Aku ingin mengenalkan kalian kepada seorang sufi masyhur dari tanah Kaukasus bernama Seyid Ali Imadaddin Nasimi (1369—1417); penyair mistik abad ke-14 yang hidupnya berakhir tragis, tetapi kata-katanya abadi.
Nasimi menuturkan rasa cintanya kepada Ilahi melalui puisi. Puisi-puisinya berani menyingkap sesuatu yang paling dalam dari dirinya, yaitu hakikat keberadaan manusia. Tulisan ini akan dimulai dari kata sederhana, tetapi berbahaya jika disalahpahami: “Aku”.
“Aku” Bukan Sekadar “Aku”
Kata “Aku” dalam kehidupan sehari-hari acap terdengar biasa. Aku lapar. Aku lelah. Meskipun begitu, dalam dunia tasawuf—dunia para penyair seperti Nasimi—kata “Aku” memiliki makna yang sangat dalam. Ia menunjuk pada sesuatu yang misterius: kesadaran manusia yang berasal dari Tuhan.
Para sufi percaya bahwa selain dari tanah, manusia juga diciptakan dari ruh Ilahi. Oleh karena itu, dalam diri setiap insan membawa secercah cahaya dari sumbernya. Masalahnya, sebagian besar manusia lupa bahwa mereka membawa cahaya itu. Manusia sibuk dengan dunia. Di situlah Nasimi berperan sebagai pengingat.
Dua Dunia Muat di Dalam Diri
Salah satu baris paling terkenal dari puisi Nasimi berbunyi: Di dalam diriku muat dua dunia, tetapi aku tidak muat dalam dunia ini. Sebagian besar pembaca pasti merasa kalimat ini merupakan sebuah kesombongan. Meski demikian, Nasimi berbicara tentang kesadaran manusia.
Dalam pandangan mistik Islam, manusia sering digambarkan sebagai mikrokosmos, miniatur dari seluruh alam semesta. Sebab, sejatinya, di dalam diri manusia ada tubuh, naluri, dan kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, di dalam diri manusia juga ada dunia ruh, yakni kesadaran, cinta, dan pencarian makna. Manusia adalah jembatan di antara dua alam itu. Oleh sebab itu, Nasimi berkata bahwa dua dunia muat di dalam dirinya.
“Aku” yang Tidak Punya Tempat
Aku adalah mutiara dari yang tanpa tempat (lamakan), lanjut Nasimi.
Dalam dunia tasawuf, ada jenama lamakan, yang bermakna keadaan yang tidak terikat oleh ruang dan waktu. Ini adalah cara para sufi berbicara tentang realitas Ilahi, sesuatu yang tidak berada “di mana-mana” dan tidak dibatasi “di mana”.
Tatkala berkata bahwa dirinya adalah “mutiara dari lamakan”, Nasimi berbicara tentang hakikat batin manusia. Dalam pandangan sufistik, tubuh manusia memang hidup di dunia yang terbatas, yaitu terikat oleh ruang, waktu, dan kematian. Satu-satunya hal yang tak terikat adalah ruh manusia. Ia berasal dari realitas yang lebih luas, dari sumber yang tak berbatas.
Oleh karena itu, manusia sering merasa bahwa sesuatu yang aneh dunia terasa sempit. Sementara itu, dalam tasawuf, ruh manusia terlampau luas untuk dipenjarakan oleh ruang, waktu, dan batas-batas dunia.
Dari Debu hingga Matahari
Salah satu baris yang menurutku paling puitis dalam puisi ini: Aku adalah debu, aku juga matahari. Kalimat ini merangkum paradoks manusia. Di satu sisi, manusia hanyalah makhluk kecil. Tubuh kita rapuh, hidup kita singkat, dan kita hanyalah titik kecil di alam semesta. Di sisi lain, manusia punya kesadaran untuk mampu memahami alam semesta. Manusia mampu menulis puisi, menciptakan musik, bertanya tentang Tuhan beserta makna hidupnya.
Dalam diri manusia, ada dua hal yang bertolak belakang, yakni kerendahan debu dan cahaya matahari. Manusia adalah debu yang bisa memikirkan matahari. Di sini, Nasimi sedang menunjukkan keajaiban yang sering luput disadari bahwa di dalam makhluk yang tampaknya kecil, sungguh tersimpan kesadaran yang mampu memandang seluruh semesta.
Bahasa yang Enggan Menjadi Cukup
Lihatlah bentukku melalui penjelasan, sebab aku tidak dapat dimuat dalam penjelasan, tulis Nasimi. Ia tahu bahwa bahasa memiliki batas. Kata-kata bisa menjelaskan sesuatu, tetapi tidak mampu memuat seluruh makna. Lantas, bagaimana menjelaskan rasa cinta hanya dengan kata?
Begitu juga dengan pengalaman spiritual. Bahasa hanya bisa menunjuk arah, sedangkan perjalanan batin yang sebenarnya harus ditempuh sendiri.
Melampaui Tubuh dan Jiwa
Lihatlah bentukku, kenalilah maknanya di dalam bentuk itu. Aku adalah tubuh dan jiwa, tetapi aku tidak terbatas oleh tubuh dan jiwa.
Nasimi mengingatkan bahwa manusia tidak berhenti pada tubuh dan jiwa. Tubuh hanyalah bentuk, dan di balik bentuk itu ada makna yang lebih dalam. Dalam pandangan sufisme, manusia membawa percikan Ilahi dalam dirinya. Oleh sebab itu, manusia bukan cuma makhluk biologis atau psikologis.
Maka, ketika berkata ”aku tidak muat”, Nasimi sedang menyatakan bahwa hakikat manusia terlalu luas untuk dipenjarakan oleh definisi yang sempit. Kita hidup dalam tubuh, memiliki jiwa. Namun, kedalaman manusia melampaui keduanya.
Ketika Nama Menjadi Cermin
Di salah satu bagian paling menarik dari puisi itu, Nasimi juga berkata: Hari ini aku adalah Nasimi, aku juga Hasyimi, aku juga Quraisy. Dalam puisi sufi, nama bukan nama belaka. Ia simbol perjalanan batin manusia.
Kata “Nasim” dalam bahasa Persia dan Azeri berarti angin sepoi-sepoi. Angin adalah sesuatu yang aneh. Ia tak terlihat, tak mampu digenggam, tetapi kehadirannya dapat dirasakan. Lewat metafora ini, Nasimi seolah-olah berkata bahwa manusia adalah gerak, perjalanan, dan perubahan. Ketika ia kemudian berkata, Aku adalah Hasyimi, ia menunjuk pada jalan spiritual Mehmet, tokoh mulia dari Bani Hasyim. Dalam bahasa tasawuf, mencintai sang Nabi berarti berusaha meneladani kerendahan hati, kasih sayang, dan kejujuran batinnya. Maka, pernyataan itu adalah pengakuan bahwa aku mencoba berjalan di jalan yang sama. Lalu, ketika ia berkata, Aku adalah Quraisy, maknanya kembali meluas, yaitu tentang asal-usul manusia yang berakhir sama. Dengan menyebut tiga identitas sekaligus, Nasimi menunjukkan bahwa identitas manusia terus bergerak dalam perjalanan menuju makna yang lebih luas.
Ketika Huruf Menjadi Rahasia
Arsy dan bumi, bahkan rahasia kāf dan nūn, semuanya bersemayam di dalam diriku.
Nasimi menyebut dua huruf hijaiyah sederhana, yaitu kāf dan nūn. Bagi para sufi—terutama dalam tradisi hurufisme—aksara ini dipandang sebagai simbol penciptaan. Kedua huruf ini membentuk kalimat yang sangat monumental dalam al-Qur’an: Kun fayakūn. “Jadilah, maka jadilah ia.” Kalimat ini menggambarkan cara Tuhan menciptakan alam semesta dengan firman. Dan kata “kun” itu sendiri hanya terdiri dari huruf kāf dan nūn. Bagi para sufi, dua huruf ini melambangkan awal dan akhir dari sebuah perintah Ilahi.
Nasimi menyampaikan gagasan yang lebih dalam lewat simbol itu. Jika alam semesta muncul dari simbol kun, manusia adalah bagian dari firman tersebut. Manusi pantulan dari kata penciptaan itu sendiri.
Pengakuan yang Berbahaya
Aku sadar bahwa puisi seperti ini juga membawa risiko besar. Puisi Nasimi dianggap terlalu berani pada zamannya, seolah-olah ia sedang berkata “Aku adalah Tuhan” oleh beberapa kalangan. Padahal dalam tradisi sufi, maksudnya berbeda.
Ia hanya mengajak manusia untuk membuka cara berpikir yang berbeda. Nasimi tidak berkata bahwa manusia menjadi Tuhan, tetapi cahaya Tuhan tercermin di dalam manusia, sehingga manusia tak lagi mudah diperbudak oleh ketakutan duniawi. Pedihnya, tidak semua orang bisa menerima bahasa simbolik seperti ini. Dan kekuasaan sering tidak menyukai manusia yang tidak takut sebagaimana kondisi kita hari ini.
Nasimi hidup dalam lingkungan intelektual yang dipengaruhi oleh ajaran batiniah Fazlullah ibn Baha al-Din Astrabadi (1340—1394), pendiri aliran hurufisme. Ajaran ini menekankan bahwa tanda-tanda Tuhan dapat ditemukan dalam diri manusia, bahkan dalam huruf-huruf yang membentuk bahasa. Bagi sebagian ulama dan penguasa, gagasan seperti ini terdengar terlalu berani dan kontroversial yang mengakibatkan Nasimi akhirnya dituduh menyebarkan ajaran sesat.
“Aku” Menjadi Cermin
Artikel ilmiah berjudul “The Renown Poet Eastern Litereture: Imadaddin Nasimi” karya Sadraddinova T.N. dan Ahmadova Z.Q. menceritakan sebuah legenda tentang detik-detik terakhir Nasimi. Saat darahnya mengalir dan wajahnya memucat karena hukuman mengerikan—dikuliti hidup-hidup di Aleppo—seorang ulama mengejeknya: “Orang suci seharusnya tidak berdarah.” Nasimi menjawab dengan tenang: “Aku adalah matahari cinta yang terbenam di cakrawala keabadian. Matahari memang memucat ketika ia terbenam.”
Berabad-abad setelah tubuhnya lenyap dari dunia, ternyata namanya tetap abadi. Pada 2019 pemerintah Azerbaijan bersama UNESCO menandai tahun itu sebagai “Year of Nasimi”. Dalam peringatan itu, musik mugham tradisional dilantunkan, bait-bait puisinya dibacakan, dan karya-karya seni dipamerkan. Bahkan, sekitar 650.000 pohon ditanam secara serentak di seluruh Azerbaijan dalam satu hari. Selain itu, nama Nasimi juga diabadikan sebagai nama sebuah asteroid.Akhirnya, puisi Nasimi menawarkan sebuah cermin yang bisa membuat pembaca melihat dirinya sendiri. Itulah mengapa puisinya juga tetap hidup berabad-abad kemudian. Sebab, bahasanya yang mistik mengajukan pertanyaan sederhana: Siapa sebenarnya “aku”? Seperti yang diisyaratkan para sufi, perjalanan terjauh manusia adalah perjalanan dari kepala menuju hati.
Muhammad Thufail adalah mahasiswa teknik sipil dan pencinta sastra sufi.
Editor: Royyan Julian
Foto: Ikrar Izzul Haq


