Apa yang terlintas di pikiran Anda, jika seseorang berkata bahwa perlahan akal imitasi (AI) menjelma menjadi Tuhan baru? Ya, Tuhan. Bukan lagi alat bantu kerja manusia. Bayangkan, hingga pertengahan Agustus 2025 lalu saja, jumlah penggunanya telah mencapai angka 700 juta. Tercatat pula, sekira 280 juta perusahaan di dunia telah bermualaf kepada AI. Mungkin tak lama lagi, agama-agama besar akan menyusut pemeluknya lantaran progresivitas dakwah AI yang kelewat sakti mandraguna.
Statistik ringkas tersebut menunjukkan betapa adidayanya AI dalam kehidupan. Akselerasinya ke sektor duit sungguh merupakan langkah kilat untuk segera bisa menahbiskan diri sebagai Tuhan. Sungguh, Tuhan! AI sadar bahwa bagi masyarakat modern, sebagaimana digaungkan Karl Marx dalam Zur Judenfrage-nya (1844), Tuhan manusia modern ialah uang. Pun, betapa banyak agamawan yang mengajak orang lain untuk login ke agamanya dengan modal finansial: sembako, baju baru, dan sekolah gratis?
Alhasil, apapun yang sukses merangsek ke sumur-sumur produksi uang (perusahaan, bank, korporasi), berarti selangkah lebih dekat menuju kursi Ketuhanan.
Kita bahkan bisa membayangkan bahwa kelak, saat telah menghasilkan untung hingga 16 triliun USD seperti diprediksi Morgan Stanley, AI akan lekas mengutus nabi ke muka bumi. Angka sebombastis ini bisa bikin setiap orang Indonesia kaya mendadak tanpa perlu kerja dan demo kenaikan UMR setiap tahun. Sang nabi itu lantas mengkhotbahkan seruan konversi iman, dakwah senyap lewat medsos, juga siaran-siaran podcast yang penuh agitasi persuasif dengan nada soft-spoken ala para pendakwah zaman now. Lalu, dalam hitungan hari, pemeluk agama AI segera bermunculan secepat munculnya panu di punggung seseorang yang jarang mandi.
Entah mampu atau tidak, AI tetap saja tak bisa menyembunyikan ambisinya untuk menyapu seluruh agama-agama. Tak pandang bulu, samawi atau ardhi, semua bakal diberangus selayaknya kutu rambut yang bikin gatal. Toh, selama ini, Tuhan-Tuhan dari sekian agama itu (rasanya) tak mampu menyelesaikan masalah kehidupan. Lihat saja, saat pandemi Covid-19 merebak, Tuhan tak menjatuhkan vaksin dari langit. Para ilmuwan di Taipei, Cina, AS, Inggris, dan Jerman lah yang bekerja tanpa kantuk menyelamatkan nyawa jutaan manusia.
Sementara Tuhan-Tuhan di banyak negara ketiga malah membawa kemunduran, AI tampil dengan janji surgawi: uang, uang, dan uang. Sejauh ini, ketiadaan uang masih jadi problem serius orang-orang beriman. Orang masih perlu ke kelurahan dan minta surat keterangan tidak mampu (SKTM) demi bisa menyekolahkan anaknya. Masih jamak ditemui seseorang yang mencuri di warung kelontong demi perut anak istrinya terisi. Padahal, ia rajin ke surau, gemar bersembahyang malam, juga rutin berpuasa saban hari. Tapi dan tapi, ibadah mereka bukanlah kurs yang berlaku di perekonomian global. Maka, AI lah solusinya!
Lantas, masih ragukah kita berganti kepercayaan kepada AI? Atau jangan-jangan, secara diam-diam, kita telah mengimaninya? Sungguhkah “syahadat genetik” yang kita warisi dari ibu bapak masih terpatri dalam sanubari? Mungkin hanya jika Tuhan menampakkan diri, menghapus kemiskinan, dan melenyapkan korupsi, barulah kita kembali yakin pada ajaran kitab suci.
Namun, jikalau sungguh AI menjelma selayaknya “Tuhan anyar”, kira-kira bagaimana ia akan menavigasi religiositas manusia di masa depan?
AI, sebagaimana kepanjangannya (akal imitasi/artificial intelligence), merupakan bentuk modifikasi atau artifisialisasi sistem komputer. Ia berfungsi untuk membantu penyelesaian aktivitas yang memerlukan kecerdasan manusia, seperti berpikir, menalar, maupun membuat keputusan. Sementara, sebagaimana kita tahu pula, religiositas khalayak jamak sejatinya tak banyak memerlukan “kecerdasan”. Sebagaimana kata Quraish Shihab, “Ilmu tidak menciptakan iman.”
Bagi pakar tafsir kontemporer itu, iman sebagai substansi paling esensial dari religiositas tidaklah tumbuh dari pengetahuan—dalam hal ini kita menyebutnya kecerdasan. Seseorang yang punya akal sehat se-fit apapun, dalam perspektif teologis, tidak lantas dapat mengkonversi ajaran religius. Argumentasi Quraish Shihab agaknya bisa diterima. Apalagi, di masyarakat dengan kultur “teologi warisan”, keakuratan poin Quraish Shihab rasanya kian nyata. Orang menemukan Tuhan bukan karena tahu kemengadaan tuhan, melainkan karena ia diajari dan dibiasakan dengan praktik pengadaan Tuhan.
Alih-alih menalar eksistensi alam semesta sebagai bukti akan adanya Sang Pencipta, keberadaan Sang Adiluhung itu justru terasa dalam situasi-situasi terjepit. Misalnya, saat seseorang menderita sakit—atau orang terkasihnya sakit, mendadak orang tersebut “menemukan” Tuhannya. Religiositasnya menggelegak, membanjiri arus aliran darah di sekujur tubuh. Ia berharap, berpasrah, mengadu, lagi memohon kesembuhan kepada Yang Selalu Sehat itu. Mungkin ia tak sedang sembahyang, bersujud, atau merapal bait-bait kidung rosario. Namun, di hadapan penyakit itulah, segenap sanubarinya menyapa tuhan di atas sajadah ketulusan.
Lantas, akankah AI bakal mampu menyentuh religiositas paling kronis seperti ini? Apakah saran-saran Chat GPT soal tip menjalani rasa sakit, misalnya, dapat mencegah si sakit itu tak rewel lagi kepada Tuhan? Sanggupkah, duhai AI?
Sebelum AI beroleh panggung ketenaran seperti dewasa ini, omongan seputar religiositas manusia sejatinya telah banyak disinggung oleh para filsuf. Salah satu yang paling menohok dan melegenda hingga sekarang tentu si kumis tebal, Friedrich Wilhelm Nietzsche. Filsuf Jerman yang kemudian hari mengkhotbahkan The Death of God itu bisa disebut sebagai pemikir yang paling serius menekuni religiositas.
Nietzsche tampak seperti seorang ateis sejati. Ia tak mau percaya metafisika transendental. Tuhan baginya hanyalah fiksi. Manusia menciptakannya sebagai pelarian atas kekecewaan, kelemahan, juga harapan terakhir—terutama pasca Revolusi Industri. Jikalau Marx menyebut agama selaku piranti ketuhanan sebagai candu (opium), maka Nietzsche bahkan telah mengambil langkah paling konkrit untuk memberangus candu-candu itu. Namun, jikalau ia sungguh seorang ateis, mengapa pula ajarannya tentang amor fati sangatlah religius?
Lagi pula, bukankah pembaharu spiritual progresif abad 20, Mohammad Iqbal, bahkan meminjam ubermensch Nietzsche dalam gagasan insan kamil yang ia gelorakan? Karenanya, Agus S. Sarjono dalam terjemahan karya Nietzsche berjudul Friedrich Nietzsche Syahwat Keabadian menyebut filsuf yang wafat tahun 1900 itu sebagai “filsuf dan penyair yang paling intens bergumul dengan tema ketuhanan.”
Pandangan Agus S. Sarjono kiranya memang tidak berlebihan. Sepanjang hayat karier kepemikirannya, Nietzsche memang getol mengobrak-abrik sisi paling subtil dari apa yang disebut sebagai “yang religius”. Ia seorang soliter akut, sebuah karakter profetik yang lazim dijumpai pada diri para calon nabi dalam agama-agama Samawi. Muhammad—nabi IsIam, misalnya, merupakan figur yang gemar berkontemplasi sebelum beroleh titah nubuwah. Saban Ramadan, ia keranjingan meninggalkan rumah dan menyapa sunyi yang bersemayam di balik Gua Hira. Lewat hobi kontemplasinya itulah, Tuhan memandatkan wahyu pertama yang menandai transendensi Muhammad sebagai wakil kesayangan.
Melihat sepak terjang Nietzsche yang identik dengan para calon nabi, tak berlebihan bila pemikiran Nietzsche lantas menjelma selayaknya “wahyu”. Kepergiannya pada lima yubileum lalu jadi tonggak pencapaian terbesar Nietzsche. Umat secara berbondong-bondong (afwajan) mendekat dan mencecap sari pati ajarannya. Saktinya, Nietzsche bahkan telah memprediksi hal tersebut. Ia pernah berujar dengan penuh keyakinan, “Masa depan adalah milikku.” Seruan itu serupa dengan abilitas para nabi yang dibekali kemampuan istimewa untuk weruh sakdurunge winarah.
Lantas, bagaimana religiositas dalam potret pengabar kematian Tuhan itu?
Tentunya, Nietzsche bukanlah seorang yang rajin berpuasa, mendermakan sepersepuluh dari hartanya, sembahyang tepat waktu, atau senantiasa bertutur lembut. Namun, ia mencirikan religiositasnya lewat kesadaran akan hidup sebagai kenihilan absolut. Tak ada nilai di dalam hidup, sementara manusia—sebagaimana kemudian dijelaskan Wittgenstein—gemar menyibukkan diri dengan kerja-kerja penciptaan nilai. Bagi religiositas Nietzschean, ajaran nihilisme mengantarkan manusia untuk mencintai hidup (amor mundi) sekaligus menerima segenap ritme takdirnya (amor fati). Ajaran ini serupa dengan adagium masyarakat Jawa untuk senantiasa narima ing pandham-pandhuming gusti.
Religiositas Nietzschean inilah yang kiranya rapuh di kalangan masyarakat hari ini. Praktik-praktik sembahyang tak sungguh menyimbolkan ketulusan religius, melainkan sebuah aktivitas transaksional. Yakni, di sebalik rukuk sujud, misalnya, tersimpan sebuah harapan agar doa dan harapan diwujudkan. Keberharapan ini dapat dilihat sebagai incentive (keuntungan) dalam perspektif ekonomi liberal Adam Smith. Lantaran adanya incentive, manusia dengan senang hati melakukan “kerja” sembahyang. Lantas, sebagaimana konsep transaksi umum, manakala keuntungan itu tak diraih, terjadilah situasi kaotik:
“Ah, udah capek-capek sujud, masih aja gak kaya-kaya,” kata seorang sembari beralih pekerjaan dengan insentif UMR.
Kerapuhan itulah yang kiranya menjadi celah bagi AI untuk menavigasi ulang arah religiositas manusia. Pragmatisme dalam transaksi religius, bahkan di level paling personal pun, merupakan ruang potensial untuk diintervensi. AI tak harus mengambil alih posisi Tuhan tradisional untuk mendengar dan mengabulkan setiap doa. AI hanya perlu membantu manusia untuk tidak dekat-dekat dengan situasi yang berpotensi menyentuh religiositasnya. Misal, AI tak mesti menyembuhkan seseorang yang lagi sakit sehingga asma mulianya disebut dalam doa-doa. AI hanya harus membuat orang tak mudah sakit, lebih kalis dari wabah, juga kian tangguh dari bayang-bayang virus. Opsi ini sepertinya lebih punya kans rasional ketika teknologi kesehatan berkembang sedemikian pesat.
Navigasi baru yang bisa dihadirkan oleh AI ini pun membuka peluang baru bagi imortalitas. Keabadian, sebagaimana yang ditentang dalam banyak agama, bisa saja menjadi sebuah kenyataan. Yuval Noah Harari bahkan telah menyinggungnya dalam Homo Deus. Bagi Harari, saat teknologi bisa memperpanjang usia manusia, maka tidak mustahil teknologi juga dapat mencegah kematian. Katakanlah jika orang bisa mati karena terkena serangan jantung dan sebab kematiannya ini bisa diantisipasi, berarti ia tak akan mati. Alih-alih harus melenyapkan malaikat pencabut nyawa, AI hanya perlu menyediakan mekanisme teknologi yang dapat menggantikan kinerja jantung.
Lalu, apabila keabadian itu pada akhirnya melekat pada diri manusia di bawah kuasa Sang AI, maka secara bersamaan runtuhlah imajinasi kita akan surga dan neraka itu.
Yah, batal ketemu bidadari dong, ya?
M. Khoirul Imamil M adalah mahasiswa Pascasarjana FBSB UNY.
Editor: Ikrar Izzul Haq
Foto: Ikrar Izzul Haq


