Esai Budaya

Ruang Kosong Patriarki Batak: yang Dangkal, yang Berisik

Di bulan Juni 2026, seseorang mengirimkan tautan Instagram. Sayangnya, saat itu, akun Instagram saya sedang non-aktif. Namun, saya tetap membuka postingan itu, melalui Safari. Tautan itu unggahan akun @ngobrolbatak yang berisi tentang perdebatan patriakisme Batak yang memang tengah gencar disuarakan. Namun sayangnya, pemahaman antara patriarki dan Batak terlalu disempitkan. Lebih jauh, dari hasil amatan saya—melalui komentar-komentar di unggahan yang dikirim tersebut—banyak sekali, entah itu gender apa, masih tabu dengan topik yang dibahas. 

Unggahan akun @ngobrolbatak (https://www.instagram.com/p/DZCQ2jciSeX/?igsh=bXZzM3ppM3BmZ245)

Permasalahan patriarki dalam Batak tak bisa disederhanakan hanya dengan narasi: suamiku nggak memperbolehkanku masak, aku memilih lelaki non-Batak karena menghindari keluarga patriarki, dan sebagainya. Pernyataan-pernyataan itu tidak mencerminkan titik tengah dialektika patriarki. Semuanya masih taraf rasa-rasa. Malangnya pula, mereka yang merasa paham patriarki dan Batak dengan bangga melegitimasi apa itu patriarki hanya sebatas “aku tak dibebani”. 

Kembali ke pokok persoalan. Unggahan akun centang biru itu, justru memperkeruh titik temu yang terjadi. Pertama, terkait siapa itu raja dan boru ni-raja. Tanpa perlu saya sarikan berjubel sitasi—sebagaimana si pembuat unggahan itu—perlu agaknya menelisik kembali apa itu raja dan boru ni-raja dalam Batak. Penamaan terhadap lelaki sebagai raja dan perempuan sekadar “anak (perempuan) raja” tidak bisa diartikan sebagai: lelaki lebih tinggi dari perempuan. Penyederhanaan yang menjurang ini perlu ditelisik kembali secara pedagogik terkait apa itu patrilineal dan turunannya. Di titik inilah, melihat lanskap sejarah juga diperlukan. Posisi lelaki sebagai raja perlu disarikan atas historikal yang majemuk.

Untuk menjawab kebodohan yang paling sakral ini, salindia keempat menjadi rujukan yang absah. Namun sebelum sampai di sana, penekanan yang utama adalah salindia tersebut telah salah merujuk “Dalihan Na Tolu” sebagai falsafah Batak. 

Istilah tersebut sebenarnya bukanlah milik Batak. Justru, program kolonialisme Belanda yang dipadu oleh misionaris Jerman—yang saat itu dikerjakan IL Nommensen dan kawan-kawannya yang merasa paling ber-Tuhan—di Tanah Batak mengubah secara frontal tatanan hidup. Jika pengunggah unggahan tersebut pernah membaca—semoga bisa membaca aksara Batak dan memegang dan menelisik dan melihat secara langsung—Pustaha Laklak, maka dengan mudah diketahui bawah Dalihan Na Tolu adalah produk kolonial yang sengaja dibuat untuk meruntuhkan dinamika kekuatan para bius. 

Dulunya, masyarakat Batak mengenal Si Opat Suhi. Istilah ini sebenarnya bisa dengan mudah ditemukan di Tonggo-tonggo Dolok Pusuk Buhit. Maka baca lah di sana, isi dari kitab kuno itu, bahwa tak sekalipun disebutkan Dalihan Na Tolu sebagai falsafah Batak. Alasannya sederhana, dalam Si Opat Suhi, dituliskan bahwa raja-raja memiliki peran dalam tatanan hidup. Lebih sempitnya, mereka adalah bius, semacam kepala kampung yang terkoneksi dengan bius lain. Adanya raja-raja ini membuat masyarakat Batak tetap menganggap Bangsa Putih yang didukung teologi Barat itu sebagai pihak yang perlu diwaspadai. Sebaliknya, keberadaan para raja adalah batu sandungan yang besar. Alhasil, kolonial menciptakan Dalihan Na Tolu. Di mana, tak ada lagi peran raja. 

Di titik ini, apa yang disampaikan pengunggah tersebut salah besar. Ini juga membuktikan, ngobrol Batak, nama akunnya, benar-benar ngobrol. Masalahnya, ngobrol sudah terlanjur bisa dianggap hal yang serius, berdaging, pedagogi. Padahal ngobrol tak jauh-jauh dari gosip. 

Kemudian, untuk menjawab pertanyaan sebelum di salindia keempat itu, perlu dilihat lagi. Saya akan berposisi bahwa memang benar Dalihan Na Tolu itu falsafah Batak. Dari jalan pikir pengunggah dan pendukungnya itu, saya akan mencarikan kebodohan lain. Pengunggah menyebutkan kalau tatanan perempuan dalam Dalihan Na Tolu itu berada di bagian paling bawah, alias ketiga

Inilah kebodohan lain. Jika saya menggunakan logika sesat seperti “perbandingan raja dengan boru ni-raja” di atas, maka anehlah kemudian ada Dalihan Na Tolu—yang bermakna tungku kaki tiga—memiliki tingkatan. Pada dasarnya, tungku tidak pernah bertangga. Tungku disebut tungku karena sejajar. Ketiga kakinya sama-sama memiliki sudut simetris, lebar yang koheren, dan sebagainya. Bagaimana pula, dalam dunia yang tak mungkin 4D ini, ada tungku yang kakinya mendaki-daki layaknya tangga? Apakah mungkin, pengunggah menganggap tungku dan tangga sama belaka?

Nah, dengan dalil inilah, si pengunggah menganggap bahwa “pantas aja patriarki, toh perempuan dianggap paling bawah dalam falsafah orang Batak”.  Padahal sebenarnya, ketiga elemen dalam Dalihan Na Tolu sama tinggi. Penyebutan boru ni-raja bukan berarti: kamu perempuan, kamu layak diinjak. 

Lebih lanjut, pengunggah melakukan cocoklogi yang tingkat ngawurnya setara dengan Hitler mati di Garut. Dengan dalil Dalihan Na Tolu sebagai tatanan bertangga—memiliki strata—boru yang diposisikan paling bawah itu hanyalah “parhobas” semata. Parhobas secara sederhananya pelayan. 

Dan kembali, pengunggah menganggap, pelayan di sini merepresentasikan pelayan pada umumnya. Ditambah pula, bahwa pelayan ini adalah perempuan. Pada kenyataannya, parhobas tidak mengenal gender. Makna parhobas bukan berarti parboru. Mari saya sederhana, saya bermarga A dan Ibu saya boru B. Maka, ketika keluarga Ibu saya melakukan pesta, saya akan menjadi parhobas. Deliknya jelas: siapa dan apa menjadi parhobas bukan karena saya perempuan, melainkan siapa dan yang berpesta (merujuk marga). Apabila penjelasan sederhana ini dianggap mumet, saya akan lanskapkan dengan realitas yang ada. 

Kebanyakan parhobas, hari-hari ini, dibagi menjadi dua. Perempuan—cenderung ibu-ibu—akan bertugas membeli bahan baku sementara laki-laki mengelola bahan baku menjadi makanan. Keduanya sama-sama parhobas. Apabila kurang jelas, mari saya contohkan realitas lainnya. Di pesta-pesta adat, tak sedikit perempuan membagikan makanan. Lalu para lelaki akan bertugas membopong jambar dan membagikannya ke marga-marga yang telah dituliskan raja parhata. Tugasnya mereka sama belaka: mengerjakan hal-hal kasar. Kendati demikian pekerjaan itu tidak hina, tidak “pantaslah perempuan selalu tertindas karena derajatnya secara falsafah memang paling bawah”. 

Mengurai Patriarki

Baiklah, sudah cukup saya mendedah kebodohan pengunggah. Permasalahan paling mendasar membicarakan patriarki di dalam Batak tidak disarankan melalui jalan bodoh pengunggah. Pembicaraan patriarki Batak perlu ditelisik dengan cara-cara yang sudah menggelinjang. Kita bisa mendedahnya melalui kajian-kajian sosial. Sitasi yang dijadikan pengunggah sebagai pendukung bahwa “saya ini benar karena ada referensi” sebenarnya bukanlah sitasi yang layak dijadikan pijakan. Referensinya sama dengan tulisan-tulisan akademik yang sudah terpublikasi di banyak rumah jurnal. 

Patriarki tercipta tidak karena ia berasal dari etnis patrilineal. Patriarki adalah bangunan budaya yang non-budaya. Sempitnya sebagaimana lokalitas dengan budaya. Patriarki di sini ialah lokalitas itu sendiri. Sementara patrilineal adalah budayanya. Memang keduanya saling beririsan. Namun ada satu retakan yang jelas untuk mengetahui bahwa keduanya bukan sama. Batak memang patrilineal dan itu benar, tetapi bukan berarti patriarki. Patrilineal adalah jaringan yang memintal sebuah sejarah etnis tetap berjalan. Patriarki sendiri bangunan dari ketidakmatangan manusia-manusia dalam lingkungan patrilineal.  Atau secara ringkasnya, lokalitas sudah tentu ada yang berbau tak beradab, tetapi budaya belum tentu. Contohnya saja, lokalitas daerah A adalah mabuk-mabukan dan mencuri, tetapi dalam trah budaya A tidak dianjurkan tindakan yang meresahkan.

Artinya, patrilineal sesuatu yang murni. Patriarki modifikasi yang awalnya bukan demikian, semacam kaca spion motor digunakan untuk berkendara, bukan melihat wajah pasangan saat berboncengan.

Kendati demikian, saya tak bermaksud mendukung patriarki dalam Batak. Hanya saja, perlu kedewasaan dan pikiran jernih mengurai hal-hal superior yang menyebalkan tentang patriarki. Tak jarang, ketika mengkritik tatanan masyarakat yang tak berkeadilan datang dari rasa benci. Inilah yang saya lihat dari unggahan Instagram tersebut. 

Lelaki sebagai raja dan perempuan hanyalah boru ni-raja tidak berarti posisi perempuan—secara Dalihan Na Tolu—tinggi rendah. Justru, penamaan boru ni-raja melegitimasi bahwa “perempuan Batak” adalah keturunan kelas atas. Harkat martabat perempuan secara falsafah adalah tonggak. Keberadaannya memang tidak ditakdirkan menjadi pemimpin, perempuan Batak tak bisa meneruskan generasi—faktor sistem patrilineal—tapi begitupun, sosoknya tak boleh dipicing belaka. Jika benar patrilineal dalam Batak sama dengan patriarki, lalu untuk apa ada kisah Boru Deak Parujar itu? Namun sekali lagi, pengunggah tidak paham hal-hal Batak yang fundamental begini; begitu pula banyak orang Batak di luar sana.  

Radja Sinaga, pernah jadi penerjemah bahasa Batak. Saat ini fokus jadi tukang nyeduh kopi. 

______________________________________________________________________________________________________

Editor: Putri Tariza

Foto oleh Putri Tariza

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *