasana sebagai risalah tentang etiket menjadi perempuan yang baik, istri yang berbudi, dari sudut pandang yang begitu maskulin. Dipandang dengan kacamata modern, naskah ini jauh dari kata relevan. Apakah SLF sedang ingin melap-lap hasil kebudayaan lama sampai berkilat? Apakah diam-diam SLF memendam bias patriarkal? Saya berharap saya keliru.
Sejak pertama dihelat, SLF selalu merancang kerangka festival dari naskah-naskah kuno koleksi Museum Buleleng. Seberapa pun tak relevannya dengan semangat zaman, barangkali Stri Sasana hanya tinggal menunggu waktu untuk ditafsirkan menjadi cetak biru ide kuratorial agenda tahunan Komunitas Mahima itu.
Tafsir. Inilah kata kunci krusial ketika kita berhadapan dengan khazanah kearifan lama.
Mari kita lihat kembali format kegiatan SLF. Dari hari pertama sampai ketiga. Dari sesi diskusi sampai pentas seni. Dari lokakarya sampai cerita-cerita emerging writers. Sorotan khusus terhadap isu perempuan, absennya all-male panels, hingga pilihan warna tema, membuat festival ini terasa sangat “feminin”—untuk tidak buru-buru berkata “feminis”.
Alasan terakhir, terkait warna tema, saya pikir SLF membuat keputusan yang brilian. Dulu, di abad ke-19, merah muda merupakan warna maskulin. Ia derivasi warna merah yang kerap diasosiakan dengan sifat agresif, berani, bergairah. Warna yang sangat mewakili komentar-komentar medsos “menyala abangku!” Sampai kemudian selera laki-laki bergerak menuju warna lebih gelap. Kini, jambon telah lazim dikenal sebagai warna milik perempuan.
Asosiasi merah muda memang bergeser seiring abad yang berlari. Begitu pula pembacaan SLF atas Stri Sasana. Mereka tidak menelan mentah ajaran lama, apalagi melap-lapnya hingga berkilat. Alih-alih, mereka memutar perspektif Stri Sasana yang semula maskulin menjadi ruang inklusif dan berdiri di sisi perempuan. SLF tidak mendudukkan perempuan sebagai objek yang harus begini dan begitu, tetapi sebagai subjek yang mampu melakukan ini dan itu. Dengan siasat semacam ini, SLF tetap selaras dengan etos zaman tanpa memunggungi sejarah. Saya membayangkan SLF bergerak maju dengan spion besar yang menampakkan paras mereka yang hidup di masa kini dengan latar belakang sepia sejarah yang mereka miliki.
Sejarah pergeseran asosiasi merah muda, dari maskulin ke feminin, kian masuk akal disandang SLF sebagai warna tema di samping pilihan naskah Stri Sasana yang semula sarat malegaze sebagai tulang punggung festival. Sekali lagi, SLF meretas jarak. Kini, antara yang kiwari dan yang silam.
Barangkali, inilah yang mereka sebut “Energi Keseimbangan Semesta”, yaitu ketika tak ada lagi jarak signifikan antarindividu maupun antarkelompok. Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah, samarasa-samarata, saling silang, saling menggenapi. Sebuah ikhtiar mengakali aneka jarak yang membentang di antara anak-anak manusia. Baik dari bumi yang jauh, maupun dari zaman yang sepuh.
Ikrar Izzul Haq, editor sivitaskotheka.org.
Editor: Asief Abdi
Foto: Wardedy Rosi


