KAFILAH NURANI
D. Zawawi ImronSesal dan lelah
Memang milik manusia
Menang dan kalah
Kita terima dengan senyum yang lega
Derap yang mengalir di dasar sungai purba
Sebut saja air mata arwah
Meminum jangan setetes
Sebab dahaga bisa juga menggelapkan mata
Tenggaklah sepuas-puasnya
Sampai senyummu mawar
Dan matamu sinar yang pijar
Saat langit dan bumi bersatu dalam sabdaTibalah saatnya
Kau hunus badik cahaya dari sarung sejarah
Mudah mengkultuskan diri sebagai pemuka agama di era sekarang. Label agamawan yang fleksibel memungkinkan siapa saja menyandangnya (dan sering kali tidak bertanggung jawab). Hanya dengan sedikit saja atensi publik, predikat itu dapat dengan mudah tervalidasi sebagai suatu kebenaran. Terlebih, adanya fenomena “Gondrong dikit, habib!” yang semakin melegitimasi fenomena ini dari segi visual. Indikator yang demikian semestinya tidak dapat dijadikan tolok ukur kapasitas keagamaan seseorang. Namun, apa boleh buat, indikator-indikator itulah yang pada akhirnya menjadi patokan. Barometer serupa inilah yang kemudian membuka diskusi tentang esensi agamawan.
Jika menilik pada misi agamawan yang terlampau berat dan universal, maka sudah barang tentu cakupan dan cukupan keilmuan harus menjadi pertimbangan utama dan krusial. Banyak perdebatan terjadi ketika seorang agamawan mengambil suatu keputusan (biar pun itu rasional). Setiap tindak tanduk akan menjadi sorotan yang publik. Sebab, di era sekarang, agamawan menjadi sumbu dan patokan kebenaran tertinggi setelah Tuhan.
Keberadaan penyair bisa menyeimbangi pamor agamawan terkemuka sekalipun. Katakanlah si habib, tengah menggalakkan (dengan gayanya yang urakan) seruan untuk tidak meninggalkan salat. Dengan esensi yang sama, sastrawan cukup menulis:
Tuhan, ponsel saya rusak dibanting gempa
Nomor kontak saya hilang semua
Satu-satunya yang tersisa ialah nomor-Mu
Tuhan berkata:
Dan itulah satu-satunya nomor yang tak pernah kausapa(Joko Pinurbo)
Meski dengan cara berbeda, juga secara konstruksi bahasa, esensi keduanya tetap sama. Dengan kutipan tadi, pesan akan lebih diresapi sebagai anjuran, bukan ancaman (tanpa diiming-imingi surga atau ditakut-takuti neraka), yang lantas menjadi bukti konkret bahwa sastrawan juga mengemban misi yang sama mulianya dengan agamawan.
Dalam belantika kesusastraan Indonesia, Zawawi tersorot karena kepiawaiannya memoles napas lokal. Tak hanya membuka pemahaman-pemahaman baru, ia juga mendekonstruksi stigma-stigma yang keliru. Salah satu yang menjadi sorotan ialah puisi “Kafilah Nurani”. Puisi ini sangat lekat dengan nuansa religi yang menggambarkan sisi spiritualitas Madura. Zawawi, meski tidak berlabel agamawan yang hafal ribuan hadis untuk dijual, tersorot karena kepiawaiannya meramu kata-kata.
Puisi ini menggambarkan bahwa sastrawan pun memegang kunci penyebaran syair-syair keagamaan. Hal yang menarik dalam puisi ini ialah bagaimana bentuk penghambaan tertinggi ditekstualisasikan menjadi larik demi larik. Secara garis besar, puisi ini menggambarkan perjalanan setiap hamba Tuhan dalam mengkhidmati segala ketentuan hidup sebagai penerimaan diri, kesadaran spiritual, dan bagian dari penyucian jiwa. Dengan poin-poin itu, dapat dipahami pula bahwa puisi ini berangkat dari keresahan batiniah yang kemudian diarahkan menuju kedamaian Ilahiah. Dengan misi yang sama, puisi ini menjadi wahana baru bahwa dalam hal penyebaran syiar-syiar keagamaan. Tidak perlu menunggu agamawan berfatwa panjang lebar, sebab nilai katarsis dari sebuah karya sastra pun sudah cukup mengambil bagian.
Pada larik awal, Zawawi mengambil potret sebagian besar manusia yang terkadang mengutuk diri untuk hal-hal yang menguras fisik, pikiran, dan batin.
Sesal dan lelah
Memang milik manusia
Menang dan kalah
Kita terima dengan senyum yang lega
Beban batin begitu tampak dalam larik ini. Ketika dalam perjalanan hidup, terkadang terdapat onak duri yang mengaburkan dan menggoyahkan pendirian. Meski demikian, dua sifat (yang lebih condong ke sikap) ini tidak dapat ditepis dari kehidupan manusia. Dan memang suatu hal yang wajar jika keduanya menjadi atribut dari perjalanan hidup manusia. Fakta bahwa manusia hanyalah insan biasa membuka kesadaran akan keterbatasan dan kelemahan diri: penuh kekurangan dan penuh kesalahan, yang pada akhirnya membutuhkan bimbingan Tuhan. Kesadaran ini memantik kerendahan hati di hadapan Tuhan, yang sejalan dengan perspektif sufistik.
Sikap sesal dalam pandangan sufistik adalah simbol penyesalan spiritual, sementara lelah merupakan penggambaran keletihan manusia yang terlampau lama terseret dinamika duniawi. Perjalanan hakiki menuju Tuhan diawali dengan kesadaran bahwa manusia penuh kekurangan, kelemahan, dan ketidaksempurnaan. Ini kemudian menyiratkan bahwa manusia sudah semestinya melibatkan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan. Dalam larik ketiga, menyiratkan kehidupan manusia yang tidak selamanya memuaskan. Dan lebih ironis, bukan lagi soal menang atau kalah (sebagaimana diksi dalam larik), tetapi soal manusia-manusia yang acap kali tersesat sebab/dalam ambisi pribadi.
Namun terdapat pemakluman untuk itu, di mana pada larik setelahnya juga diluruskan bahwa hal yang demikian memanglah suatu kewajaran. Atribut yang demikian menjadi pemakluman atas segala cela yang melekat pada manusia. Meski mendapat pemakluman, juga terselip pesan bahwa seharusnya ini membuka kesadaran bahwa manusia harus kembali melibatkan Tuhan: dengan cara penerimaan diri, penerimaan takdir, dan bentuk kelegawaan lainnya. Hal ini dapat dilihat dari larik kita terima dengan senyum yang lega, yang menggambarkan ketenteraman batin dan penerimaan diri jika tidak terlalu berorientasi pada dunia. Ini seharusnya menjadi tamparan bagi manusia-manusia yang mengutuk diri atas semua kegagalan dalam hidupnya. Sebab, sebagai manusia yang dilengkapi akal, sudah semestinya memahami siklus roda berputar.
Selain menampilkan potret konkret manusia kebanyakan, larik ini juga menyelipkan anjuran untuk berlaku legawa. Di mana kesadaran akan keterbatasan adalah loncatan awal menuju esensi berkeyakinan yang hakiki. Sebab dengan itu, akan terbuka pemikiran bahwa di tengah keterbatasan, hanya pada Tuhanlah hendaknya kita berlari. Begitu sudah merebahkan semuanya pada Tuhan, hal-hal paling pahit sekalipun, mustahil akan membuat manusia getir. Inilah yang kemudian dipahami sebagai puncak penerimaan. Bukan soal takluk atau pasrah pada takdir, melainkan ada beberapa hal yang patutnya diterima sebagai ketentuan secara rida dan lapang dada. Dengan pemakluman sewajarnya, perasaan sesal dan lelah dan menang dan kalah itu setidaknya dapat diredam.
Pada larik berikutnya, terdapat simbol-simbol yang menunjukkan kesatuan makna. Beberapa simbol itu menunjukkan kelihaian Zawawi dalam merespons benda-benda sekitar sebagai perwujudan metafora.
Derap yang mengalir di dasar sungai purba
Sebut saja air mata arwah
Sebagaimana sungai yang identik dengan arus, maka diksi sungai dalam konteks ini ialah aliran kehidupan yang selalu berjalan dinamis. Arus sungai yang tidak pernah putus, maka seperti itu pulalah roda kehidupan terus berjalan. Analogi sederhana itu mengasosiasikan bahwa perjuangan pun harus terus dilakukan untuk menyelaraskan dengan tempo kehidupan. Jika manusia-manusia bergerak lambat, maka kemungkinan terseret arus akan lebih besar. Kehidupan yang terus berjalan secara dinamis memaksa manusia untuk selalu memutar otak agar bisa bertahan dan tetap eksis. Sementara, diksi derap di sini mewakili kondisi berjuang yang temporal, harmonis, dan kontinu. Maka, penggabungan makna atas larik awal menggambarkan semangat perjuangan yang selaras dengan dinamika kehidupan.
Diksi purba di sini mewakili penggambaran yang klasik, jadul, dan terdahulu. Namun dalam konteks ini, purbamerujuk pada sungai yang diasosiasikan sebagai arus kehidupan. Ini berarti bahwa semua jenis perjuangan di muka bumi telah atau sedang terjadi di arus dunia yang sudah kian menua. Hal ini mengindikasikan bahwa telah banyak cerita, kisah, dan tragedi yang terjadi di muka bumi. Salah satu yang disorot dalam puisi ini ialah sebut saja air mata arwah. Jika diartikan secara metaforis, diksi air mata arwah menyimbolkan perasaan duka, sengsara, dan serupanya.
Secara terpisah, diksi arwah memiliki makna kias semangat. Sejalan dengan makna leksikalnya, arwah menyimbolkan semangat juang yang merujuk pada perjuangan di atas muka bumi. Di kehidupan yang kian menua, tentu banyak catatan perjuangan yang turut terkubur dalam arus dunia masa lampau. Telah tercatat sejak lama bahwa manusia memulai estafet perjuangan bahkan sejak awal penciptaan. Ini kemudian menjadi penguat atas diksi sungai purba yang sama-sama menyinggung soal masa lampau. Bahwa selain perjuangan masa kini, juga pernah ada perjuangan di masa lalu yang telah menjadi arwah (sebagaimana dalam larik). Dalam hal ini, selain menyimbolkan nilai juang, arwah juga memperkuat diksi sungai purba sebagai simbol jejak pendahulu. Dengan kata lain, diksi arwah memainkan fungsi ganda.
Lebih jauh, boleh dikatakan bahwa diksi arwah di sini punya peran magis. Oleh karena bersifat magis, pemaknaan yang demikian terbawa hingga larik setelahnya:
Meminum jangan setetes
Sebab dahaga bisa juga menggelapkan mata
Tenggaklah sepuas-puasnya
Tiga larik ini sarat akan makna dan berkorelasi dengan dua larik di atasnya. Juga ada beberapa simbol yang menyiratkan pemaknaan mendalam. Dampak dari sisi magisme dapat dilihat pada larik ini. Terdapat diksi-diksi konkret yang justru merujuk pada pemaknaan abstrak dan kontekstual. Diksi meminum di sini merujuk pada diksi sungai purba yang identik dengan aliran air. Namun, meminum ini tidak diartikan sebagai meminum air sungai purba tadi, melainkan memahami atau menyelami esensi kehidupan yang sesungguhnya. Sebagaimana makna sungai purba yang ditafsirkan sebagai arus kehidupan dunia, maka sudah semestinya manusia menyelami esensi kehidupan. Kemudian diksi itu dipungkas dengan gaya negasi. Untuk memahami esensi kehidupan, perlu sikap totalitas dan menyeluruh: jangan setetes. Alasan di baliknya kemudian diperjelas pada larik sebab dahaga bisa menggelapkan mata.
Secara leksikal, dahaga bermakna keinginan untuk banyak minum. Berkaitan dengan larik sebelumnya, di mana dikatakan perlu sikap totalitas dalam menyelami esensi kehidupan, maka dahaga di sini merepresentasikan segelintir orang yang tidak tahu-menahu (atau barangkali tidak mau tahu) soal hidup. Dalam konteks ini, dahaga bisa dianggap sebagai kondisi kosong, hampa, dan haus. Melalui simbol dahaga, larik ini memberi gambaran bahwa jika manusia tidak mampu (atau tidak sama sekali) memahami esensi kehidupan, maka hal-hal yang menggelapkan mata akan terjadi: tidak mempunyai orientasi hidup, terjebak dalam dunia material yang fana, dan buta melihat fakta.
Tentu dalam konteks ini, esensi kehidupan juga bisa diartikan sebagai proses belajar dari pengalaman hidup. Diksi setetes pada larik sebelumnya menjadi barometer kecil untuk mengukur kedangkalan pemahaman. Ini merupakan anjuran untuk memiliki keterbukaan seluas-luasnya terhadap hidup: belajar memaknai kegagalan sebagai hikmah, tidak berpuas diri, dan selalu belajar di berbagai kemungkinan. Sebab, sering kali kita terbius oleh gemerlap yang fana, sampai lupa menyelami esensi kehidupan itu sendiri. Anjuran sekaligus peringatan untuk memahami kehidupan secara total, menyeluruh, dan sungguh-sungguh, begitu pelik dalam larik ini.
Lalu muncul sebuah paradoks di sini, di mana larik tenggaklah sepuas-puasnya seolah menyentil sisi serakah manusia yang sering ingin melampiaskan segalanya tanpa batas. Biarpun pada larik sebelumnya telah ditulis meminum jangan setetes agar dapat bertindak totalitas, larik tenggaklah sepuas-puasnya seakan mendukung penuh larik tersebut. Sama sekali tidak ada pertentangan antara kedua larik ini. Ini menyiratkan bahwa dalam perjalanan memaknai esensi hidup, sudah semestinya bertindak totalitas namun tetap dalam kapasitas manusia bijak. Larik tenggaklah sepuas-puasnyadi sini memang sangat berpotensi menciptakan ruang tafsir yang liar (dan cenderung negatif), itulah mengapa selain bertindak totalitas, juga diperlukan kejernihan akal agar dapat berlaku bijak—meski dipahami pula bahwa kebijaksanaan dan kejernihan akal itu hanya berada di bawah kontrol tiap-tiap manusia, bukan manusia lain sehingga hal-hal yang dicitrakan paradoks tadi tidak terjadi.
Sebagai luaran berprilaku totalitas dan bijak—sebab mustahil manusia tidak mengharapkan imbalan, maka puisi ini pun turut memberi tersirat yang meneduhkan.
Sampai senyummu mawar
Dan matamu sinar yang pijar
Dalam konteks kebanyakan, mawar kerap diidentikkan atau diasosiasikan dengan citra dan konotasi positif. Diksi mawar dalam puisi ini bermakna kedamaian batin, kejernihan hati, dan seperangkat citra positif lainnya. Biar pun demikian, seperangkat citra positif itu tetap merujuk pada pencarian esensi hidup tadi. Kedamaian batin dan kejernihan hati akan berhasil diraih jika dijalankan secara totalitas sekaligus bijak dalam memaknai esensi kehidupan. Jika makna tersebut disubstitusikan ke dalam larik utuh sampai senyummu mawar, maka dipahami bahwa senyum yang menjadi “mawar” berarti jiwa yang telah dipenuhi nilai-nilai baik. Pada akhirnya dapat dipahami bahwa luarannya ialah bertindak totalitas, sementara pedalamannya pun turut bijak.
Tak habis di situ, kejernihan hati juga akan melahirkan kejernihan pandangan. Dalam konteks ini, “pandangan” merujuk pada perspektif ketika menilai kehidupan. Hal ini diperkuat dengan diksi matamu yang lekat dengan hal visual. Jika manusia bisa memandang hidup dari perspektif positif, maka matamu sinar yang pijar, yakni melambangkan pencerahan spiritual berupa pandangan batin yang jernih. Sama sekali tidak ada cela untuk mengutuk, dan selalu melihat dunia dari sumbu hikmah dan kebijaksanaan. Dalam pandangan sufistik, diksi sinar di sini dimaknai sebagai nur atau cahaya Ilahi yang menerangi hati manusia. Ini berarti, ketika hati manusia diliputi cahaya Ilahiah, manusia dapat melihat dunia dari pandangan yang jernih dan penuh hikmah. Larik ini menggambarkan kesadaran manusia akan hikmah hidup.
Tiga larik terakhir ini dipahami sebagai bentuk ungkapan mahabbah Zawawi secara tekstual. Perwujudan sifat Zawawi yang penuh cinta, penuh kasih, dan welas asih tergambar dalam konstruksi bahasa yang apik. Ini menandakan bahwa Zawawi, sebagai sastrawan, berada di level berbeda sebab ia tidak hanya mencintai dirinya sendiri, tetapi juga pemerhati kepada sesama.
Saat langit dan bumi bersatu dalam sabda
Tibalah saatnya
Kau hunus badik cahaya dari sarung sejarah
Jika larik sebelumnya menggambarkan luaran manusia-manusia berhati jernih pada tingkat tertentu, larik ini justru memberi gambaran luaran manusia-manusia berhati jernih pada tingkat tertinggi. Bukan lagi soal kejernihan pikiran atau kejernihan pandang, melainkan lebih dari itu, yakni ketika langit dan bumi bersatu. Ini merupakan simbol bahwa manusia mendapat restu atas apa yang dikehendakinya: tidak hanya bumi, tetapi juga langit. Isu perjuangan yang disinggung sejak larik awal kembali dirujuk pada konteks larik ini.
Simbol langit dan bumi bersatu dalam sabda menggambarkan tahap penyatuan seluruh elemen di dunia atas kehendak Tuhan untuk berpihak pada subjek (dalam hal ini, manusia-manusia dengan kejernihan hati tadi). Ini berarti, seisi dunia pun mendukung, sebab Tuhan pun turut meridai. Restu Tuhan yang digambarkan dalam larik ini kemudian menjadi titik tertinggi, di mana akan ada kemudahan dalam mencapai tujuan, kemudahan dalam berproses, dan kemantapan mencari eksistensi hidup. Tentu ini merupakan penggambaran yang hiperbolis, namun dengan demikian, justru ini merupakan siasat untuk menyiratkan bahwa hikmah yang akan didapat juga tidak bisa dianggap remeh. Meski agak hiperbolis, makna sepenuhnya dapat dipahami secara utuh.
Diksi sabda mengasosiasikan firman Tuhan yang biasa dicekoki pada umat manusia. Dengan ini berarti bahwa ada campur tangan Tuhan dalam setiap proses kehidupan, termasuk dalam hal estafet perjuangan. Larik ini seolah mengatakan: dunia dan seisinya tidak hanya berada di kepalan, tetapi juga dalam keridaan Tuhan. Berbagai kemudahan dan hak-hak istimewa itu hanya dapat diperoleh jika memiliki kejernihan pikir, hati, dan pandang. Sebab jika tidak, mustahil manusia akan mampu melihat esensi kehidupan. Harmonisasi antara dunia dan spiritualitas itu kemudian membawa pada kesadaran kesatuan antara manusia dan kehendak Tuhan.
Momen pencerahan atau kesadaran batin dapat ditangkap pada larik tibalah saatnya. Tentunya larik ini bersangkut paut dengan larik berikutnya: kau hunus badik cahaya dari sarung sejarah. Diksi badik cahaya merupakan metafora yang sangat kuat. Di mana badik melambangkan keberanian spiritual, sementara cahaya menginterpretasikan nur. Metafora cahaya juga bisa disimbolkan sebagai kebenaran yang bertumpu pada Tuhan, sehingga jika dimaknai secara utuh, badik cahaya berarti simbol keberanian dan kebenaran yang memancar. Jika kita tarik pada konteks sufistik, badik cahayamenyimbolkan keberanian spiritual dan kebenaran Ilahiah. Tentu hal ini tidak serta-merta diartikan secara dangkal, keberanian spiritual dan kebenaran Ilahiah lahir dari kekuatan spiritual dan penerimaan.
Pencerahan batin yang sempat disinggung di awal merupakan momen krusial sebelum akhirnya mencapai titik tertinggi dari pencarian makna hidup. Momen krusial itu membutuhkan aksi “heroik” agar dapat terealisasi secara klimaks dan tuntas. Dalam larik ini, klausa kau hunus menjadi aksi “heroik” yang dimaksud.
Setelah berada di puncak pencarian makna hidup, juga setelah semua ornamen dunia didapat, termasuk rida Tuhan, maka luaran terakhir yang didapat ialah menggunakan cahaya kebenaran itu untuk menjadi unggul di antara manusia lain. Sebagaimana “sarung” yang identik dengan tradisi Madura, maka diksi sarung sejarah menginterpretasikan karakter lokal yang tetap bertitik tekan pada nilai-nilai kebenaran. Jadi biar pun menjadi unggul dari manusia-manusia lain golongan manusia ini tidak akan lepas dari tradisi, tidak meninggalkan akar budaya lokal, dan tidak meninggalkan cangkang Madura. “Unggul” di sini berkonotasi menjadi manusia yang dapat diandalkan, mulia, dan berkarakter. Orang lain akan memandang kita tidak hanya bermutu dari sisi spiritual, tetapi juga berkualitas dari segi karakter. Sebuah perpaduan yang unik dan filosofis. Pencapaian ini tentu menjadi titik klimaks dari perjalanan pencarian esensi hidup yang melelahkan.
Butuh siasat ekstra untuk mempertahankan itu semua. Titik pencapaian itu perlu dilanggengkan dengan pembiasaan dan pemantapan karakter. Tentu ironis jika pencapaian yang telah dijuangkan dengan berdarah-darah harus meluncur mundur begitu saja hanya karena terlena dengan sanjungan, misalnya, tanpa terus dibiasakan dengan mencari esensi-esensi hidup yang lain. Jadi meski digambarkan begitu sempurna, tetap menuntut pertanggungjawaban yang konsekuen.
Akhir larik yang lazimnya ditutup dengan pamungkas, puisi ini pun ditutup dengan klimaks yang meneduhkan. Sebuah konklusi yang mencitrakan sosok Zawawi sebagai pribadi yang tidak hanya pemberani dan tatak, tetapi juga kuat secara karakter, pemikir sekaligus perasa, dan welas asih. Jika tidak didasari oleh itu semua, mustahil terlahir larik yang demikian bentuknya. Kedalaman makna yang mampu melampaui esensi agamawan kebanyakan sekalipun.
Sebagaimana urgensi tulisan ini yang menyoal esensi agamawan, puisi dengan napas religius-sufistik ini justru lahir dari tangan seorang sastrawan. Berbeda halnya jika yang demikian terucap dari seorang agamawan: fatwa yang digalakkan akan menjadi doktrin yang bisa saja menjerumuskan. Atau dengan gayanya yang urakan dan meledak-ledak, alih-alih diresapi sebagai suatu anjuran, fatwa bisa saja dianggap ancaman. Lain halnya jika misi tersebut berada di tangan sastrawan. Keteraturan berpikir akan menuntun setiap guratan pena menjadi lebih bermakna. Kedalaman makna menjadi indikasi keselarasan berpikir dan merasa. Sastrawan tidak hanya memikirkan apa yang hendak ditulisnya, tetapi juga mengindahkan apa yang dirasakannya. Dengan merekam lanskap budaya asal, puisi Zawawi ini sepenuhnya menjadi karya yang kuat dengan nilai spiritual. Sastrawan, dengan kepribadiannya yang unik, menjadi pelaku kebaikan yang berkiprah dengan tumpuan pena budaya, pengalaman personal, dan dunia kata-kata. Berbeda halnya dengan agamawan yang merebahkan sepenuhnya pada atensi dan kepercayaan.
Melalui puisi ini, Zawawi mengubah pandangan jutaan orang tentang esensi kehidupan, penerimaan takdir, dan keyakinan spiritual. Bait ini seakan menyiratkan bahwa jika ingin mencapai puncak yang hakiki, seseorang harus mampu melepas kemelekatannya dengan dunia. Bukan berarti abai dengan sekeliling, melainkan mengubah sejenak poros utama perjuangan menjadi lebih berorientasi pada Tuhan dan nilai-nilai kebenaran. Perjuangan yang dinarasikan pun tidak diartikan sebagai gerak lambat dan leyeh-leyeh, tetapi gerak yang dinamis dan totalitas.
Puisi ini dapat dibaca sebagai metafora spiritual, di mana manusia diajak untuk menerima kehidupan dengan lapang, menyelami hikmah Tuhan, dan memperjuangkan cahaya kebenaran. Fakta bahwa kehidupan tidak akan selalu berlaku adil justru menjadi bahan bakar utama untuk semakin mengilhami kekalahan sebagai suatu pelajaran. Dalam hal ini, pengalaman hidup harus diselami secara mendalam dan positif. Setelah itu, barulah manusia dapat merengkuh cahaya kebenaran. Pesan agamis dan filosofis ini ditulis oleh Zawawi sebagai bentuk tenggang rasa (atau lebih tepatnya ungkapan cinta) kepada sesama manusia. Meski pamornya sebagai sastrawan tidak betul-betul menandingi esensi agamawan kebanyakan—bagi segelintir orang yang skeptis dengan eksistensi sastrawan, atau bahkan tutup mata sebab kenyelenehan tulisannya, setidaknya dengan cara yang bisa dibilang langka, sastrawan juga dapat merefleksikan pesan Tuhan dengan konstruksi yang tidak biasa.
Choirul Anam adalah pemuda asal Sampang yang memilih keluar dari tradisi keluarganya yang numerik.
Editor: Ikrar Izzul Haq
Foto: Ikrar Izzul Haq


