Kritik Seni

Riwayat Bacaan Mahfud Ikhwan yang Kesekian

Bagi saya, pergumulan dengan karya-karya Cak Mahfud—sapaan akrab Mahfud Ikhwan—layaknya half-marathon. Bagi pelari kawakan, jarak itu mungkin tak seberapa menantang. Namun, bagi mereka yang belum pernah mencobanya sama sekali, ia menawarkan kepuasan sekaligus rasa penasaran yang menggugah. Jika bukan karena kagum, saya bisa dikatakan sudah berada di tahap keranjingan karya-karyanya. Tentu dalam kadar yang wajar. Tidak seperti obsesi berlebihan dalam film Obsession (2026) yang sedang ramai diperbincangkan.

Keunikan Cak Mahfud terletak pada bagaimana ia menularkan pengetahuannya. Saya, misalnya, mengenal dangdut Awara, keagungan Rhoma Irama, Ida Laila, hingga beberapa judul lagu India klasik, justru bukan dari pita kaset tua, penjelajahan YouTube, atau ulasan musik. Saya mengetahuinya dari dwilogi Dawuk, novel Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu (2017) dan Anwar Tohari Mencari Mati (2021) , tepatnya lewat kisah-kisah bualan yang meluncur dari mulut tokoh Warto Kemplung.

Buku terbarunya, Terkenang Nyonya Rissa: Bacaan-Bacaan Buruk dan Pengalaman Menyenangkan Lainnya (Warning Books, 2026), secara lebih intim membincangkan perkara riwayat bacaan seorang anak dari sudut desa di Lamongan. Hingga kemudian, ketika merantau ke Yogyakarta ia bertemu lebih banyak buku. Terkenang Nyonya Rissa juga bercerita tentang proses yang membentuk kepenulisannya, tetapi dalam taraf menceritakan karya yang berpengaruh baginya kemudian, nyaris seperti kumpulan esainya yang lain berjudul Cerita, Bualan, Kebenaran (2020).

Dalam sehimpun esai Terkenang Nyonya Rissa (2026), Cak Mahfud membahas panjang lebar nama-nama seperti Diang Pang atau Peng Tan. Ia juga mengakui kekagumannya pada Nick Hornby, serta mendedahkan riwayat bacaannya yang sumir dan mungkin sedikit dianggap ‘aib’. Dari esai-esai buku ini, kita tahu bahwa cak Mahfud tak hanya dipengaruhi oleh Kuntowijoyo, Banerjee, dan Camilo José Cela. Ada juga nama lain yang membentuk riwayat kepengarangannya seperti Putu Wijaya, Nick Hornby, Freddy S., meski dalam pengakuannya, cak Mahfud membaca Nick Hornby justru setelah lahir beberapa karyanya terdahulu.

Yang tak kalah seru adalah cerita tentang perpustakaan dan pengaruh beberapa teman. Di sinilah kita bersua dengan Mahfud muda yang ditempa oleh seorang pembaca hingga akhirnya menjadi penulis.

Ketika Mas Deni menghubungi saya untuk membahas buku terbaru Mahfud Ikhwan ini, saya langsung paham mengapa tugas ini jatuh ke tangan saya. Selain karena saya merasa “berutang” pada Dawuk, saya juga cukup akrab dengan dunia sepak bola. Bedanya, saya adalah penggemar berat Liverpool, bukan Arsenal seperti Nick Hornby atau Cak Mahfud sendiri.

Membaca pengakuan Cak Mahfud di halaman 110, misalnya, tidak salah rasanya jika saya menyebut bahwa Anwar Tohari (tokoh dalam Anwar Tohari Mencari Mati) dan/atau Warto Kemplung adalah narator yang menjadikan tokoh Mat Modar semacam epigon terhadap kisah kependekaran di Indonesia. Kedua novel itu kemudian meminjam cara ludruk bercerita: dengan bergunjing, membual, sekaligus membawa saya pada apa yang oleh Patricia Waugh—dan dikutip oleh Sunlie Thomas Alexander dalam esainya—disebut sebagai metafiksi.

Di sisi lain, membaca penjelasan Cak Mahfud soal Ashadi Siregar entah bagaimana mengingatkan saya pada latar Eva Lasting, sebuah serial televisi berlatar Kolombia tahun 70-an, ketika cerita cinta remaja berpadu kelindan dengan unsur politis di baliknya.

Serial ini menarik justru karena ia menyajikan drama anak remaja SMA yang tengah bergelut dengan keremajaannya: pertemanan, percintaan, dan konflik dengan orang tua. Namun, Eva Lasting jelas bukan sinetron picisan ala SCTV. Setiap episodenya si penulis memberi judul berupa khazanah buku-buku dunia yang sekaligus menjadi premis dan konflik dalam serial ini.

Episode 9, misalnya, berjudul Thus Spoke Zarathustra karya Friedrich Nietzsche. Atau episode 12, yang berjudul The Catcher in the Rye karya J.D. Salinger. Ada juga kutipan Surat-Surat kepada Seorang Penyair Muda (Letters to a Young Poet) karya Rainer Maria Rilke yang digunakan tokoh Granados saat hendak menjalani hubungan jarak jauh yang rumit dengan Eva. Rujukan lain seperti

Buku Nyonya Rissa adalah silsilah bacaan Cak Mahfud yang sumir sekaligus terang. Ia menyebut dan mengagungkan peran Perpustakaan Fakultas Sastra UGM yang telah mempertemukannya dengan novel Pather Panchali karya Bibhutibhushan Bandyopadhyay. Ia juga bercerita soal awal mula keranjingannya pada sepak bola. Meskipun tidak dijelaskan lebih lanjut mengapa harus memilih Arsenal, kecintaannya pada Nick Hornby membuat hal itu sudah bisa kita raba sedikit. Yang jelas, tahun ini tampaknya menjadi tahun yang membahagiakan bagi Cak Mahfud, mengingat penantian panjang setelah 22 tahun sejak era The Invincibles-nya Arsene Wenger.

Perkara bagaimana seorang Mahfud Ikhwan meramu tulisan adalah hal yang barangkali sudah kita ketahui bersama. Namun, ada pertanyaan yang mengganjal sejak saya meresensi buku Melihat Pengarang Tidak Bekerja, sekaligus saat saya berkesempatan menjadi moderator dalam diskusi bukunya di salah satu kedai kopi Kota Malang pada pertengahan 2022. Pertanyaan yang ingin saya lontarkan demi dua novelnya yang telah berjasa menemani penyelesaian tesis saya: Kapan nih, Cak, novel ketiganya lahir? Apakah akan ada trilogi, atau sedang ada proyek novel baru?

Bagi saya, membaca Mahfud Ikhwan dalam bentuk esai seperti melihat sosok Warto Kemplung di dunia nyata. Ia berbagi dengan jujur, humoris, cerdik, sederhana, sekaligus tegas dalam menyajikan cerita. Keputusannya memberi nama akun X-nya “Warto Kemplung” saya kira bukan hanya persoalan jenaka bahwa si pembual itu telah kehabisan rokok untuk melanjutkan cerita, melainkan ada persoalan keintiman mendalam antara Cak Mahfud dengan karakter narator jenaka tersebut. Termasuk bagaimana ia menguliti sumbangsih tabloid gosip, majalah bola, maupun arsip koran yang secara tidak langsung melatih indra kepenulisannya dalam meramu gaya cerita bergunjing.

Sebagai sesama orang yang berasal dari desa, kesamaan antara saya dan Cak Mahfud adalah kami sama-sama tidak dibesarkan dari keluarga literat yang sedari kecil sudah menyajikan buku-buku Enid Blyton atau penulis cerita anak ternama lainnya. Namun, jika Cak Mahfud dengan jujur mengakui keterlambatannya dalam memperluas cakrawala bacaan sastra lalu perlahan mengejarnya, kasus saya agak berbeda. Saya justru merasa terhambat oleh disrupsi teknologi sehingga waktu untuk membaca terasa sangat tipis, kalah gaung dengan hasrat membuat utas di media sosial.

Membaca buku ini memunculkan impresi yang mirip saat kita membaca Usaha Menulis Silsilah Bacaan (2020)karya Eka Kurniawan, yang berisi tentang pengakuan dari seorang penulis terhadap buku-buku yang pernah dihimpun dan membentuk isi kepalanya. Baik Eka Kurniawan maupun Mahfud Ikhwan sama-sama seorang blogger, bedanya, jika tulisan Eka terkesan “serius” dan membuat kita agak mengernyitkan kening saat membacanya, Cak Mahfud—seperti halnya Warto—adalah pembual andal yang lihai menyisipkan satu dua humor.

Menatap esai-esai Cak Mahfud sembari menonton Eva Lasting membuat saya merenungkan satu hal: ini adalah sebuah perayaan terhadap beberapa karya sastra populer yang dikisahkan lewat lensa pengarang yang sama sekali tidak bisa disebut penulis novel “pop”.

Jika sebagian besar pembaca mungkin mengenal Mahfud lewat novel debutnya, Ulid (2009), saya justru masuk lewat pintu karya setelahnya, yakni Dawuk. Oleh karenanya, perjumpaan saya dengan Mahfud terasa dekat sekaligus jauh. Dekat karena novel-novelnya menjadi objek penelitian akademik saya, juga terasa jauh karena saking produktifnya, tidak semua karyanya sempat saya lahap. Menulis bagi Cak Mahfud tampaknya adalah sebuah kerja ideologis yang intens—menulis bukan menumis, pinjam istilahnya.

Meski saya adalah generasi yang mengalami jarak cukup dengan Mahfud Ikhwan, sebab saya tak besar dari karya-karya Fredy S, era kami adalah era Tere Liye, Andrea Hirata, dan era Habiburrahman El Shirazy. Era kami bukan era Rhoma Irama, tetapi era Hindia dan popdut dari Naykilla. Kami tak besar dari film india (bollywood), tetapi kami besar bersama Power Rangers, Kamen Rider, dan Jet Li. Kami mungkin jarang berbincang soal Putu Wijaya atau Iwan Simatumpang, tetapi lebih akrab dengan Eka Kurniawan dan Mahfud Ikhwan. Dan tentu saja, kita tak mengenal Borges sebagai penulis paling akbar dari Argentina, kita justru lebih kenal Borges sebagai pemain lawan yang membantu Argentina melaju ke perempat final.

Ketika saya coba menyisir ulang buku-buku Mahfud Ikhwan di rak buku saya, masih banyak karyanya yang belum sempat saya koleksi. Namun, hal yang paling aneh adalah mengapa saya justru melewatkan buku Setelah Argentina Juara (2023). Kok bisa? Padahal saya termasuk orang yang lumayan menggemari sepak bola. Ya, mungkin karena klub favorit kami berbeda. Namun, di luar urusan sepak bola yang berselisih jalan, lewat Terkenang Nyonya Rissa, Cak Mahfud sekali lagi berhasil menuntun kita pulang ke ruang personalnya: sebuah dunia tempat dangdut Awara, sinema Bollywood, dan realisme pedesaan tumbuh bersama membentuk dirinya, membentuk novel, dan lantas menciptakan Warto-mu  dan Anwar-ku.


Dani Alifian adalah pembaca Eric Weiner, suka mencari sesuatu yang berhubungan dengan “kebahagiaan”.

Editor: Ikrar Izzul Haq
Foto: Dani Alifian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *