Esai Budaya

Bila Cinta Butuh Peringkat

Tulisan ini terbit di akhir pekan, di jam kritis orang kasmaran. Maka, untuk latihan peregangan otot romantis yang tegang gara-gara transisi neoliberal, oligarki, privatisasi, nasionalisasi, komodifikasi, pascakapital, dominasi transnasional, dan reformasi sosialis, mari menyemarakkan kebucinan dengan membahas karya sastra paling bucin dari yang sudah bucin sekali. Kalau sudah main unggul-unggulan begini, aksi maskulin heroik adalah bahan halu paling mujarab untuk menaikkan kadar bucin. Ahlinya, tak perlu dipertanyakan, pastilah Alexandre Dumas dalam karyanya The Count of Monte Cristo. Ia mampu memberondong pembaca hingga kelepek-kelepek hanya dengan satu kalimat saja: 

“Aku rela menumpahkan seluruh darahku untuk menolong setetes air matamu.”

Kafka, si paling murung tapi kuat menjalani hidup sebab urat romantisnya belum putus, juga termasuk yang paling bucin. Ia menulis 59.500 kata yang tersebar dalam 149 surat untuk Milena. Ngoyo sekali kalau dibandingkan dengan mantra sebaris Dumas. Romeo and Juliet takkan dibahas di sini, membosankan. Khayalan ini harus setinggi-tingginya, seindah-indahnya, sebagaimana lagu dari seorang musisi yang kena ciduk polisi gara-gara aksi pornonya. 

Lanjut, cinta yang cinta banget adalah yang paling dan patut diperjuangkan. Dante menyusul Beatrice hingga kerak neraka (The Divine Comedy). Anna Karenina memereteli status bangsawan dan menelantarkan anak kandungnya sendiri demi Alexei, lalu hidupnya berakhir dengan cara dikecup kereta api lambang revolusi industri. Jatuh cinta sungguh berat, Werther menusuk dadanya sendiri demi Lotte hanya karena kalah debat. Tentunya, Fyodor Dostoevsky tidak boleh alpa, sebab ia menyebut perempuan idamannya (termaktub dalam White Nights, Nastenka) sebanyak 138 kali sampai ia lupa menyebut namanya sendiri, sang tokoh utama. 

Cinta adalah penyeimbang, bukan pelengkap dunia tipu-tipu. Maka, kembali ke Alexandre Dumas, ia tidak hanya membahas babak awal Revolusi Prancis, pengasingan Napoleon di Pulau Elba, dan Pemberontakan Ali Pasha, ia juga berkisah soal Mercedes dan Dantes. Kafka yang hidupnya sesak akan komodifikasi massal, nilai sosial, etika, dan buruh pabrikan juga sempat mengejar kereta terakhir, melintasi jarak yang panjang dan melelahkan, demi mengetuk pintu rumah kekasihnya. Rusia yang saat itu sedang gonjang-ganjing hak waris tanah, demo petani, sikap sok liberal kaum bangsawan, tren eksis kereta api, pokoknya Rusia sedang sibuk sekali, Anna Karenina sempat menemukan cinta sejati, meskipun ia barang selingkuhan. Maka tidak perlu heran, betapa gabut dan senggang Dante menyusul kekasihnya hingga ke alam baka dengan sembilan lapis cobaan. 

Bersyukurlah hamba yang mencinta dan dicinta, sebab cinta adalah kebutuhan darurat setiap makhluk, tak peduli harus menjadi eksistensialis atau nihilis. Tak peduli bahwa masalah sosial, ekonomi, dan politik sudah tak tertolong lagi, jatuh cinta tetap perkara nomor wahid. Menjelang, karya Ivan Turgenev, dipatok Koesalah S. Toer sebagai karya paling nihilis di seluruh Eropa, karya ini pun juga tak lepas dari kisah perjuangan cinta seorang aktivis bokek yang masih dan terus bokek hingga akhir hayatnya. Bahkan si absurdis, tanpa perlu tahu apa itu cinta, dalam karya Orang Asing garapan Albert Camus juga mencintai dan dicintai.  

***

Tiga dosa besar berkelindan dari sejumlah paragraf di atas. Pertama, ranking sastra paling bucin. Kedua, peleburan heterogenitas dalam seni mencintai dan dicintai. Ketiga, propaganda kepentingan (cinta mengangkangi isu sosial, ekonomi, dan politik). 

Komodifikasi, bahkan yang latah bakal awas karena ini adalah alat najis kapitalis, bukan semata-mata melabeli kualitas dengan sesuatu yang berbau kebendaan, material, atau barang yang punya nilai kegunaan atau tukar. Ranking adalah sistem sosial yang pada akarnya dibentuk dari bagaimana komodifikasi bekerja. Seperti sekadar bertanya siapakah yang paling bucin, Dante atau Dumas, Kafka atau Camus? Semua hal yang pada dasarnya tak terukur ini memiliki nilai ekonomis. 

Dunia ini tidak bisa bergerak tanpa sistem ranking: Apa dan siapa yang pertama dan diutamakan. Barang jenis apa pun akan memiliki nilai lebih bila direkomendasikan pertama oleh algoritma. Segala-galanya. Tuhan harus yang pertama sebelum mama dan papa. Kalau ada mama dan papa saja, berarti mama harus yang diutamakan. Utamakan uang karena uang bisa membeli segalanya, bahkan Tuhan sekalipun, sebab mukena murah gampang sobek, tersingkap tiupan kipas angin, dan berbunyi kerosak seperti bunyi bungkus jajan Taro seribu rupiah. Sekali lagi, segala-galanya adalah sistem ranking. Maka dengan bertanya apa yang trending hari ini juga menentukan wacana apa yang layak dikonsumsi, barang apa yang menarik mampus, dan influencer seperti apa yang layak dihujani reaksi. 

Ranking yang terakhir, demi Jagat Dewa Batara, bahkan menatap hikmahnya saja takkan bisa. Yang terakhir masuk rumah, dia yang mengunci pintu. Yang terakhir keluar rumah, dia yang memasukkan jemuran dan mematikan lampu. Yang terakhir masuk kelas, minggu ini piket dobel. Yang terakhir makan, dia yang cuci piring. Yang terakhir adalah yang paling ruwet dan tidak diganjar apa pun dari keruwetan itu. Mentahnya, yang terakhir adalah ladang eksploitasi bagi yang pertama. 

Tetaplah Jaya Aspidistra karya George Orwell betul-betul yakin bahwa uang berada di atas segalanya. Semua juga karena sistem ranking, sistem yang dikendalikan kapitalis. Paling tidak, dalam novel ini Orwell menyerang iklan jamur di sela kuku kaki dan para sosialis berduit yang terlalu utopis. Dalam jagat bookstagramming, seorang konten kreator atau bookstagrammer banyak yang mengadopsi sistem ranking terhadap buku yang mereka sukai, lengkap dengan rating-nya. Termasuk, menjajakan narasi kisah romansa paling epik dari angka sepuluh sampai satu. 

Lantas apakah kelakuan tersebut berarti tunduk patuh terhadap Dewa Kapitalis, Dewa Uang (demi melonggarkan ikat pinggang pasar)? Menurut saya, jagat perbukuan beserta dengan bisnis buku di dalamnya, patut untuk lolos dari jerat ranking dan rating. Misalnya, merekomendasikan buku dengan tajuk, “Harap berhati-hati, buku ini pro pedofilia. Tidak layak dibaca remaja di bawah umur 18” untuk Lolita karya Vladimir Nabokov atau “Buku ini mubazir bila mangkrak lebih dari 48 jam karena bersikap loyal pada kapitalis hanya akan memberimu bisul” untuk karya The Overcoat karya Nikolai Gogol, tentunya akan lebih seksi dan menarik daripada urutan angka-angka absurd.

Tapi jangankan merevolusi gaya bookstagram, membaca itu sendiri berarti memberikan dada yang lapang pada moncong senapan. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia berkata buku tidak bisa dipakai untuk menghadapi fakta di lapangan. Yang nahas bukan dari pernyataannya, tapi lawan bicaranya yang tidak bisa melancarkan serangan balasan, ia hanya tiarap, lalu tiarap lagi. “Buku tidak punya fakta di lapangan,” kata seseorang yang tahu buku hanya berisi naga-naga dan kesatria berpakaian zirah. “Buku tidak berguna untuk menghadapi masalah yang terjadi saat itu juga,” kata menteri ESDM yang bikin kisruh tiga pilar strategis sumber daya: gas, tambang, dan bensin. Buku memang tidak penting. Pembaca buku tidak mungkin melarang pembelian elpiji bersubsidi di pengecer, menyebabkan kematian. Pembaca buku juga tidak mungkin memonopoli impor BBM terpusat lewat Pertamina sehingga mencekik SPBU swasta. 

Baiklah, akan semakin panjang. Tadinya membahas suntikan asmara di hari paling darurat dalam satu minggu. Lalu membahas betapa keliru bila segala sesuatu harus jadi pakan sistem kapitalisme, hingga sastra itu sendiri menjadi ternaknya. Yang terakhir membahas MBG (Mas Bahlil Ganteng, maaf jangan buat saya mengatakannya). 


Putriyana Asmarani penulis cerpen dan esai.

Editor: Ikrar Izzul Haq
Foto: Ikrar Izzul Haq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *