Apa yang mestinya kita rasakan ketika menjumpai seorang dosen yang jemawa mendaku bahwa dalam setahun ia berhasil menerbitkan lebih dari seratus artikel? Kagum? Berdiri dan bertepuk tangan panjang? Mengangguk khidmat sambil diam-diam menghitung ulang kalender di gawai, lantas menyerah pada rasa takzim? Atau, bertanya-tanya: Resep apa yang ia amalkan? Lalu, beberapa pekan kemudian, tahu-tahu kita mendapati jemari ini telah mengisi formulir pelatihan berbayar yang dipublikasikan di Instagram si dosen.
Daripada sejalan dengan gempita kebanyakan orang, mungkin ada juga yang “bingung”. Bingung bukan karena kekurangan informasi. Bingung karena di sana ada terlalu banyak informasi janggal. Seratus artikel dalam setahun mengandaikan bahwa tiap satu artikel dihasilkan dalam tiga atau empat hari. Tanpa absen, tanpa cuti, dan “tanpa ampun”. Hitungan ini belum termasuk akhir pekan, libur nasional, pemadaman listrik berkala, tiba-tiba putus cinta, atau flu babi yang ujug-ujug melanda. Belum juga menimbang segala urusan sosial seperti tahlilan, yasinan, atau rapat RT yang sewaktu-waktu menyela kegiatan berpikir—itu pun kalau memang proses mencret artikel melibatkan “aktivitas berpikir”.
Jika “bingung” adalah reaksi yang Anda rasakan, bersiaplah menjadi satu-satunya “binatang jalang dari kumpulan yang terbuang”. Bisa dipastikan, Andalah satu-satunya orang yang ragu berdiri. Andalah satu-satunya orang yang akan bertepuk tangan canggung, ketika yang lain bertempik-sorak merayakan momen itu sambil terkagum-kagum seolah-olah melihat mulut mungil Krishna menguntal semesta.
Akan tetapi, percayalah bahwa kebingungan itu justru merupakan reaksi manusiawi. Pasalnya, keganjilan yang kini telah dilumrahkan ekosistem akademik tersebut, bakal terasa kian janggal bila dibenturkan dengan tradisi intelektual. Nyatanya, karya-karya penting yang masih menjadi acuan hingga hari ini terbukti tidak lahir dari produktivitas ngos-ngosan bagai dikejar target langkah harian aplikasi kebugaran.
Charles Darwin, sebagai contoh, membutuhkan lebih dari dua dekade sebelum menerbitkan On the Origin of Species, sebagaimana Karl Marx menghabiskan nyaris sebagian besar hidupnya untuk merampungkan Das Kapital—yang bahkan terbit tak utuh di masa hidupnya. Demikian halnya Al-Qanun fi al-Thibb jelas muhal dirampungkan Ibnu Sina dalam 365 hari. Artinya, tak satu pun dari para pemikir ini bekerja dalam irama yang tergesa-gesa.
Bila disimak oleh telinga akademisi hari ini, kisah pergulatan semacam itu barangkali akan terdengar serupa cerita cinta zaman Romantik. Kisah cinta yang kini akan kalah telak oleh relasi kilat ala aplikasi kencan: geser kanan, terbit, geser lagi, terbit lagi, begitu seterusnya, hingga ratusan judul tahu-tahu sudah mengular di laman Google Scholar, lengkap dengan statistik yang membuat proses berpikir jadi lebih mirip aktivitas kardio. Masalahnya, ketika jejak intelektual diterjemahkan ke dalam skor, peringkat, dan indeks, maknanya pun lambat-laun bergeser. Menulis hasil riset, dengan demikian, sudah bukan lagi soal apa yang dipikirkan, melainkan seberapa cepat dan sering ia dapat dicatat oleh sistem yang berlaku.
Di negara yang perguruan tingginya dipenuhi manusia yang gemar melagak-pamerkan intelektualitas semu seperti Indonesia, kebanalan semacam itu justru diwadahi SINTA dan Scopus, dua sejoli yang kini menjelma germo birokrasi yang memaksa para akademisi untuk bersolek di etalase digital. Merekalah sepasang “penguasa ranjang” akademik yang menuntut penetrasi ide sesering mungkin, tanpa peduli apakah penetrasi itu berkualitas atau sekadar gesekan mekanis demi menggugurkan kewajiban.
Dalam Publish or Perish: Perceived Benefits Versus Unintended Consequences, Imad A. Moosa menampilkan grafik pertumbuhan publikasi ilmiah di dunia. Alih-alih memberi gambaran tentang kemajuan ilmu, grafik itu justru menggambarkan sebuah petaka. Dari grafik tersebut, kita akan tahu bahwa laju pertumbuhan produksi artikel ilmiah ternyata jauh lebih cepat daripada laju pengetahuan itu sendiri. Sebuah keajaiban yang amat nggilani. Karena itu, kecirit pun bisa jadi objek kajian.
Sialnya, dalam grafik tersebut, Indonesia menjadi negara yang bertengger mentereng bersama sejumlah negara dengan pertumbuhan publikasi tertinggi, bahkan melampaui rata-rata. Namun, di bawah rezim akademik publish or perish (POP), lejitan kuantitas adalah segala-galanya. Pencapaian jumlah publikasi akan disambut bangga, sekalipun di seberang dunia yang lebih maju secara keilmuwan, hal demikian malah dipandang memalukan.
Dalam The Guardian, Colquhoun memandang bahwa isu penggelembungan jumlah makalah di bawah rezim POP mestinya dianggap sebagai “sesuatu yang memalukan ketimbang membanggakan.” Bahkan, baginya, fenomena itu merupakan “situasi yang menyedihkan”—yang alih-alih dibenahi, kini justru dilanggengkan oleh mereka “yang memaksakan budaya publish or perish, yaitu para penyandang dana-hibah dan senior di universitas.” Merekalah yang oleh Moosa dicibir sebagai “anak kandung sistem yang menyikapi jumlah sebagai tolok ukur akal sehat.”
Dalam hal ini, Moosa pun menunjukkan bahwa ketimbang lahir dari lonjakan produktivitas intelektual, pertumbuhan masif publikasi hari ini sering dilahirkan oleh perubahan pola terbit semata-mata. Misal, sebuah tulisan dikerjakan dengan mendaur ulang satu topik melalui metode yang berbeda sehingga menghasilkan artikel dalam kuantitas yang berlimpah, tapi kopong dalam bobot kualitas. Hal inilah yang membuat publikasi kehilangan daya beli intelektualnya (paper inflation) lantaran dicetak berlebih sebagaimana uang.
Dan uang memang salah satu akar persoalannya; faktor yang akhirnya mengabaikan laku tekun sebagai spirit penelitian. Betapa naif merayakan kecepatan di medan yang mestinya menghargai etos ketekunan. Akhirnya, situasi tersebut juga menandai perubahan watak pengetahuan itu sendiri lantaran publikasi tidak lagi menjadi sarana berbagi pemahaman. Sebab, ia telah menjelma “mata uang karier” belaka.
Tak ayal, berlimpah-ruahlah artikel yang tampak diproduksi tanpa benar-benar membayangkan adanya masyarakat pembaca. Sebab, yang terpenting yaitu dicatat sistem sehingga grafik pun menanjak. Bahwa tak ada waktu membaca ulang, menyangsikan, atau menimbang kembali sebuah hasil analisis, itu urusan belakang. Jelaslah bahwa tradisi demikian mengabaikan nilai krusial dalam dunia pengetahuan: “banyak” tidak selalu berarti “mendalam”.
Well, seratus artikel dalam setahun bisa saja menandakan kerja kolektif yang sehat, riset jangka panjang yang terurai ke dalam banyak simpul. Namun, ia juga bisa menandakan hal sebaliknya, yaitu sistem biadab yang mendorong orang menulis apa pun, asal cepat dan terhitung; sistem bajingan yang membuat laku tekun jadi sebuah kemewahan, dan ketiti-telitian jadi terasa seperti hambatan.
Sesungguhnya Scopus merupakan nama gunung yang sarat makna historis dan kultural di Yerusalem. Di banyak tradisi, gunung acap menjadi ruang bergumul dengan keheningan; menjarakkan diri dari hiruk-pikuk dunia. Rasul Muhammad, misalnya, menerima wahyu pertama di Gua Hira di lereng Jabal Nur. Dan Musa bertemu Tuhan di Gunung Horeb.
Maka, ironis sekali melihat semua orang berambisi mendaki puncak Gunung Scopus, tetapi begitu puncak itu telah direngkuh, ambisi pun kehilangan arah. Sesudah pendakian itu, apakah yang sebenarnya berubah? Apakah kualitas pemikiran telah meningkat? Apakah perdebatan ilmiah jadi lebih tajam? Ataukah kita hanya sibuk merayakan pendakian tanpa sempat bertanya tentang apa yang bisa dilihat dari puncak, selain kabut angka belaka?
Bolehlah kita tutup perbincangan ini dengan berkhayal sejenak.
Suatu hari, Strava—aplikasi pengukur jarak, kecepatan, dan denyut jantung pelari dan pesepeda—meluncurkan fitur khusus buat akademisi. Fitur ini tidak cuma mengukur kilometer dan elevasi, tetapi juga mengukur “jumlah artikel hari ini, quartile jurnal, dan lonjakan H-index”. Sungguh, bukan sekadar akademis, melainkan futuristis!
“Selamat! Anda menulis dua artikel Q2 hari ini. Konsistensi Anda mengagumkan,” bunyi notifikasinya. Tersedia juga leaderboard dosen paling produktif minggu ini. “Rekor pribadi baru! Lima artikel dalam tujuh hari!” begitu ia rutin berkabar. Ada pula grafik denyut jantung intelektual yang sayangnya tak bisa ditanya, apakah masih berdegup karena gairah berpikir atau karena dikejar tenggat.
Khayalan yang konyol, memang. Namun, bukankah sebagian besar tradisi akademik kita hari ini sedang berlari ke arah sana? Semoga, kelak Strava tidak lupa menaruh tombol pause di fitur tersebut. Minimal, betapapun tidak masuk akalnya produktivitas seorang penulis artikel, ia masih punya opsi alternatif untuk pulang ke sisi manusiawinya, yakni dengan menekan tombol tersebut. Hal ini jelas penting. Sebab, hanya dengan begitulah mereka tidak dicurigai kecanduan nyawit.
Yohan Fikri adalah penyair dan kritikus sastra.
Editor: Royyan Julian
Foto: Asief Abdi



