Esai Budaya

Sulaiman Gaya Baru

“Gusti, izinkan hamba menjamin rezeki seluruh makhluk-Mu di muka bumi, setahun penuh saja,” pinta Sulaiman suatu hari. Kisah yang saya petik dari kitab Durrah an-Nashihin ini, selalu berhasil menerbitkan senyum kecut. Sulaiman, nabi yang berada di puncak takhta kekayaan itu, mendadak bertingkah mirip “Orang Kaya Baru (OKB)” yang begitu gatalnya ingin pamer isi dompet. Ketika Tuhan mengingatkan bahwa ia tak akan pernah sanggup menunaikan keinginannya itu, Sulaiman yang berkepala batu malah menawar, “Kalau begitu, beri hamba waktu sehari saja.”

Maka dimulailah megaproyek kolosal itu. Selama tak kurang empat puluh hari lamanya, pasukan jin dan manusia dikerahkan untuk gugur-gunung habis-habisan: mendata seluruh makhluk di muka bumi, di darat dan di laut, mengumpulkan bahan pangan dari arah manapun sebanyak-banyaknya, dan mengolahnya menjadi hidangan akbar. Angin pun bahkan dititah Sulaiman untuk sementara waktu mandek berembus, jangan dulu berlalu-lalang, semata agar lajunya tak mengacak-acak gunungan makanan yang saking panjangnya, konon, setara jarak tempuh selama sebulan perjalanan.

Akan tetapi kisah heroisme Sulaiman ini berakhir ironis. Kepongahannya runtuh, bahkan ketika tamu pertama baru saja datang di jamuan makan besarnya. Tamu pertama itu ialah seekor ikan bernama “Khut”; seekor ikan raksasa yang meraja dari palung laut. Hanya dalam satu kedipan mata, ternyatalah seluruh hidangan yang proses memasaknya saja makan waktu empat puluh hari itu ludes tanpa sisa. Ikan gigan itu sialnya masih lapar. “Wahai Sulaiman, kenyangkanlah aku, perutku masih dirongrong kelaparan,” keluhnya. Wajahnya menengadah lagi sambil mengiba. Demi mendengar keluhan itu, Sulaiman pun terperangah, sadar bahwa nampan-nampannya telah kosong melompong, sementara keangkuhannya terlanjur runtuh di tepi pantai.

Abad pun berganti, dan hari ini kita seperti menyaksikan reinkarnasi dari kepongahan Sulaiman tersebut, tepat ketika Presiden negara kita, kira-kira hampir dua tahun yang lalu, mengetuk palu untuk megaproyek yang ia namai Makan Bergizi Gratis (MBG). Dengan syahwat politik meluap-luap, negara pun sekonyong-konyong bermutasi “katering raksasa” yang berambisi menyuapi jutaan anak dari Sabang hingga Merauke, dengan logika yang teramat sederhana—kalau tidak malah pantas disebut naif—persis baru-baru ini disebut Pak Presiden dalam sebuah pidatonya. “Tidak ada yang lebih genting dari perut yang lapar,” kata Pak Presiden, dan itu artinya kita semua akan dipaksa lagi menyaksikan orkestra pemborosan massal selama kurang lebih tiga setengah tahun ke depan, di mana anggaran ratusan triliun rupiah dipertaruhkan demi sebuah proyek logistik yang luar biasa kolosal, tapi sebaliknya, dilaksanakan dengan amat dungunya.

Saya tidak tahu apakah Sulaiman pernah membenarkan tindak pongahnya dengan narasi-narasi moralis persis Presiden Republik Indonesia selalu mengulang-ulang dengan sungguh bersikukuh bahwa program kampanye pemilunya itu lebih dari sekadar upaya meningkatkan gizi anak-anak bangsa, tapi juga investasi masa depan ke arah lebih baik. Kita ingat misalnya, Presiden pernah mempertontonkan keyakinan itu dengan jumawa di panggung dunia. Dalam pidatonya di World Economic Forum 2026 silam, ia tanpa malu mengklaim bahwa MBG telah memproduksi nyaris 60 juta porsi makanan per hari; suatu capaian yang, menurutnya, akan segera melampaui McDonald’s; mengandaikan bahwa produksi masif itu cukup membuktikan keberhasilan program yang lebih banyak mendulang rapor merah daripada yang sebaliknya. Seperti biasa, alih-alih menangkap berbagai kritik-publik sebagai semacam alarm darurat, ia justru meresponsnya secara defensif; menunjukkan bahwa baginya, keberatan publik ialah gangguan terhadap niat mulia negara.

Sejauh ini, saya belum pernah menemukan bukti sahih bahwa peradaban manusia sekonyong-konyong dapat berkembang signifikan hanya dengan “makan” yang, bila dikalkulasi, harganya mentok cuma ceban—itu pun jika tidak diakali. Meski juga dengan sama bangganya, Presiden menyebut bahwa Indonesialah satu-satunya negara di mana “aparat-keamanan” turut terjun membajak lahan—di samping juga mengurus dapur—tidak pernah pula ada bukti mustahak bahwa suatu negara dapat begitu saja bangkit menjadi negara yang hebat persis diyakininya.

Berpatah arang dengan keyakinan naif sejenis itu, Philip Noel-Baker menyebut bahwa dari semua investasi yang kita perlukan untuk dapat mengentaskan diri dari “kemiskinan paling celaka”, yaitu “kemiskinan pikiran” manusia, investasi untuk memerangi kegelapan alam pikiranlah satu-satunya bentuk paling agungnya. Dunia, menurut Noel-Baker, pertama-tama mesti dibebaskan dari segala persenjataan. Dan itu berarti, dibebaskan dari “Militerisme” dalam arti seluas-luasnya. Noel-Baker sendiri adalah seseorang yang pernah mengalami kekacauan Perang Dunia, dan kita bisa menduga mengapa dalam pemikirannya untuk masa depan anak-anak dunia, ia tanpa ragu berkata begitu. Sebagai gantinya, ia menegaskan bahwa investasi untuk dunia masa depan mestilah dikerahkan sepenuh-penuhnya ke wilayah pendidikan, yakni dengan “melipatgandakan jumlah guru hingga dua atau tiga kali, menaikkan upah mereka bahkan hingga seratus persen, dan memuliakan status mereka melebihi kalangan ahli hukum, dokter, arsitek, atau ahli mesin”. Sebab seorang “guru”, di mata Noel-Baker, “hakikatnya adalah arsitek dan perencana masa depan”. 

Tak jauh dari spektrum Philip Noel-Baker, di belahan bumi lain saya teringat bagaimana Michiko Inukai, seorang filantropis asal Jepang, suatu kali pernah menyatakan bahwa “membaca dan menulis” adalah hal yang tak terelakkan lagi mutlak pentingnya. Inukai meyakini, hanya dengan keduanyalah upaya kita untuk mengentaskan manusia dari “kegelapan alam pikiran” menjadi mungkin, dan itulah mengapa, jalan untuk mendapatkan akses terhadap kedua hal tersebut dinilainya sebagai “hak manusia yang paling mulia”. Bila kita bersepakat bahwa akses terhadap “bacaan yang baik”, akses terhadap “kesediaan fasilitas menulis dan/atau menyampaikan gegasan” secara berdaulat—itu artinya, “pendidikan yang baik sejak perencanaan dan tata-pelaksanaannya”—mutlak merupakan “hak manusia yang paling mulia”, maka sungguh celaka lantaran negara ini kian kemari kian tak menunjukkan itikad sama sekali guna melebarkan akses menuju keduanya.

Mau tidak mau, pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oleh Michiko Inukai itu kian pula meyakinkan saya bahwa negara ini memang sama sekali tak pernah memiliki niatan barang secuil gidal pun untuk memenuhi hak-hak paling mulia bangsanya sendiri. Dengan kata lain, ia tak pernah mempunyai tujuan lain kecuali segala yang paling buruk wujudnya: Memiskinkan masyarakatnya sendiri. Lebih persisnya, “Memiskinkan Masyarakatnya hingga ke Taraf Kemiskinan Paling Buruk dari Segala Wujudnya”. Dan apakah kemiskinan yang paling buruk itu? Philip Noel-Baker, dalam esainya menjawab tegas: “Tidak lain adalah kemiskinan pikiran”. Dalam arti yang sebaliknya, maka negara ini sejatinya bermaksud memiskinkan masyarakatnya, bukan hanya secara “material”, tetapi juga “intelektual”.

Adalah fakta yang melinggis mata dan hati siapa pun, menyadari bahwa kita memang hidup di negeri yang enteng belaka mengalokasikan anggaran—merujuk data kementerian pertahanan republik Indonesia—sebesar Rp187, 1 triliun hanya untuk belanja alutsista, tetapi sebaliknya, mendadak begitu miskin, mendadak merengek-rengek seolah nabi saleh yang seluruh kekayaannya ludes digilas geledek sekadar untuk menyediakan bebatang kapur bagi sebuah sekolah di nun ujung sana. Susah membayangkan Presiden yang selalu mengatakan bahwa negerinya adalah negeri yang kaya raya, sehingga tanpa banyak menimbang, ia bernyali menganggarkan—dengan mengebiri anggaran pendidikan dan kesehatan—berkian-kian triliun untuk menandingi megaproyek kolosal Raja Sulaiman mendadak belaka serupa bocah kecolongan celengan babi untuk sekadar mengupah para pendidik di negerinya secara manusiawi, sehingga tiap orang tua murid sebuah sekolah di daerah terpaksa patungan demi menggaji para patriot anak-anaknya.

Saya ingat, pada suatu momen dialog, sang Presiden pernah mengaku bahwa ia seseorang yang gemar membaca buku. Di antara penulis yang ia kagumi karyanya adalah Paulo Coelho. Konon, Manual of the Warrior of Light disebut-sebut sebagai karya Coelho yang telah banyak menginspirasinya. Publik yang juga membaca Manual of the Warrior of Light saya kira tahu, karya Coelho ini memuat kepingan-kepingan aforisme filosofis mengenai ziarah batin seorang prajurit spiritual. Di sana, Coelho misalnya berkisah tentang tokoh bernama Herrigel yang merasa seolah tak bisa bernapas jika ia tak buru-buru melepaskan anak panahnya. Mendapati kegelisahan muridnya, Guru Zen-nya pun bernasihat. “Kalau kau terus saja berupaya mengusik momen-momen saat engkau harus melepaskan anak panah,” wejangnya, “maka engkau tidak akan pernah mempelajari seni sang pemanah”. “Kadang-kadang,” lanjut Sang Guru Zen, “hasrat berlebihan sang pemanah sendirilah yang merusak ketepatan bidikannya.” Akan tetapi, Sang Kesatria Cahaya kadang-kadang juga berpikir: “Jika bukan aku yang melakukan, maka hal itu tidak akan pernah dilakukan.” Kisah penuh renung ini lalu dipungkasi Coelho dengan sepenggal aforisme: “Sebenarnya, tidak persis demikian: dia harus bertindak, tetapi dia juga harus menyediakan ruang bagi Semesta untuk bertindak.”

Ada juga kisah mengenai seorang Prajurit yang didera dilema. Ia, Sang Prajurit itu, tahu bahwa malaikat dan iblis sama-sama memperebutkan tangannya setiap kali ia memegang pedang. Sekaligus dengan itu, Sang Prajurit pun juga terkejut sebab baik Si Iblis maupun Si Malaikat, ternyatalah mengatakan hal yang selalu persis belaka. Kepada Sang Prajurit, baik Si Iblis maupun Si Malaikat sama-sama berkata: “Kau akan melemah. Kau tidak akan tahu persis kapan. Kau takut.” Satu-satunya hal yang membedakan perkataan dua makhluk yang berbeda sejak bahan dasar pembuatannya itu, adalah ketika Si Iblis mengatakan “Izinkan aku membantumu”, Si Malaikat berkata, “Aku akan membantumu”. Pada saat itulah, Si Prajurit segera memahami perbedaan di antara keduanya. Ia menyadari bahwa meski kata-kata Si Iblis dan Malaikat mungkin sama belaka, tetapi cukup jelas bahwa kedua sekutu ini sejatinya amat berseberang. Alhasil, Sang Prajurit pun memilih tangan Si Malaikat.

Tidak susah untuk memahami bahwa pada kisah pertama, Coelho bermaksud mengingatkan kita akan betapa bahaya berahi berlebihan untuk buru-buru melepaskan anak panah; sebentuk kepongahan si tokoh yang meyakini bahwa jika “bukan aku yang melakukan, maka hal itu tidak akan pernah dilakukan”. Kita melihat sebuah “Egosentrisme” sekaligus “Narsisme” pada diri tokoh. Saya ragu dengan pengakuan Pak Presiden bahwa ia menyukai karya-karya Coelho. Agaknya, pengakuan itu lebih merupakan sapuan citra supaya ia tampak berwawasan belaka di hadapan mata kamera. Atau, katakanlah ia memang pernah membolak-balik halaman Kitab Suci Kesatria Cahaya. Namun, sepertinya, tak satu pun baris-baris kalimat Coelho pernah sungguh-sungguh meresap dan menancap, bahkan di kulit paling luar dinding pikirannya sekalipun. Tak ada sesamar sidik jari pun dari aforisme-aforisme Coelho yang tampak dari setiap kata-kata yang ia uar-uarkan.

Apa boleh dikata, alih-alih Pak Presiden—yang mungkin membayangkan dirinya sebagai Kesatria Cahaya itu—menyediakan ruang bagi semesta untuk bertindak, atau sekurang-kurangnya, ruang bagi nalar sehat publik, ia tampaknya malah lebih gemar menggegas proyek-proyek mercusuar dengan syahwat purba seorang pemanah amatir sebagaimana Herrigel dalam karya Coelho. Saya tidak tahu adakah Pak Presiden mempunyai seorang Guru Zen seperti Herrigel. Namun, kita boleh juga membayangkan bahwa Sang Guru Zen itu sesungguhnya ada, katakanlah ia maujud dalam kritik publik, para pakar, serta intelektual. Sayang, nafsu memahat legasi secara instan menubruk segala prosedur, sepertinya lebih digdaya menguasai diri Presiden, sehingga mengabaikan ketepatan bidikan demi kepuasan melepas busur panah egonya belaka. Apabila pada kisah kedua, kita mendapati pergulatan batin Sang Kesatria Cahaya—hendakkah ia memilih uluran tangan Si Malaikat atau malah sebaliknya, tawaran bantuan Si Iblis—lalu pengarang memberitahu kita bahwa seorang prajurit sejati senantiasalah tahu bagaimana mesti membedakan keduanya betapa pun mereka merapal mantra ketakutan yang sama, kita agaknya patut bertanya: Lantas, tangan siapakah yang sebenarnya dijabat oleh Pak Presiden selama ini? Saya percaya, kita semua berharap jawabannya adalah “Si Malaikat”, tak lain supaya megaproyek kolosal “Sulaiman Gaya Baru” ini tak sampai berujung “tragis” dan “ironis”. Akan tetapi kita semua agaknya lebih patut sangsi. Sebab, jika Sulaiman insyaf segera selepas ia gagal mengenyangkan lambung satu ekor ikan belaka, “Sulaiman Gaya Baru” justru bersikukuh menjalankan mega proyeknya, betapa pun sejak semula, ribuan anak-anak mesti digotong tandu ambulans gara-gara keracunan.


Yohan Fikri adalah penulis dan kritikus sastra.

Editor: Asief Abdi
Foto: Sasti Gotama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *