Kritik Seni

Ketika AI Menyulam Ingatan

Prolog

Bayangkan masa kecil tanpa foto, tanpa video, tanpa rekaman digital apapun. Hanya tersisa ingatan. Samar, namun terasa begitu hidup. Itulah yang dialami Agan Harahap, seniman yang kemudian menciptakan proyek reflektif bertajuk sederhana: Untitled. Katalog utuhnya dapat anda lihat pada tautan berikut: https://bit.ly/4p8Y7AQ.

Berbeda dengan generasi digital saat ini yang hidupnya terekam detik demi detik, masa kecil Agan hidup dalam fragmen-fragmen yang tak pernah terdokumentasi secara visual. Namun justru dalam ketiadaan dokumentasi itulah, kenangan menjadi lebih hidup. Bukan sebagai gambaran visual, melainkan sebagai suasana, aroma, suara, dan rasa yang mendalam.

Inilah yang oleh filsuf Henri Bergson disebut sebagai remembrance: ingatan murni yang tidak sekadar mengingat fakta, tapi menghidupkan kembali pengalaman emosional masa lalu.

Memahami Dua Jenis Memori

Untuk memahami keunikan proyek Untitled, kita perlu memahami pembedaan fundamental tentang cara kerja memori. Henri Bergson, dalam filsafat memorinya, membedakan dua jenis memori. Pertama, habitual memory atau memori kebiasaan yang otomatis, dan pure memory atau memori murni yang menjadi dasar dari remembrance.

Shin Sakuragi memperluas konsep itu dengan membedakan propositional memory dan experiential memory. Memori proposisional berkaitan dengan fakta. Misalnya, ketika Agan ingat bahwa Gelang-Gelang (1990) adalah bagian dari masa kecilnya. Sementara memori eksperiensial menghidupkan kembali sensasi pengalaman ketika ia merasakan kembali dinginnya gelang-gelang di pergelangan tangan, teksturnya, bagaimana cahaya memantul darinya.

Berangkat dari keterangan di atas, yang menarik dari proyek Untitled adalah bagaimana Agan menggunakan AI untuk menjembatani kedua jenis memori tersebut. Ketika menciptakan visualisasi seperti Roti Berjamur (1985) atau Empty Stage (2003), ia tidak mereproduksi fakta historis, tetapi mentransformasi sensasi dan perasaan menjadi bentuk visual yang sebelumnya tidak pernah ada.

Ketika Kenangan Bertemu Artificial Intellegence

Dalam konteks karya Agan, AI berfungsi lebih dari sekadar alat teknis, ia menjadi medium yang menghubungkan kenangan batin dengan bentuk visual. Rowan Anderson, dalam analisisnya tentang teori memori Bergson menjelaskan bahwa memori bukanlah sekadar fungsi kognitif, tetapi memiliki signifikansi metafisik fundamental.

Anderson menekankan bahwa dalam teori Bergson, otak bukanlah tempat penyimpanan masa lalu, melainkan mekanisme yang memungkinkan memori hadir dalam bentuk yang bisa dirasakan. Dalam konteks ini, AI berperan bukan sebagai penyimpan masa lalu Agan, tapi menjadi perangkat yang memungkinkan memori virtual termanifestasi menjadi gambar yang bisa dilihat.

Lebih lanjut, Anderson memperkenalkan konsep unconscious memory, yaitu memori yang tetap ada namun tidak muncul karena tidak relevan untuk kehidupan praktis. Masa kecil Agan yang tidak pernah terekam secara visual dapat dipahami sebagai bagian dari memori tak sadar ini. Memori itu tidak hilang, hanya belum menemukan medium yang tepat untuk mengaktualisasikannya.

Singkatnya, AI dalam proyek Untitled berfungsi sebagai katalis yang membangkitkan memori-memori tak sadar ini, memberi wadah bagi kenangan yang tidak terwujud secara visual di masa lalu untuk muncul sebagai gambar-gambar baru.

Durasi dan Aliran Waktu dalam Memori

Selain merekonstruksi kenangan, konsep durée (durasi) Bergson juga relevan untuk memahami bagaimana karya Agan bekerja. Durasi adalah aliran pengalaman batin yang terus berlanjut, tidak terikat oleh urutan waktu yang linier. Anderson merangkum: “durasi adalah hidupnya sebuah ingatan yang terus mengalir, membawa masa lalu masuk ke dalam saat ini.”

Dalam proyek Agan, waktu tidak berjalan lurus dari 1985 ke 1990 lalu ke 2003. Sebaliknya, waktu bergerak melintasi batas kronologis, mengikuti logika internal memori. Masa lalu, kini, dan masa depan saling menembus dan hidup berdampingan dalam satu kesadaran berkesinambungan.

Selain itu, proyek Untitled menghadirkan paradoks menarik: bagaimana seseorang bisa memiliki memori eksperiensial tentang sesuatu yang tak pernah terlihat? Jawabannya terletak pada pemahaman Bergson tentang pure memory (memori murni yang bersifat virtual), yang dapat diakses oleh kognisi tapi tidak aktif sampai dipanggil kembali.

Dengan kata lain, memori murni Agan tentang masa kecilnya tetap ada dalam bentuk virtual, tersimpan sebagai sensasi, emosi, dan atmosfer. AI kemudian mengaktifkan memori virtual ini, menerjemahkannya ke dalam bentuk visual yang dapat dipersepsi.

Penciptaan Ulang, Bukan Reproduksi

Sakuragi menjelaskan bahwa memori tidak mereproduksi pengalaman asli secara utuh, melainkan menciptakan versi baru yang mempertahankan fitur-fitur emosional paling menonjol meski dalam bentuk yang berubah.

Inilah yang dilakukan Agan, dalam arti ia tidak merekonstruksi masa kecilnya secara literal (karena memang tak ada rekaman visualnya), tapi menghadirkan kembali intensitas emosional dari masa itu. Gambar-gambar seperti roti berjamur, gelang-gelang, dan panggung kosong bukanlah reproduksi, melainkan kondensasi emosional dari pengalaman batin yang dimanifestasikan ulang lewat bahasa visual.

Bergson menyebut ini sebagai creative recollection, bukan reproduksi literal masa lalu, tetapi rekreasi afektif yang memungkinkan masa lalu masuk kembali ke masa kini dalam bentuk baru. Agan tidak sedang mencari kembali apa yang pernah nyata, namun menciptakan bentuk bagi rasa yang tak pernah punya rupa.

Signifikansi dalam Era Digital

Di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat untuk diingat, Untitled menawarkan diri sebagai jeda. Sebagai sebuah dimensi di mana gema-gema masa lalu diklaim bisa terdengar kembali. Namun, pertanyaan kritis yang muncul adalah: sejauh mana karya Agan ini benar-benar mampu mengaktifkan memori yang “terlupakan”, atau justru menciptakan nostalgia artifisial yang romantis namun dangkal?

Premis bahwa kita melupakan bukan karena kehilangan memori, melainkan karena ketidakrelevanan praktis, memang menarik secara konseptual. Tetapi Agan tampaknya terlalu mudah mengasumsikan bahwa apa yang “terlupakan” otomatis memiliki nilai afektif yang mendalam. Bukankah ada kemungkinan bahwa beberapa hal dilupakan justru karena memang tidak bermakna, atau bahkan karena proses seleksi alami dari kesadaran yang sehat?

Klaim bahwa seni menjadi medium atensi terhadap yang tak berguna tapi bermakna terdengar mulia, namun dalam praktiknya, proyek Untitled berisiko jatuh pada fetisisme terhadap yang tak terekam. Ada semacam kontradiksi dalam upaya mendokumentasikan yang tak terdokumentasi—apakah ini bukan justru bentuk lain dari dokumentasi berlebihan yang dikritik Agan sendiri?

Itulah yang paling problematis menurut kami dalam projek Agan ini, asumsi dasar bahwa intensitas batin dan ingatan yang diciptakan otomatis otentik dan bermakna. Tanpa kerangka kritis yang lebih tajam, proyek ini berisiko menjadi sekadar estetisasi melankolia. Menarik dipandang, namun kosong substansi, dan ironisnya, sangat mudah dilupakan.

Epilog

Dengan menjadikan teknologi bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai mitra, Agan menunjukkan bahwa remembrance di era digital bukan sekadar mengenang, tapi menciptakan kembali. Seumpama memberi tubuh baru bagi yang jiwa yang bergentayangan. Tubuh yang dibentuk oleh piksel, data dan visual digital.

Proyek Untitled membuktikan bahwa kekuatan sejati memori bukan terletak pada kemampuannya mengembalikan yang hilang, melainkan pada kemampuannya mengungkap yang tersembunyi dalam diam. Dalam kesenyapan itulah, kenangan menemukan bentuk barunya. Tidak melalui dokumentasi, tapi melalui penciptaan yang lahir dari kedalaman ingatan yang paling personal.

Kembali pada filsafat memori Bergson bahwa memori sejati adalah gerakan dinamis menuju masa lalu—bukan masa lalu sebagai objek mati, tapi sebagai pengalaman hidup yang terus bergerak. Agan mencoba menerjemahkan filsafat ini melalui tindakan kreatif yang menyulam fragmen-fragmen pengalaman, berupaya menciptakan semacam keutuhan baru di tengah dunia yang terfragmentasi.

Namun, pertanyaan yang tetap menggantung adalah: apakah upaya rekonstruktif semacam ini benar-benar sejalan dengan pemahaman Bergson tentang memori sebagai durasi murni? Atau justru, dalam usahanya yang tulus untuk menyelamatkan yang terlupakan, proyek Untitled malah terjebak dalam logika spasial yang hendak ditolaknya—mengubah pengalaman temporal menjadi objek estetis yang bisa ditata kembali?

Barangkali, nilai sejati karya Agan bukan terletak pada kesuksesannya mewujudkan keutuhan, melainkan pada keberaniannya menghadapi ketidakmungkinan itu sendiri. Dalam ketegangan antara ingatan dan kelupaan, antara fragmen dan keutuhan, Untitled menjadi saksi atas kompleksitas memori manusia yang tak akan pernah sepenuhnya dapat dipahami, apalagi dipulihkan.

Andries Sembiring adalah editor, penulis dan pekerja lepas di dunia maya.

Yesaya Sandang adalah pekerja kampus dan penulis buku Dari Filsafat ke Filsafat Teknologi (Kanisius, 2013).

Editor: Putri Tariza

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *