Di tengah Hutan Wonju, saya menyaksikan bagaimana yang abstrak menjadi konkret. Yang semula seperti angin gigil musim gugur sekonyong-konyong dirasakan tubuh yang berdarah-daging.
Siang itu, Kim mengajak saya dan Med ngopi syantik di kafe yang juga toko buku. Tapi, yang tak Kim sebut, betapa tempat itu bukan toko buku biasa. Di sana tak hanya menyediakan kopi dan buku, tapi juga keajaiban!
Izinkan saya menceritakan perjalanan kami. Untuk sampai ke sana, dari tengah kota, kami harus melewati jalan menanjak nan berkelok menuju kaki bukit. Di kanan-kiri, saya menyaksikan hamparan padi menguning bersanding dengan sayuran hijau pegunungan yang kelak, kata Kim, akan menjelma kimchi.
Di saujana, kami melihat rimbun pepohonan tinggi dan ke sanalah kendaraan Kim menuju. Begitu tampak papan toko buku Teodeukgol, mobil putihnya berbelok tajam sebelum berakhir di area parkir. Kami disambut anak tangga bebatuan yang di antara deretan krisan putih sebelum tiba di pintu yang diapit dinding kertas.
Di sana, kamu akan mendengar orkes tonggeret dari wana yang tampak dari jendela dan denting genta angin yang tergantung di berbagai sudut ruang. Waktu merambat lambat dan kebisingan dunia mendadak lenyap. Dalam nuansa bening itu, kamu bisa membaca buku-buku beraksara Hangeul: dari buku anak, sastra, hingga sains popular. Kamu bisa menemukan Le Petit Prince Antoine de Saint-Exupery versi pop-up hingga Cosmos Carl Sagan.
Tapi, keajaiban yang saya maksud bukan itu semua. Ketika kopi vanila latte yummy dan creammy sudah tandas dan tawa kami telah lepas, Pak Namuseon, pemilik toko itu, mengajak kami menuju belakang. Dengan benak penuh tanya, saya membuntuti Pak Namuseon bersama Kim dan Med. Sambil mendaki bukit, ia menjelaskan dengan bahasa Korea yang berusaha saya pahami lewat aplikasi alih bahasa yang mengingatkan saya pada konyaku penerjemah milik Doraemon. Intinya, menurut konyaku—jika mesin ini memang waras—Pak Namuseon mempertanyakan anggapan bodoh atas orang yang membuat permintaan. Saya jadi ingat kawan saya dengan tengil pernah meragukan keampuhan doa. Baginya Tuhan tidak ada sehingga doa perkara sia-sia.
Menurut Pak Namuseon, doa memiliki penjelasan masuk akal. Ia percaya bahwa apa yang kita yakini akan terwujud. Buktinya wajah kita. Jika kita sedih, wajah kita menampakkan kesedihan. Jika kita gembira, wajah kita menjelma sukacita. Jika seseorang memohon, “Tolong bikin saya bahagia,” pada dasarnya ia percaya bahwa saat itu dirinya tidak bahagia. Karena merasa tidak bahagia, ia minta dibahagiakan. Jadi, menurutnya, kita harus mendeklarasikan dulu bahwa “kita bahagia”. Dengan demikian, jiwa akan memercayai dan mengejawantahkannya dalam diri.
Lalu, Pak Namuseon menunjuk papan hitam. Satu-satunya tulisan yang dapat saya mengerti hanyalah “Before I Die” yang dilanjutkan huruf Hangeul. Konyaku menerjemahkannya: Cara Menggunakan Onarodeu. Papan tersebut memberi petunjuk dalam tiga tahap: merumuskan keinginan, menuliskan keinginan sekaligus kekhawatiran, dan mengucapkan keinginan itu kepada semesta sambil melepaskan ketakutan.
Tahap pertama disebut “aturan keputusan pohon Onya”. Ia pohon ajaib pengabul permintaan, produk imajinasi sang istri yang merupakan penulis buku anak. Ia telah menerbitkan buku tentang si pohon Onya.
Tahap pertama memiliki empat ketentuan. Pertama, menuliskan keinginan dalam bentuk sekarang, bukan yang hanya akan terjadi di masa depan. Kedua, keinginan itu harus sesuatu yang baik bagi diri sendiri dan orang lain. Ketiga, si pemohon harus merumuskannya dengan selaras dan terperinci. Keempat, membayangkan keinginan tersebut setiap hari selama seratus hari.
Tahap kedua berisi perintah untuk menuliskan keinginan dan kekhawatiran pada kertas yang berbeda. Tahap ketiga meminta kita pergi ke rumah Onya, mengingat keinginan itu, mendentingkan genta angin sembari mewartakan keinginan kita kepada semesta. Lantas, kita mendentangkan lonceng itu untuk terakhir kalinya agar kekhawatiran kita terbang dan lenyap dari benak.
Pak Nemuseon mempersilakan kami menjajal instalasi tersebut. Med mencoba pertama. Ia cukup lama memikirkan keinginannya. Lalu, ia mengucapkan sebuah permintaan: rumah bagi ibunya. “Mengapa tidak memikirkan sesuatu untukmu sendiri?” tanya Pak Namuseon. Pertanyaan itu menebas hati saya.
Sejak belia, Med, saya, dan juga banyak perempuan agaknya kerap menerima nasihat untuk mendahulukan orang lain, terutama orang tua dan anak, daripada diri sendiri. Di banyak kebudayaan, anak lelaki dan perempuan memang sama-sama diajarkan untuk berbakti kepada orang tua. Namun, kewajiban itu tidak selalu dibebankan dengan cara yang sama. Laki-laki diharapkan menjadi penopang ekonomi, sedangkan perempuan sering diarahkan untuk mengambil peran perawatan sehari-hari. Sudah jamak, perempuan diwajibkan merawat orang tua yang telah uzur, sedangkan anak laki-laki setor duit belaka. Karena itu, tak jarang anak perempuan merelakan impian demi merawat orang tua, sedangkan anak lelaki bebas meraih mimpi.
Pada seorang ibu, pengorbanan itu bahkan bisa dimulai dari perkara sederhana: memberikan lauk terbaik kepada anak dan suami, sedangkan dirinya mengambil sisa atau yang tak disukai anggota keluarga. Bila menyantap hidangan ayam utuh, ia akan memilih kepala atau ceker. Dari sana, pengorbanan perlahan menjalar ke hal-ihwal lebih besar—menunda kesenangan, mengesampingkan kebutuhan sendiri, bahkan mengubur cita-cita. Seolah-olah menjadi ibu sama artinya dengan bersedia meletakkan dirinya di urutan paling belakang. Seakan-akan pengorbanan adalah sebuah kewajaran.
Doktrin semacam itu kerap disampaikan melalui pesan religius maupun petuah berbasis budaya. Maka, ketika memilih mendahulukan keinginan, kebutuhan, atau impiannya, seorang perempuan akan berhadapan dengan label “egois”.
Itulah mengapa, seorang ibu yang ngopi sendiri di kafe sambil membaca buku atau sekadar cuci mata di mal akan mudah dihakimi dalam balutan basi-basi: “Anaknya sama siapa?” atau “Kok enggak merasa bersalah ninggalin anak untuk bersenang-senang?” Seolah-olah si bapak tidak punya tanggung jawab untuk mengasih dan mengasuh. Padahal, bisa jadi si ibu telah menghabiskan banyak waktu untuk mengasuh. Ia hanya perlu secuil waktu untuk tetap waras. Seorang pria yang berdinas ke luar kota berhari-hari atau bahkan bertahun-tahun hampir mustahil dihajar pertanyaan semacam itu.
Di hadapan pohon Onya, segala yang samar menemukan wujud. Segala emosi yang selama ini tak mampu dipahami perlahan-lahan menemukan bentuk. Di sana, saya menyadari betapa banyak perempuan yang telah berkorban demi orang lain, demi kebahagiaan mereka, sembari menganggap keinginan-keinginannya sendiri sebagai egoisme, tak penting, dan layak dikubur dalam-dalam.
Pohon pinus, genta angin, dan simfoni tonggeret di Wonju bagai memberi kami keberanian untuk jujur. Membiarkan yang abstrak menjadi konkret. Ia menjadi tulisan yang digantung di dinding pondok, genta angin yang didentangkan di jantung jenggala, kata-kata yang akhirnya kami ucapkan dengan terus terang.
Dan alam seakan-akan membisikkan sesuatu yang sederhana: Tak masalah punya keinginan untuk diri sendiri. Sebab, boleh jadi, harapan yang terdengar egois, seperti keinginan untuk bahagia, justru membawa kebaikan bagi orang-orang di sekitar kita. Bukankah hanya mereka yang bahagia yang dapat memercikkan kebahagiaan ke dalam dada orang-orang yang disayangi?
Sasti Gotama adalah Pemimpin Redaksi sivitaskotheka.org
Editor: Royyan Julian
Foto: Sasti Gotama


