Esai Budaya - Zawawi Project

Pegangan Akal

Pada awal buku Pendidikan Menghidupkan Nilai (2012), Zawawi menyebut “Manusia dan Kesadaran yang Terdalam”. Apa maksudnya? Zawawi hendak mengatakan bahwa dari semua makhluk yang dicipta, hanya manusia yang Tuhan lengkapi dengan akal. Itulah sebabnya manusia jadi makhluk paling sempurna di antara ciptaan Tuhan yang lain. Tapi, meski akal melahirkan aneka pengetahuan dan teknologi, ia sering kali mengambang dan hilang arah. Di sinilah manusia butuh pegangan untuk dijadikan kemudi. Zawawi mengatakan bahwa yang dapat menjadi kemudi adalah agama.

Secara individual, manusia punya hasrat dan keinginan. Dari yang sejalan, hingga yang bertentangan dengan norma. Namun, secara sosial manusia dituntut saling mengasihi dan melengkapi. Pada dasarnya, manusia tidak dapat hidup sendiri dan saling membutuhkan. Hal itu sudah tampak sejak zaman masa berburu dan meramu, ketika nenek moyang kita terkesima melihat lebah-lebah madu begitu terorganisir berbagi tugas. Ada yang menjaga sarang, ada yang bertugas mencari madu, serta ada juga yang membuat sarang bagi koloninya. Hal itu membuktikan bahwa meski agama belum sepadat sekarang, Homo sapiens sudah memiliki kesadaran mendalam. Kognisi sapiens bisa dilihat dari kemampuan belajar kepada alam dan bekerja antarsesama. Dari hewan, nenek moyang kita belajar bagaimana cara sintas dan bagaimana cara membuat hidup jadi lebih mudah dan sekian langkah lebih jauh dari kepunahan. Begitu kira-kira. 

Bagi Zawawi, hidup di dunia adalah sebuah anugerah tak ternilai. Bagi dia, dunia yang terhampar luas ini adalah arena manusia untuk mengembangkan akal (pengetahuan) dan mengamalkan ilmu agama. Salah satu risalah mengatakan hidup di dunia layaknya pergi ke pasar. Apa yang kita mau, segalanya tersedia. Mau beli perlengakapan apa pun ada. Kita bebas menentukan pilihan. Namun, sebetah apa pun, pasar adalah pasar. Dan kita punya waktu terbatas. Pada akhirnya, mau tidak mau, kita akan pulang ke rumah masing-masing.

Saya menyebutnya sebagai kerajaan akal. Senada dengan itu, Zawawi bilang bahwa jika akal manusia baik maka bagus pula semua tingkah lakunya. Tapi, ada satu hal yang penting. Mengelola akal tidak bisa sembarangan. Meminjam teori tabula rasa, John Lock berujar bahwa seorang anak lahir ke dunia seperti kertas putih kosong. Karakternya murni dibentuk oleh pengalaman dan lingkungan. Saya sepenuhnya setuju dengan pendapat itu, tapi ada yang kurang.

Saya pikir tubuh manusia tidak didesain untuk hidup sendiri. Tubuh manusia tidak dirancang untuk bekerja, diam, lalu mati. Manusia hidup membawa beban moral untuk berguna bagi semua penduduk bumi. Mestinya, manusia bukan lagi di tahap toleransi. Kita harus hidup pada taraf “menyaudara”. Kasihilah sesamamu menusia seperti dirimu sendiri (Matius 22:39). Ada pula adagium Madura yang berbunyi lebih kurang serupa, “Mon kolè’na ètobi’ dhibi’ sakè’ jhâ’ nobi’ân kolè’na orèng laèn. Jika mencubit kulit sendiri sakit maka jangan mencubit kulit orang lain.

Kita sadar betul bahwa perasaan “menyaudara” tidak jatuh sendiri dari langit. Untuk mengasah kepekaan dan akal supaya mampu berpikir logis, kita butuh apa yang kita sebut pendidikan. Ketika anak-anak masih “kertas putih kosong”, akalnya butuh perhatian dan pendidikan. Saya sepakat bahwa madrasah/sekolah pertama seorang anak adalah ibunya. Maka, kunci sebuah peradaban adalah perempuan. Zawawi Imron menggambarkannya sebagai ibu. Bagi Zawawi, ibu adalah

gua pertapaan. Kasih seorang perempuan (ibu) seluas samudra. Baginya, menghormati seorang perempuan, terutama ibu, adalah sebuah keharusan lantaran kasihnya tidak akan sanggup dibayar sampai kapan pun.

Ibu


Kalau aku merantau lalu datang musim kemarau
Sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting
Hanya mata air, air matamu ibu, yang tetap lancar mengalir

Bila aku merantau
Sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku
Di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan
Lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar

Ibu adalah gua pertapaanku
Dan ibulah yang meletakkan aku di sini
Saat bunga kembang menyemerbak bau sayang
Ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi
Aku mengangguk meskipun kurang mengerti

Bila kasihmu ibarat samudera
Sempit lautan teduh
Tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
Tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh
Lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku
Kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan
Namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu
Lantaran aku tahu
Engkau ibu dan aku anakmu

Bila aku berlayar lalu datang angin sakal
Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal
Ibulah itu bidadari yang berselendang bianglala
Sesekali datang padaku
Menyuruh menulis langit biru
Dengan sajakku

Pada aspek tertentu, perempuan lebih andal dari laki-laki. Seorang ibu bisa mengerjakan banyak pekerjaan dalam satu waktu, katakanlah mencuci, menyusui, memasak, dan menjemur pakaian. Sementara laki-laki hanya bisa mengerjakan satu hal dalam satu waktu. Hal itu tentu tidak terlepas dari warisan kebiasaan nenek moyang kita jutaan tahun lalu. Laki-laki berburu di alam liar, sementara yang perempuan menjaga dan merawat gua. Para perempuan biasanya menunggu laki-lakinya datang sambil mengerjakan berbagai macam pekerjaan. Dan hal itu bisa kita rasakan hingga hari ini. Maka, memelihara kerajaan akal seorang perempuan adalah usaha-usaha valid untuk meneruskan peradaban yang benderang di masa depan. 

Dari hal itu Mas Wignjoamidarmo dalam buku gubahannya yang berjudul Zedenleer (1909) atau Bhâbhurughân Beccè’ menyebut tiga hal yang harus dijaga baik-baik: mulut, adat istiadat (kebiasaan), dan tingkah laku. Di sisi lain, disebut juga bahwa ada tiga anggota tubuh yang sering mencelakakan jika tidak dijaga dengan baik: lidah (suka berbicara yang tidak perlu), perut (tamak), dan kemaluan (zina).

Zawawi menukil salah satu kisah seorang sufi bernama Bahlul pada era kepemimpinan Khalifah Harun Al-Rasyid. Kisah bagaimana Bahlul, seorang rakyat biasa, mengingatkan sang baginda betapa besar tanggung jawab menduduki singgasana. Dari kisah itu kita bisa menarik benang merahnya bahwa menjadi seorang pemimpin tidak lantas sombong. Menjadi pemimpin harus menjadi pendengar dan menampung segala keluh kesah masyarakat bawah seperti Bahlul. Kisah itu juga mencermin sosok pemimpin yang sehat akalnya, jujur, toleransi dan tidak jumawa terhadap apa yang dia punya.

Berpikir positif dan bertutur kata santun menjadi kunci hubungan harmonis. Hati dan pikiran yang sehat seperti sang baginda disebut juga dengan qalbun salim (hati yang selamat). Tanda-tanda orang yang mempunyai pikiran positif yaitu ketika tindakan, perilaku, dan tutur bahasanya selalu menyenangkan orang banyak. Hal itu senada dengan diutusnya Muhammad ke muka bumi sebagai rahmatan lil alamin (rahmat yang menyenangkan bagi seisi alam). 

Cerita lain yang dicuplik oleh Zawawi Imron adalah kisah Syekh Juha. Kisah ketika Syekh Juha bertemu dengan salah satu dari banyak penyebar fitnahnya dan memberi analogi langsung cara fitnah menyebar dan tak akan pernah bisa ditarik kembali.  

Begitu bahayanya sebuah kata/bahasa. W.S. Rendra sampai-sampai menyebut kata sebagai sebuah senjata. Dia menuliskan senjatanya dalam rupa puisi paling cinta:

Mari kita mengembangkan cinta
Cinta yang tulus kepada siapa saja
Taka ada rasa benci tak ada rasa curiga
Mengupayakan hidup seperti surga

Kasihanilah miskin yang kelaparan
Kasihilah anak yang yatim yang penuh kesulitan
Kita bebaskan dari penderitaan
Dengan cinta berilah santunan

Cinta itu inti kemanusiaan
Yang hakikatnya nilai amanat Tuhan
Tanpa saling mencintai antar sesama insan

Cinta adalah energi paling purba. “Mengembangkan cinta”, berarti menebarkan kasih bagi seluruh manusia. Sebab tugas utama manusia hidup pada hakikatnya adalah saling memberi keteduhan. Manusia adalah tempat berbagi rasa. Duka dalam kehidupan akan selalu datang. Tapi yang terpenting energi kasih terus digelorakan. Sebab Zawawi bilang bahwa cinta dan kasih mampu menembus ruang-ruang sosial yang tidak bisa digapai oleh tangan seperti puisi gubahan Sunan Bonang:

Jangan jauh mencari keindahan puisi
Ia terbentang di ufuk dirimu sendiri
Jadikan seluruh dirimu kerajaan cinta
Maka hakikat dunia akan kau kenal
Dan semesta akan karib padamu
Tumpukan penglihatan hatimu
Kepada-Nya, siang dan malam jangan berpaling
Berjagalah terus dengan suntuk
Jika kau bijak kau akan saksikan
Perkara remeh dan pelik di sekelilingmu
Tak lain adalah buah pikiran
Dan perbuatanmu juga

Sunan Derajat yang dikenal masyarakat memiliki karamah, adab yang baik, welas asih serta bersahaja juga meninggalkan ajaran yang mampu diingat sepanjang zaman, ajarannya berbunyi:

Menehana teken marang wong wong kang wuta
Menehana mangan marang wong kang luwe
Menehana busana marang wong kang wuda
Menehana payung marang wong kang kudanan

Artinya

Berilah tongkat kepada orang yang buta
Berilah makan kepada orang yang lapar
Berilah pakaian kepada orang yang telanjang
Dan berilah payung kepada orang yang kehujanan

Dari beberapa syair-syair yang digubah oleh pujangga-pujangga pesantren maka kita tidak bisa memandang remeh tradisi literasi yang ada di dalamnya. Bagi Zawawi, pesantren telah mampu menjadi tiang-tiang pengetahuan dan budaya. Melalui pendekatan yang humanis—tradisi pesantren mampu diterima oleh rakyat jelata pada masa awal-awal Islam di Indonesia. Di samping menebarkan kasih kepada sesama makhluk, pujangga-pujangga pesantren juga mengajarkan rakyat tentang pentingnya waspada dalam menyambut tahun-tahun yang akan datang.

Harari meramal masa depan sebagai sebuah proyek ambisius manusia yang ingin hidup kekal abadi. Sedangkan dalam tradisi sastra Jawa kuno, Ronggowarsito memberi sinyal akan datangnya “Zaman Edan” di mana sikap toleransi sudah berkurang dari setiap diri manusia. Norma-norma yang telah diatur untuk keselamatan bersama dilanggar demi keuntungan pribadi. Hal tersebut direkam dalam “Serat Kalatida:

Zaman Edan

Amenangi jaman edan
Ewuh aya ing pambudi
Mèlu edan ora tahan
Yen tan melu anglakoni

Boya keduman melik
Kaliren wekasanipun
Dilalah kersaning Allah
Begja-begjane kang lali
Luwih begja kang eling lawan waspada

Artinya

Hidup di zaman gila
Suasana jadi serba sulit
Ikut gila tak tahan
Tidak ikut gila
Tidak kebagian rezeki
Malah dapat kesengsaraan
Begitulah kehendak Allah
Seuntung-untung orang lupa
Lebih untung orang sadar dan waspada

Puisi yang lahir dari tangan-tangan pujangga pesantren ini menegaskan bahwa di masa depan  orang-orang akan sulit membedakan antara yang halal dan haram, baik dan jelek. Semua samar—dan jika tidak waspada maka akan terjerembab ke dalam kubangan dosa. Hanya satu yang bisa menyelamatkan, yaitu hati yang selalu “waspada” dan “ingat” kepada Allah swt. Sebab Allah adalah sebaik-baiknya tempat untuk berteduh dan kembali.

Selaras dengan itu, K.H. As’ad Syamsul Arifin dari Asembagus Situbondo juga menulis syair-syair berbahasa Madura yang terhimpun dalam buku yang berjudul Syi’ir Madura pada 1926. Buku itu ditulis ketika umur beliau masih sangat muda.

Jhâman samangkèn
Rakyat sadhâjâ paḍâ sossana
Politik tèngghi malarat jhâlânna
Sanget rumitta rajâ cobhâna

Ḍâlâm bahaya sala laguna
Ḍâ’ èkonomi sanget jatuna
Tambâna rakyat sanget bânya’na
Jumlana ningkat korang riskina

Wâjib nambâi hasèl bhumèna
Wâjib majuna dhâghâng bahanna
Sossana kaulâ taḍâ’ èlmona
Ngemmès ḍâ’ Allah bellâs morana

Artinya

Zaman kini
Semua rakyat sama-sama susah
Politik tinggi sulit berbelit-belit
Sangat rumit pula semakin besar cobaannya

Dalam bahaya (kalau) salah jalan
Terhadap kebutuhan ekonomi yang semakin beraneka ragam
Tambahan ekonomi semakin banyak
Jumlahnya bertambah sedangkan rezeki berkurang

Maka wajib menambah hasil bumi
Wajib memajukan perdagangan
Susah (jika) diri tidak dibekali ilmu pengetahuan
Mohonlah belas kasih kepada Allah

Dalam syair tersebut, penyairnya berupaya meramal masa yang akan datang. Masa depan akan lebih sulit daripada masa sekarang. Siapa yang tidak membekali dirinya dengan ilmu maka akan digilas zaman. Uniknya lagi, syair tersebut ditulis oleh K.H. As’ad Syamsul Arifin 40 tahun sebelum dicanangkannya program Keluarga Berencana (KB). Secara tersirat beliau berpesan melalui syair-syairnya bahwa kehidupan akan lebih rumit. Persiapkan semuanya secara matang. Beliau menganjurkan bercocok tanam dan berniaga sebagai upaya memenuhi kebutuhan dasar (fisiologis) sehingga ketika sudah selesai dengan urusan perut—manusia bisa naik level ke tahap eksistensi diri. Dari hal itu manusia bisa mengembangkan dirinya ke arah yang dia mau.

Akhirnya, yang bisa didapat dari buku Pendidikan Menghidupkan Nilai adalah pesan Zawawi bahwa tanpa mengembangkan pengetahuan, manusia akan sulit membedakan mana rumah, hotel, dan kandang. Pengetahuan adalah kunci menjalani masa depan dan musuh utama manusia, kata K.H. As’ad Syamsul Arifin, adalah rasa malas. Rasa malas adalah kuburan sebelum mati. Selain itu, sikap “menyaudara” kepada siapa pun harus menjadi semboyan bersama. Sebab kata Sutarji Calzoum Bachri yang tertusuk padamu berdarah padaku.

Memperbaiki nalar manusia bisa ditempuh dengan dua jalan: pendidikan dan ajaran moral. Pendidikan hari ini bagi Zawawi Imron sudah melenggang jauh dari kegiatan-kegiatan keseharian. Dalam sepuluh tahun mendatang, Indonesia akan krisis petani dan nelayan muda. Jika hal itu benar-benar terjadi—siapa nanti yang akan berkontribusi menanam padi dan menangkap ikan sebagai makanan pokok di meja makan?

Selain itu, Zawawi Imron juga mengkritik sistem moralitas yang berjalan sekarang. Banyak masjid dan musala dibangun megah mentereng, tapi sayang tidak diimbangi dengan penghayatan intrinsik. Agama seharusnya bisa diterjemahkan pemeluknya ke dalam bahasa perbuatan, tidak hanya sebagai bendera kebanggaan. Dengan hal itu agama dapat dipandang realistis dan membumi.


Fahrus Refendi merupakan tenaga pendidik di SD Islam Mabdaul Falah. Sekarang berkhidmat di Sivitas Kothèka.

Editor: Ikrar Izzul Haq
Foto: Ikrar Izzul Haq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *