Esai Budaya

Riwayat Mercon

Di telinga banyak orang, suara mercon bisa sangat mengganggu. Mau yang kelas cabe rawit atau jumbo, suara mercon tetap saja bikin kaget. Belum lagi risiko ledakan yang sanggup mengancam nyawa—letusan mercon yang berujung maut bukan barang baru.

Namun, sejak ditemukan berabad-abad silam, petasan seolah menolak mati. Dalam buku Gunpowder: Alchemy, Bombards, and Pyrotechnics, Jack Kelly menuturkan riwayat kelahiran petasan yang bermula di Tiongkok awal abad ke-10. Awalnya, para juru alkimia Dinasti Tang bereksperimen meracik ramuan abadi. Mereka mengoplos sulfur, arang, dan kalium nitrat. Alih-alih obat mujarab, hasilnya malah di luar dugaan: ledakan pertama dalam sejarah peradaban umat manusia.

Ramuan itu adalah mesiu. Dalam catatan Kelly, bubuk api tersebut semula digunakan sebagai petasan untuk memeriahkan perayaan dan ritual. Ledakan petasan dipercaya bisa bikin roh jahat minggat. Beberapa dekade setelah petasan ngetren, ahli-ahli tempur Tiongkok baru kepikiran menggunakan temuan mereka itu sebagai senjata tempur. Akan tetapi, sebelum itu terjadi, petasan lebih dulu viral ke berbagai penjuru.

Tak ada catatan pasti kapan persisnya petasan masuk Nusantara. Ia tahu-tahu sudah meletus di mana-mana dan jadi bagian dari tradisi di negeri kepulauan ini. Meksi begitu, Anthony Reid menyebut bubuk ledak datang lewat jalur dagang. Dalam bukunya, Southeast Asia in the Age of Commerce, 1450–1680, sang pakar sejarah mencatat beberapa komoditas impor, termasuk mesiu, merebak di Nusantara seiring menguatnya kawasan tersebut sebagai bandar niaga Asia Tenggara sepanjang abad 15 hingga 17. Dalam kitab babon Suma Oriental, juru kelana Tomé Pires bahkan menyebut beberapa pelabuhan Nusantara pada awal abad 16 sudah dipersenjatai meriam. 

Di Pontianak, Kalimantan Barat, meriam jadi kisah awal mula yang melahirkan tradisi. Konon, pada abad 18, ketika Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie hendak babat alas di simpang Sungai Kapuas dan Sungai Landak, para pengikutnya sering direcoki bangsa lelembut. Untuk menangkal gangguan gaib, sang sultan menginstruksikan penembakan meriam ke arah hutan. Demikianlah riwayat lisan itu berkembang jadi semacam sejarah tak resmi Pontianak. Hari ini, warga Pontianak menyulut dentum meriam-meriam karbit di sepanjang Sungai Kapuas untuk merayakan sejarah tak resmi itu. Meriam-meriam karbit Pontianak lazim berdentum pada malam takbir, sehari sebelum Idul Fitri. 

Penanda Waktu dan Peristiwa
Mercon dalam berbagai variannya tak asal meledak. Baik di Tiongkok maupun Pontianak, ledakannya selalu lekat dengan momentum. Ia menandai peristiwa penting bagi banyak orang, entah itu perayaan hari raya, ritus sosial, atau tradisi kultural. Artinya, ledakan mercon bisa berterima secara sosial karena ia fungsional. Dalam derap hidup sehari-hari, mercon membantu kita mengalami waktu. Ini fungsi yang tak sepele.

Di Madura, maraknya mercon menjelma satu dari sekian pertanda datangnya Bulan Ramadan. Jika hitungan kalender Hijriah sudah masuk Syakban, para pemuda kampung di Madura biasanya akan mulai meracik petasan. Mula-mula, mereka akan berkeliling ke rumah tetangga, kantor desa, Puskesmas, bahkan sekolah-sekolah untuk mengumpulkan buku, koran, atau kertas bekas. Produk literasi dan karya jurnalistik purnapakai itu akan mereka olah jadi selongsong. Lalu, mereka akan khusyuk mencicil karbit ke toko bangunan langganan. 

Persis setelah malam Syakban, beberapa mercon dites. Uji coba ledak itu kian intens seminggu menjelang Ramadan. Saya dan banyak kawan mengalami ini setidaknya hingga kami lulus SMA. Jadi, kami menyadari hari-hari menjelang Ramadan bukan dari angka di kalender, melainkan dari sahut-sahutan bunyi petasan. Bagaimanapun, menyulut mercon di luar bulan suci itu aneh.

Ketika Ramadan sudah di depan mata, mercon jadi penanda waktu yang lebih tepat. Rampung tarawih malam pertama dilaksanakan, bocil-bocil kampung biasanya akan menyulut kembang api dan mercon kelas teri di halaman rumah mereka. Ini berarti pelapak petasan pabrikan sudah mulai marak berjualan di pinggir jalan—pun demikian dengan pelapak jajanan. Inilah waktu yang tepat bagi keluarga untuk berkeliling menikmati suasana bulan suci. Di luar Ramadan, atmosfer serupa mustahil dirasakan. 

Lalu, selepas imsak—terutama usai Subuh—mercon-mercon indie yang sudah dirakit sejak Syakban mulai dinyalakan. Dentum mercon di jalanan menyertai langkah jamaah yang baru pulang dari masjid—ini terjadi hingga jelang hari terang. Jadi, kami nyaris tidak perlu menunggu toa masjid mengumumkan sisa waktu sahur. Cukup mendengar mercon mulai berbunyi—pertanda imsak sudah mepet.

Pada sore hari, setengah jam sebelum azan Magrib berkumandang, mercon-mercon kelas berat disulut di tanah-tanah lapang. Ledakannya menghamburkan serpih kertas ke segala arah; gelegar suaranya sampai lintas kecamatan. Mercon jenis ini biasa disebut long. Banyak ibu-ibu di kampung akan menuntaskan kerja dapur mereka ketika mendengar dentum long; bapak-bapak akan segera kembali dari sawah ladang. Suara long menandakan waktu buka sudah di depan mata. 

Tatkala para pemuda kampung konsisten meledakkan long pagi-sore-malam, itu berarti kita sudah tiba di pengujung Ramadan. Bunyi long yang sahut-menyahut saban hari menjadi tanda bahwa lebaran tinggal seminggu lagi. Pada waktu-waktu tersebut, dentum long berpacu dengan kumandang khataman kitab suci, riuh pengunjung toko sarung dan kios kue kering, serta gedabak-gedebuk warga yang membersihkan rumah jelang momen silaturahmi. 

Di luar Ramadan, mercon disulut sesekali hanya di bulan-bulan tertentu. Zulhijah adalah bulan lain yang semarak bunyi petasan. Para haji Madura yang pulang dari tanah suci biasanya disambut dentum mercon yang gegap gempita. Suara dar-der-dor itu satu paket dengan konvoi kendaraan yang mengiringi kepulangan sang haji. Jenis mercon yang lazim dipakai dalam momen tersebut biasanya adalah sreng dor, semacam petasan luncur yang bisa meledak di angkasa. Sreng dor juga dinyalakan umat manusia seluruh dunia saat malam tahun baru. Ledakan di langit menandai pergantian tahun Masehi.

Bunyi keras sebagai penanda peristiwa dan waktu bukan barang baru. Seorang komponis dan peneliti bunyi asal Kanada, Raymond Murray Schafer, menelaah kecenderungan macam itu pada 1977. Dalam bukunya, The Soundscape: Our Sonic Environment and the Tuning of the World, Schafer menunjukkan bahwa nyaris semua kebudayaan di dunia mengandalkan bunyi keras sebagai penanda peristiwa sosial. Musik kencang dan mercon menandai festival rakyat di musim-musim perayaan. Dalam tradisi militer di banyak negara, tembakan salvo menandai upacara kematian dan parade unit tempur. 

Bagi Schafer, bunyi keras mujarab menandai titimangsa lantaran sifat alamiahnya yang merambat cepat ke seluruh arah. Dalam kerangka pikir tersebut, petasan jadi teknologi temporal yang masuk akal. Begitu mercon disulut dan meledak, semua telinga dalam radius dengar langsung sadar kalau sesuatu sedang terjadi. Ketika suatu ledakan konsisten dan berulang di momen tertentu, saat itulah tubuh kita mulai menyadari waktu. Lagi pula, menurut teori Big Bang, bukankah linimasa semesta dimulai dari sebuah ledakan “mercon” kosmik?

Ledakan Solidaritas
Ledakan mercon tidak hanya menandai momen penting dan peristiwa suci, tetapi juga jadi ajang unjuk kuasa kecil. Bagi kelompok yang kerap terpinggir secara struktural, seperti para remaja tanggung di banyak kampung, meledakkan mercon bikin mereka punya posisi kuasa barang semenit. Meledakkan sesuatu memberi mereka kendali singkat atas sensasi tubuh banyak orang. Ledakan mercon yang merambat ke berbagai penjuru menghantarkan suara kuasa mereka yang jarang didengar.

Kini, ketika situasi dunia digulung perang, kuasa kecil itu menjelma solidaritas. Di kampung mertua saya di Blitar, ledakan petasan berjamaah yang menggema persis setelah salat Id dinisbahkan pada situasi di Palestina. Celetukan “kayak di Gaza” lazim spontan terucap ketika orang mendengar rentetan ledakan mercon itu. Bunyi ledak di hari fitri membawa imaji umat ke situasi saudara seagamanya di belahan dunia lain.

Pada Ramadan tahun ini, banyak tetangga saya di Madura mendesain mercon khusus. Di selongsongnya, mereka menempelkan foto seorang pemuka Zionis. Saat menyulut mercon itu di halaman rumah, mereka bersorak melihat wajah gembong preman dunia meledak berkeping-keping—sebuah sikap politik mereka atas serangan Israel-Amerika Serikat ke Iran.

Di Instagram, tidak sekali-dua saya menjumpai konten video petasan luncur yang digabung dengan klip perang. Dalam konten-konten itu, begitu petasan luncur melesat, klip segera beralih ke potongan video mendaratnya rudal-rudal Iran di tanah rampasan Zionis. Video itu jamak dilengkapi pesan-pesan dukungan terhadap Palestina dan Iran. 

Tak banyak yang bisa dilakukan netizen kita di tengah situasi dunia yang penuh huru-hara ini. Suara riuh mereka kerap lindap di telinga para petinggi. Di tengah situasi macam itu, mercon menjadi wahana satire masyarakat atas kelakuan para elit global yang membiarkan ledakan genosida terjadi.


Ragil Cahya Maulana adalah kurator seni.

Editor: Asief Abdi
Foto: Asief Abdi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *