Esai Budaya

Tersesat di Labirin Digital

Saya masih ingat betapa girangnya melihat Pak Kas, guru Fisika, mengajar menggunakan overhead projector (OHP) di ruang laboratorium SMP yang dibangun di atas rawa-rawa, sekira dua puluh tahun silam. Cahaya putih yang memantul pada layar ruangan terasa seperti keajaiban sulap. Transparansi berisi tulisan dan gambar berganti satu demi satu. Saya terpukau bukan hanya oleh materi pelajarannya, melainkan juga oleh alat yang digunakan guru.

Di laboratorium komputer SMA, saya merasakan kegembiraan yang sama. Saya dan kawan-kawan menunggu jadwal pelajaran TIK sepanjang pekan. Ketika jam pelajaran itu tiba, kami berlarian menuju laboratorium, mengintip lewat kaca sebelum murid kelas sebelumnya keluar, lalu mengingat-ingat meja mana yang memiliki monitor dan CPU dengan prosesor paling kencang. Rasanya tak sabar menggerakkan tetikus, menyentuh papan ketik, menyalakan perangkat, membuka program Microsoft Office, lalu pulang dengan cerita bahwa hari itu kami “belajar komputer”.

Teknologi adalah sesuatu yang langka. Justru karena langka, setiap perjumpaan dengannya terasa istimewa. Kehadirannya terus memunculkan rasa penasaran.

Kini keadaan telah berbalik. Saya memasuki tahun ketiga mendapat tugas mengajar kelas digital. Pandemi mengubah banyak hal di dunia. Pertemuan maya menjadi kebiasaan baru. Platform pembelajaran bermunculan. Hampir semua murid kini tak bisa lepas dari telepon pintar di tangan. Laptop, proyektor, aplikasi pembelajaran, kecerdasan artifisial, hingga ruang kelas virtual menjadi bagian dari keseharian.

Digitalisasi pendidikan datang begitu cepat sehingga nyaris tak memberi kesempatan untuk bertanya, sebenarnya kita sedang menuju ke mana?

Bayangan saya tentang kelas digital sesungguhnya amatlah indah. Saya membayangkan murid di Indonesia berkolaborasi dengan murid di Jepang untuk menyelesaikan persoalan Matematika. Saya membayangkan murid bertukar bahasa dengan pelajar dari Australia, kita belajar bahasa Inggris, sementara mereka belajar bahasa Indonesia untuk penutur asing. Saya membayangkan anak-anak dari negeri tropis saling bercerita dengan anak-anak yang hidup di negeri empat musim tentang hujan dan kemarau, juga tentang musim semi, musim panas, musim gugur, dan musim dingin. Bukankah teknologi memang diciptakan untuk memperpendek jarak?

Namun, kenyataan di kelas jadi begitu  sederhana. Kelas digital sering kali hanya berarti guru memutar video YouTube yang sebenarnya dapat ditonton murid kapan saja. Sesekali mereka membuka aplikasi kuis, menjawab beberapa soal, lalu pelajaran selesai. Teknologi hadir, tetapi pengalaman belajar tidak banyak berubah.

Digitalisasi pendidikan juga memaksa guru untuk ikut berbagai pelatihan digital yang mengajarkan cara membuat video, infografik, hingga menyusun perangkat pembelajaran dengan bantuan akal imitasi (AI). Dalam sebuah lokakarya, saya menyaksikan seorang narasumber nasional memperagakan bagaimana modul ajar dapat disusun hanya dalam hitungan menit menggunakan Gemini. Ruangan dipenuhi decak kagum. Saya ikut menyaksikan, tetapi pada saat yang sama muncul kegelisahan yang sulit saya rumuskan.

Barangkali kegelisahan itu muncul karena saya teringat masa kuliah. Selama berbulan-bulan kami diajarkan menyusun tujuan dan indikator pembelajaran, merancang asesmen, memvalidasi instrumen, dan merevisi perangkat pembelajaran berkali-kali. Semua itu dilakukan bukan semata-mata untuk menghasilkan dokumen, melainkan agar kami memahami alasan di balik setiap keputusan pedagogik yang diambil. Dokumen hanyalah hasil akhir. Yang jauh lebih penting adalah proses berpikir yang melahirkannya.

Kini proses yang dahulu menghabiskan waktu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, dapat diselesaikan dalam hitungan detik. Saya sempat menganggap kegelisahan itu sebagai bentuk ketertinggalan. Mungkin saya terlalu konservatif, pikir saya. Maka saya mencoba mengikuti arus.

Saya menggunakan AI untuk membantu menyusun perangkat pembelajaran. Pekerjaan yang dahulu membutuhkan waktu beberapa hari selesai hanya dalam beberapa menit. Rasanya menyenangkan. Sangkil dan mangkus. Saya mulai mengerti mengapa banyak guru jatuh hati pada teknologi ini. Saya sendiri pernah menghabiskan lebih dari satu bulan hanya untuk menyusun dan memvalidasi dua puluh butir soal ketika mengambil mata kuliah Penilaian Pendidikan. Beberapa tahun kemudian, saya menghabiskan hampir satu tahun menyusun, menguji, memperbaiki, lalu memperbaiki lagi seperangkat instrumen asesmen kompetensi literasi membaca. Kini semuanya dapat dihasilkan hanya dengan beberapa gugus instruksi. Saya pun keranjingan untuk mencoba membuat asesmen menggunakan bermacam-macam AI.

Mula-mula saya menganggap teknologi hanya memangkas waktu. Namun  benarkah begitu, apakah yang dipangkas sebenarnya hanya waktu, atau justru proses berpikir yang selama ini membentuk kami menjadi guru?

Pertanyaan itu baru menemukan jawaban ketika saya kembali ke kelas dan mulai membaca setumpuk tugas murid. Sebagian besar jawaban tampak rapi. Pilihan katanya terdengar canggih dengan istilah amat teknis. Susunan kalimatnya lebih tertata daripada tulisan yang biasa saya lihat di kelas. Mula-mula saya merasa senang. Mungkin cara mengajar saya mulai membuahkan hasil. Namun, semakin lama membaca, saya justru semakin bingung. Jawabannya seakan berbeda-beda, tapi memiliki pola yang sama. Cara menjelaskan, pilihan kata, bahkan contoh yang digunakan terasa terlalu seragam.

Saya kerap kali memeriksa tugas dengan membacakannya di depan kelas. Seraya memberikan umpan balik. Hingga saya menemukan satu jawaban yang lupa dibersihkan! Di bagian paling bawah Google Docs masih tertinggal percakapan dengan ChatGPT. “Apakah Anda ingin saya membuat versi yang lebih sederhana?”

Seketika seisi kelas tertawa. Saya ikut tertawa. Namun, di balik tawa itu tersisa perasaan getir.

Saya merancang pembelajaran berbasis teknologi dengan kecerdasan buatan dan pada akhirnya teknologi itu pula yang mengerjakan tugas murid? Saat itulah saya menyadari sesuatu yang jauh lebih buruk. Kepala saya seperti dihantam kapak. Spreadsheet nilai saya tidak lagi mencerminkan apa yang sebenarnya terjadi di dalam kelas. Nilai memang tinggi. Grafik capaian tampak membaik. Akan tetapi, ketika saya mengajak murid berdiskusi, banyak di antara mereka kesulitan menjelaskan kembali apa yang mereka tulis. Mereka mampu menyerahkan jawaban yang tampak cemerlang, tetapi tidak memahami proses berpikir yang melahirkan jawaban itu. Bahkan ditanya dengan satu kata yang ia terakan di dalam tulisannya pun tak dapat menyebutkan artinya. Data menunjukkan kemajuan, tetapi kenyataan di kelas justru menerbitkan kesedihan.

Kami seperti tersesat di sebuah labirin digital. Terus bergerak, merasa sedang melakukan sesuatu yang penting, padahal belum tentu semakin dekat dengan tujuan. Semua tampak modern, tetapi saya mulai bertanya-tanya, apakah belajar masih benar-benar terjadi?

Kegelisahan itu nyatanya bukan hanya milik saya. Beberapa negara Skandinavia mulai mengembalikan buku cetak ke ruang kelas setelah bertahun-tahun menjadikan tablet dan komputer sebagai medium utama pembelajaran. Mereka tidak sedang memusuhi teknologi. Mereka hanya menyadari bahwa layar tidak selalu menjadi medium terbaik untuk semua jenis pembelajaran. Membaca mendalam, membangun konsentrasi, dan memahami teks panjang ternyata lebih mudah dilakukan dengan buku fisik daripada layar yang terus-menerus memberikan distraksi.

Saya tidak mengatakan Indonesia harus meniru mereka begitu saja. Kondisi sosial, ekonomi, dan infrastruktur kita jelas berbeda. Namun, pengalaman mereka menunjukkan satu hal penting, digitalisasi bukanlah jalan satu arah. Ia dapat dievaluasi, dikoreksi, bahkan dikurangi ketika terbukti tidak mendukung tujuan pembelajaran.

Ironisnya, ketika sebagian negara mulai mencari titik keseimbangan, kita justru masih sibuk menghitung jumlah perangkat. Sekolah dibagikan laptop Chromebook. Asesmen Nasional dan Tes Kemampuan Akademik dilaksanakan dengan moda daring. Di banyak sekolah, guru bahkan merangkap pengelola laboratorium komputer sekaligus tukang jaringan. Ketika sistem bermasalah, dan nyatanya selalu begitu setiap tahun server down dan layar menampilkan Error 500, guru dan tenaga kependidikan yang jadi proktor keringat dingin dan harus berubah menjadi teknisi dadakan. Digitalisasi pendidikan yang dijanjikan akan meringankan pekerjaan sering kali justru menambah beban baru.

Logika yang menempatkan perangkat sebagai pusat perubahan tampaknya masih mendominasi arah kebijakan pendidikan kita. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, misalnya, meluncurkan program distribusi papan interaktif digital ke sekolah-sekolah di seluruh penjuru Indonesia. Gagasannya terdengar menarik. Siapa yang tidak ingin ruang kelas memiliki layar besar yang terhubung ke internet? Namun, sebagai guru saya justru ingin mengajukan pertanyaan, kajian apa yang menjadi dasar kebijakan ini? Penelitian mana yang menunjukkan bahwa layar sentuh, yang hanya satu itu, akan meningkatkan kemampuan membaca, bernalar, atau memahami konsep murid satu sekolah dibandingkan memperkuat kualitas guru, perpustakaan, atau buku?

Pendidikan semestinya menjadi lapangan yang paling menghormati bukti. Anehnya, kita sering lebih dahulu membeli perangkat, lalu berharap mutu belajar akan turut serta mengikuti. Seolah-olah teknologi selalu identik dengan kemajuan. Apakah Mendikdasmen Abdul Mu’ti, tak memetik pelajaran dari program distribusi perangkat teknologi Mendikbudristek Nadiem Makariem?

Barangkali kita memang salah bertanya. Selama ini kita sibuk bertanya bagaimana membuat kelas “menjadi lebih digital”. Mungkin pertanyaan yang lebih penting di masa ini adalah bagaimana membuat belajar “menjadi lebih bermakna”. Teknologi tidak otomatis membuat murid berpikir lebih dalam. Kecerdasan artifisial tidak otomatis membuat guru mengajar lebih baik. Komputer tidak otomatis membuat pembelajaran lebih berkualitas. Yang menentukan tetap manusia yang menggunakannya.

Oleh karena itu, saya mulai curiga bahwa anak-anak sesungguhnya tidak membutuhkan lebih banyak pelajaran dengan menggunakan perangkat digital. Mereka sudah tumbuh bersama gawai. Mereka jauh lebih cepat menguasai perangkat digital dan aplikasi baru ketimbang guru-gurunya.

Yang lebih membutuhkan “kelas digital” justru orang dewasa. Guru perlu belajar kapan AI layak digunakan dan kapan ia harus ditepikan. Pengambil kebijakan perlu belajar membedakan inovasi yang benar-benar menyelesaikan masalah dengan inovasi yang hanya tampak mengesankan jika diberitakan.

Anak-anak, sebaliknya, lebih membutuhkan sesuatu yang semakin langka, kemampuan membaca dengan sabar, berpikir dengan tekun, berdiskusi dengan sungguh-sungguh, dan memusatkan perhatian di tengah dunia yang terus-menerus berebut perhatian.

Saya kemudian terkenang kembali kepada Pak Kas. Dua puluh tahun silam saya mengagumi OHP yang beliau gunakan seolah-olah itu benda paling canggih di dunia. Kini layar semakin besar, internet semakin cepat, dan kecerdasan artifisial semakin pintar. Namun, setelah menjadi guru, saya baru memahami bahwa yang membuat pelajaran Pak Kas berkesan bukanlah OHP itu sendiri, melainkan gurunya. Teknologi hanya melipatgandakan apa yang sudah ada. Di tangan guru yang baik, ia menjadi pintu menuju dunia baru yang tak terbayangkan. Di tangan yang keliru, ia tak lebih dari layar yang memantulkan cahaya.

Mungkin persoalan pendidikan kita bukan karena kelas “belum cukup digital”. Mungkin kita terlalu sibuk mengejar perangkat hingga lupa bahwa tujuan sekolah sejak awal bukan hanya menghasilkan pengguna teknologi yang terampil, melainkan manusia yang mampu berpikir.

Kalau hari ini saya masih menyimpan kekaguman kepada OHP di laboratorium yang berdiri di atas rawa itu, bukan karena teknologinya lebih hebat ketimbang layar sentuh yang kini ada di ruang kelas. Justru sebaliknya. OHP itu mengingatkan saya bahwa sejak dahulu teknologi selalu hanya alat. Yang menentukan arah pendidikan tetaplah manusia. Dan jangan-jangan, di situlah jalan keluar dari labirin digital yang sedang kita bangun sendiri.


Wendy Fermana merupakan penulis dan pendidik.

Editor: Ikrar Izzul Haq
Foto: Ikrar Izzul Haq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *