Esai Budaya

Instagram sebagai Mise-en-scène

Beberapa waktu lalu saya melihat sebuah foto yang, kalau boleh jujur, sama sekali tidak menawarkan sesuatu yang istimewa. Bahkan cukup klise. Seorang lelaki duduk sendirian di sebuah kedai kopi, menghadap jendela. Di atas meja ada secangkir kopi, sebuah buku yang terbuka, telepon genggam, dan kacamata dengan bingkai tebal. Cahaya sore masuk dari samping, jatuh pada meja dan sebagian wajahnya. Ia tidak melihat kamera. Candid, istilahnya. Di bawah foto itu terdapat takarir pendek tentang sore, buku, dan semacam hasrat purba untuk mempunyai lebih banyak waktu bagi diri sendiri.

Kita barangkali sudah terlalu terbiasa dengan gambar semacam itu sehingga tidak lagi merasa perlu bertanya mengapa bahan dasar kesendirian selalu saja berupa buku, kopi, kacamata, cahaya sore, meja kayu, dan sebuah jendela. Semua benda tersebut tampak wajar berada di sana. Justru sebab kewajarannya, kita nyaris tidak pernah curiga bahwa foto sesederhana itu mungkin telah melalui semacam pra-produksi. Buku diletakkan pada posisi tertentu agar sampulnya terlihat. Cangkir digeser agar komposisi tidak terasa kosong. Tubuh mengambil posisi yang membuat kesendirian tampak alami, seolah-olah tidak ada siapa pun yang sedang mengatur adegan. Cahaya sore, kalau perlu, dicari. Kamera ditempatkan pada ketinggian tertentu. Setelah itu, foto masih harus dipilih dari beberapa gambar lain yang barangkali tidak pernah kita lihat.

Yang kita terima sebagai momen spontan, dengan demikian, sebenarnya merupakan hasil dari sejumlah keputusan. Foto tersebut tidak sekadar menangkap sebuah keadaan; ia menyusun keadaan agar dapat dibaca sebagai sesuatu. Kesendirian, misalnya, tidak hanya tampak karena seorang lelaki duduk sendirian, tetapi karena buku, kopi, cahaya sore, jendela, tubuh, dan ruang di sekitarnya ditempatkan sedemikian rupa sehingga kesendirian memperoleh bentuk visual.

Di titik inilah, saya pikir, Instagram menarik jika dibaca melalui konsep mise-en-scène. Istilah yang mula-mula digunakan dalam teater ini secara sederhana berarti segala sesuatu yang “ditempatkan di atas panggung”. Dalam perkembangan sinema, mise-en-scène kemudian menjadi cara untuk memahami bagaimana ruang, tubuh, kostum, cahaya, warna, properti, dan gerak diatur di dalam sebuah adegan. Dalam tradisi kritik film André Bazin, persoalan penataan tersebut menjadi penting sebab cara sebuah adegan disusun turut menentukan bagaimana realitas hadir dan dialami oleh penonton.

Kita mungkin tidak menyadari semua keputusan itu ketika melihat seorang tokoh duduk sendirian di sebuah kamar. Kita hanya menangkap kesan bahwa ia kesepian. Padahal kesepian tersebut tidak hadir begitu saja. Ia dibentuk oleh ruangan yang terlalu luas, cahaya yang redup, jarak tubuh dari benda-benda di sekitarnya, pakaian yang dikenakan, bahkan oleh ruang kosong yang sengaja dibiarkan dalam bingkai. Dengan kata lain, apa yang tampak sebagai keadaan sesungguhnya telah melalui proses penataan agar menghasilkan kesan tertentu.

Logika yang sama, dalam bentuk yang berbeda, dapat ditemukan di Instagram. Dalam film ada sutradara yang mengatur adegan, sementara di Instagram seseorang menjadi objek sekaligus sutradara atas penampilannya sendiri. Ia memilih tempat, pakaian, benda yang masuk ke dalam gambar, waktu pemotretan, lalu menentukan gambar mana yang akan dipertontonkan. Setelah foto dibuat, gambar masih dapat dipotong, warnanya diubah, filternya dipilih, takarirnya ditulis, sebelum akhirnya diserahkan kepada penonton yang jumlahnya bahkan tidak selalu diketahui.

Kehidupan yang hadir di Instagram, sebab itu, tidak pernah sepenuhnya sama dengan kehidupan yang berlangsung di luar Instagram. Bukan berarti ia palsu. Ia hanya sudah dipilah-dipilih. Sebagian dimasukkan ke dalam bingkai, sebagian lainnya ditinggalkan di luar.

Kebiasaan mengatur penampilan itu sendiri bukan penemuan media sosial. Manusia sudah lama melakukannya ketika berhadapan dengan manusia lain. Kita memilih pakaian tertentu sebelum menghadiri pesta, membersihkan rumah sebelum menerima tamu, merapikan rambut sebelum bertemu seseorang yang penting. Bahkan cara kita berbicara dapat berubah tergantung dengan siapa kita berhadapan.

Erving Goffman membaca kehidupan sosial melalui metafora teater. Dalam The Presentation of Self in Everyday Life (1956), ia menunjukkan bagaimana seseorang mengatur penampilannya di hadapan orang lain: ada panggung depan tempat peran ditampilkan dan panggung belakang tempat peran tersebut dapat dilepaskan. Instagram tidak cuma menciptakan panggung depan itu. Ia memperluasnya sampai ke ruang yang sebelumnya mungkin tidak pernah menjadi panggung, sekaligus membuat adegan-adegannya tersimpan.

Foto yang diunggah hari ini dapat menjadi bagian dari gambaran tentang diri kita bertahun-tahun kemudian. Orang yang baru mengenal kita dapat menggulir masa lalu dan membangun kesan tentang diri kita tanpa pernah mengalami masa lalu tersebut bersama kita. Dengan demikian, kehidupan yang berantakan pun mulai memperoleh semacam alur.

Kehidupan nyata jarang mempunyai cerita serapi unggahan Instagram. Seseorang dapat merasa sangat percaya diri pada hari Senin dan tidak ingin bertemu siapa pun pada hari Selasa. Ia dapat rajin membaca selama beberapa minggu, kemudian berbulan-bulan tidak membuka buku. Sebuah perjalanan dapat menyenangkan sekaligus melelahkan. Hubungan yang terlihat romantis dalam foto bisa saja sedang retak ketika foto itu diambil. Instagram hanya menyisakan bagian-bagian tertentu dari semua itu. Foto-foto yang dipilih kemudian berdiri berdampingan dan menghasilkan sesuatu yang menyerupai kesinambungan. Masa lalu tidak lagi sekadar sesuatu yang telah berlalu; ia menjadi bahan untuk menyusun cerita tentang siapa kita sekarang.

Kita mengenali seseorang melalui apa yang terus muncul dalam unggahannya. Buku yang berulang kali hadir membentuk kesan tentang seorang pembaca. Sepatu tertentu, restoran tertentu, cara berpakaian tertentu, tempat-tempat tertentu, musik, olahraga, pekerjaan, keluarga—semuanya menjadi semacam kosakata visual. Tidak perlu ada kalimat, “Saya adalah orang yang suka membaca”. Cukup tunjukkan buku itu berulang kali.

Benda mulai mengatakan sesuatu yang melampaui kegunaannya.

Sebuah buku tetaplah buku, tetapi ketika ditempatkan dalam gambar tertentu, ia juga menjadi tanda bahwa seseorang membaca. Sepatu tetap berfungsi sebagai alas kaki, tetapi sekaligus dapat berbicara tentang selera. Restoran bukan hanya tempat makan; ia dapat menjadi latar yang mengatakan sesuatu tentang gaya hidup dan kelas sosial. Kopi pun dapat berubah menjadi lebih dari sekadar minuman ketika terus muncul dalam susunan gambar yang sama.

Di sinilah pemikiran Jean Baudrillard menjadi relevan. Dalam The Consumer Society (1970), Baudrillard menunjukkan bahwa benda dalam masyarakat konsumsi tidak lagi dinilai hanya berdasarkan kegunaannya. Benda juga memiliki sign value: nilai yang berasal dari apa yang diwakilinya, dari gaya hidup, selera, bahkan posisi sosial yang dilekatkan kepadanya. Dalam Simulacra and Simulation (1981), persoalan itu bergerak lebih jauh. Citra tidak lagi sekadar mengikuti kenyataan; ia dapat ikut menentukan bagaimana kenyataan dipahami dan dialami. Sementara dalam The Ecstasy of Communication (1987), kehidupan modern semakin terbuka untuk dilihat, dibagikan, dan dikonsumsi sebagai informasi.

Instagram mempertemukan ketiga persoalan itu dalam satu layar. Benda digunakan sebagai tanda, pengalaman disusun menjadi citra, dan citra tersebut dibawa ke hadapan orang lain. Pada mulanya kita menampilkan kehidupan melalui gambar. Lama-kelamaan, kemungkinan gambar mulai ikut menentukan pengalaman yang kita pilih.

Di sinilah pergeserannya menjadi penting. Keputusan tentang bagaimana sebuah pengalaman hendak ditampilkan perlahan dapat berubah menjadi keputusan tentang pengalaman seperti apa yang layak dijalani. Kita tidak lagi hanya memotret kehidupan; kita mulai menata kehidupan berdasarkan kemungkinan bahwa ia akan dipotret.

Perubahan itu tampak pada apa yang kemudian disebut Instagrammable. Sebuah tempat tidak cukup hanya nyaman atau indah. Ia juga perlu menghasilkan gambar yang bagus-estetik. Kafe menyediakan dinding dengan pencahayaan tertentu. Restoran memperhatikan cara makanan disajikan. Hotel merancang interior dengan sudut-sudut yang mudah difoto. Tempat wisata menyediakan titik tertentu tempat orang dapat berdiri, mengangkat telepon, lalu mengabadikan dirinya.

Ruang nyata perlahan menyesuaikan diri dengan kebutuhan ruang digital. Kita masuk ke sebuah lingkaran yang agak ganjil: manusia memotret dunia, kemudian dunia mulai dirancang agar mudah dipotret manusia. Instagram tidak sekadar merepresentasikan kebudayaan yang telah ada. Ia ikut mengubah kebudayaan yang kelak akan direpresentasikannya.

Yang berubah kemudian bukan hanya benda dan ruang. Tubuh kita sendiri ikut masuk ke dalam panggung. Dalam Being and Nothingness (1943), Jean-Paul Sartre membicarakan le regard, tatapan orang lain. Ketika menyadari bahwa kita sedang dilihat, kita tidak lagi mengalami diri hanya sebagai subjek yang menjalani dunia. Kita mulai menyadari diri sebagai sesuatu yang dapat dilihat dari luar. Diri kita seakan memiliki sisi lain: diri yang kita alami dan diri yang mungkin dilihat oleh orang lain.

Pengalaman itu barangkali terdengar abstrak sampai kita berhadapan dengan kamera. Sebelum sebuah foto diunggah, kita memeriksa bagaimana tubuh terlihat, apakah pakaian memberi kesan tertentu, apakah wajah tampak terlalu dibuat-buat, apakah latarnya cukup menarik. Kita membayangkan seseorang yang belum tentu ada sedang melihat kita. Kita mencoba melihat diri sendiri dari posisi orang lain.

Kamera, dengan demikian, bukan sekadar alat untuk merekam. Ia membawa kemungkinan tatapan orang lain ke dalam kesadaran kita. Instagram kemudian menambahkan sesuatu yang tidak pernah dimiliki tatapan biasa: angka. Kita dapat mengetahui berapa orang yang melihat, menyukai, membagikan, atau menonton sebuah unggahan. Tatapan yang semula bersifat sosial dan kualitatif memperoleh bentuk kuantitatif. Kita tidak hanya dilihat; kita dapat menghitung seberapa banyak kita dilihat.

Dari sini perilaku mulai belajar. Foto yang mendapat banyak perhatian cenderung diproduksi berulang. Sudut tertentu dipertahankan. Cara berpakaian tertentu muncul kembali. Tempat yang menghasilkan respons baik dikunjungi lagi. Format yang tidak relevan perlahan ditinggalkan. Angka-angka itu tidak pernah benar-benar memerintah, tetapi cukup untuk mengajari kita representasi seperti apa yang dianggap berhasil.

Pada akhirnya, algoritma menjadi semacam sutradara yang tidak terindra. Ia tidak menyuruh kita secara langsung, tetapi turut menentukan seberapa luas panggung yang diberikan kepada setiap gambar. Kita kemudian belajar membaca panggung tersebut. Apa yang memperoleh perhatian dianggap berhasil; apa yang tenggelam dianggap gagal.

Selera personal pun mulai bernegosiasi dengan selera algoritmik. Kita memilih apa yang ingin ditampilkan, algoritma menentukan seberapa jauh tampilan itu beredar, kemudian respons orang lain memengaruhi apa yang kita tampilkan berikutnya. Siklus itu terus berlangsung: mengatur, mengunggah, menerima respons, belajar, lalu mengatur kembali. Pada satu titik, batas antara apa yang ingin kita tampilkan dan apa yang kita tahu akan mendapatkan perhatian menjadi semakin kabur.

Barangkali The Truman Show (1998) dapat membantu membayangkan keadaan tersebut. Dalam film itu, Truman Burbank hidup di sebuah dunia yang ternyata merupakan set raksasa. Rumahnya, kota tempat tinggalnya, orang-orang di sekelilingnya, bahkan cuaca yang ia alami merupakan bagian dari pertunjukan yang ditonton jutaan orang. Ketegangan film tersebut lahir dari kenyataan bahwa hidup Truman adalah sebuah rumah produksi, sementara ia sendiri tidak mengetahui bahwa dirinya sedang menjadi tokoh utama.

Instagram membalik situasi itu dengan cara yang lebih absurd. Kita tahu bahwa kita berada di depan kamera. Tidak ada sutradara yang secara langsung menyuruh kita tersenyum atau berdiri di tempat tertentu. Kita sendiri yang memilih lokasi, pakaian, benda, sudut, cahaya, kemudian mengambil gambar dan mengunggahnya kepada penonton yang bahkan tidak selalu kita kenal. Truman terjebak dalam panggung yang dibikin orang lain. Pengguna Instagram berpotensi terjebak dalam panggung yang dibuatnya sendiri.

Perbedaannya penting. Persoalannya bukan bahwa media sosial melahirkan manusia palsu. Tuduhan semacam itu terlalu naif dan sederhana. Manusia memang selalu menampilkan dirinya melalui bentuk-bentuk sosial. Bahkan kejujuran pun memiliki cara tampilnya sendiri. Seseorang dapat menceritakan kesedihan dengan sangat jujur, tetapi tetap memilih bagian mana yang hendak dibagikan dan bagian mana yang disimpan. Persoalan Instagram bukan bahwa semua yang tampil di sana adalah kebohongan. Persoalannya adalah kita semakin terbiasa memikirkan pengalaman dari sudut pandang penonton.

Fenomena budaya semacam itu berlangsung tanpa suara. Tidak ada satu hari ketika seseorang bangun tidur lalu memutuskan untuk menjadikan hidupnya sebagai pertunjukan. Yang ada hanyalah kebiasaan-kebiasaan kecil: memotret sebelum makan, mencari cahaya yang bagus, mengambil beberapa gambar sebelum memilih satu, menghapus foto yang dianggap tidak menarik, memikirkan takarir, memeriksa respons, lalu mengulanginya lagi pada hari berikutnya.

Lama-kelamaan, kamera tidak lagi selalu berada di tangan. Ia pindah ke kepala. Kita mulai membawa kemungkinan sebuah gambar ke dalam pengalaman sebelum gambar itu dipotret-direkam. Sebuah perjalanan dipikirkan bersama kemungkinan fotonya. Sebuah pakaian dipilih dengan membayangkan bagaimana ia akan terlihat. Sebuah tempat dinilai berdasarkan apakah ia layak masuk ke dalam bingkai. Bahkan sebuah momen yang sebenarnya menyenangkan dapat terasa kurang lengkap karena tidak meninggalkan dokumentasi yang cukup baik.

Padahal manusia memang memiliki kebutuhan untuk menyusun kekacauan hidup menjadi cerita. Kita mengingat masa lalu melalui fragmen-fragmen, lalu menghubungkan fragmen tersebut agar terasa sebagai satu kehidupan. Instagram menyediakan perangkat yang sangat mudah untuk melakukan pekerjaan itu. Kita memilih foto dari masa lalu, menghapus yang tidak sesuai, menambahkan gambar baru, lalu melihat semuanya sebagai arsip tentang diri sendiri.

Masalahnya muncul ketika arsip itu berubah menjadi tuntutan. Ketika seseorang merasa harus selalu memiliki sesuatu untuk ditampilkan, kehidupan yang tidak menghasilkan gambar dapat terasa seperti kehidupan yang tidak terjadi. Hari yang biasa saja tampak kurang bernilai karena tidak ada yang bisa diunggah. Perjalanan yang tidak menghasilkan foto bagus terasa seperti perjalanan yang sia-sia. Pengalaman pribadi perlahan dapat diukur berdasarkan kemungkinan apakah ia layak dibagikan.

Di titik ini, keterlihatan menjadi berbahaya ketika berubah menjadi ukuran keberadaan. Tidak semua yang penting dapat difoto. Tidak semua pengalaman memiliki komposisi yang indah. Banyak hal yang paling menentukan dalam hidup justru berlangsung di luar bingkai: percakapan panjang yang tidak direkam, kegagalan yang tidak diceritakan, keputusan yang dibuat sendirian, hubungan yang tidak pernah dipublikasikan, atau sore yang hanya dihabiskan dengan duduk tanpa melakukan sesuatu yang pantas menjadi konten.

Kehidupan semacam itu tidak menjadi kurang nyata hanya karena tidak memiliki dokumentasi.

Mungkin justru di sanalah pertanyaan tentang Instagram menjadi lebih menarik. Bukan apakah kita masih memiliki kehidupan yang autentik—seolah-olah ada kehidupan murni yang pernah bebas dari tatapan orang lain—melainkan apakah kita masih mampu mengalami sesuatu tanpa terlebih dahulu membayangkan bagaimana sesuatu itu akan terlihat?

Sebab barangkali ada saat ketika seseorang duduk di sebuah kedai kopi, membuka buku, memandang keluar jendela, dan untuk beberapa menit tidak memikirkan bagaimana adegan itu akan terlihat. Tidak ada lensa kamera yang diarahkan kepadanya. Tidak ada foto yang sedang dipilih. Tidak ada takarir yang sedang disusun. Tidak ada orang yang menunggu unggahan berikutnya. Ia hanya duduk di sana, membaca beberapa halaman, menyeruput kopi yang mulai dingin, lalu pulang ketika hari hampir gelap.

Adegan semacam itu besar kemungkinan tidak akan pernah muncul di Instagram. Dan jangan-jangan justru sebab itulah ia barangkali masih menjadi milik kehidupan.


Moch. Aldy M.A. adalah seorang penyair dan pekerja budaya.

Editor: Ikrar Izzul Haq
Foto: Ikrar Izzul Haq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *