Dalam Del Amor y Otros Demonios (Tentang Cinta dan Demit-Demit Lainnya), kehadiran melegakan Bapa Tomas de Aquino de Narvaez hanya bertahan sehari semalam sebelum ditemukan tewas di bak air. Mengapa karakter dengan eksistensi begitu pendek harus dihadirkan? Sudah begitu, Gabo menghadirkannya di ujung cerita pula.
Bapa Tomas adalah tokoh pendeta yang diminta mengeksorsis segala macam demit dalam tubuh Sierva Maria. Dia hadir di ujung cerita karena berperan sebagai pengganti setelah kegagalan Bapa Cayetano Delaura dan Uskup Don Toribio de Cáceres y Virtudes. Yang pertama gagal karena sesak oleh cinta, yang kedua sesak nafas betulan.
Berbeda dengan sang uskup yang percaya Sierva Maria kerasukan demit, Bapa Tomas yakin si gadis baik-baik saja. Pandangannya selaras dengan Bapa Cayetano yang menganggap, “apa yang bagi kita tampak seperti kesurupan sebenarnya merupakan adat istiadat orang hitam, yang dipelajari si gadis sebagai konsekuensi dari kondisi dilalaikan selama ia tinggal bersama orang tuanya.” Anggapan itu membuatnya urung mengeksorsis si gadis, dan justru mencari-cari bukti agar Sierva Maria bebas. Ditambah ledakan cinta dan pelanggaran-pelanggarannya, Bapa Cayetano dikeluarkan dari kasus itu.
Di sisi lain, sang uskup tidak cukup sehat untuk menyelesaikan eksorsis. Di sini lah peran Bapa Tomas sebagai penengah. Dia dipercaya oleh uskup, berkesempatan membebaskan Maria, dan diterima oleh si gadis. Dengan demikian, Bapa Tomas memiliki aktan—peran abstrak seorang tokoh—sebagai penolong. Bahkan, pertolongannya bersifat multipel. Dia membantu Bapa Cayetano membebaskan Maria, membantu uskup mengakhiri kasus, dan membantu Maria keluar dari keadaannya. Lebih luas lagi, dia membantu Suster Kepala mengeluarkan si gadis dari biara, serta membantu sang Marquis kembali bertemu putrinya.
Bapa Tomas adalah kunci dari segala kesemrawutan masalah. Darinya, sebuah happy ending mulai merekah. Satu-satunya halangan hanyalah kematiannya yang begitu tiba-tiba. Saking mendadaknya, Gabo seolah menciptakannya hanya sebagai harapan palsu; sebuah prank. Kematiannya dapat pula dilihat sebagai eskalasi konflik karena masalah Sierva Maria kembali buntu.
Kalau memang begitu, Gabo membuat sebuah episode yang dangkal. Ketimbang menciptakan karakter baru yang begitu hebat, Gabo dapat menggunakan Bapa Cayetano. Dia diterima oleh Maria dan ingin membebaskannya. Meski tidak akur, niatan itu sejalan dengan Suster Kepala. Kerja sama Bapa Cayetano dan Suster Kepala, ditambah asma yang diderita sang uskup, dapat membuka semacam persidangan tempat berbagai pembelaan, relasi sosial-instititusional-politik, dan argumen saling berkelindan. Dinamika dalam sidang ini tidak akan sedangkal kehadiran karakter baru yang hampir sempurna (seperti Juru Selamat) lalu mengakhiri eksistensinya tanpa kejelasan.
Tidak ada maksud merendahkan tokoh Bapa Tomas. Kualitasnya dapat dilihat dari dikotomi-dikotomi yang dihadirkan Gabo sepanjang cerita. Sejak halaman pertama, kita sudah disuguhkan dikotomi budak-tuan, kulit hitam-kulit putih, hewan-manusia, penyembuh-dokter, pengetahuan Barat-pengetahuan lokal, pendeta-dukun, spiritualis-ateis, dsb. Di antara mereka, ada pihak-pihak “di antara”. Sierva Maria, misalnya, adalah anak seorang kulit putih dengan wanita Indian. Penyakit rabies hadir karena kontak antara hewan dan manusia. Sang Marquis terjebak antara pandangan kedokteran dan pandangan Kristen. Hal itu juga berlaku pada Bapa Tomas yang seorang Mulato.
Kehadirannya memperlihatkan ambivalensi sebagai akibat penjajahan Eropa. Di satu sisi, Bapa Tomas adalah pendeta bereputasi tinggi. Di sisi lain, darah Afrika-nya memberi pengetahuan orang kulit hitam. Bapa Tomas lebih unggul dari orang Eropa secara kedudukan, relasi, dan pengetahuan. Dia memperlihatkan betapa lemahnya pengetahuan Eropa terhadap fenomena di tanah jajahan. Dia adalah ancaman bagi orang Eropa; seorang Mulato dari tanah jajahan berpengetahuan Afrika dan Eropa. Bapa Tomas adalah versi lebih baik dan lebih “lengkap” daripada tokoh-tokoh pendeta Eropa lain di novel ini.
Apakah sang uskup juga takut padanya? Entahlah. Yang jelas, dia menugaskan Bapa Cayetano ketimbang Bapa Tomas yang jelas lebih cocok. Motifnya jelas: rasa haru karena Bapa Cayetano memimpikan Salamanca dan usaha agar sang pendeta naik pangkat. “Kasus gadis itu, yang diakhiri dengan keberhasilan, mungkin akan jadi dorongan yang kita butuhkan,” ujar sang uskup. Selain itu, eksistensi Bapa Tomas memperlihatkan isu rasisme karena satu alasan: dia tidak segera ditugaskan. Sang uskup lebih memilih turun tangan dan akhirnya terjerebab oleh asma akibat aksinya.
Melalui kualitas tersebut, Bapa Tomas memang patut diciptakan. Keberhasilan sang Pendeta Mulato akan jadi wacana baik bagi tokoh ambivalen sekaligus pukulan telak bagi tokoh Eropa. Wacana itu bernilai baik jika, dan hanya jika, Gabo pro-Gereja. Gabo memang lihai menceritakan kualitas dan kebobrokan pihak-pihak beroposisi. Namun, dia tidaklah netral. Ada adegan ketika Sierva Maria minta dibawa kabur oleh Bapa Cayetano. Sierva percaya bahwa, “kebebasan mereka hanya bergantung pada diri mereka sendiri”, sementara Bapa Cayetano tetap mempercayai, “formalitas-formalitas legal.” Kepercayaan Bapa Cayetano berujung tragedi: “formalitas-formalitas legal” Gereja tetap hadir dalam bentuk hukuman. Bapa Cayetano dihukum sebagai perawat rumah sakit Amor de Dios untuk merawat orang-orang kusta.
Sementara itu, Sierva Maria, pada pagi hari menjelang sesi keenam eksorsisme, mati karena cinta di tempat tidur setelah penantian sia-sianya pada Bapa Cayetano Delaura yang tak lagi membawa makanan-makanan enak dari arkade. Tragedi ini membuktikan kalau Gabo lebih memilih kemalangan bagi tokoh-tokohnya demi memperlihatkan sisi kelam Gereja daripada menyelamatkan mereka menggunakan pendeta paling lihai di Getsmani.
Wacana yang ingin diperlihatkan sudah cukup jelas, Gereja tidak berhasil memberi kebahagiaan bagi seluruh manusia. Oleh karena itu, Bapa Tomas akan (dan harus) gagal dalam usahanya membebaskan si gadis. Hanya saja, caranya sungguh keterlaluan: kematian misterius di bak air! Seakan-akan Gabo tidak berdaya mengakhiri kehebatan Bapa Tomas.
Adakah cara lain mengakhiri kisah hidup pendeta ini? Mungkin saja ada. Kita tahu bahwa Bapa Tomas seorang mulato, tinggal di distrik budak, dan jemaatnya kebanyakan (atau bahkan seluruhnya) adalah orang kulit hitam. Kita juga tahu ada tokoh yang gemar memelihara budak, Bernarda, ibu dari Sierva Maria. Salah satu budaknya, yang bernama Judas Iscariote, kabur. Kaburnya Judas membawa keruntuhan moral bagi Bernarda yang sedari awal memang sudah tinggal puing-puing saja. Dia telah menenggelamkan diri dalam perzinahan tak terkendali dengan budak-budak di perkebunan. Nafsu yang tak terkendali, ditambah dengan “kecanduan madu fermentasi dan tablet kakao yang membuatnya jadi bengkak dan jelek”, membuat sisa budak-budaknya kabur ke San Basilio de Palenque.
Lantas, bagaimana jika mereka justru kabur ke distrik budak untuk meminta perlindungan Bapa Tomas? Bagaimana jika ternyata Judas Iscariote juga ada di sana? Bagaimana jika Bernarda mengetahui hal itu dan memutuskan mengejar mereka? Konfrontasi antara Bernarda dengan Bapa Tomas dapat diakhiri dengan tragedi (mungkin tidak sengaja) yang menewaskan sang pendeta. Tragedi ini makin tragis ketika sang Ibu yang memadamkan satu-satunya api pembebasan anaknya. Apalagi, Bernarda menggunakan Sierva Maria untuk mengambil harga sang Marquis melalui pernikahan paksa. Bernarda sendiri, hingga tingkat tertentu, membenci Maria. Namun, Gabo tidak melakukannya. Mungkin, dia tidak ingin membuat karakter ibu yang kelewat jahat. Toh, Bernarda sendiri masih lega mendengar anaknya (saat itu) masih hidup.
Hanya saja, Gabo tetap bisa memberi akhir yang lebih baik bagi Bapa Tomas ketimbang tewas mengambang di bak air. Ada banyak tokoh, relasi, dan konflik yang dapat digunakan untuk mengakhiri tokoh kunci ini daripada sekadar kematian misterius yang dianggap sebagai campur tangan iblis sebagaimana dikatakan oleh narator: “Itu adalah kematian yang menyedihkan yang membuat banyak orang berkabung, dan misteri yang tak pernah terpecahkan, yang oleh suster kepala dinyatakan sebagai bukti nyata akan kebencian iblis pada biaranya.” Dalam hal ini, iblis tak patut disalahkan karena keberpihakan penulisnya. Bahkan, ada banyak keraguan bahwa iblis (sepanjang dimaknai secara tradisional) benar-benar hadir dalam cerita. Bahwa iblis disalah-salahkan oleh berbagai pihak adalah tindakan yang tidak tepat, sebagaimana Gabo membuat Bapa Tomas meninggal hanya dengan menggunakan celana pendek di bak air. Sekali lagi, di bak air!
______________________________________________________________________________________________________
Alfian Maulana adalah penikmat sastra, filsafat, film, fotografi, dan kopi.
Editor: Putri Tariza
Foto oleh Putri Tariza


