Zawawi Project

Surat kepada Zawawi

Zawawi,

Atas nama Sivitas Kotheka, Sasti Gotama meminta saya menulis tentangmu.

Saya menerimanya dengan sedikit malu dan sekaligus banyak berterima kasih. Malu, karena bukankah tanpa diminta pun seharusnya saya sudah menulismu? Terima kasih, karena secara tidak langsung Sasti mengingatkan saya pada tanah kelahiran, Sumenep, dan pada seorang tokoh yang lahir dari pelosok, tetapi karya-karyanya berhasil menembus panggung sastra Indonesia, bahkan dunia.

Karyamu, Zawawi, rupanya tidak berhenti di Indonesia. Namamu pernah sampai ke Rotterdam, Jerman, dan Prancis. Dan Kelenjer Laut (2012) mendapat penghargaan sastra penting dari keluarga Kerajaan Thailand, The S.E.A. Write Award. Di Indonesia sendiri, hampir setiap kumpulan puisi yang kauterbitkan seperti punya cerita penghargaan masing-masing. Lalu, apa yang harus saya tulis tentangmu?

Bukankah sudah banyak orang menulismu? Tentang puisi-puisimu, tentang Madura yang begitu kuat tinggal di dalamnya, tentang Bulan Tertusuk Lalang, Celurit Emas, dan jalan panjangmu menjadi penyair.

Mungkin justru karena itulah saya ingin menulis surat ini. Bukan untuk mengatakan sesuatu yang belum pernah dikatakan tentangmu, melainkan untuk bercakap-cakap sedikit dengan seorang penyair yang puisinya telah lebih dulu mengajak saya pulang ke Madura.

Dan engkau, Zawawi, puisi-puisimu justru mengajak saya menyelami Madura lebih dalam, Madura yang selama ini saya kira sudah saya kenal karena di sanalah saya lahir dan besar, tetapi ternyata masih menyimpan begitu banyak sudut yang luput dari pandangan saya. Seolah-olah engkau menunjukkan sebuah rumah yang saya tinggali sejak kecil, tetapi belum pernah benar-benar saya jelajahi seluruh kamarnya.

Sasti Gotama juga bercerita bahwa bersama Royyan Julian dan teman-teman di Pamekasan ia sedang menjalankan sebuah program yang mereka beri nama Project Zawawi. Terus terang, saya tertarik dengan kata project itu, Zawawi.

Sebab, sebuah proyek, bagi saya, bukan sekadar pekerjaan untuk mengenang seseorang yang telah selesai menjalani perjalanan. Ia adalah usaha untuk kembali mencari, membuka, membaca, dan mungkin menemukan sesuatu yang selama ini terlewatkan.

Barangkali itulah yang sedang dilakukan teman-teman di Sivitas Kotheka: bukan hanya ingin mengenal siapa Zawawi Imron, tetapi ingin melihat kembali bagaimana seorang penyair memulai perjalanan menulisnya, bagaimana ia belajar, bagaimana ia berproses, dan bagaimana ia menjaga intensitasnya sehingga kata-kata yang ditulisnya tidak lekas menjadi kata-kata yang selesai.

Menjadi penyair, saya kira, bukan perkara sekali menulis puisi lalu selesai. Ada perjalanan yang panjang setelah satu puisi ditulis. Ada ketekunan untuk terus membaca, mengolah pengalaman, mengasah bahasa, dan yang tak kalah penting: mengolah batin.

Bukan pula semata-mata karena engkau pernah menjadi bagian penting dari perjalanan sastra Indonesia, melainkan karena perjalananmu sebagai penyair barangkali masih menyimpan sesuatu yang perlu dibicarakan kepada kami yang hidup di zaman ketika untuk membaca satu halaman saja kita tidak perlu lagi berjalan kaki ke mana-mana.

Tapi, tentang itu, nanti saja. Untuk sementara, izinkan saya menyeberangi lautan puisimu.

Zawawi, saya tulis surat ini bukan sebagai orang yang hendak menjelaskan siapa dirimu. Saya hanya ingin bercakap-cakap denganmu tentang puisi, tentang Madura yang pernah kautulis, dan tentang dunia yang mungkin telah banyak berubah sejak kata-kata itu pertama kali kaususun.

Zawawi,

Saya mengenalmu bukan dari cerita tentang bagaimana engkau memulai perjalanan sebagai penyair, bukan pula dari daftar penghargaan yang pernah kauterima. Saya mengenalmu dari kata-kata yang membuat Madura datang kepada saya dengan cara yang berbeda.

Ada laut, ada bukit, ada tanah yang kering, ada angin, ada ilalang, ada pohon siwalan. Alam yang selama ini mungkin bagi sebagian orang hanya dianggap sebagai bagian dari keseharian, di tanganmu berubah menjadi sesuatu yang lain. Ia menjadi bahasa. Ia menjadi ingatan. Bahkan mungkin menjadi semacam jalan kecil menuju Tuhan.

Karena itulah, ketika membaca puisimu, saya tidak hanya merasa sedang membaca seorang penyair yang berasal dari sebuah kampung di ujung timur Madura. Saya seperti sedang diajak memasuki sebuah lanskap yang perlahan-lahan menjadi akrab: laut yang luas, bukit-bukit, tanah, pepohonan, dan langit yang seolah-olah tidak pernah selesai ditatap.

Termasuk bulan, bulan yang pernah kautempatkan tertusuk di antara ilalang. Tetapi, belakangan saya mulai bertanya-tanya, Zawawi, apakah bulan masih bisa rebah di antara ilalang seperti yang pernah kautemukan? Bukan karena bulan telah berubah. Bulan, saya kira, tetap saja bulan. Yang berubah mungkin ilalangnya, lanskapnya, cara manusia memandangnya, atau mungkin kita yang telah terlalu jauh berjalan dari dunia yang dahulu membuat benda-benda sederhana itu mempunyai arti.

Saya tidak tahu bagaimana keadaan tempat-tempat yang dahulu begitu dekat dengan puisimu sekarang. Tetapi, setiap kali mendengar tentang perubahan Madura, tentang laut yang tak lagi seperti dulu, tentang lanskap yang perlahan berganti, tentang pohon-pohon yang semakin jarang, saya teringat kepada puisimu.

Sebab, tiba-tiba saya menyadari: Sebuah puisi ternyata dapat berumur lebih panjang daripada tempat yang melahirkannya. Apa yang dahulu merupakan kenyataan sehari-hari, kelak bisa menjadi ingatan. Dan sesuatu yang sekarang masih kita lihat dengan mata, mungkin suatu hari hanya akan kita temukan kembali melalui puisi. Mungkin itu pula yang membuat saya membaca ulang puisimu dengan perasaan yang berbeda.

Dulu, saya membaca alam dalam puisimu sebagai keindahan. Sekarang saya mulai membacanya sebagai sesuatu yang harus diingat. Siwalan, misalnya. Pohon itu bukan hanya pohon. Ia pernah menjadi bagian dari kehidupan, dari tanah dan manusia yang tumbuh bersamanya. Ketika lanskap berubah, mungkin yang hilang bukan semata-mata sebatang pohon, melainkan juga sebagian dari pengalaman manusia terhadap pohon itu. Begitulah rupanya puisi bekerja, Zawawi. Ia menyimpan sesuatu yang sering kali tidak kita sadari, sedangkan kita kehilangan. Dan mungkin tanpa kaurencanakan, puisi-puisimu telah menjadi salah satu tempat bagi Madura untuk menyimpan ingatannya sendiri.

Zawawi,

Sebagaimana engkau ketahui, ada puisi yang setelah selesai dibaca, kita bisa menutup bukunya, meletakkannya di rak, lalu beranjak ke halaman lain. Tetapi, ada pula puisi yang tidak selesai ketika kita menutup buku. Sebagian lariknya justru ikut kita bawa keluar: ke jalan, ke halaman rumah, ke laut, bahkan ke tempat-tempat yang sebelumnya tidak pernah kita duga.

Bulan Tertusuk Lalang termasuk puisi yang demikian. Ia tidak hanya tinggal di halaman buku. Ia ikut berjalan bersama pembacanya, dan entah bagaimana, bertahun-tahun kemudian, lariknya masih bisa membuat kita menoleh kepada langit, ilalang, dan tanah tempat kita berpijak.

Bulan dan ilalang. Dua benda yang begitu sederhana. Tetapi setelah kautemukan dalam puisi, keduanya seperti tidak lagi menjadi benda yang sama. Kita mulai melihat bulan dengan cara yang lain. Kita mulai memperhatikan ilalang yang selama ini mungkin kita lewati begitu saja.

Mungkin begitulah seorang penyair bekerja. Ia tidak selalu menciptakan benda baru. Kadang ia hanya mengembalikan benda-benda yang sudah terlalu lama kita kenal kepada kita, tetapi dengan pandangan yang berbeda.

Ketika orang kemudian menyebutmu sebagai Penyair Celurit Emas, saya tidak merasa julukan itu berlebihan. Benar, ada sedikit keganjilan dalam julukan tersebut. Celurit, bukankah ia benda yang tajam? Benda yang mudah sekali diasosiasikan dengan kekerasan, bahkan dengan alat untuk membunuh. Tetapi, di tanganmu, celurit tidak berhenti sebagai benda yang dapat melukai.

Ia ditempa dari jiwa, menjadi taring langit, dan matahari mengasahnya pada halaman-halaman kitab suci. Celurit yang semula kita bayangkan sebagai benda yang berada di tangan manusia, olehmu justru seperti sedang mencari tempat lain: di antara jiwa, langit, matahari, dan kitab suci. Lalu, di akhir puisi itu, engkau bertanya: celurit itu punya siapa?

Dan kau menjawabnya dengan satu kata: amin!

Saya suka pertanyaan itu, Zawawi. Sebab, sampai sekarang pun saya tidak yakin celurit itu benar-benar milik siapa. Apakah ia milik Madura? Apakah ia milik sejarah? Atau jangan-jangan milik orang yang sejak lahir sudah akrab dengan celurit sampai-sampai melihatnya tidak lebih menakutkan daripada melihat cangkul?

Soalnya, kalau orang luar mendengar kata “Madura “dan “celurit” dalam satu tarikan napas, wajah mereka kadang langsung berubah. Seolah-olah sebentar lagi ada orang keluar dari balik pintu sambil membawa celurit dan kita tinggal memilih: lari atau pura-pura tidak melihat.

Padahal, celurit, bagi mereka yang hidup dekat dengannya, tentu tidak sesederhana itu. Ia pernah menjadi bagian dari pekerjaan, dari ladang, dari tangan-tangan yang setiap hari berurusan dengan rumput dan tanah.

Tetapi, engkau justru mengambil benda yang telanjur membuat orang tegang itu, lalu membawanya ke tempat yang sama sekali berbeda. Engkau tidak menghunusnya. Engkau tidak mengayunkannya. Engkau malah menempa celurit itu menjadi emas. Ini, menurut saya, pekerjaan penyair yang menarik: Ketika orang lain melihat benda tajam dan buru-buru mengambil jarak, engkau justru mendekatinya, memeriksanya, lalu bertanya, “Apa lagi yang bisa dilakukan benda ini selain melukai?”

Dan jawabannya adalah puisi.

Ya, di tanganmu, celurit tidak lagi sekadar benda yang membuat orang mundur dua langkah. Ia berubah menjadi bahasa. Menjadi pertanyaan. Menjadi sesuatu yang ditempa dari jiwa, diasah matahari, lalu diletakkan di halaman-halaman kitab suci.

Itulah sebabnya saya menyukai julukan sastrawan kepadamu, Celurit Emas itu. Celurit yang biasanya membuat orang waspada, olehmu malah diberi emas. Seolah-olah engkau sedang berkata: Jangan buru-buru takut kepada sebuah benda hanya karena bentuknya tajam; lihat dulu siapa yang menggenggamnya dan untuk apa ia digunakan.

Sebab, pada akhirnya, Zawawi, yang paling berbahaya bukanlah orang yang membawa celurit, melainkan mereka yang tidak menjaga kata-katanya, hingga tanpa terasa, kata-kata itu telah membelah kehidupan orang lain.

Saya mulai mengerti mengapa pujian seperti Celurit Emas terasa pantas disematkan kepadamu. Pujian itu memang berlebihan. Tetapi, Zawawi, menurut saya, pujian yang sedikit berlebihan kepada seorang penyair yang sungguh-sungguh bekerja dengan kata-kata jauh lebih bermartabat daripada pujian yang dibuat-buat kepada mereka yang bahkan tidak pernah bersusah payah membuat hidupnya berarti bagi orang lain.

Zawawi,

Ada satu hal lain yang membuat saya tidak bisa begitu saja melewatkan permintaan Sasti untuk menulis tentangmu. Bukan hanya karena puisi-puisimu, melainkan karena cerita tentang bagaimana engkau menjadi penyair.

Saya mendengar, untuk membaca koran saja, pada masa itu engkau harus berjalan kaki ke kantor kecamatan.

Saya membayangkanmu berjalan menuju kantor kecamatan bukan karena di sana ada sesuatu yang istimewa, melainkan karena di sanalah ada koran. Engkau membutuhkan bacaan, dan untuk mendapatkan bacaan itu engkau harus menempuh jarak.

Hari ini, Zawawi, kami hidup dalam keadaan yang jauh berbeda. Kami tidak perlu berjalan ke kantor kecamatan untuk membaca koran. Tidak perlu menunggu koran datang. Tidak perlu menunggu perpustakaan buka. Bahkan, kalau mau, dalam satu genggaman, kami bisa membuka buku, membaca puisi, mencari biografi penyair, mendengar ceramah, menonton diskusi, sampai membaca karya-karya yang ditulis orang-orang yang hidup ribuan kilometer dari tempat kami berada.

Semuanya tersedia. Tinggal klik, tinggal buka, tinggal unduh. Tetapi, justru di situlah saya sering merasa malu kepada generasi yang hidup sebelum kami. Engkau berjalan untuk mencari bacaan, kami bahkan kadang malas bangun dari kursi untuk mengambil buku yang sudah ada di sebelah kami. Engkau mencari koran karena ingin membaca, kami mempunyai begitu banyak bacaan, tetapi sering kali lebih sibuk mencari siapa yang membaca tulisan kami.

Engkau berhadapan dengan keterbatasan fasilitas, kami berhadapan dengan kelimpahan fasilitas, dan entah mengapa kelimpahan itu tidak selalu membuat kami lebih rajin menulis. Sebaliknya, di tengah keberlimpahan fasilitas, ketika segala sesuatu bisa dengan mudah dibaca dan dianalisis, justru di sini anehnya kami lebih produktif berprasangka ketimbang bersuntuk-suntuk dengan gagasan dan tulisan.

Kami bisa menulis kapan saja, di mana saja. Tetapi, sering kali yang paling kami pikirkan justru bukan apa yang hendak kami tulis, melainkan apakah tulisan itu akan dibaca, berapa orang yang akan menyukai, siapa yang akan membagikan, dan apakah nama kami akan disebut-sebut setelahnya.

Kami lebih cepat menghitung popularitas daripada menggali gagasan. Lebih sibuk memikirkan eksistensi daripada mengasah kemampuan. Lebih rajin membicarakan dunia sastra daripada bekerja diam-diam di dalamnya. Tentu saja, saya tidak sedang berkata bahwa semua penulis hari ini seperti itu. Saya pun tidak merasa berada di luar tuduhan itu. Justru surat ini saya tulis karena saya sedang menegur diri sendiri.

Sebab kalau fasilitas bukan lagi persoalan, lalu apa yang sebenarnya menghalangi kami untuk menulis? Kemalasan? Ketakutan? Keinginan untuk segera dikenal? Atau jangan-jangan kami memang sudah kehilangan kesabaran untuk menjalani proses?

Engkau mungkin akan tertawa mendengar pertanyaan-pertanyaan kami. Sebab pada zamanmu, barangkali seorang penulis tidak terlalu sibuk bertanya apakah ia akan terkenal. Ia sibuk membaca. Sibuk menulis. Sibuk mencari bentuk. Sibuk berdebat dengan dirinya sendiri. Ia mungkin tidak tahu berapa orang yang akan membaca tulisannya, tetapi ia tahu satu hal: ada sesuatu yang harus ditulis.

Bukankah tugas seorang penulis adalah menulis?

Ya. Sesederhana itu.

Dan justru karena kesederhanaannya itulah pertanyaan tersebut menjadi sulit bagi kami. Sebab, menulis ternyata bukan hanya perkara memiliki laptop, jaringan internet, perpustakaan digital, atau seribu aplikasi yang bisa membantu kita mencari apa saja. Menulis membutuhkan sesuatu yang tidak tersedia dalam bentuk aplikasi apa pun: ketekunan.

Itulah yang membuat saya kembali melihat perjalananmu. Keterbatasan fasilitas tidak membuatmu berhenti. Karena keterbatasan itu mengajarimu satu hal yang sekarang semakin sulit kami pelajari: Untuk mendapatkan sesuatu yang kita anggap penting, kita harus bersedia menempuh jarak.

Saya mulai mengerti mengapa puisimu begitu lekat dengan tanah kelahiranmu. Engkau tidak sekadar tinggal di Madura lalu menulis tentangnya. Ada sesuatu yang lebih dalam dari itu. Seperti ada bagian dari tubuhmu yang tertinggal di tanah itu dan setiap kali menulis, engkau sedang kembali mengambilnya.

Dalam “Madura, Akulah Darahmu” yang kautulis pada 1980, engkau seperti tidak sedang menggambarkan Madura dari kejauhan. Engkau justru meleburkan dirimu ke dalamnya: Madura, engkaulah tangisku.

Lalu di ujung puisi itu engkau berkata: Madura, akulah darahmu.

Darah.

Bukan alamat. Bukan sekadar tempat kelahiran. Bukan pula sekadar lanskap yang indah untuk dijadikan latar puisi.

Ya, darah membuat hubungan itu menjadi lain. Ada sesuatu yang mengalir, sesuatu yang tidak mudah dipisahkan, bahkan ketika tubuh seseorang telah berjalan jauh meninggalkan tempat kelahirannya. Engkau bahkan menyebut dirimu sebagai sapi karapan yang lahir dari senyum dan air mata Madura.

Saya suka bagian itu, Zawawi. Sebab, di sana Madura bukan tanah yang romantis. Ada senyum, tetapi juga ada air mata. Ada bukit garam, musim yang tidak selalu membawa hujan, tanah yang kerontang, duri, nyeri, dan kerja tubuh yang harus terus bergerak.

Madura yang kautulis bukan Madura yang hanya indah. Ia adalah Madura yang melahirkanmu. Karena itulah, ketika engkau menulis tentang laut, bukit, siwalan, ilalang, garam, atau langit, yang sedang kautulis sesungguhnya bukan sekadar pemandangan. Engkau sedang menulis darahmu sendiri.

Di situlah letak perbedaan antara orang yang sekadar melihat tempat dengan seorang penyair yang mengalami tempat sebagai bagian dari dirinya. Dan saya mulai berpikir: Seorang penyair tidak pernah benar-benar meninggalkan tanah kelahirannya. Tubuhnya boleh pergi, tetapi tanah itu terus berjalan di dalam darahnya.

Begitu pula dengan puisimu, Zawawi. Madura berjalan bersamamu, mengalir di dalam kata-kata yang kautulis, dan dari puisimu, kami yang datang jauh setelahmu mencoba mengenali kembali jejaknya.

Zawawi,

Karena engkau menulis Madura sebagai darah, saya jadi merasa perlu kembali melihat tanah yang pernah kautulis itu. Tidak hanya membacanya melalui buku, tetapi membayangkannya sebagaimana engkau dahulu melihatnya: laut, bukit, tanah garam, ilalang, pohon siwalan, langit yang luas, dan angin yang datang entah dari mana.

Tetapi, Zawawi, tempat-tempat rupanya tidak pernah benar-benar mau menunggu kita. Ia berubah. Laut berubah menjadi tambak udang, sebagian tanah yang dulu lapang mulai dipagari, bukit pelan-pelan berhadapan dengan jalan, rumah tumbuh di tempat yang dahulu mungkin hanya ditumbuhi rumput, dan pohon-pohon yang dulu akrab dengan mata, kini harus bersaing dengan tiang listrik, bangunan, serta segala macam tanda kemajuan. Di beberapa pesisir Madura, perubahan itu bahkan terasa lebih cepat. Tanah yang dahulu menjadi ruang hidup nelayan dan petani mulai berubah menjadi petak-petak tambak.

Saya membayangkan engkau berjalan menyusuri tempat-tempat yang dahulu kautulis sambil sesekali mengernyitkan dahi. Bukan karena lupa jalan pulang, melainkan karena jalan pulangnya sendiri sudah berubah. Mungkin engkau masih mengenali jalan pulangnya. Mungkin juga tidak.

Tidak, Zawawi, mungkin ada yang tidak akan kaudengar lagi seperti dahulu: suara laut yang kautangkap dalam “Senandung Nelayan”. Bukan berarti laut telah berhenti bersuara. Laut, saya kira, masih saja berdebur. Nelayan mungkin masih melaut. Perahu mungkin masih beringsut. Tetapi, suasana yang dahulu kautangkap dan kautitipkan ke dalam puisi itu perlahan berubah, sebagaimana laut yang harus berbagi ruang dengan tambak, kapal, bangunan, dan segala macam kepentingan manusia.

Dalam “Senandung Nelayan” (1976), engkau mendengar angin yang letih, ibu, laut, buih-buih zaman, perahu yang beringsut, teluk, dan bulan yang datang menyingkap teka-teki. Ada sesuatu yang begitu akrab antara manusia dan laut di sana. Nelayan tidak sekadar berada di laut; ia seperti menitipkan napas, luka, doa, bahkan imannya kepada laut:

dari bisik ke bisik perahu beringsut maju
jika nanti bulan datang menyingkap teka-tekimu
tak sia-sia kujilat luka purba
tempat senyum menetas
jadi iman dan layar

Saya membaca bait itu sekarang dengan perasaan yang sedikit berbeda, Zawawi. Dulu saya membacanya sebagai puisi tentang nelayan dan laut. Sekarang saya membacanya seperti seseorang yang sedang memegang foto lama. Kita masih bisa melihat lautnya, perahunya, bulan, dan orang yang berangkat mencari nafkah. Tetapi, kita tahu, begitu foto itu kita letakkan, dunia di luar foto terus berubah.

Berasa benar, puisi itu tidak bisa menghentikan tambak datang, tidak bisa melarang bukit dipotong, tidak bisa menyuruh rumah-rumah berhenti tumbuh. Tetapi, ia bisa menyimpan suara yang suatu hari mungkin tidak lagi kita dengar dengan cara yang sama.

Angin yang letih itu masih ada, Zawawi. Laut masih berdebur. Tetapi, barangkali kita perlu lebih teliti mendengarnya. Sebab, bisa jadi yang sedang hilang bukan lautnya, melainkan cara manusia dahulu mendengar laut.

Sebab, kita sering mengira sebuah tempat akan tetap seperti ketika terakhir kali kita meninggalkannya. Padahal tempat tidak pernah berjanji demikian kepada kita. Ia terus bergerak bersama waktu, pembangunan, kebutuhan manusia, dan segala sesuatu yang datang atas nama kemajuan.

Yang membuat saya tertegun adalah kenyataan bahwa sebagian perubahan itu membuat kata-kata dalam puisimu terdengar seperti berasal dari sebuah dunia yang perlahan menjauh.

Misalnya, siwalan. Hari ini, ketika menyebut siwalan, kita mungkin masih bisa membayangkan pohonnya. Tetapi, apakah anak-anak yang lahir hari ini masih mempunyai hubungan yang sama dengan pohon itu seperti generasi yang hidup ketika engkau menulis?

Apakah mereka masih melihatnya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, atau kelak mereka mengenalnya terutama karena pernah membaca namanya dalam puisi?

Saya tidak sedang ingin mengajakmu bernostalgia, Zawawi. Saya hanya sedang mencoba memahami sesuatu yang baru saya sadari: Ternyata seorang penyair dapat menyimpan sebuah dunia tanpa pernah bermaksud menjadi penjaga arsipnya.

Engkau menulis apa yang ada di sekitarmu. Engkau menulis apa yang kaulihat, kaurasakan, kaucium, dan mungkin juga apa yang diam-diam mengendap dalam batinmu. Tetapi, waktu mempunyai cara sendiri untuk mengubah apa yang kita anggap biasa menjadi sesuatu yang kelak dirindukan.

Dulu, mungkin tidak ada yang berpikir bahwa siwalan akan menjadi sesuatu yang perlu diingat. Sama seperti ilalang. Sama seperti bukit. Sama seperti laut. Sama seperti suara angin yang masuk melalui celah-celah rumah. Sebab, bukankah kita memang sering baru merasa kehilangan setelah sesuatu tidak lagi mudah ditemukan?

Puisi menyimpan apa yang tidak kita anggap penting. Ia menyimpan benda-benda yang terlalu kecil untuk dicatat sejarah, tetapi terlalu dekat dengan kehidupan untuk dilupakan. Karena itu, ketika saya membaca kembali puisimu sekarang, saya tidak hanya menemukan keindahan. Saya menemukan semacam tanda. Tanda bahwa ada sebuah dunia yang pernah begitu dekat dengan manusia, dan dunia itu mungkin sedang berubah menjadi ingatan.

Kelak, Zawawi, ketika seseorang membaca puisimu tentang siwalan, ia tidak lagi membayangkan pohon yang berdiri di hadapannya. Ia akan membuka buku, membaca namanya, lalu bertanya kepada orang yang lebih tua: “Siwalan itu pohon yang bagaimana?”

Dan orang tua itu mungkin terdiam sebentar, mencoba mengingat bentuk batangnya, daunnya, buahnya, juga bayangan yang pernah jatuh di bawahnya. Lalu ia menjawab dengan kalimat yang sederhana: “Dulu, pohon itu banyak.”

Pada saat itulah sebuah puisi benar-benar selesai bekerja: bukan ketika kita selesai membacanya, tetapi ketika ia membuat kita sadar bahwa sesuatu yang dahulu ada di sekitar kita, diam-diam, sedang menjauh. Dan puisi tidak lagi hanya menjadi tempat keindahan.

Ia menjadi tempat sebuah dunia yang hampir hilang meminta untuk diingat.

Depok Terluar, 2026


Mahwi Air Tawar, lahir dan besar di Madura. Menulis puisi, cerpen, dan esai.

Editor: Royyan Julian
Foto: Asief Abdi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *