Di Bagansiapiapi sore itu, saya disenyumi oleh seorang lelaki tua bermata sipit dari sebuah warung seafood. Dia duduk di sebuah meja bundar bersama seorang perempuan tua dan seorang perempuan muda, yang barangkali adalah istri dan anaknya. Saya tersenyum balik, menunjukkan keramahan ala pendatang kepada mereka.
Barangkali, tabiat masyarakat di Bagansiapiapi memang terbiasa ramah kepada siapa saja. Tak heran, mengingat hidup begitu nyaman dan damai di sana. Anda tidak akan menjumpai lampu merah dan kemacetan ketika pergi dan pulang bekerja. Anda juga tidak akan menjumpai robot-robot korporasi dan birokrat berdasi dibalut seragam rapi yang berjalan terburu-buru, mengejar ketertinggalan kendaraan atau keterlambatan presensi. Kebalikannya, di sini, waktu seakan berjalan perlahan, seumpama uap yang mengepul pada cangkir kopi porselen bercorak hijau yang jamak dijumpai di sana.
Saya sendiri sudah beberapa kali mengunjungi kota ini karena merasa ada ikatan emosional dengannya. Dulu, ketika saya masih duduk di kelas empat SD, guru IPS saya, Ibu Hadjizar, pernah bercerita dengan bersemangat—matanya membeliak setiap kali memberikan penekanan-penekanan penting dan ludahnya menyembur-nyembur—bahwa ada salah satu kota di Indonesia yang pernah menjadi daerah penghasil ikan terbesar kedua di dunia setelah Kota Bergen, Norwegia. Kota itu bernama Bagansiapiapi. Saat itu saya membayangkan bagaimana hebatnya nelayan Bagansiapiapi menangkap ikan.
Di kemudian hari, pada 2007 saya memilih Jurusan Ilmu Kelautan di salah satu universitas negeri di Pekanbaru. Sebabnya adalah rasa penasaran atas industri perikanan terbesar di dunia yang hanya mampu dikalahkan oleh bangsa Viking itu.
Rasa penasaran saya terbayar tuntas. Pertengahan Agustus kemarin, saya kembali ke sana. Saya tiba di Bagansiapiapi setelah menempuh tiga jam perjalanan dari kota Pekanbaru. Begitu masuk, bisa saya lihat kota yang tertata rapi. Aroma garam yang khas, terbawa angin dan tercium oleh hidung saya. Udara yang lembab terasa lengket menempel di kulit saya.
Untuk memastikan kebenaran bahwa Bagansiapiapi adalah Kota Ikan, esoknya saya beserta tim mendata pemanfaatan ruang laut yang ada di pesisir Bagansiapiapi. Kami berangkat dari Pelabuhan Oliong, satu-satunya pelabuhan yang tersisa di daerah—yang dulunya—penghasil ikan terbesar ini. Mirisnya lagi, pelabuhan ini bukanlah pelabuhan yang dikelola pemerintah, melainkan pelabuhan swasta milik seorang Tionghoa.
Masih pukul setengah sembilan pagi. Pelabuhan Oliong belum buka sepenuhnya. Biasanya pelabuhan buka menjelang pukul sepuluh ketika kapal dari Panipahan merapat ke sana. Udara lembab dan asin terasa begitu memualkan.
Kalau kata Yusmar Yusuf, seorang fenomenolog Riau, tidak ada kata yang lebih tepat untuk menggambarkan kondisi perkampungan nelayan selain dari nada falseto; sengau dan sumbang. Suasana bau pesing, kubang, ledah, dan kusam.
Kapal kami melaju menuju Pulau Halang melawan arus surut. Di sini, anak TK tidak memerlukan krayon berwarna biru, sebab pada musim kemarau, langit berwarna kelabu karena tutupan kabut jerebu (asap). Pun air laut di sini direpresentasikan sebagai tumpahan kopi susu—berwarna cokelat keruh—bukannya biru lazuardi, warna laut dalam benak kanak-kanak. Hal ini karena tingkat sedimentasi yang terjadi di muara Sungai Rokan menghanyutkan partikel-partikel solid (TSS) yang hanyut sebagai lempung sehingga membuat perairan semakin keruh. Propeler kapal tak ubahnya sendok yang mengaduk-aduk lumpur dan membuatnya berjalan lambat.
Berdasarkan analisis citra satelit—pada tahun 1950-an, Pulau Berkey yang berada persis di seberang Pelabuhan Oliong, masih belum terbentuk berdasarkan peta dari US Army, yang artinya adalah, sedimentasi kolom air mulai terjadi pada kurun waktu tersebut dan semakin parah hari ke harinya.
Baru saja kapal beranjak, tak jauh dari Pelabuhan Oliong, bersandar sebuah kapal besar yang digunakan untuk menangkap ikan tuna. Saya bertanya kepada Hendra, Sekretaris Dinas Perikanan Kabupaten Rokan Hilir mengenai lokasi penangkapan tuna di Rokan Hilir.
Hendra tersenyum. Pipinya terangkat, menimbulkan kerut seperti seprei kusut ketika baru bangun tidur. Sebelum menjawab pertanyaan saya, Hendra berlagak mengambil sebatang rokok dan memantik korek gasnya seperti tokoh dalam film, tetapi rokoknya tak kunjung menyala karena tertiup angin kencang.
“Kapal penangkap tuna itu untuk dijual ke luar, Pak. Ada yang ke Benoa, Bali. Ada yang ke Sulawesi.”
“Ah, masa? Setahu saya, di Sulawesi, tepatnya di Bulukumba, pengrajin kapal ulung tinggal di sana,” bantah saya sambil menatap mata Hendra, mencari tanda kebohongan, meskipun hanya sedikit.
“Bulukumba memproduksi kapal Phinisi. Kalau kapal penangkapan tuna, di sini produksinya. Dulu sewaktu bertugas di Kupang, aku pernah menjumpai kapal dari Bagansiapiapi,” jawab Rahmad, koodinator tim kami.
“Iya. Dari dokumen kapal, kita bisa melihat lokasi produksinya di mana,” tambah Fitri, seorang Pengawas Perikanan dari Stasiun Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Belawan.
Hendra, barangkali merasa seperti dapat sekutu, ikut menambahi keterangan. Saya dihantam dengan telak, serupa Buster Mathis Jr yang tumbang terkena pukulan hook Mike Tyson pada rahangnya.
“Di sini produksi rangka, Pak. Mesin dipasang di daerah lain lagi.”
Saya terdiam. Kemudian bertanya yang sebenarnya lebih mirip pernyataan, “Oh, begitu? Makanya dulu tahun 20 hingga 30-an, Bagansiapiapi menjadi penghasil ikan terbesar nomor dua di dunia.”
“Benar.”
Hendra mengangguk. Saya membenarkan posisi berdiri supaya lebih kokoh menyerupai kuda-kuda agar tidak terjungkal karena arus dan gelombang yang kuat.
“Lantas, di mana pelabuhannya sekarang? Tidak mungkin dibongkar di sini.”
Masih tersenyum, Hendra menjawab, “Di Jalan Nelayan. Sekarang sudah tidak digunakan lagi.”
“Ah, bagaimana mungkin? Saya tahu pelabuhan itu kecil dan sempit. Sungguh tidak mungkin.”
Lagi-lagi Hendra tersenyum. Kali ini kepalanya miring ke kanan dan bahunya diangkat. “Kita tidak tahu dulunya bagaimana.”
Kapal menghantam gelombang yang tercipta dari riak gelombang kapal lewat. Dek kapal bergoyang hingga melambungkan kami. Tanpa dikomando, kami serentak menekuk kaki dan duduk.
Sepanjang jalan, kami menyaksikan laut yang dipagar-pagari menggunakan tiang yang dipancang ke dalam dasar laut, yang berjumlah puluhan, bahkan ratusan. Posisinya memanjang, persis seperti pagar pada kebun, hanya saja, kali ini di laut. Tiang-tiang itu merupakan bubu tiang, sejenis alat tangkap statis bersifat menetap yang berperan memerangkap ikan pada jaring (bubu) yang disangkutkan sedemikian rupa pada masing-masing tiang—yang mana jarak antar tiang sekitar 2 hingga 4 meter.
Keberadaan bubu ini memang di satu sisi menunjang perekonomian masyarakat Rokan Hilir yang sejak dulu menggantungkan hidup dari hasil laut, tetapi di sisi lainnya tak jarang menjadi sumber konflik horizontal yang dianggap mengganggu alur pelayaran.
Di lain pihak, Steven, salah seorang tauke dan pemilik bubu tiang, mengeluhkan bahwa mereka hanyalah korban. “Kami sering konflik, Pak. Kadang nelayan tangkap sengaja melanggar bubu kami, kemudian minta ganti rugi. Atau nelayan kerang yang menebar benih sembarangan di lokasi tiang bubu kami.”
Esoknya, kami masih melanjutkan perjalanan menuju Kepenghuluan Parit Aman, menggunakan kapal nelayan bermesin diesel. Sugeng, pemilik kapal, mengantarkan kami menuju tempat ia menabur benih kerang—tepat di tengah perairan antara Bagansiapiapi dengan Sinaboi. Perjalanan menggunakan kapal milik Sugeng kami tempuh selama dua jam dengan kecepatan yang barangkali jika boleh mengandaikan, laju becak yang dikayuh seorang tua renta lebih cepat ketimbang kecepatan kapal Sugeng.
Saya memperkirakan kecepatan kapal berkisar 0,5 hingga 1 knot. Sebenarnya bukan karena kapal Sugeng yang buruk, melainkan karena kami berangkat ketika kondisi menjelang surut sehingga kapal serupa kandas mengeruk lumpur dan melawan arus yang turut membawa partikel lempung tersebut.
Sesampai di tempat menabur kerang, Sugeng bercerita panjang lebar. Darinya kami memperoleh informasi mengenai ukuran benih kerang yang ditebar seukuran pasir. Mereka biasa membeli per kaleng seharga Rp300.000. Sugeng sudah melakoni pekerjaan setidaknya 3 tahunan. Tahun ini ia iuran dengan tiga orang temannya, masing-masing 2,5 juta rupiah, total 10 juta rupiah untuk modal.
“Tahun ini rugi, Pak,” katanya sambil tersenyum getir. Hasan, temannya yang juga petani kerang, serta Agus, nelayan peranakan Flores dan Panipahan yang menjadi tekong (nahkoda kapal diesel) mengangguk.
Agus menambahkan, “Di Lamakera (NTT), ikannya lebih banyak. Air jernih. Kami biasa dulu menyelam pakai kompresor mencari teripang. Bahkan makan (pari) manta. Gara-gara itu Bu Susi dulu pernah marah-marah di tempat kami (karena makan ikan pari manta yang dilindungi).”
Ia terkekeh. Saya teringat Steven, kemudian menanyakan perihal konflik antara nelayan kerang dengan nelayan bubu tiang. Mereka sepakat mengatakan kalau itu adalah ulah dari oknum. Mereka balik menyalahkan nelayan bubu tiang dan nelayan tangkap.
“Bagaimana lagi, Pak. Semua sekarang terjepit. Hasil tangkap semakin menurun dari tahun ke tahun,” timpal Hasan. Pandangan matanya yang lembut membuat saya bersimpati dan lebih menggali lagi, apa sebenarnya akar permasalahan nelayan di Rokan Hilir, khususnya Bagansiapiapi.
“Mengapa bisa? Padahal katanya dulu di sini penghasil ikan terbesar nomor dua di dunia?”
Setelah memandang Agus dan Sugeng bergantian, Hasan berpikir sejenak, seakan-akan berhati-hati mencari jawaban yang tepat. Kemudian ia menjawab dengan pelan, untungnya sauh sudah dilempar dan kondisi air surut sehingga mesin kapal yang berisik itu dimatikan untuk menghemat bahan bakar.
“Saat ini alat tangkap makin canggih, Pak. Akibatnya ikan-ikan makin sedikit.”
“Maksudnya?” Saya mencecar Hasan.
“Bapak tahu bubu tarik?”
“Tahu. Trawl kan?”
“Iya. Mereka banyak beroperasi di sekitar sini. Semua dikeruk. Air makin keruh, ikan-ikan, bahkan anakannya, hilang.”
Saya mulai melihat gambaran terkini kondisi perikanan dan kelautan di Bagansiapiapi secara lebih luas. Agaknya berat menjadi nelayan di sana yang dibayang-bayangi kejayaan masa lalu. Memang secara populasi, jumlah nelayan di sana terbanyak se-Provinsi Riau, akan tetapi dari hasil tangkapnya sendiri tidaklah sebanyak itu—malahan hanya menduduki peringkat kedua setelah Indragiri Hilir.
Jangan pula dibandingkan dengan daerah di provinsi lain di Sumatra, hanya akan menunjukkan betapa tertinggalnya perikanan tangkap di Bagansiapiapi. Sebut saja di Sibolga, Provinsi Sumatra Utara yang memiliki Pelabuhan Perikanan Nusantara atau Pelabuhan Perikanan Samudra Bungus di Sumatra Barat. Membicarakan Bagansiapiapi yang tidak memiliki pelabuhan resmi hanya membuat kita sedih.
“Tidak ada patroli dari aparat yang berwenang?” tanya saya.
“Pernah ditangkap, tapi sampai di kejaksaan, entah karena apa, kapal trawl yang disita itu tiba-tiba saja dilepas beberapa waktu kemudian. Akibatnya masyarakat sudah tidak percaya lagi. Percuma,” sambungnya lagi.
Pikiran saya berkecamuk. Apakah menjadi nelayan itu merupakan sebuah kutukan di sini? Mereka harus bertahan dalam kondisi miskin karena tidak memiliki modal yang cukup. Belum lagi kebijakan pemerintah tidak mendukung. Ditambah lagi faktor kerusakan lingkungan seperti tingkat sedimentasi yang tinggi, sedangkan mereka tidak punya pilihan dan keahlian lain.
Wajah Sugeng, Agus, dan Hasan merupakan gambaran umum nelayan di sini: wajah yang kalah, tetapi menolak pasrah.
Setelah empat jam berjemur di tengah laut menunggu air pasang, kami memutuskan kembali ke Bagansiapiapi. Sugeng mengengkol kapalnya yang mengeluarkan bunyi terbatuk-batuk, kemudian berganti menjadi bunyi kenalpot rombeng yang merobek udara. Kapal melaju pelan. Saya duduk di atas atap kapal, memandangi laut sembari menuang kopi dari temos milik Sugeng. Kopi susu itu berwarna seperti air yang kami layari.
W.S. Djambak adalah penulis puisi dan prosa.
Editor: Ikrar Izzul Haq
Foto: W.S. Djambak


