Esai Budaya

Berlayar di Laut Buku

Puluhan abad lalu, Asyurbanipal menghimpun ribuan tablet tanah liat di Niniwe bukan karena kurang piknik. Urusan negara boleh saja membuat Raja Asyur itu penat dan jenuh. Namun, ide mengumpulkan ribuan tablet lempung sebagai obat healing, saya kira, juga bukan hiburan menjanjikan. Di setiap kolofon berabjad paku itu, sang kaisar menorehkan rasa bangga bahwa menaklukkan dunia hendaknya dimulai dengan menjinakkan kata-kata. Demikianlah sebuah perpustakaan kuno tegak sebagai manifestasi fisik kedaulatan mental Asyurbanipal.

Di zaman kita, keintiman megah itu agaknya menyusut menjadi ruang apek kertas usang atau indeks angka kunjungan. Namun, bagi seorang pembaca—atau pedagang buku lungsur—perpustakaan pribadi tetaplah sebuah suaka. Tempat keteraturan dan kekacauan merayakan momen penuh kejutan.

Saya perlu melompat ke dalam perpustakaan nyeleneh yang dibayangkan Eco. Perpustakaan yang baik, bagi Eco, justru perpustakaan yang fungsi idealnya menyerupai pasar loak. Perpustakaan mestilah seperti kios buku bekas di tepi sungai di mana harta karun tak terduga dapat ditemukan. Perpustakaan ideal adalah ruang yang mampu menawarkan kebetulan-kebetulan, kejutan-kejutan, apa yang Eco sebut trouvailles. Maka, sebuah novel klasik yang sudah tak cetak ulang lantaran penerbitnya gulung tikar, misalnya, secara ajaib menyembul justru di antara tumpukan lukisan yang sapuannya patut disesalkan, boneka plastik dengan sebelah mata semplah, atau mobil-mobilan babak belur.

Saya pribadi selalu membayangkan rak-rak buku sebagai mare incognitum, lautan tak bernama yang belum tertera di peta, tapi justru karena itu, memikat imajinasi para pelancong untuk melayarinya. Itulah mengapa, tiap melangkah ke perpustakaan atau toko buku bekas, saya tak pernah membawa daftar buruan. Alih-alih berlayar menuju bandar yang jelas, saya lebih memilih menjadi pelancong yang mendambakan kejutan-kejutan petualangan.

Seperti menjelajah lautan asing dan siap terpikat nyanyian siren atau diseruduk moncong kanaloa, perjumpaan spontan dengan sebuah buku pun bagi saya adalah kejutan-kejutan yang menyenangkan. Membiarkan mata bersauh ke sembarang arah dengan jari-jemari meraba acak punggung buku bagaikan meraba dinding gua gulita, mencari celah rahasia menuju dunia baru.

Kebiasaan berkunjung ke perpustakaan atau toko tanpa membawa daftar judul itulah yang barangkali membuat sejumlah buku favorit saya sering hadir melalui cara-cara yang seakan-akan kebetulan, bahkan misterius. Seolah-olah mereka sendirilah yang meminang saya sebagai pemiliknya. Jalan Pulang, misalnya, memikat saya yang bahkan belum pernah mendengar nama Maria Hartiningsih. Sampulnya biasa saja, bahkan telah dirayap waktu. Tetapi, tangan saya secara intuitif menariknya keluar dari tumpukan buku di sebuah toko sepi di pasar buku bekas yang malah lebih disesaki buku bajakan ketimbang buku-buku bekas itu sendiri.

Pengalaman serupa terjadi saat saya berjumpa Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi. Bila Jalan Pulang menuntun tangan saya untuk memungutnya dari tindihan buku-buku bekas—dan bajakan pula—novel Yusi Avianto Pareanom itusukses mencuri perhatian sejak kalimat pertamanya. Saya terpaksa kelesotan berjam-jam di lantai dua Perpustakaan Universitas Negeri Malang, hanyut dalam petualangan Mandasia dan Sungu Lembu hingga sebuah kepanikan tolol pun terjadi. Sebab, saya pulang begitu saja saat gedung hendak tutup, meninggalkan gawai dan laptop di atas rak tanpa merasa ada yang ganjil sama sekali.

Beberapa buku lungsur yang saya beli di toko ijo pun kerap diawali momen tak terduga. Penguasa Rempah-Rempah karya Chitra Banerjee Divakaruni, umpamanya, tiba-tiba melintas di beranda layar, seakan-akan memanggil-manggil dengan ramuan mitos dan kisah imigrannya yang saya baca sekilas dari sejumlah tangkapan kamera si penjual. Begitu pun Ode Leopold von Sacher-Masoch anggitan Dinar Rahayu melempar saya keVenus in Furs, lengkap dengan surat-surat pribadi Sacher-Masoch bersama Emile Mataja yang tak kepalang erotis.

Saya memang kian gemar buku lungsur. Bukan semata-mata karena harganya lebih ramah atau faktor kelangkaannya, melainkan karena tilas yang ditinggalkan pemiliknya memberi saya sensasi yang tak bisa dijumpai dari buku-buku gres. Selembar catatan usang yang terselip di halaman tengah atau coretan pensil di margin kertas, misalnya, di mata saya menjadi tanda-tanda organik yang menegaskan bahwa buku yang kerap menemani malam-malam begadang saya itu bukanlah benda mati. Ia telah mengarungi waktu, singgah di benak orang lain sebelum akhirnya bersauh di tangan saya. Tak jarang, buku-buku itu bahkan berusia lebih tua daripada saya sebagai pemilik kedua. Apakah saya harus memanggilnya “kakek”?

Sekali kala, tilas-tilas itu berwujud markah tirta yang menandakan bahwa buku-buku itu pernah menghuni perpustakaan pribadi seseorang; atau buku saku untuk menaruh “slip tanggal pengembalian”. Dari slip tanggal pengembalian itu, misalnya, saya jadi tahu, betapa malang nasib sebuah mahakarya. Rupanya ia tak pernah terjamah sama sekali—seolah-olah menasihati penulis seperti saya bahwa nasib karya yang kita anggit sering seperti hidup yang tak bertentu tuju.

Banyak pembaca menyimpan impian untuk memiliki perpustakaan pribadi. Saya yakin itu. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang melangkah lebih jauh: membentangkan impian itu menjadi perpustakaan komunitas yang terbuka bagi publik atau lapak baca sederhana yang menyemarakkan sudut-sudut taman kota. Upaya-upaya bersahaja ini sesungguhnya mengabarkan satu hal: Sebuah perpustakaan tak pernah sekadar bangunan berisi dederet rak dan katalog buku belaka.

Dalam sejarah, ia bisa menjadi ruang peneguhan takdir. Andrew Carnegie, sang taipan baja abad ke-19, misalnya, memandang buku sebagai mesin emansipasi sosial paling adil. Sebagai imigran miskin yang masa mudanya diselamatkan oleh perpustakaan pribadi seorang kolonel dermawan, Carnegie memandang perpustakaan sebagai “tangga yang anak tangganya hanya bisa dinaiki oleh mereka yang berambisi mendaki sendiri”. Di perpustakaan, di hadapan ratusan bahkan ribuan buku, derajat setiap orang setara—kecuali dalam perkara tujuan. Maka, pengunjung yang cuma singgah untuk mojok dengan pacarnya habis kuliah dengan mereka yang datang untuk berburu referensi demi menyelamatkan nasib dari taring semester empat belas jelas tak bisa disetarakan.

Ketika kekayaan melimpah menghampirinya, Carnegie membangun lebih dari 2.500 perpustakaan umum di pelbagai belahan dunia. Sayang, telah menjadi rahasia publik bahwa ia sosok berwajah ganda. Di balik pilar-pilar marmer megah penopang ribuan perpustakaan itu, ia kapitalis tulen bertangan besi. Dalam tragedi berdarah Homestead Strike 1892, misalnya, Carnegie memangkas upah buruh secara kejam, memperpanjang jam kerja hingga batas tak manusiawi, dan mengerahkan milisi swasta untuk memberangus serikat pekerja. Carnegie adalah sebuah ironi. Sebab, satu tangannya merampas waktu luang dan martabat para buruh, sedangkan tangannya yang lain mendirikan gedung perpustakaan agar anak-cucu buruh yang ia peras habis-habisan bisa membaca buku gratis.

Atau tengoklah Aby Warburg di Hamburg. Sejarawan seni ini mendirikan perpustakaan dengan keyakinan bahwa tatanan buku mestilah mencerminkan keliaran pikiran manusia. Itulah mengapa Warburg menolak nomor klasifikasi yang kaku, malah merangkai rak-raknya berdasarkan apa yang ia sebut “hukum tetangga yang baik”. Baginya, buku yang kita butuhkan untuk memecahkan teka-teki pemikiran kerap kali bukan buku yang sedang kita cari, melainkan jilid asing yang kebetulan bertengger di sebelahnya belaka.

Maka, risalah sihir pun boleh bersanding dengan buku babon matematika, sedangkan disiplin astrologi berangkulan dengan kitab teologi. Semuanya sah dan lumrah di mata Warbur karena justru itulah yang membuat perjalanan memecahkan teka-teki pemikiran menjadi menarik. Demikianlah Perpustakaan Warburg tumbuh laiknya organisme, tempat gagasan bermigrasi dan bermutasi saling-sinaling.

Di Katedral Sainte Cécile di Albi, Prancis, sebuah lukisan dinding dari akhir abad ke-19 menggambarkan Hari Pengadilan Terakhir. Jiwa-jiwa yang dibangkitkan berbaris khidmat menghadap Pengadilan Ilahi dengan dada telanjang. Masing-masing memeluk sebuah buku yang terbuka. Dalam bayangan eskatologis itu, Kitab Kehidupan ternyata tidak tampil sebagai satu jilid tunggal di tangan Tuhan. Ia telah dibagi-bagi dan diterbitkan kembali sebagai ratusan ribu buku individual yang didekap setiap manusia. Di yaum almizan itu, setiap manusia dihakimi berdasarkan lembaran yang mereka baca dan rawat sepanjang hayat.

Lukisan dinding di Katedral Sainte Cécile itu secara alegoris hendak mengatakan bahwa lembar-lembar kertas yang kita kumpulkan, baca, dan rawat sepanjang hayat adalah saksi tak terbantahkan mengenai siapa diri kita sebenarnya. Maka, bila buku-buku itu adalah potongan Kitab Kehidupan si pemiliknya, sebuah perpustakaan, dengan kata lain, juga mengandung sifat autobiografis. Kita bisa menyimpulkan siapa Asyurbanipal dari puluhan ribu tablet tanah liatnya, siapa Aby Warburg dari tatanan rak perpustakaannya, dan siapa Carnegie dari paradoks pabrik serta 2.500 gedung marmer perpustakaan umumnya yang megah.

Dari sana, kita pun akan tahu persis negara macam apa yang sedang kita huni hari ini. Di pertengahan tahun 2026, satu lagi kabar menyesakkan ditikamkan rezim Prabowo Subianto: Anggaran Perpustakaan Nasional dipangkas drastis hingga 132 miliar oleh Kementerian Keuangan. Semua tahu, keputusan itu didorong oleh APBN yang sedang boncos disedot program Makan Bergizi Gratis dan pembangunan Koperasi Desa Merah Putih di puncak gunung, tengah alas, kompleks pekuburan, serta seluruh desa.

Dampaknya pun terjadi dengan serta-merta: Program penyaluran bantuan seribu buku untuk pelosok, taman bacaan masyarakat, ruang tunggu puskesmas, hingga lembaga pemasyarakatan resmi dihentikan. Memangkas anggaran besar-besaran itu, dengan lain ungkapan, lebih dari sekadar urusan efisiensi angka belanja belaka. Keputusan tersebut juga merupakan wujud lain dari tindakan sepihak Negara dalam merenggut hak warganya untuk mengalami trouvailles, menemukan harta karun pemikiran secara tak terduga seperti yang diimpikan Eco.

Bila memang betulan seorang pembaca, harusnya Bapak Presiden mengerti bahwa setiap pembaca buku pastilah mengimpikan perpustakaan pribadi. Namun, di negara dengan penduduk miskin begini, buku-buku adalah barang mewah sehingga membaca sering menjadi kegemaran yang mahal. Di situlah alasan mengapa adanya perpustakaan yang menyediakan akses buku berkualitas secara cuma-cuma menjadi krusial. Maka, sungguh menyesakkan dada, karena belum lama ini, satu berita mengabarkan bahwa sebuah gedung pengetahuan milik sekolah dasar justru diratakan oleh pemerintah demi memburu formalitas program tender politik instan cetusan wangsit presiden.

Betapa ironis menyaksikan tangan birokrasi yang gemar menuntut rakyatnya supaya cerdas itu rupa-rupanya adalah tangan yang juga gandrung memutus distribusi pengetahuan itu sendiri. Hari-hari ini, kita melihat Negara yang kejam memangkas anggaran buku dan merobohkan perpustakaan sekolah adalah Negara yang sedang menuliskan autobiografinya sendiri. Dan saya kira, kita semua bisa menebak, kisah macam apa yang diriwayatkan dalam Kitab Kehidupan tersebut.


Yohan Fikri adalah kritikus sastra.

Editor: Royyan Julian
Foto: Royyan Julian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *