Kritik Seni

Perempuan, Tubuh, Kekerasan, lalu Kamera

Saya baru saja menyelesaikan Korpus Uterus terbitan Gramedia Pustaka Utama (2025) karya Sasti Gotama. Kala terpikir untuk mengulasnya, saya khawatir ulasan tersebut hanya akan berkutat pada hal yang sudah-sudah tentang buku ini: tubuh perempuan. Rasa khawatir itu tidak berhenti pada persoalan apa yang akan saya bahas, tetapi berlanjut pada posisi saya sebagai laki-laki. Saya takut salah omong, sebab saya tak pernah betul-betul mengerti perempuan. Tapi, agaknya persoalan itu adalah sesuatu yang tak terelakkan ketika kita membicarakan buku ini. Jadi tak apalah saya tulis saja. Toh, tokoh utama novel ini juga laki-laki.

Tokoh itu Luh, seorang anak yang tak diinginkan sebab lahir dari hasil pemerkosaan. Saat masih berada di dalam rahim, berbagai cara dilakukan si ibu, Kalimah, supaya Luh tak jadi lahir. Namun, sepertinya janin Luh sudah menjawab “he’em” ketika ditanya, “Bersediakah kau hidup di dunia yang ugal-ugalan itu, Nak?” Apa boleh buat, lahirlah bayi laki-laki itu dengan kekuatan super: gendang telinga yang sensitif. 

Luh tumbuh tanpa sosok ayah. Sedangkan si ibu, alhamdulillah masih bersedia memelihara Luh. Meskipun memelihara di sini punya arti sebagaimana memelihara hewan ternak. Cukup diberi makan tiga kali sehari, beres urusan. 

Cerita hidup Luh terbilang seru sebagai fiksi. Bagaimana tidak? Lahir sebagai anak yang tidak diinginkan, menjalani proses tumbuh yang rumpang, mencari jati diri, menjadi seorang idealis dan membantu banyak orang, hingga tertangkap sebagai kriminal tetapi berhasil lolos. Ada dua hal bagi saya yang membuat cerita ini menarik untuk diikuti. Pertama, pengembangan karakter. Sasti merangkai perjalanan hidup (hampir semua) tokoh dengan telaten dan tak terburu-buru. Perubahan sifat dan tindakan yang diambil terasa gradual, mapan, dan beralasan. Kedua, Sasti tidak menempatkan Luh sebagai sosok suci tanpa noda. Selain persoalan aborsi yang masih menjadi perdebatan panjang, ada satu hal yang sama sekali tak bisa dimaklumi dari Luh: membunuh dan mengangkat rahim Lara untuk ia simpan sendiri. 

Di sisi lain, ada satu pertanyaan yang mengganjal yang muncul setelah membaca novel ini: Mengapa tidak ada satu pun laki-laki yang digambarkan sebagai good boy atau gentleman selain Luh? Setiap tokoh laki-laki diceritakan sebagai sosok yang mesum, NPD, atau korup. Dengan kata lain, jancuki kabeh. Apakah buku ini adalah sebentuk propaganda misandri? Betul hampir semua kekacauan yang terjadi dalam novel ini adalah soal penderitaan perempuan. Mulai dari relasi kuasa yang subtil, hingga perampasan otonomi tubuh yang terang benderang, pelaku utamanya adalah manusia berpenis. Namun, dengan hanya menempatkan Luh sebagai satu-satunya good boy, karya ini tampak sedang menggiring sesuatu dengan menciptakan ketimpangan. Tapi, ya sudah. Barangkali ini cuma perasaan saya saja. Lagipula, tak perlu kita membicarakan hal yang tidak ada. 

Tubuh dan perempuan adalah dua hal yang paling dominan dalam Korpus Uterus. Berikut derita-derita yang menimpa keduanya. Berangkat dari kuasa atas tubuh yang tak lagi sepenuhnya milik pribadi dan bersifat personal, cerita bergerak menuju wilayah yang lebih spesifik, yakni rahim. Tokoh-tokoh vital dalam novel juga digambarkan punya obsesi terhadap rahim. Baik hanya lewat cerita tentang bagaimana janin menandatangani surat keputusan pertama, tak senang ruang itu tersentuh benda artifisial macam alat kuretase, hingga mencopotnya untuk dijadikan koleksi pribadi. 

Omong-omong soal rahim, kekerasan paling banal yang segera tertangkap oleh pembaca datang dari perempuan sendiri lewat usaha pengguguran janin-janin tak diinginkan. Namun, sesungguhnya kekerasan itu datang justru dari sesuatu yang laten: Bagaimana laki-laki dalam cerita ini memandang perempuan. Perempuan hampir selalu hadir sebagai objek ketika dihadap-hadapkan dengan laki-laki. Pemosisian biner ini begitu kentara sejak linimasa paling awal cerita ini berjalan, ketika suami dari ibu Luh hanya menganggap istrinya sebagai penyeduh kopi untuknya di pagi hari. 

Dari situlah kekerasan atas tubuh perempuan bermula–setidaknya dalam kasus novel ini–hingga kemudian berujung pada peristiwa-peristiwa pemerkosaan yang tak kuasa saya hitung jumlahnya. Ini pula yang membuat saya tak nyaman ketika mencoba untuk sepenuhnya masuk dalam semesta cerita yang dihadirkan. Namun, perkara kekerasan ini tak berhenti pada wilayah fisikal saja. Terdapat satu kekerasan simbolik yang tertangkap menjelang akhir novel: Ketika Luri memotret Luh dan wajah Maryam juga masuk dalam bingkai, kekerasan lahir dalam bentuk yang lain. Tampak sepele, tetapi dari sini kita bisa tahu seberapa bahaya todongan kamera. 

Relasi kuasa bergeser di sini. Mulanya dominasi ada pada laki-laki, tetapi dengan hadirnya kamera subjek dominan adalah siapa pun di balik lensa. Entah laki-laki atau pun perempuan. Ironisnya antara subjek dan objek foto dalam sekuens ini keduanya adalah perempuan. Pada kondisi mula-mula, Maryam Luri tempatkan dalam satu relasi kuasa yang sempit. Tatapan personal macam ini barangkali tak punya dampak secara langsung kepada Maryam. Namun, ketika foto tersebut naik sebagai konsumsi massa, bocah itu harus tunduk di bawah rezim tatapan publik. Bahkan, entah ini lebih parah atau tidak, ia pun mesti bertekuk lutut di hadapan polisi karena foto tersebut. 

Menarik ketika mendapati potongan peristiwa macam ini dalam novel yang sarat akan relasi kuasa berbasis gender. Akhirnya saya tidak hanya meraba-raba ketika membicarakan kekerasan yang dialami perempuan-perempuan dalam Korpus Uterus. Sebab bagaimanapun, akan selalu ada celah bias yang muncul dan berpotensi untuk digoreng ketika laki-laki menulis tentang perempuan. 

Ikrar Izzul Haq adalah pembaca Korpus Uterus.

Editor: Putri Tariza

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *