Esai Budaya

Bukan 1,2% Belaka

Kau mungkin pernah membaca novel Hugh Lofting tentang ikatan familial Dokter Dolittle dengan simpanse bernama Chee-Chee. Atau tak sengaja melihat potret silaturahmi lintas spesies Jane Goodall dengan simpanse bernama Flint yang akan mengingatkanmu pada lukisan magis Michaelangelo, Creazione di Adamo, di mana telunjuk Ilahi berupaya menyentuh jari manusia pertama. Dan bisa jadi kau menggemari serial The Wild Thornberrys lantaran terseret petualangan liar Eliza dengan sahabat simpansenya yang bernama Darwin.

Tapi, lupakan semua imaji romantis simpanse-manusia tersebut kalau kau hendak menonton Primate. Dalam film garapan Johannes Roberts itu, yang kau jumpai justru simpanse macam Mojo Jojo, antagonis utama The Powerpuff Girls. Bedanya, jika Mojo Jojo doyan membombardir Kota Townsville, dalam Primate, simpanse Ben membantai orang seisi rumah.

Bermain-main dengan genre “thriller hewan buas”, sebenarnya bisa saja Johannes Roberts mengisahkan segerombolan gen Z yang ditindas aligator mutan saat healing di tepi Sungai Mississippi atau tim oseanograf amatir yang dibasmi kecipir sadis ketika riset di jantung Samudra Pasifik. Tapi, mengapa harus simpanse? Di sinilah titik menariknya.

Tentu, kau boleh “mengambil hikmah” film ini dari sudut pandang mana pun—sesuai kapasitas wawasanmu. Sebagai penonton yang cuma butuh hiburan dan pemacu adrenalin, Primate justru melemparku ke ngarai perbedaan yang terlampau lebar antara manusia dan simpanse sekalipun kontras keduanya tak lebih tipis daripada saringan tahu.

“Neurosains mengatakan bahwa perbedaan genetik antara Homo sapiens dan simpanse dan bonobo itu hanya 1,2%, sedikit sekali,” tukas Nirwan Dewanto di sebuah forum. “Tetapi perbedaan yang 1,2% itu sudah cukup membuat kita, si Homo sapiens ini, untuk mengarang segala sesuatu, mengarang kekuatan ilahiah, mengarang determinisme agama yang mengendalikan kehidupan kita, sementara sang bonobo itu tidak mampu, dan mungkin hanya berbudaya secara berkelompok dia mampu.”

Di sinilah pentingnya simpanse dihadirkan sebagai unsur antagonistic force film ini. Bukan karena kera menggemaskan itu ganas. Sebab, soal ganas-ganasan, tentu saja hiu dan serigala jauh lebih ganas. Ide “simpanse” terlintas di kepala sang sineas barangkali karena hewan tersebut nyaris sama dengan manusia. Bahkan, dalam Primate, Ben bisa bercakap dengan orang-orang melalui teknologi gawai yang dirancang oleh mendiang profesor linguistik yang ingin menjembatani jurang komunikasi antara sapiens dan simpanse. Inilah perbedaan Primate dengan thriller anakonda-anakondaan, lintah-lintahan, piranha-piranhaan, yang hanya menonjolkan watak monsteriah entitas res extensa

Sayang, perbedaan 1,2% itu sukar dilenyapkan. Ben memang mendadak brutal lantaran terjangkit rabies. Tapi, menurutku film ini tidak sekadar kepengin mempertontonkan “awas ada anjing galak”. Primate, setidaknya bagiku, hendak menunjukkan distingsi total antara alam insani dan alam nonmanusia, bahkan kendatipun subjek-bukan-manusia itu sudah didomestikasi sebagaimana Ben yang telah dianggap anggota keluarga dan tinggal di rumah. 

Primate sebenarnya kisah klise tentang beberapa anak muda yang menghabiskan masa liburan di Hawaii, di rumah indah yang tegak di atas sebuah tebing. Kurang surga apa? Sialnya, surga itu segera berubah jadi neraka ketika seekor simpanse yang juga menghuni rumah tersebut kerasukan setan rabies. Pembantaian demi pembantaian didemonstrasikan dalam adegan-adegan gore

Namun, ada satu adegan yang bagiku tak semata-mata menampilkan kekerasan ekstrem. Adegan itu dilangsungkan dalam pose Ben yang menghantam kepala Kate dengan batu di latar gua imitasi. Gesturnya terasa karib dan menarik ingatan kita pada cerita purba tentang saudara tua yang membunuh saudara muda karena motif kedengkian, semacam “sindrom anak sulung”. 

Kisah pembantaian Abel oleh Kain bisa menjadi ilustrasi atas psikologi Alfred Adler ihwal dethronement, pelengseran takhta, di mana posisi istimewa sang kakak digeser oleh si adik. Tindakan radikal sebagai manifestasi gejala kecemburuan tersebut dipicu oleh interpretasi atas keadilan. Kain tak mungkin menghabisi Abel jika Entah-Siapa-pun-Itu menerima persembahan korban darinya. Esau muhal mengintimidasi Yakub bila manipulasi berkat tidak pernah direncanakan Ribka, ibunya. Yehuda beserta saudara-saudaranya mustahil berkonspirasi untuk melempar Yusuf ke dalam sumur jika bocah itu tidak berlagak sok berkuasa hanya karena si bapak memanjakannya. 

Maka, yang terbentang pada adegan Ben menghantam kepala Kate adalah drama eksistensial di mana saudara tua “iri hati” kepada saudara muda yang berhasil merebut kedudukan di babak baru kehidupan. Simpanse yang berusia 700.000 tahun lebih sepuh ketimbang sapiens, mewakili alam nonmanusia yang telah mengalami kekalahan peran di atas pentas kosmik dalam skenario yang ditulis oleh Antroposen. Sapiens, spesies yang pada awal kelahirannya tampak seperti bayi ringkih bermasa depan suram tersebut, kini menjadi sutradara sekaligus aktor utama yang menentukan dan menggerakkan takdir. 

Kekuasaan itu kian meyakinkan ketika dikonfirmasi oleh narasi seperti “manusia adalah khalifah”, “setiap orang ialah pemimpin”, serta “mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut, burung-burung di udara, ternak di darat, dan segala binatang merayap di Bumi.” Dalam realisme kekuasaan, kita menyaksikan manusia berubah menjadi Cookie Monster—perhatikan perilaku tokoh rakus ini di acara tv anak Sesame Street—yang menggasak seluruh biskuit di atas meja. Kau boleh serakah karena kau berkuasa. Begitulah nalar kuasa Machiavellian. 

“Kekuasaan tampaknya bekerja seperti obat bius yang membuat orang tak peka terhadap orang lain,” tulis Rutger Bregman. Mereka jadi lebih gegabah, egois, arogan, kasar, bodoh amat, merasa superior. Persis itulah yang terjadi ketika manusia sukses menjelma penguasa tunggal di atas Bumi. Rabun jauh kekuasaan menghalangi mereka dari kenyataan bahwa babak goro-goro sudah dimulai, tirai kehancuran telah disingkap. 

Efek Cookie Monster kekuasaan inilah yang akhirnya menjadi senjata makan tuan, menjadi Ben rabies yang memangsa seluruh penghuni rumah. Manusia terperosok ke dalam rahang predator yang kita ciptakan sendiri. Maka, agar tak lekas tergelincir ke liang lahat kepunahan, manusia harus tahu batas. 

Seorang kawan menolak prinsip childfree hanya karena memandang bahwa wilayah di Bumi masih banyak yang lengang dan karena itulah si Planet Biru takkan pernah sesak oleh kuantitas manusia. Tentu, childfree bukan cuma soal ledakan penduduk. Setiap orang bisa berangkat dari iktikad childfree yang berbeda-beda. Tapi, ketika seseorang memilih childfree karena alasan overpopulasi, itu berarti ia tahu batas. 

Tubuh Bumi memang masih banyak yang belum dijamah manusia. Masalahnya, kita bukan satu-satunya penghuni rumah ini. Invasi atas teritori yang mestinya tak boleh disentuh manusia akan mengganggu harmoni. Deforestasi, katakanlah, telah mengundang banjir, memanggil longsor, dan mencatat nama-nama spesies di album obituari. 

Maka, biarlah gunung ini tetap utuh, laut itu jangan keruh, dan cakrawala masih jauh. Biarlah selisih 1,2% simpanse-manusia senantiasa menjadi pagar besi supaya kita tahu batas. Tanpa batas, Bumi kita akan sekacau Planet of the Apes. Tanpa batas, rumah kita akan sericuh Primate


Royyan Julian menulis prosa dan puisi.

Editor: Ikrar Izzul Haq
Foto: Ikrar Izzul Haq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *