Foto oleh Asief Abdi
Zawawi Project

Tubuh Sufi Orang-Orang Desa

Di masa sekarang, melihat kesederhanaan barangkali seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Agaknya kita memang merindukan hal-hal sederhana. Melalui amatan saya, D. Zawawi Imron dalam buku Soto Sufi dari Madura ingin mengingatkan kita kembali akan keselarasan, akan hidup rukun dan damai, dengan pemikiran-pemikiran sederhananya. Sekarang kita mungkin tak banyak melihat bagaimana seorang kiai menjadi konsultan untuk mengentaskan ketersesatan pikiran masyarakat Madura akan masalah hidup. Seorang kiai biasanya disowani dan mudah dijumpai di rumahnya atau langsung ditemui saat bertemu di jalan.

Kini, modernitas membabat tradisi itu. Untuk membereskan masalah, kadang kita cukup mendengarkan motivator di media sosial atau gawagis gen Z yang membeberkan tuntunan agama untuk menghadapi zaman modern. Maka, kita enggan menyerap hikmah secara langsung dari petuah kiai karena ada batas dan perasaan sungkan jika kita tidak menyiapkan amplop.

Keadaan tanpa jarak itu menjadi sangat dirindukan meski tak semua yang berkaitan dengan modernitas itu buruk. Mungkin kita butuh rehat sejenak dari keruwetan pikiran hari ini. Sebab, dunia modern kerap bikin kita capek. Ingin mengeluh, tapi percuma. Mencari solusi justru menambah beban pikir. Sebenarnya, untuk apa semua yang kita kejar mati-matian? Apakah hidup begitu indah dan hanya pasrah yang kita punya?

Tenang saja, Pak. Tenang saja, Buk. Zawawi ada di sini”—meniru kata-kata calon wapres bocil saat kampanye. Sejatinya, tubuh sosial Madura tak terbentuk dengan ajek. Ia akumulasi dari pengetahuan yang timbun-menimbun. Kisah-kisah pendek dalam Soto Sufi dari Madura mungkin tak hanya bersumber dari kesaksian Zawawi atas gerak tubuh sosial orang Madura, tapi tubuh sufi Zawawi sendiri. Jangan-jangan, tokoh-tokoh yang dikisahkan dalam buku tersebut merupakan manifestasi karakter atau pengalaman Zawawi sendiri. Tentu, saya boleh skeptis dan karena itulah saya tak langsung meyakini faktualitas kisah-kisah itu. Sebab, saya juga berhadapan langsung dengan fenomena yang Zawawi tulis dalam buku itu.

Ketika saya kecil, dulu ibu pernah memarahi bapak karena pendapatannya sebagai nelayan tak mencukupi kebutuhan sehari-hari. Dengan tenang bapak menjawab bahwa selama ini kami tak kekurangan apa pun untuk makan. Sedikit atau banyak, rezeki Tuhan yang atur. Saya tak mengerti mengapa waktu itu bapak memilih jalan pasrah. Namun, saya bisa pastikan bahwa bapak sudah berjuang keras untuk menafkahi keluarga supaya berkecukupan. Bukankah nelayan lebih mulia daripada para penguasa yang menjanjikan ikan—meniru larik puisi “Telur” karangan Zawawi.  

Di sini, makna “cukup” sungguh berarti. Kata “cukup” tergambar pada penerimaan setiap orang yang dikisahkan dalam buku itu. Bagaimana mereka bersyukur atas nikmat yang Tuhan beri. Kita bisa membacanya pada kisah “Permata Pahala” atau “Baju Nuranitentang kedua penceramah yang bertanggung jawab atas tugas menyampaikan pesan sebagaimana yang dicontohkan Nabi. Kepasrahan itu ditunjukkan oleh keikhlasan mereka yang mengabdi tanpa tarif, tanpa manager yang mengatur jadwal ceramah. Makna “cukup” tak akan berarti jika mereka tak ada usaha untuk mencari nafkah. Lantas, seluruh ikhtiar itu diikuti sikap tawakal dengan menyerahkan segenap hidup kepada-Nya. “Apa ca’na Pengèran,” ucap mereka jika menemui jalan buntu ketika masalah sedang melanda.

Tapi, menemukan makna “cukup” di zaman sekarang memanglah sulit. Apalagi keinginan manusia seringkali berlebihan. Tak pernah cukup dan tak pernah selesai sehingga lahan di hatinya tak tertanam sebiji pun rasa syukur. Lebih banyak diisi keduniawian daripada kerohanian, kata Zawawi. Kekuasaan juga bisa mengubah pandangan seseorang. Apa pun ingin ia peroleh tanpa memikirkan dengan jalan apa ia mendapatkannya. Kita bisa membacanya pada “Uang Rakyat” yang berkisah tentang seorang istri yang mengubah penampilan karena suaminya menjadi kepala desa.

Katakan padanya uang yang kau pungut dari rakyat meskipun sah, bukan untuk dibuat bermegah-megah seperti itu. Ingatlah, bahwa rakyat untuk bisa membayar … kepadamu dengan kerja keras, membanting tulang mengucurkan keringatnya. Sebuah baju yang dipakai istrimu itu harganya cukup untuk makan seorang anak yatim 3 bulan. Suruhlah ia belajar kepada wanita-wanita desa dengan kesederhanaannya, biar sebagai istri kepala desa ia menjadi dekat di hati rakyat. Bukan menjauhkan diri dari rakyat dengan menjadi bidadari palsu semacam itu. Kalau istrimu tidak kembali seperti semula ia akan    dihukum rakyatmu.

Selain itu, kita bisa membaca bentuk-bentuk keserakahan yang Zawawi tunjukkan dengan lugas nan bijak bestari pada kisah “Korupsi”,Payung”, dan “Uang Rakyat”. Soto Sufi dari Madura memang memancarkan tindak-tanduk kesederhanaan dalam berbagai pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab oleh tubuh sufi Zawawi. Tak ada ruwet pikir di kepala penyair sepuh tersebut. Seakan-akan semua itu dipersembahkan kepada Tuhan yang satu belaka.

Barangkali perkara besar justru adalah hal kecil yang hidup di sekitar, yang tak kita sadari. Tak ada kebenaran mutlak jika semuanya masih rahasia. Zawawi mampu menampakkan ketenangan dalam mengambil sikap. Apakah buku ini relevan dengan masa sekarang? Barangkali, ya. Tapi, juga bisa tidak. Zawawi memang menghapus latar waktu kisah-kisah itu. Namun, saya bisa menduga, kesederhanaan ini tampak karena Zawawi membawa semangat kedesaannya. Ragam kisahnya merupakan tubuh sosial perdesaan yang alami. Tanpa campur tangan modernitas. 

Buku ini bisa jadi renungan untuk menghadapi segala persoalan dengan tenang, tanpa gegabah dalam mengambil keputusan. Karena kematangannya dalam berpikir, mungkin Zawawi sudah tak lagi mencemaskan tentang apa arti kebenaran. Dalam buku ini, tak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa Zawawi berlagak benar melalui tokoh-tokoh yang dihadirkan. Justru kisah-kisahnya menyentil dan mengingatkan kita untuk tetap rendah hati dalam menghadapi apa pun. Kita juga bisa belajar hal tersebut pada kisah “Anak Kecil yang Dewasa”. Sementara itu, di tengah zaman modern yang menawarkan produk-produk “antibosan”, kisah “Bayang-Bayang” memberi arah supaya kita mengakrabi diri.

“Kebenaran” berkisah tentang kondisi keimanan yang dirasuki modernitas. Bagaimana satu kelompok menganggap sesat kelompok lain sembari membenarkan  keyakinan sendiri. Bagi buku ini, hal itu bukan sikap Islam yang cair. Jiwa kosmopolitan orang Madura dicemari oleh konservatisme semacam itu. 

“Saksikan cara beragama kita sudah tidak ‘sederhana’ lagi,” catat A. Dardiri Zubairi dalam Wajah Islam Madura. “Begitu gampang telunjuk kita menuding kepada diri sendiri sebagai lebih agamis ketimbang orang lain, atau lihat kelompok yang mengklaim diri sebagai Islam Liberal yang silau sama peradaban Barat. Islam ditafsir dengan merujuk terminologi dan kultur Barat misalnya, HAM, demokrasi, gender yang sepenuhnya harus sama dengan Barat.”

Itulah mengapa, kini tubuh sosial kita berjarak dengan kiai yang merupakan figur di mana segala keluh kesah masyarakat ditambatkan kepadanya—sebagaimana yang digambarkan kisah-kisah Soto Sufi dari Madura. Tubuh-tubuh sosial itu kini menjadi tubuh individualis yang hidup dengan alam pikir modern tanpa memikirkan dampaknya. Bukankah hidup kita bergantung kepada orang lain? Sebagai sesama manusia, cara kita menghadapi hidup harus selaras dengan kebaikan bersama.


Zainal A. Hanafi bergiat di Sivitas Kothèka.

Editor: Royyan Julian
Foto: Asief Abdi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *