Hugh Lofting mungkin tak pernah mengira kalau cerita yang semula cuma surat pribadi itu bakalan masyhur dan masih dibaca dunia hingga hari ini. Bagi kebanyakan orang, The Story of Doctor Dolittle tampak seperti cerita anak biasa macam Alice’s Adventure in Wonderland. Akan tetapi, narasi yang dibangun Lofting sebenarnya bisa dibaca sebagai refleksi, cita-cita, dan ideologi terselubung seseorang yang hidup di masa perang.
Lofting lahir di Inggris pada 1886. Ia belajar teknik sipil di London dan sempat bekerja di Afrika. Pada 1916 dia turun ke medan perang dengan pangkat letnan. Namun, perjuangannya di sana hanya dua tahun—ia terpaksa ditarik mundur gara-gara serpih granat yang bersarang di pahanya. Di masa-masa dinas militer itulah, ia menulis fragmen-fragmen kisah Dolittle untuk anak-anaknya yang kemudian ia kirim lewat surat ke New York.
Dalam sebuah biografi yang ditulis Gary. D. Schmidt, Lofting mengaku kalau idenya menulis kisah Dolittle bermula dari keprihatinan dia terhadap binatang yang turut ikut perang bersama manusia. Kuda, misalnya, tak mendapat penanganan yang sama dengan serdadu perang bila kena terjangan peluru. “Ini tidak adil,” kata Lofting. “Akan tetapi, untuk membangun fasilitas bedah untuk kuda layaknya pos evakuasi korban dibutuhkan pengetahuan soal bahasa kuda.” Dari sanalah ide tentang seorang dokter eksentrik yang paham bahasa binatang muncul di kepala sang letnan. Ya, kisah Dolittle mungkin berangkat dari gagasan soal hak-hak binatang yang selama ini terabaikan.
Namun, menarik untuk melihatnya dari sudut yang lain. Perang, kita tahu, merupakan mimpi buruk semua orang. Lofting yang turun langsung ke panggung Perang Dunia I tentu merasakan kengerian itu tepat di depan matanya. Pengalamannya sebagai seorang prajurit tentu memengaruhi cara dia memandang dunia—yang agaknya tersirat dalam kisah Dolittle.
Perang menguras banyak uang, nyawa, dan sumber daya—sesuatu yang sebenarnya tak seorang pun mau alami. Bahkan binatang pun enggan berperang. Oleh karena itu bangsa satwa biasa menampilkan laku tarung ritualistik demi menghindari pertarungan sungguhan yang mengakibatkan luka tubuh serius. Begitu pula spesies kita. Perang merupakan opsi terakhir—juga terburuk.
Perang lahir dari ketegangan dua pihak. Tensi biasanya memuncak dan bisa berujung perang tatkala upaya negosiasi gagal—kesepakatan yang jauh, janji yang dicederai, atau utusan yang dipenggal. Dengan kata lain, pertempuran bisa pecah lantaran komunikasi yang buruk. Bayangkan, bila situasi macam itu saja bisa memicu cekcok antarpasangan, apa lagi bagi negara-negara dunia? —seperti yang tengah terjadi sekarang!
Saya pikir, kisah Dolittle bisa dibaca sebagai ide utopis sang pengarang di tengah dunia yang tengah kacau balau. Bagaimanapun, penulis hidup di periode awal abad 20 tatkala bangsa-bangsa besar Eropa masih berperang sana-sini. Di tengah keributan macam itu, Lofting mungkin membayangkan sebuah semesta di mana semua orang bisa hidup harmonis dan saling kerja sama. Narasi yang ia bangun, sepertinya bukan sekadar hiburan anak-anak, melainkan juga angan-angan si bapak.
Sebagai cerita anak, The Story of Doctor Dolittle menghadirkan banyak karakter binatang: kakatua cerdas yang sinis, babi yang ceroboh, bebek yang cerewet, burung hantu bijaksana, anjing setia, dan Pushmi Pullyu yang di luar nalar. Bagi saya, mereka tak cuma menjalankan tugasnya sebagai tokoh fiktif, tapi juga metafora yang diam-diam—bahkan mungkin tanpa disadari Lofting sendiri—coba ditampilkan si penulis sebagai sarana refleksi tentang dunia yang lebih baik.
Penggunaan aneka jenis binatang sebagai kawan Dolittle tampaknya bukan untuk menghibur anak-anak belaka. Hewan-hewan itu bisa kita tafsir sebagai bangsa-bangsa dunia; kaum-kaum yang hidup dengan ekosistem dan cara tutur yang berlainan. Dalam keberagaman macam itu, keharmonisan nyaris mustahil dicapai. Keteraturan hanya bisa dicapai jika mereka semua bisa saling paham. Alih-alih menggunakan cambuk dan kerangkeng, Dolittle menggunakan sarana lain untuk berkoordinasi dengan para binatang: bahasa.
Andai lahir pada masa yang lebih kuno, Dolittle pasti sudah dianggap nabi. Akan tetapi, tak seperti Sulaiman, kemampuan si dokter berbahasa binatang tak jatuh dari langit. Kemampuan ajaib itu ia peroleh dari proses belajar yang rasional—sebuah logika khas Barat yang membedakannya dengan kisah orang-orang suci Timur Tengah. Akan tetapi, jika kita baca kisah Dolittle, barangkali dalam arti tertentu, dia memang seorang nabi.
Saya pikir, dalam kisah Dolittle, Lofting tengah membayangkan sebuah masyarakat yang harmonis di mana tatanan bisa dipelihara tanpa kekerasan. Barangkali, ia sedang menegaskan bahwa komunikasi yang baik bisa menjadi senjata pamungkas dalam mencapai kondisi damai. Sampai di sini, cita-citanya—kalau itu benar—tampak sangat mulia. Kendati demikian, narasi yang dibangun Lofting masih khas logika Eropa zaman itu.
Lofting hidup pada zaman di mana koloni Inggris membentang luas hingga ujung Benua Afrika. Sebagai bangsa yang besar dan menguasai banyak negeri, imaji imperial Inggris tentu bersemayam dalam benak warganya kala itu, tak terkecuali Lofting—walau ia lebih banyak menghabiskan hidup di Amerika Serikat. Kecurigaan macam itu bisa ditengarai dari episode Dolittle di Afrika.
Sebelumnya, sang dokter mendapat kabar dari Chee-chee. Si monyet Afrika itu memberitahu Dolittle kalau negerinya tengah dilanda wabah penyakit. Primata itu memohon kepada si dokter untuk sudi berlayar ke Afrika dan mengusir jauh-jauh penyakit jahanam itu dari tanah leluhurnya.
Sampai di sini, kita bisa menaruh curiga pada sosok dokter yang baik hati itu. Sebab kedatangannya ke Afrika tak hanya dibutuhkan, tapi juga diharapkan. Latar Afrika tentu tak dipilih asal-asalan—ia mewakili negeri asing yang jauh dari peradaban Barat. Dalam nalar kolonial, zona macam itu kerap dianggap sebagai ruang yang kacau dan perlu ditata ulang ala Barat.
Menggunakan kerangka pikir tersebut, wabah bisa dibaca sebagai alegori kekacauan. Di titik inilah Dolittle menemukan momennya sebagai imaji ideal orang kulit putih abad 20. Dengan ilmu dan pengetahuan, ia pun tampil sebagai sang mesias. Hewan-hewan yang tak mau bekerja sama ia bujuk agar mau membantu merawat kera dan monyet yang sakit. Alhasil, seorang pria kulit putih pun tampil sebagai sebentuk otoritas moral di tanah yang liar nun jauh di sana.
Sampai di sini, utopia ala Dolittle menemukan batasnya—ia tidaklah netral. Bagaimanapun, narasi Lofting masih menempatkan Inggris sebagai episentrum dunia; seolah keteraturan mustahil dicapai tanpa mediasi imperium itu. Pembacaan tersebut kentara sekali ketika para binatang di seluruh dunia tahu perihal sang dokter yang masyhur, seorang pria dari Negeri Kulit Putih. Mereka bahkan menyebut dia “the great man”—membuat cerita ini sedikit bernuansa rasis.
Aroma rasisme menguat saat Dolittle mengerjai sang pangeran Jolliginki. Dengan polos, pangeran kulit hitam itu percaya kalau ramuan racikan dokter mampu menyulap wajah dia selamanya—menjadi putih bak ksatria berkuda dalam dongeng.
Pada akhirnya, kepiawaian sang dokter dalam berkomunikasi dengan binatang tidak bisa tidak mengingatkan kita pada adagium Barat: knowledge is a power—mengisyaratkan bahwa pengetahuan dapat menciptakan tatanan dan dunia yang lebih selaras. Akan tetapi, seperti Dolittle yang diam-diam menjelma figur sentral simbolik, mengetahui juga berarti menguasai.
________________________________________________________________________________________________________
Asief Abdi adalah seorang naturalis dan penulis buku Hikayat Mitobotani (2025).
Editor: Putri Tariza
Foto oleh Putri Tariza


