Sekitar abad ke-17 di Peru sana, sebelum ilmuwan memahami fenomena cuaca secara epistemik, nelayan-nelayan melalui pengalaman empirisnya mempersonifikasikan arus hangat yang kerap terjadi ketika Desember jelang Natal tiba sebagai el niño de navidad, yang artinya “bayi Kristus/bayi Natal”.
Barangkali penamaan itu dilatarbelakangi oleh kejadiannya yang berlangsung menjelang perayaan Natal, atau malah merupakan metafora akan kehangatan kasih Kristus Sang Juru Selamat. Padahal, sebaliknya, arus ini secara signifikan berkontribusi pada penurunan suplai bahan organik di perairan yang berimbas pada turunnya hasil tangkapan ikan ketika musim itu melanda.
Tak dinyana, agaknya arus ini jua lah yang turut memengaruhi kemalangan Santiago dalam The Old Man and the Sea-nya Ernest Hemingway. Diombang-ambingkan selama tiga hari tiga malam melawan ikan marlin—belum lagi durasi kemalangan hasil tangkapan nihil selama hampir tiga bulan lamanya membuatnya menjadi laki-laki paling nestapa seantero Havana.
Peristiwa ini cukup lama dianggap sebagai fenomena lokal hingga kemudian pada awal abad ke-20 seorang meteorolog Inggris bernama Sir Gilbert Walker mempelajari perubahan tekanan udara di berbagai wilayah dunia. Hasilnya, ia menemukan adanya pola perubahan tekanan antara wilayah Pasifik dan kawasan Indo-Australia yang disebutnya Southern Oscillation.
Secara sederhana, Southern Oscillation dapat diartikan bahwajikatekanan udara di satu wilayah naik, maka wilayah lain akan mengalami penurunan tekanan udara. Penemuan Walker ini juga lah yang menjadi pijakan bagi meteorolog Norwegia-Amerika, Jacob Bjerknes.
Sekitar 1960-an, Bjerknes mencoba menghubungkan fenomena cuaca ini dengan el niño, di mana pemanasan laut dan perubahan atmosfer bukanlah dua fenomena yang berdiri sendiri, melainkan saling terkait. Maka, dalam artian sempit, arus hangat pada perairan juga dipengaruhi perubahan atmosfer.
Dengan demikian, el niño dapat disimpulkan sebagai fenomena iklim global—merupakan bagian dari siklus iklim skala besar bernama ENSO (El Niño-Southern Oscillation)—bukan sekadar kejadian cuaca harian sebagaimana keyakinan orang-orang pada dulunya. Dengan adanya el niño ini, beberapa wilayah akan mengalami kekeringan, tidak terkecuali Indonesia.
Lantas, pertanyaannya, jika kemarau, kenapa di Sumatra masih saja banjir? Apakah benar bahwa banjir dan cuaca yang panas berdengkang belakangan ini salah el niño?
Untuk menjawab itu, pertama, perlu ditegaskan bahwa faktor iklim dan cuaca ini bukanlah hubungan sebab-akibat yang linier, melainkan dampak paralel, bahkan bisa saja efek kupu-kupu akibat satu tindakan kecil—tanda tangan, misalnya.
Kedua, kita perlu meluruskan terlebih dahulu mitos bahwa tidak ada badai puting beliung di Sumatra. Faktanya, meskipun Samudra Hindia berada tak jauh dari khatulistiwa, bukan berarti tidak terjadi pusaran akibat gaya coriolis yang bernilai nol di wilayah khatulistiwa. Nyatanya, pada jarak lima hingga sepuluh derajat dari khatulistiwa, gaya coriolis sudah cukup kuat untuk memicu pusaran (vorteks) yang kemudian menarik uap air melimpah secara lokal, menyulut ledakan hujan ekstrem berdurasi singkat.
Ketiga dan seterusnya, di Sumatra, sejatinya hujan dan hutan memiliki hubungan yang sangat intim. Seharusnya hujan lebat bukanlah masalah, mengingat Sumatra merupakan daerah yang konturnya sangat ideal untuk aliran air permukaan (run-off) dan salah satu kawasan hutan hujan tropis terluas di Indonesia. Namun, bagaimana jika daya serap tanah di Sumatra telah menurun drastis akibat alih fungsi lahan dan kerusakan daerah tangkapan air (catchment area) yang masif dalam kurun beberapa dekade belakangan?
Maka, bisa dipastikan ketika hujan lokal berintensitas tinggi terjadi, air hujan tidak lagi sempat meresap ke dalam tanah, tapi meluncur sangat cepat dan menumpuk, menggenang, berubah menjadi mimpi buruk bagi semua orang.
Dampaknya bukan main. Korban materi dan jiwa di mana-mana serta kerugian yang tak terhitung jumlahnya. Bahkan, hingga saat ini penanganan banjir masih belum bisa dikatakan pulih seratus persen. Di Aceh, misalnya, mayoritas masyarakat terdampak banjir masih menempati hunian sementara. Di Padang, baru-baru ini juga banjir kembali merendam hampir separuh kota.
Di tengah ketidakberdayaan itu, sering kali, alih-alih mengusut akar permasalahan dan mencari solusi, yang kita lakukan cenderung mengobati—atau menghibur—diri dengan memandang bencana sebagai ujian dari Tuhan. Alhasil, kita seolah-olah meromantisasi banjir itu sendiri, menunjukkan betapa tidak berdayanya kita sebagai manusia di hadapan alam, di hadapan Tuhan.
Kontemplasi-kontemplasi tanpa solusi yang pasti pun dimulai. Kita diminta banyak merenung, banyak berdoa, dan tentu saja berusaha (sendiri). Di tengah-tengah itu semua, kesadaran paling penting adalah bahwa Tuhan menciptakan surga bagi hamba-Nya yang bertakwa. Banjir seakan-akan menjadi satu cara untuk melihat kelayakan kita menerima tiket ke surga. Atau, bisa juga Tuhan memang sengaja mencuci dosa-dosa kita yang kotor agar kembali suci ketika bertemu kembali dengan-Nya kelak. Jadilah kita sebagai makhluk papa nan nista yang perlahan mulai merenungkan kembali tujuan hidup di dunia ini.
Padahal, bukan tanpa alasan sebenarnya kenapa kisah-kisah banjir kerap hadir dalam peradaban apa pun. Seakan-akan, tanpa banjir, ajaran atau pun peradaban tidak bisa dilegitimasi—atau dikatakan sebagai peradaban muda—karena di kemudian hari, melalui penemuan arkeologis, bukti-bukti menunjukkan bahwa beberapa puncak bukit dan cadas dahulunya pernah menjadi dasar laut yang terendam entah tahun berapa—pastinya purba sekali.
Ia (banjir) kemudian dihadirkan dalam kisah-kisah yang sama tuanya dengan bukti arkeologis itu sendiri. Namun, ketimbang ujian, banjir dalam kisah kuno dihadirkan sebagai alegori atas hukuman bagi umat manusia. Sebut saja bagaimana Tuhan menghukum manusia dan keluarga Nuh—menyisakan sedikit manusia, hewan, serta tumbuhan untuk membentuk peradaban baru.
Atau bagaimana Zeus menghukum manusia melalui kisah banjir Deucalion dalam mitologi Yunani. Juga, bagaimana Aru dan Enlil berkonspirasi untuk menenggelamkan manusia yang berisik dan berbuat kerusakan melalui banjir bandang dalam wiracarita Gilgamesh. Sama sekali tidak ada romantis-romantisnya.
Dari banyak cerita purba tentang banjir, saya paling suka cerita dari Tiongkok. Berbeda dengan yang lainnya yang menceritakan penghukuman dan pembentukan kehidupan yang baru pascakehancuran kehidupan lama, cerita yang berlatar sekitar tahun 2200-an SM itu justru menonjolkan bagaimana akhirnya manusia mampu hidup harmonis dengan air itu sendiri.
Adalah Kaisar Yao, salah seorang dari Tiga Maharaja dan Lima Kaisar yang melegenda di Tiongkok sana. Ia mewartakan bagaimana semasanya menjabat, banjir mengisi ceruk-ceruk bumi hingga menguasai dan mengusir berbagai jenis makhluk hidup. Tak ada yang aman dari luapan air, mulai dari utara hingga selatan, seluruh Lembah Kuning dan Lembah Yangtze habis terendam.
“… bagaikan air mendidih tanpa henti, banjir menuangkan kehancuran. Tanpa batas dan berlimpah-limpah, (banjir) lebih tinggi dari bukit-bukit dan gunung-gunung. (Banjir) Bertambah tinggi dan terus bertambah tinggi, bahkan mengancam surga. (Demikianlah) Bagaimana masyarakat mengerang dan menderita!”—Kaisar Yao.
Yao mengutus Empat Gunung, penasihatnya yang termahsyur, untuk memberikan masukan perihal penanganan hal ini. Empat Gunung menyarankan kaisar untuk menunjuk Gun, Pangeran dari Chong, untuk mengatasi hal tersebut.
Gun menyanggupi hal itu. Selama sembilan tahun ia berupaya menanggulangi banjir dengan membuat tanah urug, membendung, membuat tanggul menggunakan xirang, tanah dewa yang dapat menambah volumenya sendiri. Awalnya berhasil. Banjir dapat dibendung. Rakyat bersorak untuknya.
Namun, bukan dewa namanya jika tidak marah atas kesombongan dan kecurangan. Shangdi, sang Kaisar Langit, mengamuk dan mengirimi hujan yang membabi-buta hingga menjebol tanggul-tanggul yang dibangun oleh Gun dan menyebabkan kerugian yang lebih besar.
Gun yang gagal kemudian dihukum mati oleh Shun, pengganti Kaisar Yao. Dari tubuh Gun, lahirlah Yu. Berbeda dengan Gun yang mencoba menahan, Yu justru mempelajari mekanisme air mengalir dan mencoba merekayasa alirannya.
Ia tidak membangun tanggul. Ia tidak membendung. Air dibiarkannya mengalir. Bahkan, Yu memperbaiki kondisi hidrologis dengan revitalisasi sungai dan memperbanyak kanal.
Tiga belas tahun lamanya Yu berjuang mencoba mengintimasi hubungan manusia-alam itu. Dalam kurun tersebut, Yu berkelana dari satu wilayah ke wilayah lain, mempelajari kondisi geografis demi menemukan jalan agar aliran air lancar. Selama itu, menurut catatan yang dikisahkan, meski tiga kali melewati rumahnya, tidak satu kali pun Yu mampir bahkan hanya untuk mengucap salam.
Pada lintasan pertama, istrinya baru saja melahirkan. Kemudian ketika anaknya sudah bisa berjalan, Yu juga lewat di depan rumahnya. Terakhir, ia melintas ketika sang anak telah mampu memanggil nama ayahnya.
Pengorbanannya berbuah manis. Air yang tadinya tergenang mulai menemukan jalannya ke laut. Banjir mulai surut. Yu yang berhasil mengendalikan banjir kemudian dianugerahi gelar kehormatan menjadi Da Yu, atau Yu Agung. Tak tanggung-tanggung, sepeninggal Kaisar Shun, Yu diangkat menjadi kaisar dan mengawali era Dinasti Xia.
Hal yang menarik dari kisah Gun-Yu—meskipun bercampur antara mitos dan sejarah, seperti bagaimana Yu terlahir dari tubuh Gun, atau Yu yang dibantu naga dan kura-kura suci, dan lain sebagainya—satu hal yang patut diamati adalah integritas dari Gun-Yu—keduanya terus melangkah walau mesti meninggalkan anak-istri dan dihukum mati kaisar.
Saya tidak mampu membayangkan andai ketika banjir terjadi, alih-alih berusaha menanggulangi bencana, Gun-Yu justru memanfaatkan segala sumber dayanya untuk memberikan laporan palsu kepada Kaisar.
Perkara rakyat protes, gampang saja. Ia tinggal mencitrakan diri sebagai pejabat yang peduli kepada rakyat dengan memanggul sekarung kecil gandum dan tersenyum ramah sambil mengucapkan salam kepada penduduk terdampak. Atau Empat Gunung yang bertugas sebagai penasihat turut datang meninjau, mengenakan zirah besi, seakan-akan ingin berkata, “Ini banjir. Dan banjir sangat berbahaya.”
Untungnya, Yao, Shun, Gun dan juga Yu tidak demikian. Bahkan untuk berhasil mengendalikan banjir itu, dibutuhkan 22 tahun bagi mereka.
Lalu, pertanyaannya, dengan sumber daya kita, berapa tahunkah Sumatra mampu mengatasi banjir?
Tidak ada yang bisa menjawab. Bahkan ini bukan pertanyaan yang bisa dijawab oleh rumput yang bergoyang sekalipun.
Pertanyaan berikutnya, siapkah kita jika el niño datang lagi?
Entah tahun depan, atau dua tahun lagi. Entah itu el niño godzilla atau nama yang lebih seram lagi, ia pasti kembali menyambangi. Tinggal tunggu saja nelayan Peru itu berkata, “Yo viendo el niño de navidad (saya melihat bayi Kristus itu).”
Sialnya, barangkali oleh telinga Indonesia kita yang agak tuli, kalimat tersebut berpotensi mengalami mondegreen dan lebih terdengar seperti “Yovie and the Nuno”.
Salahkah? Tentu tidak! Ini bukan salah Yovie and the Nuno.
Bahkan mungkin saja mereka lah solusi untuk mengurangi keresahan kita selama ini. Bak kata Decimus Junius Juvenalis, yang kita, rakyat, butuhkan hanyalah panem et circenses (roti dan pertunjukan)—sembari menunggu negeri ini tenggelam bak Atlantis. Sebab, kata Plato, sesungguhnya Atlantis sudah runtuh sebelum pulaunya tenggelam.
W.S. Djambak adalah penulis puisi dan prosa.
Editor: Asief Abdi
Foto: Asief Abdi


