Esai Budaya

Merawat Takdir Bumi

Bumi tak perlu diselamatkan karena manusia pun ia akan tetap baik-baik saja. Justru manusialah, makhluk yang kebetulan menumpang hidup di atasnya, yang sebenarnya sedang menyelamatkan spesiesnya sendiri. Kira-kira begitu takarir unggahan Fahad Sultany, kawan baikku, yang telah kupastikan lahir dari keresahannya sendiri, bukan hasil comotan AI. Dia tidak seberuk itu untuk coba-coba mengeksploitasi AI hanya demi dicap sebagai seorang aktivis lingkungan.

Di umur bumi yang sudah sangat tua, hendak mengharap apa lagi selain tanah yang senantiasa subur, laut yang tetap kaya ikan dan udang, serta udara yang bersih? Setidaknya untuk mencegah busung lapar dan memastikan hari esok kita tetap bisa bernapas tanpa tabung oksigen. Namun sayang, mau seberapa kencang manusia berharap, cita-cita tersebut tetap akan bertabrakan dengan dua realitas manusia yang sifatnya bawaan: nekrofilia dan biofilia. Bawaan psikologis itu tidak dapat sepenuhnya dihilangkan sebab keduanya saling bertaut dan boleh jadi saling melengkapi. Biofilia merupakan kecenderungan bawaan psikologis manusia yang cenderung mencintai keindahan, kesuburan, keberlangsungan hidup, dan berbagai konotasi positif mengenai jagat raya. Sebaliknya, nekrofilia condong menyukai kehancuran, kematian, tindakan amoral, dan seperangkat perilaku destruktif lainnya. Barangkali itu yang berhasil kutangkap saat mencoba memahami teori yang digaungkan Erich Fromm.

Dalam sistem jagat ini, kedua orientasi itu saling cakar, saling mengeliminasi, saling timbul-tenggelam untuk mempertahankan eksistensi masing-masing. Naluri konstruktif dan destruktif itu kurasa akan selamanya terkoneksi agar mencapai titik ekuilibrium. Jika salah satunya lebih dominan, keberlangsungan hidup kuyakin tidak akan dinamis. Misalnya, jika laju natalitas cenderung lebih cepat dibanding mortalitas, maka kesediaan lahan akan semakin tipis dan dunia berisiko krisis pangan. Orientasi destruktif pada hakikatnya menjadi penyeimbang orientasi konstruktif.

Pertalian itu, kurasa perlu diluruskan, dan perlu dikembalikan pada kehendak sang Penguasa Jagat yang menciptakan keduanya. Barangkali otak-otak dangkal akan mengilhami narasi ini guna menormalisasi laku kejahatan dan perilaku korosif; semacam dalih untuk memperkarakan Tuhan. Padahal, nyatanya tidak. Aku teringat pada pembacaan Tarian Bumi karya Oka Rusmini mengenai ini: Sang Hyang Widhi sudah memilihkan peran untuk masing-masing manusia yang diciptakan-Nya. Kurang lebih begitu. Meski sang Jagat mewariskan dua orientasi tersebut pada anak Adam, kontrol tetap ada pada diri manusia sendiri. Manusia punya dua opsi, yakni untuk menggunakan salah satunya, atau tidak sama sekali—pilihannya cuma dua, tolak atau terima.

Jadi bisa kupahami bahwa dalam pertalian itu, konsep biofilia dan nekrofilia bisa terdengar masuk akal hanya jika berada dalam kapasitas sang Jagat saja, tidak perlu intervensi manusia. Manusia tidak perlu berlagak menjadi penyeimbang natalitas dengan menjelma pembunuh berdarah dingin untuk membasmi kepadatan penduduk. Manusia tidak perlu berlagak menjadi pembakar hutan—seperti halnya Namrud menghanguskan Ibrahim—untuk menciptakan lahan yang baru. Sang Jagat sudah cukup ekspertis untuk merenda semuanya biarpun tanpa campur tangan manusia.

​Dalam kapasitasku sebagai mahasiswa Sastra Indonesia (yang akrab dengan deret alfabetis dan sering kali membuat sakit pinggang sebab duduk berjam-jam di depan laptop), menyikapi isu yang terjadi, aku getol menyuarakan soal kebakaran hutan di Kalimantan (meski tak kunjung terjamah oleh algoritma Instagram), atau setidaknya dengan caraku sendiri. Bagiku, menulis merupakan cara paling elegan untuk mengkritisi sebuah persoalan. Dan hal ini jugalah yang sepatutnya dilakukan sejumlah figur publik di Indonesia. Raffi Ahmad dengan 74,9 juta pengikutnya, Ria Ricis dengan 36,7 juta pengikutnya, dan Atta Halilintar dengan 38,1 juta pengikutnya. Namun, tak ada satu pun dari mereka yang bersuara soal kebakaran hutan. Lantas, apa guna berjuta-juta pengikut kalau tak digunakan untuk menjadi pemengaruh lingkungan dadakan? Persetan dengan dadakan, sebab ini jelas-jelas perkara krusial.

Kegeramanku pada sejumlah figur publik tak bisa kutahan-tahan lagi. Mereka tak menggunakan pamor sosialnya dengan bijak (setidaknya dalam menyikapi kasus ini). Kebakaran hutan yang terjadi di Kalimantan perlu mendapat sorotan lebih dari para pelaku sosial, meskipun, katakanlah, dengan cuitan unggahan seadanya. Hal yang demikian lebih menunjukkan empati dan kepedulian ketimbang sengaja bungkam demi mengamankan jabatan dan posisi sosial.

Tak usah berharap lebih pada pemegang kursi yang gempal-gempal itu. Aku meyakini perut buncit sebagai simbol kesuburan, tapi tidak dalam hal ini. Alih-alih menjadi lambang fertilitas, aku malah memandang lemak tambun itu sebagai simbol keserakahan yang sulit disembuhkan. Dalam wacana modern, perut buncit tidak lagi menjadi simbol kemakmuran. Ia bergeser jadi representasi penumpukan kekayaan yang tidak wajar. Juga, para penegak moral, tak ubahnya komunal yang gagu akan kemanusiaan. Selayaknya protektor di garda terdepan, para penegak moral mestinya berdiri di pihak oposisi. Ingatanku seketika melambung pada pembacaan Tetralogi Pulau Buru (entah yang mana) karya Pramoedya:

Tidak lain dari polisi sendiri yang paling tahu: tidak ada manusia suci di dunia ini. Setiap orang pernah melakukan kesalahan, kekeliruan, dan kejahatan. Juga anggota kepolisian itu sendiri. Orang ditangkap oleh polisi karena kejahatan yang dapat dibuktikan dan disaksikan. Yang tak dapat dibuktikan dan disaksikan tetap jadi rahasia pribadi, mungkin sampai matinya.

Narasi itu seolah mewakili kondisi kiwari, di mana penegak moral seolah menjadi penampung informasi dan penadah kebenaran semua persoalan. Kemudian mereka akan berlagak memilah mana yang perlu diwartakan sebab tidak mengancam kekuasaan, dan mana yang hanya cukup menjadi konsumsi pribadi lantaran dinilai riskan.

​Pelaku sosial, dalam hal ini figur publik, tidak semestinya demikian. Dengan jutaan pengikut, mereka sebetulnya bisa menjadi pemengaruh lingkungan dadakan, bukan malah memalak sejumlah uang untuk dapat melihat konten eksklusif di tiap minggunya (kurasa ini kezaliman yang dibungkus gaya hidup hedonis). Mereka bisa menggunakan pamor sosialnya untuk mengawal isu karhutla alih-alih bisu.

Mengapa kukatakan demikian? Sebetulnya, sesederhana analogi seperti ini: Kau haram berbicara soal kehamilan atau kelahiran pada manusia mandul, juga jangan berkicau soal pencapaian yang prestisius pada mereka yang sedang merintis dan berjuang habis-habisan. Sekilas tidak ada yang salah, tapi begitu menyentuh sisi kemanusiaan, cara mengekspresikan kebahagiaan tadi bukan lagi dipandang sebagai angin segar, melainkan stimulus untuk mengutuk diri dan memicu trauma bagi orang lain. Sama halnya dengan figur publik yang menggunakan berjuta-juta pengikutnya hanya untuk mengejar jam tayang, mengumpulkan pundi-pundi rupiah lewat endorsemen, dan berlenggak-lenggok di depan layar untuk meraup jutaan likes. Ironis sekali.

Jika mereka berdalih bahwa dengan kuasanya telah berkontribusi untuk titik api meski tak tersorot kamera, atau siang-malam tak henti-hentinya berdoa, mari bijaksana. Apa guna pamor jika tak sesuai peruntukannya? Apa guna kuasa bersayap-sayap jika tak dieksekusi sebagaimana semestinya? Dalam kapasitas figur publik, berkontribusi secara diam-diam (off cam) sama saja kosong. Bukankah bagi mereka, validasi menjadi bahan bakar untuk semakin gencar memamerkan kekayaan? Maka, bisa kukatakan, berdampak dengan kamera tertutup, kurasa sama saja bohong.

Dengan pamor yang mereka miliki, mereka bisa menggunakannya untuk mengawal isu kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan lewat seruan lingkungan kepada para pengikut setia. Pamor dan kelas yang mereka miliki merupakan magnet bagi para pelaku sosial untuk menghimpun lebih banyak atensi. Tidakkah seperti ini yang semestinya mereka lakukan agar tak semata-mata berorientasi pada gaya hidup hedon? Tapi rupanya agak berbeda. Dalam budaya kita, orang seolah dididik untuk menghamba pada kehidupan gemerlap selebritas tajir, sekaligus memusuhi orang-orang yang kritis terhadap gaya hedonis para sultan itu. Betapa berbahaya ketika kita tersihir dengan karisma, popularitas, dan sebutan-sebutan prestisius. Hanya karena seseorang berpamor sosial tinggi, tidak menutup kemungkinan bahwa ia juga nirempati.

Titik ini membuatku semakin meyakini narasi Oka Rusmini tadi, bahwa peran nekrofili juga dapat terpelihara dalam kehidupan para sultan. Dan barangkali benar, mereka tidak buta, hanya saja pura-pura tuli. Mereka menggunakan pamor sosialnya hanya untuk memperkaya diri, tidak untuk memitigasi bumi. Atau, dalam pemikiran liarku, mereka menggunakan jutaan pengikut cuma demi memenangkan (atau bahkan turut melanggengkan) rezim anti-pendidikan yang berkuasa sekarang. Aku tergelitik pada pemikiran nyeleneh yang terdedah di depan mataku. Bisa saja benar, bukan?

Sekarang, untuk memitigasi bumi yang tengah pincang, tidak lagi disarankan mengharap pada sesama manusia, tapi hanya pada sang Jagat. Toh, manusia yang gemuk-gemuk itu tidak akan bisa menurunkan hujan, bukan? Hanya sang Jagat yang dapat mengguyur bumi Indonesia ini dengan hujan, sampai setidaknya titik api benar-benar padam, atau paling buruk mendatangkan air bah dan menenggelamkan domba-domba gemuk itu, seperti halnya banjir besar menenggelamkan kaum Nuh. Kurasa dalil “orientasi destruktif pada hakikatnya menjadi penyeimbang orientasi konstruktif” Erich Fromm akan sangat masuk akal di sini. Sebab, betapa pun mestinya, alam akan mengeliminasi perusak dan sesiapa yang membiarkan kerusakan terjadi dengan caranya sendiri.


Choirul Anam adalah pemuda asal Sampang yang memilih keluar dari tradisi keluarganya yang numerik.


Editor: Asief Abdi
Foto: Asief Abdi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *