Kritik Seni

Gebrakan Futuristik Fahrenheit 451

Tidak perlu persetujuan. Ray Bradbury dalam karyanya Fahrenheit 451 berkabung buku-buku gosong mengabu. Semua buku menjadi target kunyahan api, bahkan kitab suci sekalipun. Gumun calon pembeli buku umumnya langsung monyong atau tertekuk setelah menimang karya dengan ide yang sangat sederhana ini, karena ternyata memiliki fisik yang cukup gempal. Lantas mereka kerap menerka bahwa setiap bab dalam karya ini akan pampat dengan daftar buku-buku terlarang, mekanisme pemberangusan, atau dirindangi tokoh-tokoh belok kurang ajar yang jadi bahan incaran regu pembakar. Ulasan ini membuyarkan praduga gagalnya diet ketat Fahrenheit 451 ditambah dua karya futuristik lain yang seragam dengan membeberkan kajian dan sajian apa saja yang membikin karya atau mazhab ini bongsor, khususnya dalam ranah yang ada di luar ekspektasi dan imajinasi para calon pembaca.

Buku ini banyak membahas hal lain selain api unggun yang diannya diberondong asupan api paling renyah: buku dan gagasan. Bagian bermandi api muncul hanya sebagai pengganjal pintu atau seperti jeda iklan, meskipun penulis sudah menyodorkannya dalam hidangan pembuka buku yang menurut saya sedikit kurang epik, panas, dan ganas. Pertemuan tokoh laki-laki utama yang jauh lebih dewasa dari seorang gadis perawan yang umurnya masih belasan membuat saya mengira karya ini menyerempet Lolita karya Valdimir Nabokov, alias kasus serius pedofilia di mana korban terjerat lingkar tak-sadar korban. Sungguh berbeda, Bradbury tampaknya berupaya untuk mencomot simbol kenaifan dan kepolosan dari seorang gadis muda.

Berbeda dengan setumpuk karya sastra serupa yang ikut mengelilingi tumpeng simbol-gadis-belia-polos dengan memahat narasi betapa segar, ceria, dan penuh harapan yang melatari masa muda itu, Bradbury banting setir dengan menunjukkan aib futuristik bahwa kemajuan zaman telah memerkosa kebeliaan seseorang. Gadis naif-nya Bradbury adalah gadis cerdas yang dianggap sinting. Babak ini terasa terlalu artifisial bagi saya, sama artifisialnya dengan Dunia Sophie karya Jostein Gaarder karena berpola sama (gadis cilik bertemu seseorang agak bijak dalam kondisi yang agak dipaksakan, bagaimana bisa dua manusia ini tiba-tiba berjumpa, lalu tiba-tiba nyaman mengoceh sampai lebih dari jutaan kalimat?). Di samping ke-yuyur yanggal-an ini, Bradbury memperpanjang alur pertemuan dengan si gadis supaya tokoh utama bisa sedikit lebih bijaksana.

Hampir saja paragraf ini dimulai dengan frasa klise (di tengah kemajuan zaman yang cepat …). Semua ini gara-gara si gadis yang membopong tokoh utama untuk memahami keadaan yang semestinya dijalani dengan lambat tapi pola dunia sudah berubah menjadi sangat cepat. Misalnya, kendaraan yang melintasi jalan tol paling tidak harus mencapai kecepatan tertentu, sehingga pengendara kerap melewatkan pemandangan purnama gemilang yang memantul dari kaca spion. Ini mengingatkan saya akan (kalau boleh menyebutnya) logika eskalator. Di pusat perbelanjaan, misalnya, laju eskalator dibikin lambat agar penumpangnya bisa menengok kanan-kiri dan tiba-tiba ingin beli ini-itu. Sementara itu, di stasiun, laju eskalator bisa lima kali lebih cepat supaya penyedia transportasi dapat penghargaan si paling tepat waktu. Sistem kapitalisme, di bagian awal buku ini, membuat banyak orang melangkahi masa, membuat dunia tidak berjeda.

Udang di balik bakwan, karya ini tidak memberi pembaca satu judul karya, lalu menggurui betapa penting penulis tersebut, kemudian berakhir dengan betapa sayang karyanya diberangus. Tidak sama sekali. Sekali lagi, yang bakar-bakaran ada sebagai umpan ikan, seperti jeda iklan.

Buku ini mengangkat masalah kekinian di zaman tersebut dengan sedikit bumbu futuristik. Bagi saya, karya-karya futuristik selalu memiliki dua karakteristik bersinggungan: yang halu dan yang prediktif. Yang halu tentunya akan seperti The Time Machine (tidak akan saya jelaskan mengapa karena salah satu fitur futuristiknya adalah manusia nokturnal vegetarian yang hidup di tahun 802.701). Arus karya futuristik yang terlalu di luar nurul seperti besutan H. G. Wells itu membuat pembaca seperti saya menyangka bahwa degenerasi umat manusia di masa depan tidak akan semengerikan itu.

Namun, semua ini akan berbeda bila pembaca mencoba mazhab lain dalam kisah futuristik yang disodorkan Ray Bradbury, Aldous Huxley, dan Robert Moore Williams. Ketiganya sudah menyentuh ranah robotik level akal imitasi dan sruveillance yang khas sebagaimana model klasik George Orwell 1984. Bayangkan, akal imitasi pertama kali dikenal pada tahun 1950-an dari esai sarkas Alan Turing Can Machines Think? Lalu diikuti syukuran nama baru ‘artificial intelligence’ pada tahun 1965 di Dartmouth College. Aldous Huxley menulis Dunia Baru yang Gemilang (diterjemahkan Penerbit Kakatua dengan judul asli Brave New World) pada tahun 1932. Dua dekade sebelum akal imitasi dibayangkan lalu dimasak. Diikuti Robert Moore Williams dalam karyanya Robot’s Return tahun 1938 dan karya Ray Bradbury pada tahun 1953 dalam karyanya Fahrenheit 451.

Awalnya, Turing menjelaskan secara saintifik bahwa AI bukan sekadar mimpi siang bolong lelaki balig. Ia menjelaskan konsekuensi matematika komputasi lengkap dengan ejekan spiritual bahwa mesin bakal bisa berpikir sebagaimana sistem kognitif manusia bekerja. Banyak spekulasi mengecambah bahwa mempelajari sastra tidak penting, padahal model AI paling terkini terinspirasi dan merealisasikan karya sastra. Pernyataan ini bukan bualan, sebab sudah dikaji oleh Stephen Cave, Kanta Dihal, dan Sarah Dilon dalam buku mereka AI Narratives: A History of Imaginative Thinking about Intelligent Machines.

Ray Bradbury dalam Fahrenheit 451 membahas perubahan zaman yang lebih dari sekadar kronikal. Ia tidak pernah terpaku pada tahun. Metode ini juga digunakan oleh Aldous Huxley dan Robert Moore Williams. Kecurigaan saya adalah, penulis mazhab ini tidak mau pembaca membayangkan sesuatu yang terlalu jauh dalam jangkauan waktu, yang mungkin membuat pembaca berpikir bahwa tidak mungkin mereka bakal hidup hingga tahun 802.701 seperti karya Wells. Mereka kompak memberi nuansa ‘futuristik-yang-sekarang-banget’ bukan ‘futuristik-yang-paling-kamu-sudah-meninggal-di-tahun-tersebut’. Misalnya, Ray Bradbury memecahkan teka-teki mengapa semakin maju zaman, rumah semakin tidak punya halaman dan tidak punya kursi di teras. Alasan Bradbury bukan karena ledakan populasi, tapi karena dengan alpanya halaman dan kursi di teras depan berarti orang sudah tidak punya kultur nyore sambil minum kopi untuk membahas politik.

Dalam cakupan akal imitasi, Fahrenheit 451 adalah masa di mana ada alat lebih caggih daripada deteksi wajah. Alat ini adalah model akal imitasi untuk deteksi aroma tubuh. Di masa depan, alat untuk deteksi tubuh, menurut saya, akan sangat diminati mengingat betapa gagal alat deteksi wajah saat ini. Kasus kegagalan face recognition yang dibikin Amazon, Microsoft, dan Google, misalnya, membuat banyak perusahaan maju-mundur untuk memperbaiki alat ini. Sebab, deteksi wajah terlalu bias. Salah satu dari banyak kasus mereka adalah salah memborgol orang hanya karena wajah mereka mirip target kriminal incaran polisi. Berbeda dengan deteksi aroma tubuh, setiap orang, sebagaimana Dee Lestari mengamininya dalam karya Aroma Karsa, unik. Setiap orang menguarkan aroma tubuh yang berbeda. Bias dalam deteksi aroma tubuh tentunya lebih kecil dibanding deteksi wajah. Itulah mengapa saat tokoh utama Bradbury diincar polisi, ia langsung tertangkap dengan tempo yang sangat cepat.

Mungkin, karena Fahrenheit 451 terlanjur dibatasi oleh cakupan judul, tidak banyak orang tahu bahwa untuk mengatasi deteksi wajah yang umumnya bias, model deteksi aroma tubuh adalah solusi yang tepat. Namun, perlu diingat pula bahwa Bradbury sedang tidak memasarkan ide brilian deteksi bau ketek. Ia menyayangkan operasi militer skala besar yang merampas kebebasan orang. Manusia di zaman ini merasa selalu diawasi, mereka takut dengan bau badan mereka sendiri.

Robert Moore Williams dalam karyanya Robot’s Return, bagi saya, malah lebih filosofis daripada Fahrenheit 451. Penjelasan anti spoiler-nya adalah karya ini menyuguhkan gambaran model paling mutakhir akal imitasi; beberapa robot yang mempertanyakan penciptaan mereka. Sangat eksistensialis tentunya. Saya juga tak menyangka sebelumnya, bahwa Fahrenheit 451 bakal membahas bagaimana produk-produk akal imitasi mengubah peradaban, khususnya dalam level komunal. Di samping pembahasan ini, Fahrenheit 451 memiliki solusi atas pembakaran buku-buku yang sayangnya gampang ditebak pembaca. Akhir cerita juga mudah sekali ditebak. Yang tidak bisa disayangkan selain akal imitasi juga ada. Buku ini mengapresiasi banyak buku yang punah dengan cara mengutip kalimat-kalimat bombastis dari sana. Pilihan kutipan ini belum banyak muncul di Goodreads, sangat menggelora, dan tak berpori gombal.


Putriyana Asmarani penulis cerpen dan esai.

Editor: Asief Abdi
Foto: Asief Abdi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *