Ishmael jelas tak pernah menyangka kalau pelayarannya bersama Pequod bakal berujung petaka. Alih-alih menangkap banyak paus untuk dibawa pulang dan ditukar sekantong uang, sang kapten malah mengarahkan haluan ke sesosok makhluk yang lebih mirip mitos ketimbang binatang—Lewiatan yang menyeret segenap awak kapal ke rahang maut.
Tak cuma Ishmael, kru kapal yang lain juga tak menduga kalau keputusan mereka untuk menjadi awak Pequod adalah mimpi buruk. Kapal itu berada di bawah titah mutlak Kapten Ahab. Dan jika si pria tua punya masalah dengan seekor paus raksasa yang pernah merenggut sebelah tungkainya, maka segenap kru mesti turut berurusan dengan makhluk itu. Akan tetapi, monster laut yang mereka incar bukan hewan biasa. Ia adalah Moby Dick, si paus putih.
Moby Dick adalah novel klasik Amerika karangan Herman Melville. Novel tersebut mengisahkan perburuan paus abad ke-19. Di abad segitu, manusia mengincar paus demi minyak hewani yang berharga—sebagai bahan bakar dan pelumas mesin. Namun tak semua orang mengincar uang. Bagi Kapten Ahab, mengejar seekor paus albino sama sekali bukan perkara hitung-hitungan dagang, melainkan obsesi dan balas dendam.
Kisah gelap Ahab dan awak kapalnya barangkali merupakan sebentuk kritik penulis terhadap perburuan paus besar-besaran kala itu. Melville pernah menjadi pelaut di kapal pemburu paus. Boleh jadi, pengalaman itu menyeret dia ke dalam sebuah kontemplasi mendalam tentang obsesi serta sejauh mana manusia mesti berhenti. Ada batas yang tak boleh dilampaui atau manusia bakal celaka.
Dalam pembacaan macam itu, sang paus albino bisa ditafsir sebagai ukuran batas kehendak manusia. Ahab menjadi representasi ideal manusia yang tak mau keinginannya dipagari. “Aku akan mengejarnya ke Tanjung Harapan, ke Tanjung Horn, ke Pusaran Norwegia, dan ke api kehancuran sebelum aku menyerah padanya!” tegas sang kapten; mengisyaratkan hasrat yang mutlak dan menolak tunduk pada batas; sebuah kegilaan yang menyeret Pequod ke pusaran maut. Padahal, batas itu punya isyarat sendiri untuk menegaskan diri; sebuah pertanda yang sering kali gagal ditangkap manusia—yang sering kali baru kita pahami begitu segalanya sudah terlambat.
Moby Dick, binatang itu tak hanya agung, tapi juga aneh; ia putih, tak seperti lazimnya paus di samudra. Di titik inilah albinisme sang monster memancarkan kekuatan simboliknya sebagai lebih dari sekadar mamalia laut raksasa. Ishmael merenungkan ke-putih-an Moby Dick dan membacanya sebagai perlambang dua unsur yang paradoks.
Dalam bab The Whiteness of the Whale, Ishmael membelah warna putih ke dua kutub makna: keindahan dan ancaman. Bagi dia, walau warna putih lekat dengan sesuatu yang suci nan mulia, dalam kasus tertentu, tatkala ia dilekatkan ke suatu horor—misalnya beruang kutub dan hiu putih besar—warna putih malah membuat ancamannya makin nyata. “Selain tubuhnya yang putih polos dan bersisik, apa lagi yang menjadikan mereka horor yang transenden?”
Refleksi macam itu tentu mengingatkan kita akan gagasan tremendum et fascinans; bahwa yang sakral senantiasa ambivalen—ia menakutkan sekaligus mengagumkan. Moby Dick bisa dianggap sebagai alegori kekuatan semesta yang sakral. Sang paus seolah teofani Tuhan di tengah samudra. Oleh karena itu, memburunya saja bisa dianggap penghinaan. “Cukup! Bukankah ini blasfemi?” kata Starbuck merespons kegilaan sang kapten.
Melville juga memberi refleksi lain lewat perenungan Ishmael soal warna putih itu. Bagi dia, putih juga bisa diartikan sebagai keseluruhan makna—sebagaimana ia merupakan gabungan semua warna—atau malah sebaliknya: kekosongan. Gagasan tersebut tentu mengingatkan kita pada ajaran Buddhisme yang dipopulerkan Biksu Tong dalam serial Kera Sakti: kosong adalah isi dan isi adalah kosong; sebuah isyarat bahwa sesuatu bisa kosong sekaligus penuh. Maka, sang paus yang bertubuh putih tak ubahnya keberisian yang kosong; maknanya melampaui pemahaman manusia—ia adalah yang tidak terkatakan. Di hadapan ketakberhinggan, manusia dipaksa mengakui keterbatasannya.
Namun, berhadapan dengan yang tak terbatas tidak selalu melahirkan kerendahan hati dalam jiwa manusia. Paus yang merenggut kaki Ahab mengingatkan kita pada satu fragmen dalam Kitab Kejadian, yakni ketika Yakub bergulat dengan seseorang—yang kelak ia sadari sebagai perwujudan Allah. Dalam pergumulan itu, Yakub kena pukul di bagian pinggul hingga ia pincang—mirip Ahab yang pincang usai kehilangan sebelah kakinya. Kendati boleh dibilang pengalaman keduanya mirip, Yakub dan Ahab merespons dengan cara yang berbeda.
Jika Yakub menerima momen kudus itu sebagai berkat, Ahab justru menafsirkannya sebagai ancaman. Di hadapan yang tak terhingga, Yakub memilih tunduk, sedangkan Ahab malah berontak dan bersikeras menaklukkannya. Sang kapten tak ingin sepak terjangnya dihalangi. Karena itu ia berusaha melampauinya—melebihi kekuatan yang mengatur dan membatasi kehendak manusia. Dalam arti tertentu, Ahab ingin membunuh Tuhan—atau setidaknya, tanda kebesaran-Nya.
Ishmael berkali-kali menyebut paus sebagai “Lewiatan”, sosok monster mitologis yang disebut di Alkitab. Dalam Kitab Ayub, Lewiatan digambarkan sebagai makhluk mengerikan yang tak seorang pun berani membangkitkan amarahnya. Walau kerap diterjemahkan sebagai “buaya”, Lewiatan juga dipahami sebagai monster laut; makhluk agung perlambangan kekuatan Tuhan yang melampaui kuasa manusia.
Dalam banyak legenda, monster laut menjadi medium inisiasi seseorang. Yunus, misalnya, mesti ditelan dulu oleh ikan raksasa sebelum keluar kembali sebagai diri yang baru—seorang nabi. Atau Pinokio yang lahir kembali sebagai bocah sungguhan usai keluar dari mulut ikan raksasa.
Namun Ahab lain. Perjumpaannya yang mengerikan dengan Moby Dick tak menuntunnya ke arah kebijaksanaan. Alih-alih, ia menerjemahkannya sebagai penghinaan yang mesti dibalas. Maka, apa yang dialami Ahab lebih mirip momen inisiasi yang gagal; tatkala seseorang urung meraih kebijaksanaan dari sebuah momen ambang.
Ironisnya, nuansa inisiasi malah terasa di tokoh Ishmael. Anak muda itu menjadi satu-satunya awak yang selamat—sebagaimana Tuhan menyelamatkan Ismail dan ibunya, Hagar, di padang gurun. Setelah Pequod karam, ia berpegangan pada peti mati Queequeg—ironis, sesuatu yang lekat dengan maut malah jadi pelampung kehidupan. Dari rahim sang segara, Ishmael seakan terlahir kembali, sebagai seorang penyintas. Episode tersebut mengingatkan kita perihal simbolisme rahim primordial sang segara—ia yang menelan sekaligus melahirkan.
Barangkali memang begitulah sifat lautan. Kita tak pernah tahu apa yang bersembunyi di kedalamannya. Tak mengherankan jika samudra kerap jadi perlambang chaos. Enuma Elish, sebuah epos kosmogoni Babilonia menggambarkan laut sebagai Tiamat, sesosok monster primordial yang dikalahkan Marduk. Dari dua potongan tubuh Tiamat, lahirlah langit dan bumi. Sang dewa telah mengubah kekacauan menjadi keteraturan—chaos diubah jadi cosmos.
Lewiatan dalam tradisi Yudaisme agaknya punya pola yang sama dengan dewi kuno Mesopotamia tersebut. Kitab Yesaya mencatat Lewiatan sebagai sesosok ular laut raksasa yang dibunuh Tuhan menggunakan pedang-Nya. Monster laut itu dianggap simbol kekacauan. Walau demikian, ia tetap berada di bawah kuasa ilahi—hanya tangan Tuhan yang sanggup menghukumnya.
Jika membaca paus sebagai Lewiatan, perburuan mamalia laut itu secara gila-gilaan pada abad ke-19 tak sekadar perkara uang, tapi juga gengsi. Sebab, siapa pun yang bisa menaklukkan makhluk macam itu tentulah bukan orang sembarangan. Namun, alam tetap menunjukkan kuasanya. Di hadapan Moby Dick, manusia dipaksa menerima bahwa ada kekuatan yang tak sudi tunduk pada kehendak manusia.
Dan Ahab ingin melampaui batas itu dan melakukan sesuatu yang mustahil bagi manusia. Sebagaimana tersirat dalam pesan Kapten Boomer yang sebelah tangannya juga direnggut sang paus: harpun macam itu, senjata yang sanggup membunuhnya, belum pernah diciptakan. Kendati begitu, Ahab keras kepala. Ia seolah terobsesi memainkan peran Tuhan di muka bumi. “Hanya satu Tuhan di jagat raya, hanya satu kapten di kapal!” tegas dia.
Figur penguasa otoriter macam Ahab jelas jadi mimpi buruk—sebagaimana sosok Raja Ahab penyembah Baal yang dicatat Kitab Raja-Raja. Pequod, nama itu diambil dari satu suku asli Amerika yang telah punah—jenama yang seolah mengisyaratkan nasib kapal tersebut kelak. Ishmael, Queequeg, Starbuck, Stubb, Flask, Tashtego, Fedallah, dan kru kapal lainnya berasal dari latar yang berlainan. Mungkin, Pequod itu sendiri mewakili sebuah dunia kecil yang diperintah pemimpin egois nan lalim—lelaki tua yang tak bijaksana.
Selain itu, dalam pembacaan ekologis, paus putih juga bisa dianggap sebagai alam yang menolak dominasi manusia. Ia bukanlah objek yang pasif, melainkan subjek yang sanggup melawan tanpa ampun.
Apapun itu, Moby Dick mengingatkan umat manusia akan kesombongan berlebih yang membuat manusia merasa sanggup melakukan apa pun di muka bumi dan menandingi kekuatan yang lebih tinggi. Cerita macam itu bergema di banyak dongeng dan mitos—seolah kita benar-benar patut diingatkan kalau upaya manusia melampaui batas bakal selalu diganjar kehancuran.
__________________________________________________________________________________________________
Asief Abdi adalah seorang naturalis dan penulis buku Hikayat Mitobotani (2025).
Editor: Putri Tariza
Foto oleh Putri Tariza


