Kritik Seni

Fotografi dan Ambisi Hidup Abadi

Tirta Amerta adalah harga mahal yang mesti Werkudara bayar untuk memenuhi hasrat akan kekekalan. Pertama, ia harus menjelajahi hutan tanpa pentujuk yang jelas dan mesti menghadapi dua raksasa Rukmuka dan Rukmakala. Bagian yang paling menyebalkan adalah kenyataan bahwa ia baru saja dikibuli gurunya, Drona. Cerita yang mirip juga terjadi pada Gilgamesh. Seorang raja yang gentar pada kematian sepeninggal sahabatnya, Enkidu. Pencarian resep keabadian pun ia lakukan. Dan kita tahu, hanya kegagalan yang menanti mereka di depan. 

Mereka pun pada akhirnya juga meninggal. Sekuat sesakti apa pun, jika mesin motor Izrail sudah cukup panas dan siap menjemput, apa boleh buat? Dari misi perjalanan panjang untuk mencari keabadian, mereka “hanya” mendapat hikmah yang konon bernilai lebih daripada keabadian hidup. Hikmah itu mereka namai “kesejatian”. Ide yang tak buruk untuk menghibur sebuah kegagalan.

Kekekalan bukanlah ide kemarin sore di benak manusia. Ketakutan terhadap pedihnya kematian, keinginan untuk selamanya tinggal bersama dengan yang dikasihi, hingga cita-cita yang belum tercapai barangkali jadi sedikit dari banyaknya alasan manusia ingin hidup abadi. Dan keabadian sering kali seharga kematian, di masa itu. Tampak tak sepadan. Lebih-lebih jika kita melihat dari sudut pandang kekinian, ketika segalanya terasa lebih mudah sekaligus mengkhawatirkan karena teknologi.

Namun, belakangan banyak orang yang justru ingin hidupnya segera berakhir. Apakah meraka sudah bisa mengatasi rasa takut terhadap sakaratul maut, semua keinginan mereka telah tercapai, dan tidak lagi ingin bersama orang-orang tercinta? Saya tidak sepenuhnya yakin. Tekanan dann tuntutan sosial sering kali jadi alasan utama seseorang untuk mengakhiri hidup. Hal ini punya dorongan yang lebih kuat daripada alasan bertahan hidup. Boro-boro abadi, hidup saja sudah semelelahkan ini. 

Terlepas dari alasan sosial, hidup di zaman sekarang memang tidak layak-layak amat buat diperjuangkan. Tak usah kita bicara secara biologis. Hutan yang kian menyempit, harga barang yang makin tak masuk akal, dan pemerintah yang korup cukuplah jadi alasan mengapa keabadian tak lagi menggiurkan. Mati-matian memperjuangkan hidup. Ha! Terdengar aneh, bukan?  

Mau abadi? In this economy? Ayolah. Dirimu bukan raja macam Gilgamesh atau bergelar pangeran macam Werkudara. Toh, di masa sekarang, orang mudah saja menjadi “abadi”. Yang memungkinkan itu terjadi adalah fotografi.

Istilah “mengabadikan” ketika memotret bukan bukan istilah yang ujug-ujug. Ia merupakan sifat foto itu sendiri. Dengan foto, kita membekukan waktu dan sejalan dengan itu juga menghentikan usia. Kamera memberi manusia opsi mudah lagi murah untuk menggenapi hasrat purbanya. Saya yakin, banyak di antara pembaca tulisan ini membaca lewat ponsel berkamera. Tak usah memeriksa bagian belakang gawai, di atas layar, titik itu sedang menghadap ke arah kita. Gawai memungkinkan kita untuk memotret (atau berswafoto) kapan pun kita mau. Kita bisa memilih tepat pada usia berapa kita ingin diabadikan. 

Namun, segala hal memiliki konsekuensi. Lebih-lebih yang sifatnya instan. Susan Sontag dalam esainya, “Melancholy Objects”, membeberkan efek samping foto. Ketimbang objek-objek riil lain yang kita pandang dengan mata, foto memiliki kedalaman emosional lebih. Sebabnya adalah ia datang dari masa yang telah lewat. Ia berjarak dari masa-sekarang. Dari jarak inilah nostalgia dan melankolia tumbuh.

Sontag juga pernah menulis bahwa fotografi memungkinkan kita untuk menghimpun peristiwa, figur, dan bahkan kepingan-kepingan dunia. Namun, yang mesti diwanti-wanti, foto hanyalah substitusi dari realitas, seberapa pun detail sebuah foto. Sudut pandang, siapa yang yang membidik, dan hal-hal lain di luar bingkai punya potensi besar untuk membelokkan realitas. Filter dan preset VSCO mungkin bisa jadi contoh paling relevan untuk perkara ini. Sekali lagi, foto terasa dekat sekaligus berjarak pada waktu yang bersamaan.

Oke. Bagaimana jika kita memotret seseorang dengan keadaan paling natural, pose candid, dan tanpa tendensi apa pun selain iseng? Katakanlah kita lolos dari setiap lapis wacana pascamodern Sontag, kita masih akan menjumpai satu lagi masalah: tumpukan arsip. 

Mudahnya akses terhadap kamera membuat kita juga gampang menumpuk foto. Kita jadi takabur dan sulit membedakan mana yang mesti didokumentasikan dan mana yang cukup dinikmati di waktu dan tempat itu juga.  Hasilnya adalah timbunan visual yang tak begitu bermakna. Sudahlah tertimbun tanah, si mati masih harus tertimbun foto-foto baru.

Naiknya tren kamera analog jadi semacam oase. Orang-orang dipaksa kembali menghargai proses dan menghitung-hitung berapa foto lagi yang bisa mereka ambil. Akhirnya, memotret jadi lebih mindful, penuh perhitungan, dan sedikit berjarak dengan kemubaziran. Akan tetapi, tren ini tak bertahan lama. Manusia sudah telanjur kecanduan mengonsumsi barang instan. 

Tampaknya keabadian memang bukan hal yang masuk akal. Kalaupun bisa dibeli, kebakaan patut dihargai setara nyawa itu sendiri. Misal Werkudara dan Gilgamesh hidup pada masa kini dan membaca esai-esai Susan Sontag, mungkin mereka akan memonopoli peredaran kamera di kerajaan masing-masing dan memajang hasil selfie di seluruh penjuru negeri. 

Ikrar Izzul Haq adalah pemuda yang tidak suka selfie.

Editor: Putri Tariza

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *