Foto oleh Asief Abdi
Esai Budaya

Jemari yang Tak Lagi Cakap Menyentuh Dunia

Saya teringat mama.

Ketika diminta menulis esai tentang dampak teknologi terhadap karakter pada era digital sebagai syarat Beasiswa Unggulan 2025, sosok yang pertama hadir di benak saya justru bukan generasi muda, melainkan ibu saya. Tangannya yang dulu lincah di papan tulis dan lihai mengulek bumbu dapur, kini “gemetar” di layar gawai. Jemarinya seolah buta membaca zaman yang baru.

Bagi mama dan orang-orang seusianya, layar ponsel masa kini bagai dunia asing—penuh istilah, ikon, tautan, dan simbol yang tak mereka paham. Smartphone, bagi mereka hanya alat berkirim pesan teks, telepon, atau sarana video call dengan anak-cucu yang tinggal nun jauh di sana. Mereka tak akrab dengan fitur-fitur lain yang membuat benda itu disebut “pintar”. Kini, setelah beberapa lama mengenal ponsel pintar, mereka dipaksa belajar dari nol.

Kegagapan mama dalam “menjangkau” teknologi beragam rupanya. Mama pernah menyebarkan konten-konten lancung, ia pernah kehilangan saldo rekening lantaran terjebak phising, ia juga nyaris jadi korban penipuan daring usai menerima telepon dari orang tak dikenal yang mengatakan bahwa saya mengalami kecelakaan fatal dan butuh kiriman dana cepat. Dalam banyak hal, mama tampak seperti karakter Mamak Mertua dalam film Catatan Harian Menantu Sinting: lucu karena naif, tapi juga menyedihkan.

Kajian literatur mutakhir menyebut kondisi mama yang demikian sebagai “disabilitas tak kentara” (invisible disability) dalam lanskap teknologi digital—ketika keterbatasan seseorang dalam memahami sistem digital tak tampak secara fisik, tapi berdampak signifikan pada rasa percaya diri, kemandirian, dan kemampuan adaptasi. Generasi baby boomer seperti mama dibesarkan dengan karakter klasik seperti kerja keras, kesabaran, ketekunan. Namun, kini nilai-nilai tersebut diuji habis-habisan oleh dunia yang mengagungkan kecepatan dan respons real time.

Saya ingat satu peristiwa sederhana yang membuka mata saya mengenai keadaan tersebut. Suatu hari, mama dan papa hendak menyusul saya ke sebuah kota. Ketika saya memberitahu lokasi saya lewat fitur share location di WhatsApp, mama malah bertanya, “Ini di mana? Aku tidak tahu.” Baginya, peta digital hanyalah gambar bergerak yang tak menyentuh kenyataan. Waktu itu mama belum tahu kalau zaman sekarang lokasi bisa dibagi hanya dalam hitungan detik, transaksi bisa dilakukan dengan memindai kode, dan urusan perbankan pun kini bisa dilakukan secara elektronik tanpa kertas. Bahkan, ketika ia sakit dan tak ada seorang pun di rumah, saya bisa memesankan makanan untuknya dari Jakarta sementara ia berada di Probolinggo.

Ketika berbicara soal dampak teknologi terhadap karakter—utamanya karakter bangsa, terlalu sempit kalau selama ini kita hanya membahas generasi muda. Sebab, gegar budaya digital terjadi lintas usia. Ia bahkan lebih dirasakan generasi yang sebelumnya sudah punya karakter yang dibangun pengalaman analog—seperti mama dan saya. Teknologi tidak hanya menyusutkan dunia ke dalam genggaman, ia juga menyisakan kaum yang merasa terasing dari dunia yang pernah mereka kenal. Saya penasaran. Jika karakter dibentuk dari pergulatan kita dengan dunia, tatkala dunia berubah terlalu cepat, apakah karakter turut luruh atau terpaksa mesti disusun ulang?

Teknologi sebagai Percepatan
Pengalaman bersama mama menyadarkan saya bahwa teknologi memang tidak hadir seragam di kehidupan orang-orang. Bagi mama dan generasinya, ia bisa jadi sumber kebingungan—bahkan kecemasan. Namun, justru dari kontras inilah saya melihat wajah lain dari teknologi—bukan hanya sebagai tantangan, tapi juga peluang. Lebih-lebih bagi mereka yang tumbuh di atas layar sentuh.

Jika mama mengalami kegagapan karena dunia berubah terlalu cepat, maka anak-anak muda yang saya temui di ruang-ruang kelas Bahasa Indonesia yang saya ampu justru menjadikan perangkat digital sebagai bagian dari organ ekspresi mereka. Teknologi, dalam konteks ini, berfungsi sebagai akselerator karakter yang mempercepat penyaluran nilai-nilai seperti kreativitas, keberanian, dan empati.

Murid-murid saya menciptakan monolog visual yang merekam pengalaman batin mereka, membuat podcast reflektif tentang relasi dengan orang tua, atau menulis artikel tentang keresahan sosial di masa pandemi Covid-19. Di layar ponsel mereka, saya tak hanya melihat konsumsi, tapi juga produksi nilai. Teknologi, dalam tangan yang tepat, bisa menjelma kuas yang melukis kejujuran, rasa peduli, dan keautentikan diri.

Saya sendiri merasakan—juga memanfaatkan—teknologi sebagai wahana pengeras suara bagi narasi-narasi yang dimarginalkan atau dibungkam. Kisah dari pinggiran, yang dahulu tersekat jarak dan hierarki, kini menembus pusat melalui media digital. Inilah wajah teknologi yang membebaskan, yang memungkinkan pembentukan karakter berdasarkan keberpihakan sosial, kepedulian akan ketimpangan, dan kesadaran identitas.

Fenomena tersebut selaras dengan pandangan Jenkins (2006) tentang participatory culture, yakni sebuah budaya digital di mana pengguna tidak hanya menjadi penonton pasif, tapi juga turut serta mencipta, mendistribusi, dan memberi makna atas konten. Di sinilah teknologi digital menciptakan ruang partisipasi yang memperkuat otonomi individu dalam berekspresi, sekaligus memperkokoh karakter sebagai sesuatu yang dibentuk melalui aksi sosial.

Namun, sebagaimana diingatkan oleh Neil Postman (1993), setiap teknologi adalah mitologi —ia membawa pesan, nilai, dan ideologinya sendiri. Mitologi dari jagat maya adalah percepatan, keterputusan, dan pencitraan. Pada zaman yang bergulir kencang ini, kita tetap harus bertanya: apa yang tertinggal dalam setiap lompatan?

Karena itu, dalam melihat potensi teknologi terhadap karakter, kita tidak bisa menihilkan konteks. Jika mama merasa tercabut dari dunia yang ia kenal, maka generasi muda kita berisiko kehilangan akarnya dalam dunia yang terus mempercepat segalanya. Maka, tugas para pendidik, orang tua, dan warga digital adalah merawat koneksi antara kecepatan dengan kedalaman, antara teknologi dengan nilai, antara inovasi dengan kepekaan.

Karakter di Tengah Disrupsi
Meski berbeda, murid-murid saya menghadapi tantangan yang tak kalah pelik dari mama. Dunia mereka kelas menyentuh pengertian final, tapi terlalu dangkal untuk bisa mengendap. Mereka tak takut dengan tombol atau fitur, tapi justru kehilangan ruang untuk melambat dan menyimak.

Kita hidup di zaman ketika bujari lebih aktif ketimbang rasio. Scrolling menjadi aktivitas harian yang nyaris tak disadari, yang secara perlahan membentuk pola pikir dan cara merasa. Dalam dunia yang diatur algoritma dan notifikasi, salah satu tantangan terbesar dalam pembentukan karakter adalah fragmentasi perhatian.

Karakter sejati dibentuk oleh proses yang lambat dan mendalam—pengendapan nilai, pembiasaan reflektif, dan ketekunan menghadapi ketidakpastian. Ketika hidup digerakkan oleh kecepatan swipe dan tradisi klik, serta budaya gunting tempel pada layar ChatGPT, maka karakter menjadi serpih-serpih yang sulit dijahit kembali. Proses internalisasi nilai tergantikan oleh reaksi instan dan refleksi tergantikan oleh repetisi.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Sherry Turkle (2011), dalam bukunya Alone Together, mencatat bagaimana teknologi digital menciptakan ilusi kedekatan, padahal justru menjauhkan kita dari hubungan yang autentik dan mendalam dengan sesama. Kita terhubung secara konstan sekaligus merasa kesepian dalam hening yang tak pernah dijalani. Relasi menjadi transaksi perhatian, bukan perjumpaan batin.

Walau begitu, dalam riset saya, teknologi justru membuka kemungkinan baru bagi kelompok tertentu. Saya mencermati bagaimana para lansia di kota megapolitan seperti Jakarta malah merasakan peningkatan daya hidup melalui medium digital. Bagi mereka, saat pertemuan fisik sering kali melelahkan, teknologi menghadirkan jalan pintas untuk tetap menjalin komunikasi, mengakses hiburan, hingga mempererat hubungan dengan kawan atau keluarga yang berjauhan tanpa harus merasa capek. Di sini, teknologi bukan pengganti, melainkan penopang—terutama bagi tubuh yang tak lagi kuat untuk sekadar melangkah ke luar rumah.

Di ruang kelas, saya menjumpai lanskap yang sangat berbeda. Murid-murid saya, yang cerdas, ekspresif, dan kreatif, justru cenderung mengalami kesulitan kala diminta mendalami teks sastra panjang. Mereka terbiasa dengan potongan video berdurasi enam puluh detik dan takarir instan. Bagi mereka, keindahan bukan lagi sesuatu yang harus dikejar dan direnungkan, melainkan cukup di-scroll dan like

Sebagaimana telah saya urai sebelumnya, karakter macam kesabaran, ketekunan, daya tahan terhadap kebosanan, dan kemampuan mendengar dengan sungguh-sungguh kian langka. Fenomena ini tidak terjadi dalam ruang hampa, tapi berkelindan bersama dampak teknologi digital yang membentuk karakter generasi muda menjadi serba instan dan reaktif. Dalam lanskap ini, empati menjadi barang mahal, terlebih bagi orang-orang macam mama, yang menghadapi disabilitas tak kentara.

Saya mendengar banyak cerita serupa dari para lansia yang tinggal bersama anak-cucu mereka dan tetap mengalami kegagapan digital. Ironisnya, kepekaan untuk membimbing generasi tua agar lebih melek teknologi masih acap dianggap sepele—padahal justru di situlah letak persoalan karakter yang mendesak: apakah kita mampu hadir dan sabar dalam mendampingi mereka yang tertinggal oleh laju arus teknologi?

Ruang Ekspresi yang Rentan
Jagat digital mampu memberi ruang ekspresi tanpa batas bagi siapa pun. Bagi generasi tua, ekspresi di media sosial lebih berfungsi untuk nostalgia dan sarana informasi kepada teman sebaya akan kondisi hidup terbaru mereka. Sementara itu, media sosial perlahan-lahan mengubah cara anak-anak muda memandang diri. 

Generasi muda masa kini kerap terdorong untuk menampilkan versi terbaik diri di zona digital. Demi membangun citra tertentu, mereka menciptakan akun sekunder tempat di mana ekspresi lebih leluasa ditampilkan tanpa beban bagi citra utama. Jika generasi milenial masih menyunting foto menggunakan filter estetik, maka Generasi Alpha macam para siswa SMA yang saya ajar lebih memilih tidak menampilkan wajah mereka sama sekali. Identitas visual mereka disamarkan melalui foto blur, potret dari belakang, atau bagian-bagian tertentu seperti sepatu, lengan seragam, serta siluet kepala.

Fitur-fitur temporer seperti story yang hilang dalam 24 jam, atau fungsi archive yang menyembunyikan unggahan dari tampilan utama tanpa benar-benar menghapusnya, menjadi pilihan ekspresi yang mencerminkan ambivalensi. Di satu sisi mereka ingin dilihat dan dikenali, sementara di sisi lain mereka khawatir akan jejak digital. Unggahan kutipan bijak, senyum yang telah dilatih, serta fragmen kebahagiaan yang dikurasi secara selektif menjadi simbol dari paradoks: kebebasan berekspresi yang justru dibingkai sensor diri dan kecemasan akan citra.

Dalam konteks inilah, pemikiran Baudrillard (1994) tentang dunia simulakra menjadi relevan—yakni ketika representasi lebih penting daripada realitas, dan citra menggantikan makna. Like dan view tak lagi sekadar interaksi maya, tapi juga tolok ukur eksistensi. Kalau dahulu perhatian merupakan wujud kasih sayang, kini ia menjadi komoditas yang diperebutkan. Di balik layar sentuh, Generasi Alpha hidup dalam dunia yang kian cair antara yang asli dan yang artifisial.

Ironisnya, kegandrungan untuk tampil justru menyingkirkan momen-momen paling orisinal dalam pembentukan karakter: keheningan, kegagalan, dan kesendirian—Karakter sejati yang lahir dari ruang yang tak disaksikan siapa-siapa. Merujuk kepada Likona (1991) bahwa karakter sejati tidak hanya mencakup mengetahui kebaikan, tapi juga menginginkan kebaikan dan melakukan hal yang baik. Tatkala keheningan digantikan dering notifikasi dan kegagalan disembunyikan dalam ruang berkas, maka pertanyaannya adalah: Masihkah kita memberi ruang bagi karakter untuk tumbuh?

Saya kembali teringat mama. Di usianya yang memasuki kepala tujuh, pengalaman bersamanya menuntun saya pada satu pelajaran penting: kerapuhan karakter tak hanya dialami para remaja dan murid-murid saya, tapi juga saya sendiri. Dalam lanskap digital yang gaduh, berapa pun usia seseorang, barangkali kita semua tengah mencari tempat untuk menjejak. Sebab, karakter adalah bekal yang tak bisa di-download.

Oleh karena itu, membangun karakter pada masa kini bukan sekadar tugas moral, melainkan juga praktik kultural dan neurologis. Yakni tentang bagaimana kita memastikan diri bersama orang lain di sekitar—terutama mereka yang mengalami disabilitas tak kentara dan orang muda yang masih butuh pendampingan literasi digital.

Efek teknologi terhadap karakter bukan melulu soal hitam dan putih. Lebih dalam dari itu, ia menyangkut bagaimana kita merespons arus perubahan yang deras dan tak mesti manusiawi. Karakter, seperti iman atau kasih, tidak datang begitu saja dari langit; ia dibentuk oleh pilihan-pilihan sadar—opsi untuk tetap menjadi manusia utuh di tengah dunia yang kian dikuasai mesin dan simulasi.

Saya, seperti ajaran mentor penulisan lakon saya, Joned Suryatmoko, memilih untuk menjadikan teknologi bukan sebagai jurang pemisah, melainkan sebagai jembatan yang memungkinkan saya memahami lebih banyak suara, lebih banyak kisah, dan lebih banyak luka. Teknologi, jika dimaknai secara reflektif, bisa jadi medium untuk memperluas empati—bukan menyempitkan kepekaan.

Di dunia yang semakin riuh oleh notifikasi dan serbuan citra, kita masih bisa memilih untuk hadir sepenuhnya. Mama mengajarkan saya untuk selalu mendengar dengan hati dan menatap lawan saat berbicara. Baginya, kehadiran bukan soal berada di tempat yang sama, melainkan hati yang tulus nan utuh. Saya percaya, di balik layar gawai yang kita sentuh saban hari, kebijaksanaan masih bersemayam—asal kita sudi berhenti sejenak dan benar-benar menyimak.


Stebby Julionatan adalah penulis, pengajar, dan bergiat di Alinea.

Editor: Asief Abdi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *