Esai Budaya

Filosofi Uang

Pada pengujung Perang Dunia II, Jerman punya muslihat licik untuk menjatuhkan Inggris. Siasat tersebut agak lain dari lazimnya taktik tempur—tak ada bom berhulu ledak raksasa, atau gas racun saraf yang siap dijatuhkan dari angkasa. Namun, bukan Nazi namanya kalau tak keji. Rencana itu tetaplah mematikan dalam serangannya yang diam-diam.

Strategi kotor tersebut digagas oleh SS Mayor Friederich Bernhard Krueger. Operasi Bernhard, demikian siasat itu kemudian disebut, merupakan pemalsuan poundsterling untuk diselundupkan ke Inggris. Tujuan awalnya sederhana: menghancurkan ekonomi Inggris. Meski begitu, di tengah jalan rencana berubah dan uang palsu digunakan Jerman untuk mendanai suplai perang serta membayar mata-mata mereka. 

Pada 1942, Krueger membentuk tim dari para tahanan Yahudi di Kamp Konsentrasi Sachsenhausen. Mereka dipaksa mempelajari lembar-lembar poundsterling, memalsukannya dengan tingkat akurasi tinggi. Memasuki ambang kekalahan di panggung Perang Dunia II, Jerman memusnahkan uang-uang palsu itu dengan membenamkannya ke dasar danau—barang bukti kejahatan mesti dihilangkan. Walau begitu, poundsterling imitasi yang berhasil diedarkan selama operasi rahasia itu sudah sangat banyak dan nilainya tinggi. Operasi rahasia Nazi tersebut menjadi latar cerita film Peaky Blinders: The Immortal Man yang dibintangi Cillian Murphy.

Menghancurkan lawan dengan melemahkannya secara ekonomi adalah strategi yang licik. Memang, tak ada kota yang hancur lebur, tak ada mayat-mayat bergelimpangan, tak ada residu nuklir yang bersemayam dalam tanah. Kendati demikian, jika ekonomi jatuh, efek yang ditimbulkan bisa berkepanjangan dan menuntun sebuah negara ke liang kehancuran. Lebih-lebih, tatkala ekonomi negara jatuh, sesuatu dalam diri warganya juga bakal runtuh.

Maka, apa yang sesungguhnya diincar Nazi barangkali bukan stabilitas ekonomi musuh belaka. Mereka mungkin menyadari sesuatu soal uang, sesuatu yang jarang diinsafi orang perihal bagaimana benda itu bekerja. Itulah kenapa mereka menjadikan uang sebagai senjata sebagaimana bom dan peluru. Namun, kalau memang benar demikian, apa yang mereka ketahui? Apa yang kita lewatkan dari benda yang begitu kita cintai itu?

Jawabnya mungkin bisa dilacak dari riwayat uang itu sendiri. Oleh karena itu, pertama-tama, kita mesti mundur dulu ke masa-masa awal manusia memikirkan soal alat tukar. Jauh sebelum uang mengisi pundi-pundi orang, manusia menggunakan metode barter demi memperoleh berbagai macam barang. Lambat laun, kebutuhan akan alat tukar dengan nilai yang pas kian terasa urgen. Masyarakat kuno pun memakai cangkang bilalu, jelai, syikal perak, dan koin bergambar raja-raja mereka.

Demikianlah masyarakat dunia mulai terbiasa dengan uang. Ia lebih praktis, mudah dibawa, disimpan, dan diterima di mana-mana. Koin perak bergambar Kaisar Denarius, misalnya, kondang sampai negeri-negeri di luar zona kuasa Romawi. Jejaknya, barangkali memfosil dalam “dinar” masa kini dan bahasa Spanyol untuk uang (dinero). Saking universalnya uang, Yuval Harari mencatat dalam Sapiens kalau uang sanggup menyatukan umat manusia dalam satu kepercayaan kolektif—sesuatu yang bahkan Tuhan pun gagal.

Maka, kita boleh bilang kalau uang diciptakan umat manusia atas dasar kepercayaan. Kalau tidak, rasanya tak mungkin orang sudi menyimpan keping-keping koin bergambar seraut wajah asing dari negeri nun jauh di sana atau menanam modal di negeri yang aksara dan bahasanya beda. 

Akan tetapi, sedalam apa rasa percaya itu mengakar? Kebanyakan orang tak sadar kalau kepercayaan mereka akan uang, dalam arti tertentu, bisa-bisa melebihi keyakinan mereka terhadap Tuhan. Seseorang boleh saja tak mengimani Yesus sembari dengan senang hati menerima segepok dolar Amerika. Bank Amerika Serikat sampai-sampai mesti mencantumkan frasa “in God we trust” dalam lembaran uang kertas mereka—seolah-olah mengingatkan setiap orang bahwa kepada Tuhan lah mestinya mereka percaya, bukan pada selembar uang kertas.

Meski begitu, kalaupun seseorang lebih percaya uang ketimbang Tuhan, kecenderungan tersebut bisa dipahami—bahkan mungkin alami. “Orang melakukan beberapa hal gila dengan uang. Namun, tak seorang pun gila,” tulis Morgan Housel dalam The Psychology of Money. Bagi Housel, pandangan individu terhadap uang dibentuk oleh pengalaman hidup masing-masing. Alhasil, tiap orang punya filosofinya sendiri soal uang. Kendati begitu, kita semua boleh sepakat bahwa uang menyimpan harapan.

Sebagaimana kita tahu, dalam sederet bilangan saldo rekening lah angan dipupuk dan masa depan dimantapkan. Pendidikan tinggi, fasilitas kesehatan top, rumah mentereng, mobil mewah, ponsel keluaran terbaru—bahkan pujaan hati—bisa dimiliki asal ada cukup uang. Sayangnya, ekonomi modern tak pernah berjalan dalam garis lurus—ia berayun, kadang naik, kadang turun, kadang menguat, kadang melemah.

Lain di Inggris, lain di Indonesia. Kalau di awal abad 20 Inggris mesti menghadapi ancaman ekonomi serius akibat Operasi Bernhard Nazi, Indonesia abad 21 tak perlu serangan macam itu. Seolah gonjang-ganjing geopolitik dunia tak cukup menjegal situasi ekonomi kita, program-program prioritas yang berbiaya tinggi turut membebani anggaran negara, menambah tekanan terhadap rakyat kecil dan nilai rupiah itu sendiri. Juli lalu, rupiah anjlok ke titik terendahnya.

Situasi rupiah belakangan ini sampai-sampai membuat sebuah adegan dalam film kartun Upin & Ipin viral di media sosial. Dalam satu episode, Susanti menghadiahi Fizi uang 50 ribu rupiah. Ehsan yang polos melihat banyaknya nol di belakang angka lima, mengira Fizi bakal kaya. Namun, dua temannya yang lain menyadari kalau itu uang Indonesia. “Nilainya tak sama dengan duit Malaysia,” cetus Mail. Fizi bingung. Beruntung ibu guru segera memotong obrolan anak-anak itu sebelum rupiah di-roasting lebih jauh. 

Potongan adegan film animasi tersebut bertebaran di media sosial. Namun, alih-alih kesal, warganet Indonesia yang mafhum dengan situasi negerinya sendiri malah mem-viralkannya. Kendati begitu, bagi WNI, adegan tersebut boleh jadi mengusik sesuatu dalam lubuk hati masing-masing: kepercayaan.

Operasi uang palsu Nazi, selain menarget fondasi ekonomi Inggris, agaknya diam-diam turut menyasar kepercayaan orang-orang—tak cuma terhadap poundsterling, tapi juga terhadap negara yang lalai mengelola tata finansialnya. Untungnya, Inggris segera sadar kalau ada kejanggalan pada kode-kode uang yang keluar-masuk bank mereka dan segera mengambil langkah sebelum perekonomian negara benar-benar runtuh.

Akan tetapi, negara kita bukan Inggris dan jalan cerita negeri ini tak seperti alur film Peaky Blinders: The Immortal Man. Seruan “setop bayar pajak” yang belakangan lantang di media sosial agaknya dilatari krisis kepercayaan warga terhadap pemerintah. Jika dulu Inggris berhasil menghentikan aliran uang palsu Nazi dan menyelamatkan ekonomi negeri, Indonesia malah kian gencar mengincar pajak dari rakyat serta menaikkan harga bahan bakar minyak demi menyelamatkan diri—alih-alih mengkaji ulang program-program negara yang cenderung boros anggaran dan memberangus korupsi. Dan tatkala kritik diabaikan, publik pun makin sulit untuk percaya.

Di titik ini, negara patut ingat satu hal: kepercayaan adalah barang rentan. Apalagi kala berurusan dengan uang, ia bisa lebih rapuh lagi—ada uang Abang disayang, tak ada uang Abang melayang, kata orang. Kota yang luluh lantak dihantam bom bisa dibangun kembali, tapi kepercayaan yang telah telanjur hancur mungkin tidak. 

Asief Abdi adalah seorang naturalis dan penulis buku Hikayat Mitobotani (2025). 

______________________________________________________________________________________________

Editor: Putri Tariza

Foto oleh Putri Tariza

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *