“Jauh panggang dari mimpi-mimpi masa muda.”
Potongan lirik “Kabar dari Penyusup (Negara dalam Keadaan Kuncitara)” gubahan Majelis Lidah Berduri itu landas bersama fakta, realita, dan dunia yang semakin sempit bagi segala mimpi dan cita-cita. Karena sekali berandai kita langsung disambar kenyataan: In this economy? Dan, yang lebih mendasar, mengapa dan bagaimana semua ini dimungkinkan?
Dalam perkembangannya, kerja telah mengalami klasifikasi ke dalam banyak bentuk. Lebih-lebih pada era tumpah ruah informasi seperti sekarang, macam pekerjaan semakin beragam. Sederhananya, sektor serapan kerja meluas dan semua orang bisa bekerja—andai saja benar demikian adanya.
Membaca perkembangan sektor kerja harus dibarengi dengan pembacaan ekonomi politik secara komprehensif. Pada kondisi ekopol macam apa ia berkembang? Misalnya, industri kreatif yang sedang marak hari-hari ini. Perkembangan industri kreatif linear dengan laju produksi informasi, juga neoliberalisme. Satu kondisi di mana pasar menjadi cair dan tak lagi memiliki segmentasi yang jelas. Jika kita berpikir bahwa neoliberalisme berpotensi memperluas cakupan konsumen, maka segera coret pikiran itu. Kita tahu bahwa pemilik modal adalah satu-satunya pihak yang diuntungkan dari skema pasar bebas.
Ketimpangan modal melahirkan persaingan ala-ala. Padahal sejatinya tak lebih dari skema perluasan pasar untuk menunjang kepentingan kelas yang diuntungkan dalam sistem kapital: borjuis. Pada puncaknya, modal yang tersebar dan masuk ke berbagai sektor akan maujud imperialisme dan menekan kelas pekerja jauh sampai titik nadir yang bernama prekariat.
Dipopulerkan oleh Guy Standing, prekariat merupakan gabungan dari prekariasi (kerentanan) dan proletariat (kelas pekerja) yang diartikan sebagai kelas rentan. Istilah ini kerap merujuk pada pekerja dengan jam kerja fleksibel, kontrak kerja suka-suka, jaminan kerja abu-abu, dan sebagainya yang sedari awal merupakan problem normatif kelas pekerja. Istilah ini berkembang sebagai konsekuensi perkembangan pasar neoliberalisme. Namun, penggunaannya kerap kali berdiri di atas narasi moralis, alih-alih politis. Kemudian kita berteriak, “Negara harus hadir!”—bagaimana mungkin negara hadir, jika dialah yang menciptakan sistem prekariasi itu sendiri? Juga audiensi, hearing, atau langkah-langkah normatif lainnya yang sama-sama tak betulan menyelesaikan masalah. Langkah-langkah ini kerap landas sekaligus tandas bersama narasi prekariasi dan secara tidak sadar membuatnya berbahaya. Setiap yang bekerja adalah proletar. Dan selama sistem ekonomi kapital terus berkembang, maka selama itu pula proletar adalah kelas rentan. Bahkan tanpa prekariat-prekariatan.
Kerentanan inilah yang perlu disadari oleh seluruh kelas pekerja (lagi-lagi tanpa prekariat-prekariatan) untuk merumuskan suatu langkah politis tertentu dalam rangka merevolusi struktur yang menjadikan mereka rentan. Neoliberalisme yang berkembang hari ini tidak hanya melahirkan istilah kerentanan baru untuk memolesnya dengan narasi moral, tetapi juga pelan-pelan menebalkan kerentanan kelas pekerja dengan menciptakan ilusi-ilusi taktik yang sama sekali tidak politis apalagi strategis. Alias tidak dapat mengubah apa-apa. Lantas bagaimana melepaskan diri dari ilusi prekariasi moralis semacam ini? Adakah sedikit waktu bagi kelas pekerja untuk memikirkan hal-hal di luar perut di tengah kondisi yang serba terimpit?
Menyadari bahwa ada kerangka struktural yang melahirkan keterimpitan akan membuka mata proletar. Kelas pekerja yang vis a vis dengan sistem ini harus paham bahwa kemelaratan yang menjangkiti mereka tidak pernah sekali pun lepas dari relasi ekonomi politik. Posisi sebagai pekerja jelas tidak memiliki daya tawar yang kuat. Namun, akan berbeda jika, katakanlah, setiap pekerja dalam satu pabrik itu berkumpul dengan kesadaran yang sama. Di sinilah kontradiksi dua kelas bertemu dan saling menegasi. Membangun serikat adalah langkah politis guna meruntuhkan kuasa modal. Intensitas dari negasi yang terus memuncak akan mencapai titik didih, sebagaimana air yang terus menerus dipanaskan sampai menyublim sebagai gas: Ada perubahan kualitas di sana. Dalam konteks yang lebih luas, strateginya juga perlu diperluas. Dari serikat pabrik, menuju serikat antarpabrik (federasi), dari federasi menuju antarfederasi (konfederasi), dan dari konfederasi menuju perubahan sistemik. Tentu saja, selalu lebih mudah berbicara ketimbang bertindak.
Cita-cita besar senantiasa mensyaratkan tindakan-tindakan kecil. Sebelum membincang perubahan sistemik, perubahan dalam lingkup yang lebih kecil harus lebih dulu terwujud, katakanlah lingkup kerja. Setiap kelas pekerja harus lebih dulu mewujudkan sistem kerja yang demokratis di tempat kerjanya masing-masing. Sistem yang menjamin kesetaraan suara setiap mereka yang terlibat dalam hubungan produksi. Untuk menciptakan kondisi ini, dibutuhkan daya tawar yang berimbang. Di sinilah kemudian apa yang saya tulis pada paragraf sebelumnya harus dipertemukan dalam praksisnya. Dengan kata lain, setiap pekerja yang sadar terhadap penindasan yang dialaminya harus berkumpul dalam satu barisan guna menciptakan daya tawar yang mampu menekan. Memang, hal ini tak semerta-merta membuat borjuis kerdil. Namun, meski berukuran lebih besar, semut-semut merah kecil yang menggerayangi sekujur tubuh, benar-benar menyakitkan. Dan, kita harus jujur bahwa tidak mungkin seseorang yang digerayangi semut-semut merah kecil akan bergeming.
Di sinilah sesuatu harus diwujudkan. Demokrasi atau kesetaraan berpendapat sebagai sebuah laku politis tidak mungkin dapat dilepaskan dari struktur ekonomi. Maka kemudian, perkumpulan para pekerja dalam satu barisan tidak hanya jadi gema suara yang menuntut, tetapi juga harus menjadi wadah untuk membentuk kemandirian ekonomi, katakanlah melalui pembentukan koperasi sembako. Disusun dan dikerjakan bersama dengan bagi hasil yang adil. Bukankah problem gerakan politis memang selalu bertabrakan dengan kondisi ekonomi? Kalau hari ini cuti, besok mau makan apa? Maka, ekonomi sebagai fondasi tidak bisa diabaikan sebelum melaju dalam langkah-langkah politis tertentu. Kemandirian adalah syarat mutlak untuk berdaya. Lalu, apa jaminan semua ini akan berhasil?
Dalam basis produksi kapital, di mana tiap-tiap individu terasing dari lingkungan kerjanya, masihkah mungkin untuk berhimpun dan bahu membahu satu sama lain? Keterasingan adalah produk kapitalisme untuk memisahkan seorang pekerja dari apa-apa di sekitarnya. Di sini, keterasingan (alienasi) berperan penting dalam eksploitasi kelas pekerja. Semakin terasing, semakin tereksploitasi. Seorang pekerja, teralienasi persis karena ia dipaksa mencurahkan tenaganya pada laku produksi yang tak berujung. Pagi kerja, sore pulang, malam istirahat. Besok kerja lagi, itu pun kalau enggak tipes. Sehingga, untuk mengentaskan diri dari alienasi ialah dengan menyadari siklus tersebut berikut muasalnya. Dan, tidak mungkin ada penyadaran tanpa pencerahan. Melalui pencerahan, kesadaran akan alienasi akan muncul. Lalu, siapa yang bertugas melakukan pencerahan itu? Kelas pekerja sendiri, selaku tonggak perlawanan atas kapital. “Aduh, tidak ada waktu untuk memikirkan itu.” Tak harus berpikir keras, pencerahan itu akan datang dari siklus kerja sehari-hari, dari kondisi material. Justru akan berakibat fatal bilamana pemahaman atas basis produksi kapital ini dilepaskan dari konteks sehari-hari kelas pekerja. Ketika kelas pekerja tak lagi mencurahkan seluruh energinya hanya untuk laku produksi, tetapi juga melihat hubungan relasional dalam laku produksi yang dikerjakannya, di situlah pencerahan datang. Dengan kata lain, pencerahan guna membangun kesadaran atas alienasi dapat dimungkinkan pada saat melakukan kegiatan produksi itu sendiri. Kesadaran yang terbentuk dari hubungan relasi antarmateri inilah yang penting sebagai langkah awal berhimpun untuk melakukan penggalian lebih dalam atas akar penindasan, sekaligus menyusun langkah untuk mengentaskan diri darinya.
Kenyataan yang perlu dihadapi hari ini ialah, alih-alih mencurahkan kesadaran pada relasi dalam laku produksi, kelas pekerja dilenakan pada eskapisme semu, seperti healing dan self reward, hanya untuk kembali terjerat dalam siklus produksi yang menghisap. Oh, jangan berpikir bahwa kedua contoh eskapisme itu adalah alternatif atas dunia kerja yang melelahkan. Keduanya dan juga lain sejenisnya, sungguh tidak lepas dari siklus produksi yang mengisap itu. Healing maupun self reward mensyarakatkan laku konsumsi yang pada akhirnya kembali menguntungkan pemodal. Pada taraf ekstrem, perilaku demikian melahirkan masalah baru, yaitu konsumerisme yang juga memiliki andil atas cairnya pasar. Bayangkan, kerja diisap, enggak kerja pun masih diisap. Total sudah penderitaan.
“Sudahlah kita bangsat. Sama sama tak selamat” Satu lagi potongan lirik Majelis Lidah Berduri dalam lagu “Pulang Kampung”. Kesialan massal dan terstruktur ini perlu disudahi. Semata-mata agar tak jauh lagi panggang dari mimpi. Semata-mata, supaya cukup banyak ruang di semesta untuk menanam cita-cita.
Muhahammad Jibril adalah seorang pekerja.
Editor: Ikrar Izzul Haq



