Kritik Seni

Dunia Sekong!

Di lingkungan tempat saya tumbuh, Probolinggo, perkawinan sering kali jadi tanda kelulusan sosial. “Wes mentas”, kata orang Jawa, yang dapat diartikan sebagai lunasnya tanggung jawab besar orang tua kalau sudah berhasil menikahkan anaknya. Dalam konteks tersebut, setinggi-tingginya saya menempuh pendidikan, atau … (misalnya) sekaya dan sesukses apa saya saat ini, jika saya pulang kampung, saya bakal tetap dianggap “miskin” hanya karena tidak menikah.

Sebagaimana Sara Ahmed sampaikan dalam The Promise of Happiness (2010), terdapat objek-objek yang secara otomatis dianggap membawa kebahagiaan (atau kesuksesan) yakni pernikahan, keluarga, anak, dan rumah tangga. Perkawinan dalam konteks di atas, saya rasa, kerap kali bukanlah sebuah pilihan personal, melainkan acap terjadi karena dorongan komunal. Sehingga, bagi orang yang berjalan di luar atau menolak jalur tersebut, ia lantas dianggap menjalani hidup yang pahit, gagal, atau tidak bahagia.

Ya, pertanyaan “Sudah menikah?” yang lantas dilanjut dengan “Kapan mo kawin?” saat saya pulang kampung atau saat ngobrol dengan orang-orang baru sebenarnya bukan pertanyaan yang netral. Sebab, sejatinya pertanyaan tersebut mengandung asumsi tentang bentuk kehidupan yang dianggap bahagia atau berhasil oleh masyarakat—sebuah janji-janji kebahagiaan yang fatamorgana.

Sebelum melanjutkan, saya perlu menjelaskan dua istilah yang akan muncul secara bersilangan dalam tulisan ini, yakni nikah dan kawin. Saya sengaja tidak memperlakukan keduanya sebagai sinonim sepenuhnya. Dalam esai ini, saya cenderung menggunakan nikah ketika berbicara tentang legitimasi sosial—tentang pengakuan keluarga, agama, komunitas, dan citra kehidupan yang dianggap pantas. Sementara itu, kawin saya gunakan ketika pembicaraan bergerak lebih dekat kepada tubuh, hasrat, seksualitas, dan keputusan personal. Pembedaan tersebut bukan definisi baku, melainkan pilihan terminologis saya untuk memperlihatkan bagaimana kehidupan intim kita terus-menerus ditarik antara tuntutan sosial dan pengalaman tubuh.

Tekanan tersebut tentu bekerja secara berbeda pada laki-laki dan perempuan. Perempuan yang tidak menikah hingga usia tertentu sering dilabeli “perawan tua”, sementara laki-laki seperti saya mulai berhadapan dengan kecurigaan lain: “Jangan-jangan dia  gay! . Di titik ini, perkawinan lantas beralih fungsi sebagai sertifikat kenormalan. Seorang laki-laki yang menikahi perempuan seolah telah membuktikan bahwa dirinya baik-baik saja, bahwa hasratnya berada di tempat yang benar, dan bahwa hidupnya mengikuti jalur yang semestinya.

Titik itulah yang menjadi asal-usul kegelisahan dan melahirkan kreativitas dalam “tubuh” saya. Apa yang terjadi ketika seorang laki-laki memang mencintai laki-laki, tetapi hidup dalam masyarakat yang menjadikan perkawinan heteroseksual sebagai bukti kedewasaan dan kenormalan? Apa yang terjadi ketika menikahi perempuan menjadi salah satu cara paling masuk akal untuk menghentikan kecurigaan, menenangkan orang tua, mempertahankan pekerjaan, dan tetap diterima sebagai bagian dari masyarakat? Dan ketika perkawinan semacam itu akhirnya retak, siapakah yang menjadi korban?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kemudian menemukan tubuhnya dalam Sekong!.

Sekong!, novel saya, mengawali kisahnya dari laporan Surti. Ia mengadukan perselingkuhan suaminya pada Laporo Rek!, sebuah program radio pemerintah di Kota Probolinggo. Suaminya, Rahim, adalah seorang aparatur negara, penyuluh keluarga berencana. Bagi Surti, persoalannya mula-mula tampak sederhana sekaligus menyakitkan. Suaminya berselingkuh. Ia menelepon radio, berharap pemerintah dapat melakukan sesuatu. Ia berharap wali kota dapat membantunya. Ia berharap birokrasi dapat memanggil suaminya. Ia berharap negara dapat menegakkan keadilan dengan mengembalikan seseorang yang ia cintai ke dalam pelukannya.

Mula-mula Surti mengira Rahim berselingkuh dengan perawat, seorang perempuan. Ada pesan-pesan mesra dan penggerebekan di kamar hotel. Semua unsur yang diperlukan untuk sebuah skandal kota kecil tersedia di hadapan Surti dan warga kota. Namun, seperti banyak kehidupan yang saya jumpai, terutama di kota saya, gosip adalah asal-muasal kebenaran. Melalui gosip, perlahan terungkap bahwa kehidupan seksual dan emosional Rahim rupanya jauh lebih rumit. Ia mencintai laki-laki. Ia berhubungan dengan TL, seorang laki-laki yang juga menjalani kehidupannya di antara hasrat, pekerjaan, peran di keluarga, tubuh, dan penyamaran.

Dari kasus Surti, cerita kemudian melebar kepada Sang Penyiar, kepada Musthafa yang berada dalam lingkungan religius, kepada laki-laki yang menikah, kepada mereka yang bersembunyi, kepada mereka yang tampak “normal”, dan kepada orang-orang yang mengetahui bahwa kehidupan mereka tidak pernah benar-benar dapat dimasukkan ke dalam kotak identitas yang rapi. Secara ringkas, itulah dunia Sekong!. Novel saya tersebut berkisah tentang sejumlah laki-laki queer di Probolinggo yang kehidupannya saling berkelindan melalui cinta, perkawinan, perselingkuhan, persahabatan, pekerjaan, keluarga, agama, dan gosip. Saya menulis mereka sebagai manusia. Mereka dapat mencintai dan mengkhianati. Mereka dapat terluka dan melukai. Mereka bisa setia, tetapi juga berselingkuh. Mereka dapat menjadi korban struktur sosial sekaligus membuat orang lain menjadi korban.

Beberapa waktu lalu, kisah yang saya tulis dan dipublikasikan Penerbit Basabasi pada 2011 tersebut kembali dibicarakan oleh seorang bookstagramer, Habin Ten @readtheten. Sebelumnya, Julia Suryakusuma juga sempat membagikan tautan review Sekong! yang dibuat oleh Sophia Mega, seorang penulis buku dan juga youtuber. Beberapa komentar pembaca yang saya temukan di Goodreads rata-rata juga menyebut cara bertutur Sekong! yang berputar-putar dan susah dipahami. Termasuk, pembaca ingin akhir yang  jelas bagaimana kehdiupan rumah tangga Surti setelah mengetahui kebenaran bahwa suaminya selingkuh dengan laki-laki.

Pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan pembaca tersebut valid. Namun, jika pertanyaan tersebut dikembalikan pada saya, tentunya dengan menghormati seutuhnya hak pembaca, saya perlu menyampaikan bahwa pilihan tersebut bukan tanpa kesadaran. Sejak awal, saya memang digerakkan oleh keinginan untuk menulis menggunakan tubuh yang liyan, alih-alih bekerja dengan cara dimengerti dan melalui alur yang tertib. Saya bekerja dengan tubuh yang gelisah, sarat penyamaran, penuh hasrat, ketakutan, kelakar yang getir, serta cara hidup yang sering kali tidak dapat bergerak lurus karena subjek yang saya tulis pun hidup dalam dunia yang memaksa mereka berbelok, bersembunyi, menyamarkan diri, dan bahkan sering kali menyangkal dirinya sendiri.

Alasan yang sama pula yang membuat saya dengan sadar untuk menggunakan nama samaran bagi semua tokoh dan membiarkan gaya penceritaannya melingkar-lingkar. Mungkin seperti Hélène Cixous, ketika ia menulis dalam esainya yang monumental The Laugh of the Medusa (1975), menyerukan agar perempuan menulis dirinya sendiri dan menghadirkan tubuh perempuan ke dalam tulisan. Maka, saya pun merasa bahwa tubuh-tubuh lelaki yang liyan perlu melakukan hal serupa. Mengapa laki-laki gay tidak mungkin menulis melalui pengalaman tubuh yang sepanjang hidupnya belajar menyembunyikan hasrat, membaca tanda, menciptakan kode, dan menegosiasikan keterlihatannya?

Jika Teman-Teman punya seorang kawan yang secara terbuka mengakui identitasnya, coba perhatikan cara ia bercerita. Ya, meski tak ada rumusan tunggal mengenai “cara gay berbicara”, tapi saya sepenuhnya percaya bahwa pengalaman sosial dapat membentuk strategi tutur. Orang yang sepanjang hidupnya harus menimbang kapan boleh jujur, kepada siapa sebuah rahasia dapat dibuka, bagian mana dari dirinya harus disembunyikan, dan bagaimana sebuah hasrat diberi nama, sangat mungkin mengembangkan cara bercerita yang berbeda dari mereka yang identitas dan cintanya tidak pernah dipersoalkan. Dalam pengertian inilah saya melihat bahasa bukan sekadar alat menyampaikan cerita, melainkan juga jejak dari cara tubuh bertahan hidup.

Kesadaran tersebut mungkin mengingatkan kita semua pada tradisi pemikiran feminis yang sejak lama mempersoalkan siapa yang berhak menentukan bentuk tulisan yang dianggap baik, jernih, rasional, dan sah. Ketika perempuan didorong untuk menulis melalui pengalaman tubuhnya sendiri, persoalannya bukan sekadar menambah jumlah perempuan dalam dunia sastra. Yang dipertaruhkan adalah kemungkinan lahirnya cara lain dalam menyusun pengalaman. Cara yang tidak selalu tunduk pada logika, struktur, dan ukuran yang sebelumnya dibentuk oleh subjek dominan. Jujur, Cixous membantu saya merenungkan, jika pengalaman perempuan dapat melahirkan cara menulis yang menggugat bahasa dominan, mengapa pengalaman queer tidak mungkin melahirkan bentuk tutur, ritme, humor, penyamaran, dan struktur naratifnya sendiri?

Di Indonesia, pertanyaan itu sebenarnya bukan tanpa jejak. Ada almarhum Antok Serean, yang pernah aktif di lingkungan GAYa Nusantara dan menerbitkan kumpulan cerpen Ibuku Lelaki (2015) secara independen. Ada pula novel Andy Lotex, Bila Hasrat Tlah Usai (2007), yang menulis pengalaman asmara gay secara terbuka. Kehadiran karya kedua penulis tersebut membuat saya bertanya: “Mengapa nama mereka begitu mudah hilang (bahkan tidak ada) dari percakapan sastra Indonesia? Mengapa mereka jarang disebut sebagai sastrawan, jarang diundang ke forum-forum sastra, dan jarang ditempatkan sebagai penulis yang memiliki tawaran estetik maupun kritik sosial yang serius? Apakah karena tulisan mereka memang tidak cukup baik? Ataukah karena dunia sastra kita memiliki mekanisme tersendiri untuk menentukan bahasa siapa yang layak disebut sastra, pengalaman siapa yang dianggap universal, dan tubuh siapa yang hanya dibaca sebagai identitas?”

Mengapa saya menulis Sekong!? Sebab saya (saat itu) tidak tinggal di Jakarta.

Tentu tak semudah itu menjawabnya. Dari titik tersebut, dari apa yang telah saya tawarkan di atas, apa yang semula saya kerjakan secara intuitif rupanya di kemudian hari saya sadari sebagai upaya untuk mencari bentuk bagi pengalaman yang sepenuhnya tidak hidup dalam garis lurus. Saya menulis Sekong! bukan hanya tentang laki-laki yang mencintai laki-laki, melainkan mencoba membiarkan ketidakpastian, penyamaran, dan kegelisahan mereka ikut mengganggu bentuk cerita itu sendiri. Karena itu, ketika pembaca bertanya mengapa nasib Surti tidak dijelaskan sampai tuntas, saya kini justru ingin mengembalikan pertanyaan tersebut: Dalam kehidupan nyata, apakah seorang perempuan yang mengetahui suaminya mencintai laki-laki memang selalu memiliki akhir yang jelas? Apakah ia harus pergi agar dianggap berdaya? Haruskah ia bertahan agar disebut korban? Ataukah ketidakjelasan itu sendiri merupakan bagian dari kekerasan yang harus ia tanggung—hidup bersama sebuah kebenaran yang telah meruntuhkan seluruh bahasa yang sebelumnya ia gunakan untuk memahami perkawinannya?

Mungkin karena itulah Sekong! tidak pernah benar-benar saya tulis untuk memberikan jawaban yang rapi. Saya menulisnya untuk tinggal di dalam kekacauan itu.

Mengapa saya menulis Sekong!? Sebab saya (saat itu) tidak tinggal di Jakarta.

Ya, bagi saya, di masa itu percakapan tentang LGBT di Indonesia terlalu sering dibayangkan melalui kota besar, organisasi, aktivisme, seminar, aplikasi kencan, media sosial, komunitas, dan bahasa identitas yang relatif mapan. Ada istilah coming outcloseted, diskriminasi, representasi, hak, dan penerimaan. Perlu ada alasan seseorang disebut gay, lesbian, biseksual, transgender, atau queer.  Sehingga semua bahasa (termasuk definisinya) terasa sangat penting. Saya sendiri kemudian pindah ke Jakarta dan belajar banyak dari Kajian Gender di Universitas Indonesia. Namun, kehidupan yang saya kenal tidak selalu memiliki kemewahan untuk menjelaskan dirinya melalui kosakata yang rapi.

Saya tumbuh dan lama berdomisili di Probolinggo, sebuah kota kecil di Jawa Timur. Sebelumnya tidak ada gambaran apa pun di benak saya bahwa suatu saat saya akan pindah dan berdomisili di Jakarta. Di sana, manusia saling mengenal dengan cara yang kadang menyesakkan. Orang tahu anak siapa kamu. Mereka tahu di mana kamu bekerja, dengan siapa kamu berteman, siapa orang tuamu, kapan kamu menikah, mengapa kamu belum menikah, dan—jika gosip bergerak cukup cepat—dengan siapa kamu tidur.

Kota yang lebih kecil senantiasa memiliki ingatan. Ia juga memiliki mata dan telinga. Rahasia tidak selalu terbongkar melalui investigasi besar; kadang ia berpindah dari warung, kantor, rumah sakit, grup pertemanan, tetangga, keluarga, lalu kembali kepada kita dalam bentuk bisik-bisik.

Karena itu, kehidupan queer di kota kecil sering memiliki strategi yang berbeda. Seorang laki-laki dapat menjadi pegawai negeri, suami, ayah, anak yang berbakti, tokoh masyarakat, atlet, penyiar, atau pekerja yang dihormati. Pada saat yang sama, ia mencintai laki-laki. Ia mungkin tidak pernah menyebut dirinya gay. Ia mungkin menikahi perempuan. Ia mungkin tetap menjalankan seluruh ritus heteroseksualitas karena itulah jalan yang tersedia agar seseorang dianggap dewasa, normal, berhasil, dan selesai sebagai manusia.

Di sanalah, cerita relasi Surti dalam Sekong!, menjadi penting bagi saya. Saya tidak ingin Sekong! menjadi cerita yang hanya meminta pembaca mengasihani Rahim karena ia seorang laki-laki yang hidup di bawah tekanan heteronormativitas. Rahim berbohong. Surti terluka. Kenyataan bahwa seorang laki-laki queer mengalami represi tidak otomatis menghapus tanggung jawabnya ketika ia menyakiti perempuan. Justru melalui Surti, saya ingin memperlihatkan bahwa heteronormativitas tidak hanya melukai orang queer. Perempuan juga membayar ongkosnya.

Ketika masyarakat memaksa laki-laki gay menikahi perempuan agar tampak normal, siapakah yang tidur di samping kebohongan itu setiap malam? Ketika keluarga berkata, “Nanti juga berubah setelah menikah,” tubuh siapa yang dijadikan alat perubahan? Ketika seorang laki-laki membutuhkan istri sebagai bukti maskulinitas dan kenormalan, siapa yang kehilangan hak untuk mengetahui kehidupan pasangannya secara utuh?

Karena itu, bagi saya, Sekong! bukan sekadar novel tentang kehidupan laki-laki gay. Ia adalah novel tentang tumbukan-tumbukan heteronormativitas dan korban-korban yang diproduksinya. Korban itu bisa laki-laki queer. Bisa perempuan heteroseksual yang dinikahi tanpa mengetahui kebenaran kehidupan seksual suaminya. Bisa anak-anak yang tumbuh di tengah konflik. Bisa orang tua yang merasa gagal. Bisa keluarga yang menghabiskan tenaga untuk mencari “kesembuhan”. Bisa pula orang-orang yang sepanjang hidup belajar membenci dirinya sendiri.

Dalam novel, ketika identitas seksual Rahim terbongkar, keluarganya menangis. Mereka bertanya mengapa ia menjadi seperti itu. Ia dibawa kepada orang pintar dan kiai. Ada air bertuah, kemenyan, rukiah, dan berbagai usaha untuk mengembalikannya kepada kehidupan yang dianggap semestinya. Bagian ini saya tulis bukan untuk menertawakan agama atau keluarga. Saya justru tertarik pada ketakutan. Sering kali kekerasan terhadap kaum queer lahir dari sesuatu yang oleh pelakunya sendiri disebut cinta. Orang tua ingin menyelamatkan anak. Keluarga ingin menjaga nama baik. Pasangan ingin mempertahankan rumah tangga. Masyarakat ingin menjaga moral. Negara ingin menjaga ketertiban. Semua mengaku sedang menjaga sesuatu. Namun, tubuh siapakah yang akhirnya harus menanggung proses “penyelamatan” itu?

Seolah-olah perkawinan dapat menyembuhkan hasrat. Seolah-olah tubuh perempuan dapat menjadi ruang rehabilitasi bagi homoseksualitas laki-laki. Seolah-olah setelah ijab kabul, pemberkatan, pesta, foto keluarga, dan kelahiran anak, semua persoalan selesai. Padahal, dalam banyak kasus, yang terjadi justru sebaliknya. Hasrat tidak selalu menghilang. Seseorang menjalani kehidupan ganda. Kebohongan bertambah. Dan ketika semuanya pecah, kita bertanya dengan heran: mengapa ia membohongi istrinya?

Pertanyaan itu sahih. Akan tetapi saya ingin mengajukan pertanyaan lain: Masyarakat macam apa yang membuat kebohongan tersebut menjadi pilihan hidup yang terasa paling mungkin?

Saya memilih judul Sekong! juga bukan tanpa alasan. “Sekong” adalah bahasa yang hidup. “Sekong” bukan istilah akademik. Ia beredar dalam percakapan, gurauan, ejekan, pengenalan, bahkan keintiman. Di dalam novel, saya sengaja menghadirkan bahasa komunitas, percakapan tentang topbottomversatilegaydar, “lekong”, stereotip laki-laki feminin, tubuh atletis, dan berbagai istilah yang mungkin dianggap tidak sopan. Saya menggunakan humor, satire, kelakar, bahkan vulgaritas karena kehidupan queer yang saya kenal tidak berlangsung seperti makalah seminar.

Kami tertawa. Kami mengolok-olok diri sendiri.

Kami membicarakan tubuh, seks, cinta, lelaki tampan, kegagalan, agama, dan ketakutan dengan bahasa yang kadang cabul karena humor sering menjadi cara untuk bertahan. Ketika dunia terus-menerus menjadikan tubuhmu persoalan, menertawakan dunia dapat menjadi cara sederhana untuk merebut kembali tubuh itu. Karena itulah narator Sekong! cerewet, usil, tidak stabil, suka menyela, kadang menyebalkan. Saya tidak ingin menulis kehidupan queer dengan suara yang terlalu bersih sehingga kehilangan denyut kehidupannya.

Saya juga sengaja menempatkan cerita ini di Probolinggo. Ada Angin Gending yang turun dari Pegunungan Tengger, hawa panas, mangga, jalan-jalan kota, radio pemerintah, rumah sakit, birokrasi, tempat nongkrong, lingkungan religius, dan gosip yang bergerak dari satu telinga ke telinga lain. Bagi saya, lokalitas bukan dekorasi. Probolinggo bukan tempelan agar novel terasa “kedaerahan”. Kota itu ikut menentukan bagaimana tokoh-tokohnya mencintai, berbohong, menyembunyikan diri, dan mengambil keputusan.

Saya ingin mengatakan bahwa queer juga hidup di kota kecil.

Mereka tidak datang dari Barat. Mereka tidak muncul karena internet. Mereka bukan produk Jakarta. Mereka ada di rumah-rumah yang setiap lebaran dipenuhi pertanyaan tentang perkawinan. Mereka bekerja di kantor pemerintahan. Mereka berolahraga. Mereka beribadah. Mereka mencintai orang tuanya. Mereka bisa jatuh cinta kepada orang yang secara sosial mustahil mereka miliki. Mereka dapat menikahi perempuan. Mereka dapat menjadi ayah. Mereka bisa menjadi manusia yang baik, dan bisa pula menjadi bajingan. Singkatnya, mereka hidup.

Mungkin itulah alasan terdalam saya menulis Sekong!. Saya ingin menghadirkan kehidupan yang sering diketahui semua orang tetapi diperlakukan seolah-olah tidak ada. Di kota kecil, masyarakat kadang mengetahui siapa “sekong”, siapa yang memiliki “teman dekat”, siapa yang menikah hanya untuk menutup gosip. Semua tahu, tetapi pengetahuan itu dipendam dalam diam. Kita tahu, tetapi tidak membicarakannya. Kita membicarakannya, tetapi hanya sebagai gosip. Kita menggosipkannya, tetapi menolak mendengarkan suaranya sebagai manusia.

Saya menulis Sekong! sejatinya tidak didasari untuk menjelaskan siapa atau apa itu LGBT yang di era Prabowo ini dinyatakan sebagai ancaman non militer kepada masyarakat. Saya juga tidak menulisnya untuk membuktikan bahwa semua orang queer baik dan layak dikasihani. Saya menulisnya karena saya ingin mempertanyakan mengapa masyarakat membutuhkan begitu banyak kebohongan untuk mempertahankan dirinya sebagai heteroseksual.

Pada akhirnya, pertanyaan Sekong! bukan sekadar: mengapa seorang laki-laki mencintai laki-laki? Pertanyaan yang lebih mengganggu adalah: mengapa kita membangun sebuah dunia yang membuat seseorang harus membohongi perempuan, anak, keluarga, kantor, tetangga, Tuhan, dan dirinya sendiri hanya agar ia dapat dianggap normal?

Dan jika kebohongan itu akhirnya melukai begitu banyak orang, masihkah kita yakin bahwa yang perlu disembuhkan adalah homoseksualitasnya?



Probolinggo – Singaraja – Jakarta, 2-9 Juli 2026.


Stebby Julionatan adalah penulis, pengajar, dan bergiat di Alinea.

Editor: Asief Abdi
Foto: Asief Abdi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *