Fenomena epigonisme dalam sastra Indonesia bukanlah hal baru, satu pola budaya yang berulang ketika estetika penulis tertentu beroleh pengakuan publik. Epigonisme bisa dipahami sebagai kecenderungan beberapa penulis untuk meniru gaya, tema, atau kepekaan estetika penulis terkenal tanpa mengalami proses pemahaman yang mendalam dan kreatif.
Sering kali, epigonisme muncul dari kekaguman yang tidak terbina. Dalam sastra, kekaguman terhadap sastrawan besar hampir tidak bisa dihindari. Tradisi sastra internasional memperlihatkan bagaimana Shakespeare, Dostoyevski, Camus, atau bahkan penulis modern seperti Haruki Murakami, melahirkan generasi pembaca dan penulis yang terpukau oleh kepekaan mereka. Namun, di balik kekaguman, nyaris tak disadari keterpukaan itu membentangkan hijab dari langit psikoanalisis, selaput tipis yang meski tidak sepenuhnya menghalangi pandang kreatif, tetapi cukup untuk membatasi kemampuan penulis dalam melihat dirinya secara mandiri. Hijab ini beroperasi melalui penyempitan, artinya penulis hanya melihat dunia melalui estetika imajiner yang dikaguminya, tidak melalui pengalaman hidupnya sendiri yang otentik. Pengaruh yang seharusnya menjadi energi kreatif berubah menjadi “ranjau” estetika.
Konsep “hijab” ini penting untuk diingat, menilik kegundahan yang terpancar dari pernyataan Iwan Simatupang tentang apa yang ia sebut sebagai “kurun paranoia.” Iwan merujuk pada kecenderungan sebagian penulis meniru gaya pikir dan sikap eksistensial dari para penulis besar Eropa, seolah-olah tragedi batin Dostoyevski atau absurditas Camus bisa diambil dengan hanya meniru cara berceritanya saja. Di Indonesia, “kurun paranoia” ini tidak hanya merujuk pada peniruan gaya Barat, lebih luas terhadap sebentuk “kecemasan budaya” bahwa nilai sastra hanya dianggap sah apabila mirip dengan pusat-pusat sastra dunia (cek perdebatan sastra universal vs sastra kontekstual). Kekhawatiran ini alih-alih membuat penulis berhayat mencermati realitas sosialnya, ia lebih sibuk menghadapkan dirinya pada cermin estetika yang lebih superior.
Kejujuran adalah elemen yang sering diabaikan dalam lingkar penulis epigonis. Pembicaraan tentang epigonisme biasanya berfokus pada aspek permukaan, seperti kemiripan kosakata, struktur cerita, atau gaya penceritaan, sementara akar masalahnya terletak pada ketidakmampuan penulis untuk bersikap jujur terhadap pengalamannya, terhadap mikro-kosmik palung batinnya. Banyak penulis mengangkat tema-tema filosofi ala Stoik, kegelisahan eksistensial dunia Nietzsche-Heidegger-Camus, atau ketidakbermaknaan hidup Kafkaesque, bukan karena mereka mengalami hal itu sebagai kenyataan batin, tetapi karena tema-tema tersebut sedang populer dalam wacana sastra. Mereka membebek pose eksistensialis ala Camus, tetapi tetap tidak otentik dalam kehidupan sehari-hari, meniru kedalaman psikologi Dostoyevski, tetapi banal menghadapi kompleksitas diri sendiri. Ketakjujuran semacam ini menghasilkan karya yang tampak “berat” meledak-ledak padahal kering secara emosional.
Dalam konteks ini, penting untuk membedakan antara pengaruh dan peniruan. Pengaruh adalah niscaya dalam tradisi sastra; setiap karya muncul dari dialog yang panjang dengan teks-teks lain (intertekstualitas), secara sadar maupun tidak. Julia Kristeva pernah menekankan bahwa setiap teks merupakan “mosaik kutipan”. Sementara Harold Bloom menggambarkan proses penciptaan sebagai “kesalahbacaan kreatif” terhadap pendahulu. Demikian, keterpengaruhan bukan dinding yang perlu dihindari, melainkan harus dikelola agar menghasilkan suara baru. Penulis besar bukan tidak steril dari pengaruh, ia mengolah, memutar, dan mendalami kembali pengaruh yang menjurusnya dari segala arah.
Sebaliknya, peniruan adalah pilihan estetika yang tidak melibatkan proses yang kritis. Peniruan beroperasi pada permukaan saja, tidak memerlukan modal pemahaman mengenai motif estetika seorang penulis sebab yang diambil hanya permukaan, cetek. Peniruan seperti ini mengidentikkan keaslian dengan kemiripan, seakan-akan menjadi “Dostoyevski mini” sehingga penulis secara tidak sadar menyerahkan diri kepada estetika orang lain, dan bayangannya menjadi lebih besar dari dirinya yang sebenarnya.
Epigonisme yang muncul dari peniruan semacam ini memiliki dampak serius secara epistemologis, selain mencemari inovasi, juga akan menghambat imajinasi. Penulis yang beroperasi dalam kerangka epigonik cenderung terputus dari realitas lokalnya. Ia menuliskan tragedi yang tak pernah dialaminya, mengadopsi absurditas yang tidak pernah dipahaminya, menampilkan konflik moral yang tidak berasal dari perjuangannya sendiri. Akhirnya, karya-karya semacam ini gagal menciptakan resonansi budaya, karena ia berbicara dengan bahasa yang dipinjam dan tidak terhubung dengan komunitas sosial yang membentuknya.
Namun, terlalu gampang untuk menyimpulkan bahwa epigonisme harus sepenuhnya ditolak. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, epigonisme dalam beberapa tahap adalah bagian dari proses perkembangan seorang penulis. Ini merupakan fase berpola yang hampir tak terpisahkan dari kemajuan estetika individu. Setiap penulis dalam sejarah, bahkan yang paling dianggap “orisinal” pun, pernah menjalani fase epigonik. Masalahnya bukanlah keberadaan fase itu, tetapi pilihan untuk berlama-lama di dalamnya secara tetap. Ketika seorang penulis terhenti di tahap imitasi, ia menyangkal kemungkinan untuk berubah, padahal perubahan tersebut adalah inti dari proses kreatif.
Oleh karena itu, daripada melihat epigonisme sebagai sesuatu yang perlu dihilangkan, lebih bermanfaat untuk memandangnya sebagai tahap perkembangan di mana tersedia satu ruang untuk belajar, menyerap, mengasimilasi, dan menegosiasikan pengaruh. Hanya ketika penulis mau melampaui fase itu dengan menegosiasikan suaranya, pengalaman dan inti jiwanya, barulah kemungkinan keaslian muncul. Keaslian di sini pun bukan hanya berarti sesuatu yang benar-benar baru, tetapi merupakan bentuk keberanian untuk mengolah tradisi menjadi hal yang pribadi. Keaslian tidak berarti “jijik” pada masa lalu, keberanian mendaur ulang ulang apa-apa yang lampau sesuai dengan kebutuhan batin dan kondisi sosial mutakhir adalah mental responsif adaptif bagi seorang pengarang.
Menyingkap selubung epigonisme berarti mengembalikan hubungan penulis antara kenyataan dirinya dan masyarakat sekitar. Tradisi sastra tak bisa dianggap sebagai sebuah museum yang menyimpan bentuk-bentuk estetika yang harus dijaga utuh. Ini lebih tepat dijelaskan sebagai aliran sungai, di mana setiap generasi menambahkan lapisan baru, dengan warna dan suhu yang berbeda. Penulis hebat bukan untuk ditiru, tetapi untuk dikaji dengan kritis dengan menelaah mekanisme estetikanya, mengeksplorasi alasan historisnya, dan mempertanyakan relevansinya.
Akhirnya, epigonisme mengajukan satu pertanyaan mendasar bagi calon semua pengarang; seberapa jauh seorang penulis berani menghadapi dirinya sendiri? Penulis yang hanya mengulangi estetika model besar mungkin saja tampak terampil, tetapi keterampilan itu rapuh karena tidak dibalut pengalaman batin. Sementara penulis yang siap menghadapi diri sendiri, dengan semua ketakteraturan dan ketakpastiannya, akan menemukan bentuk ekspresi yang lebih nyaris otentik. Dan di situlah letak kemungkinan keaslian, kedalaman hubungan jiwa antara pengalaman pribadi dan bahasa yang dipilih untuk mengungkapnya.
Sumber Bacaan:
- Simatupang, Iwan. Kebebasan Pengarang dan Masalah Tanah Air. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara, 2004. Cet 1.
- Paz, Octavio. The Other Voice: Essays on Modern Poetry (Suara Lain). Diterjemahkan oleh Max Arifin. Depok: Komodo Books, 1991.
- Sastrowardoyo, Subagio. Sosok Pribadi Dalam Sajak. Jakarta: Balai Pustaka, 2000. Cet 2.
- Sastrowardoyo, Subagio. Pengarang Modern Sebagai Manusia Perbatasan. Jakarta: Balai Pustaka, 1989. Cet 1.
Hamimie, tamatan Prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir di UNUJA, Probolinggo. Menerjemah puisi dan esai Arab, melukis, meresensi buku-film dan mengarang esai. Puisi-puisinya tersiar di Kompas, Harian Rakyat Sultra, Bangka Pos, Radar Banyuwangi, Sastra Berita Jatim, Ngewiyak dan media lain. Terpilih mengikuti Lokakarya Festival Sastra Kota Malang 2025 “Membaca Kota, Menulis Puisi”. Saat ini menjadi editor Menulis ID. Instagram: @ham_im_i
Editor : Putri Tariza
Foto: Putri Tariza


