Esai Budaya

Sekolah dalam Deret Konten

Ada satu asumsi baru dalam dunia pendidikan hari ini: Kegiatan yang tidak diunggah ke media sosial berisiko dianggap tidak pernah ada. 

Kini, kegiatan belajar mengajar bukan hanya proses timbal balik antara guru dan siswa untuk memahami ilmu pengetahuan, melainkan soal memastikan apakah ada yang memotret saat memahami, atau saat pura-pura memahami. Ruang kelas perlahan-lahan berubah menjadi lokasi syuting, dengan aktor-aktor amatiran yang sadar kamera, bahkan ketika mereka tidak benar-benar siap memainkan perannya.

Adegannya kira-kira seperti ini. Guru mengajar, atau pura-pura mengajar. Siswa menyimak, atau pura-pura menyimak. Namun, takarirnya berbunyi amat serius, “Pembelajaran berlangsung aktif dan menyenangkan.” Kalimat ini toh bisa dipakai di banyak kesempatan. Ia cukup lentur untuk menampung banyak kenyataan, bahkan ketika sepanjang kelas itu lebih kerap sunyi senyap dan menyenangkan masih dalam proses yang diupayakan. Bagaimanapun di kepala sang guru telanjur terbayang-bayang bahwa seisi jagat raya sedang menonton kelasnya. Karena itu, semuanya harus ditampilkan dengan memesona.

Saat seorang keponakan mulai bersekolah, kakak saya punya kesibukan baru, mengunggah cerita kegiatan seru bocah mungil itu tersenyum cerah di ruang belajar atau bergembira ria di taman bermain. Asyik sekaligus repot juga setiap hari menunggui anak bersekolah, seperti dulu mama menunggui kami di TK saat masih bocah lucu ingusan. Begitu pikir saya. Namun, ternyata dia membalas, “Enggak kok, dapat kiriman dari bundanya.” Bunda adalah istilah yang familiar untuk merujuk guru-guru yang mengajar di yayasan taman kanak-kanak atau sekolah saat ini. 

Dulu, ruang kelas adalah ruang yang saban anak pulang ke rumah hanya dapat dikeker dari hasil latihan dan catatan di buku tulis atau cerita-cerita dari anak setelah ditanya orang tua. Kini, ruang kelas tak lagi terasa jauh, ia dapat dikeker dari dokumentasi foto dan video yang dikirim guru di grup WhatsApp atau ditampilkan di linimasa media sosial sekolah. Setiap kegiatan perlu diabadikan sebagai bukti. Beberapa kegiatan bahkan dirancang agar bisa terekam dengan baik. Sudut pandang kamera dipikirkan, posisi duduk diatur presisi, dan interaksi dengan arahan pengarah gaya diulangi berkali-kali agar tampak lebih “hidup” dan “natural”. Ya, kita tidak sepenuhnya berpura-pura, tetapi juga tidak sepenuhnya alami.

Apabila menengok ke belakang, kebiasaan ini sebenarnya bukan sesuatu yang benar-benar baru. Nun, pada masa silam, raja-raja di Nusantara mencatatkan kejayaan hidup dan kuasanya melalui pahatan prasasti, ukiran relief, atau tuturan kisah-kisah. Tidak semua peristiwa dicatat, tentu saja hanya yang dianggap penting, atau yang ingin dianggap penting. Misalnya, kemenangan yang dibesar-besarkan, kekalahan yang disembunyikan, dan kehidupan sehari-hari rakyat biasa yang jarang sekali masuk dalam narasi kisah atau sejarah. Hari ini, kita mungkin tidak lagi membangun prasasti, tetapi kita membuat unggahan. Kita tidak lagi memahat batu, kita menulis kepsyen. Seperti masa lalu, tidak semua yang terjadi dianggap layak ditampilkan, hanya yang terlihat baik, rapi, dan membanggakan. Hanya yang elok yang mendapat tempat.

Di sekolah, pola itu menemukan wujud barunya. Kepala sekolah dalam banyak hal berada pada posisi yang kurang lebih mirip dengan raja kecil di lingkungannya sendiri. Ia perlu menunjukkan bahwa wilayahnya aktif, berhasil, dan sungguh gilang gemilang. Media sosial semacam Instagram menjadi etalase digital, tempat citra itu dirawat dan dipamerkan. Aktivitas rutin seperti mengikuti upacara, melakukan rapat, menghadiri acara, menyerahkan hadiah lomba, semuanya hadir dalam feed ‘deret konten’ yang tertata. Tak ada yang salah dengan itu, tapi masalahnya muncul ketika etalase mulai lebih penting ketimbang isi toko itu sendiri. 

Beberapa tahun lalu, seorang kawan karib merasa benar-benar merdeka usai permohonannya mundur dari departemen humas dan promosi sekolah dikabulkan. Selama lima tahun lebih bergabung di sekolah bonafide itu, ia bertanggung jawab dalam membangun opini publik, mengelola hubungan internal dan eksternal, serta melakukan dokumentasi kegiatan sekolah dalam bentuk foto dan konten publikasi. Ia guru yang kalau ada acara merangkap menjadi fotografer sekaligus mengelola media sosial. Atau dengan kata lain: guru admin. 

Peran baru itu tidak pernah benar-benar diajarkan di bangku kuliah: guru sebagai admin media sosial. Ia mengakui awalnya sukarelawan, lantaran dianggap orang yang “punya kamera”, “bisa sedikit mengedit”, dan “punya akun medsos lumayan aktif”. Akan tetapi, seperti banyak hal dalam birokrasi yang dimulai dari kesediaan, peran itu pelan-pelan justru berubah menjadi kewajiban. Ia bukan lagi sekadar mendokumentasikan, melainkan putar otak memastikan ada yang bisa didokumentasikan. Ia bukan lagi sekadar mengunggah, melainkan dituntut untuk konsisten, tepat waktu, dengan kualitas unggahan “layak tayang”. Ia menjelma makhluk jadi-jadian: sedikit-sedikit jadi pendidik, sedikit-sedikit bisa jadi humas, dan sedikit-sedikit bisa jadi kreator konten. Hasilnya, ya serba sedikit.

Jika kita mencari padanan dalam sejarah, barangkali guru admin lebih dekat dengan juru tulis istana. Ia yang mencatat peristiwa, merapikan narasi, dan memastikan bahwa apa yang sampai ke khalayak adalah versi terbaik dari kenyataan. Bedanya, juru tulis dahulu bekerja dengan waktu yang relatif longgar, sementara guru admin hari ini bekerja dengan tenggat harian. Ia harus sigap, responsif, dan peka terhadap apa yang menarik. Ia tidak hanya menulis sejarah kecil sekolahnya, tetapi juga bersaing diam-diam dengan arus konten yang tak pernah berhenti.

Guru admin dan media sosial sekolah menghadapi banyak tekanan yang datang dari berbagai arah. Dari atas, ada kebutuhan institusi yang harus terlihat aktif, inovatif, kreatif, dan adaptif dalam menghadapi zaman. Setiap akhir tahun dinilai pengawas sekolah, setiap lima tahun dinilai asesor untuk memperbarui akreditasi, dicecar pertanyaan, dan ditagih bukti dokumentasi berbagai kegiatan. Dari samping, ada sekolah lain yang tampak begitu hidup dengan feed media sosial yang rapi dan penuh kegiatan. Dari bawah, ada ekspektasi sivitas sekolah bahwa setiap kegiatan sebaiknya memiliki dokumentasi. Lalu, dari luar manusia, di dalam sistem media, ada algoritma yang bekerja tanpa kompromi. Konten yang menarik akan tampil, sedangkan yang biasa-biasa saja akan tenggelam. 

Tidak cukup di situ, ada satu fenomena baru yang kian memperumit situasi, yaitu monetisasi. Platform semacam Facebook Pro atau TikTok tidak hanya menawarkan ruang untuk berbagi, tetapi juga kemungkinan untuk mendapatkan imbalan. Tentu saja, tidak semua guru tertarik, tidak semua sekolah memikirkan hal ini, tetapi logika yang dibawanya pelan-pelan merembes. Konten tidak lagi cukup ada, ia harus memikat, harus memiliki potensi jangkauan luas, dan harus bisa menghasilkan cuan. Tanpa disadari ukuran keberhasilan bergeser, dari “apakah siswa berhasil memahami” menjadi “apakah konten ini akan ditonton”.

Perubahan memang tidak selalu berlangsung drastis. Ia hadir dalam wujud aksi-aksi kecil. Seperti mengambil ulang foto karena kurang menarik, memilih momen yang lebih dramatik dan sinematik, atau menambahkan narasi yang lebih menggugah ketimbang yang sebenarnya terjadi. Tampaknya tidak berbahaya, bahkan dianggap sebagai langkah kreatif. Namun, ketika kebiasaan ini terus berulang, kita mulai melihat perubahan pola pikir. Pendidikan perlahan-lahan dinilai dengan cara kerja konten.

Di sinilah kita bisa memahami, kendati tidak membenarkan, mengapa muncul kejadian-kejadian yang terasa janggal, bahkan mengkhawatirkan. Seperti kejadian heboh beberapa hari lalu, Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menerbitkan surat teguran dan menjatuhkan sanksi kepada oknum proktor, pengawas, atau penyelia pada beberapa satuan pendidikan karena melanggar prosedur pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA). Beberapa oknum dengan nasib tak mujur ini seraya bertugas mengawas tes, juga mengunggah gambar di Facebook yang menampilkan layar soal dengan menggunakan akun sekolah, melakukan live TikTok, dan membuat konten YouTube saat ujian berlangsung.

Ujian yang seharusnya dijaga kerahasiaannya justru disiarkan secara langsung. Dalam logika konten, momen penting adalah momen yang tak boleh dilewatkan tanpa dokumentasi. Dalam logika pendidikan, momen penting justru sering kali momen yang harus dijaga, dibatasi, bahkan dirahasiakan. Ketika dua logika ini berhadapan, keduanya susah untuk akur.

Kita barangkali tergoda untuk menyederhanakan persoalan ini sebagai kesalahan individu. Padahal, jangan-jangan ini adalah hasil dari akumulasi kebiasaan. Guru terbiasa mendokumentasikan, sekolah terbiasa memamerkan, dan publik terbiasa menilai dari apa yang tampak saja. Apalagi dalam satu fase, kementerian pendidikan pernah dengan sangat getol memaksa guru untuk mendokumentasikan setiap kegiatan yang dilakukan. Dalam program itu, guru wajib membuat bukti dukung, diunggah ke platform kementerian, dan juga mesti dibagikan ke macam-macam media sosial. Begitulah asal muasal banjir bandang konten-konten guru di media sosial. Dalam situasi seperti ini ternyata yang diuji bukan hanya siswa, melainkan juga guru, bagaimana mampu menahan diri dari dorongan untuk selalu menampilkan. 

Barangkali kita perlu berhenti sejenak dan bertanya, untuk siapa sebenarnya media sosial sekolah ini dibuat? Apakah ia telah menjadi ruang berbagi praktik baik, sumber informasi bermanfaat, dan jembatan komunikasi publik? Ataukah ia perlahan-lahan berubah menjadi album kegiatan sehari-hari, sarana ucapan selamat hari-hari penting dunia, wahana pamer pejabat untuk memoles citra? Jangan-jangan, media ini justru nirmakna dan nirmanfaat? Pertanyaan ini tidak menuntut jawaban yang cepat, tetapi membutuhkan jawaban yang jujur.

Pada akhirnya, tidak semua yang penting harus diunggah dan tidak semua yang diunggah mencerminkan yang penting. Pendidikan nyatanya sering kali terjadi dalam momen-momen kecil yang tidak fotogenik. Ketika seorang siswa akhirnya mengerti setelah tiga kali penjelasan. Ketika seorang guru memilih duduk di samping dan mendengarkan siswa yang menangis karena tak kunjung paham. Atau ketika kelas berjalan tidak sempurna, seisi kelas gagal menjawab satu pertanyaan, tetapi kemudian kepala mereka terbuka untuk belajar hal baru dari umpan balik yang disampaikan guru. Momen-momen ini mungkin tidak pernah masuk feed, tetapi justru di sanalah inti dari proses belajar berada.

Di dunia yang semakin sibuk untuk terlihat, barangkali dunia pendidikan perlu keberanian baru. Keberanian untuk tidak selalu hadir di layar. Keberanian untuk membiarkan beberapa hal tetap sunyi. Keberanian untuk percaya bahwa tidak semua harus dibuktikan kepada jagat raya.

Dan bayangkanlah sebuah unggahan yang berbeda.

“Hari ini kami melaksanakan ujian dengan tenang. Tidak ada dokumentasi selama berlangsung karena kami menjaga integritas siswa.”

Tidak ada foto. Tidak ada video. Hanya kalimat.

Mungkin tidak akan ramai. Mungkin tidak akan mendapat banyak tanda suka. Namun, tentu saja tidak apa-apa.


Wendy Fermana merupakan pengarang dan pengajar.

Editor: Ikrar Izzul Haq
Foto: Ikrar Izzul Haq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *