Tak ada yang lebih menyakitkan daripada rasa kehilangan. Lenyapnya sesuatu yang berarti tentu meninggalkan lubang di hati—tak peduli seberapa lama sang waktu berlalu. Akan tetapi, semenyakitkan apa pun, ia mesti dihadapi dengan hati lapang. Sayangnya, beberapa orang, alih-alih melangkah maju dan melanjutkan hidup, malah berhenti di masa lalu dan terus menyangkal kenyataan yang tak terelakkan.
Yoshie Suzuki, seorang ibu muda, tenggelam dalam duka pascakematian putri kecilnya, Mai. Bocah malang itu tewas sewaktu main petak umpet di rumahnya sendiri. Padahal, sebelum keluar rumah sang ibu sudah memastikan bak mandinya kosong agar anak-anak tak tenggelam selama ia belanja di minimarket dekat tempat dia tinggal. Nahas, sang anak malah sembunyi di dalam mesin cuci rusak dan terjebak hingga kehabisan oksigen.
Demikian adegan pembuka sebuah film horor Jepang, Doll House (2025). Sang ibu yang larut dalam kalut dan penyesalan nyaris tak punya semangat hidup lagi. Usai tragedi yang menimpa anak semata wayangnya, ia sering melamun dan sulit fokus. Hingga suatu hari, sebuah boneka antik di pasar loak mengembalikan sinar di matanya dan membangkitkan kembali minatnya terhadap hidup. Sayangnya, benda berwujud bocah perempuan itu bukan boneka biasa—sesuatu yang gelap dan jahat bersemayam di dalamnya.
Sebenarnya, Yoshie hanya ingin menjaga kenangan akan mendiang sang anak. Merawat memori, lebih-lebih akan orang terkasih, sebenarnya merupakan naluri alami manusia. Kita, misalnya, masih menyimpan barang-barang warisan—juga hadiah peninggalan mantan, kadang-kadang. Kebanyakan orang tidak bisa tidak merasakan kehadiran si empunya barang tatkala berhadapan dengan benda macam itu.
Akan tetapi, yang dilakukan Yoshie agaknya lebih dari sekadar merawat ingatan—ia menginginkan lebih. Altar kecil dengan potret mendiang putrinya tak cukup membuat dirinya lega. Bagi dia, kenangan tak cukup berputar-putar di kepala. Alih-alih, ia mesti mewujud dalam sebuah tubuh konkret. Ia kudu hadir dalam jangkau pancaindra dan menjadi representasi mendiang. Begitulah si boneka antik, selain jadi medium bagi kenangan agar tetap hidup, juga seolah-olah reinkarnasi orang mati.
Film tersebut menghadirkan teror yang mencekam. Lebih jauh, ia menunjukkan bagaimana seorang manusia bisa gagal menghadapi penderitaan sebagai mekanisme alami bagi batin untuk bertumbuh. Roh jahat yang menghantui keluarga Yoshie dapat dibaca sebagai metafora dari kondisi yang dapat muncul dari jiwa yang terbelah.
Apa yang dilakukan sang ibu jelas bukan penerimaan—ia lebih menyerupai bentuk penyangkalan. Kesadaran dalam jiwa Yoshie menolak untuk menyambut kematian putrinya sebagai sebentuk kehilangan yang mau tidak mau mesti direlakan. Maka, dari kacamata psikologi Jungian, permasalahannya tak melulu bercokol dalam duka dan kenangan, tapi juga ego yang keras kepala. Kecenderungan tersebut dapat mengganggu keseimbangan batin seseorang.
Dalam psikologi analitik, mental yang matang hanya dapat dicapai tatkala dua dorongan internal yang kuat, yakni Diri (Self) dan ego, jalin-kelindan secara harmonis. Ego berasal dari pikiran sadar, sementara Diri bersemayam jauh di alam bawah sadar. Sang Diri, yang merupakan aspek psike yang lebih luas, juga disebut-sebut Carl Jung sebagai “Manusia Agung”—sesuatu yang menuntun seseorang menemukan jalan mencapai status batiniah yang penuh seluruh. Sayangnya, bisikan sang Manusia Agung sering kali lirih dan samar dibandingkan desakan ego lebih lantang, kuat, dan impulsif.
Horor yang ditampilkan dalam film tersebut bisa ditafsir sebagai petaka yang muncul akibat kegagalan seseorang membentuk keutuhan mental. Dari fenomena depresi parah sampai kondisi gagal move on yang payah, semua jenis kompleks kehilangan dilatari ego yang berontak dan menolak kalah. Padahal, penderitaan mestinya jadi medium bagi sang Diri untuk muncul ke permukaan dan membawa seseorang ke tingkat batin yang utuh nan matang.
Sayangnya, alam bawah sadar, tempat sang Manusia Agung bersemayam, begitu dalam dan kelam. Sampai-sampai kita pun nyaris tak merasakan keberadaannya. Dibutuhkan kepekaan batin untuk menangkap suaranya yang lirih dari kedalaman psike. Pesan untuk mendengar bisikan sang Diri sebenarnya acap kita dengar tapi tak kita sadari. Para musisi, misalnya, acap menyisipkan refleksi macam itu dalam syair lagu mereka, baik secara tersirat maupun tersurat.
Grup musik lawas asal Swedia, Roxette, menuturkannya secara gamblang dalam lagu “Listen to Your Heart”: And there are voices. That want to be heard. Ada suara yang ingin didengar—yakni suara sang Diri. Namun, rupanya mendengar bisikan batin itu tak mudah. Sebagaimana dilanjutkan lagu tersebut: So much to mention. But you can’t find the words—mengisyaratkan alam sadar, ego, yang sulit memahami dorongan terdalam Diri. Padahal, hanya ketika ego sanggup memahami bahasa Diri, seorang manusia akan menjadi lebih utuh.
Dalam kompleks kehilangan, ego kerap sulit menerima kepergian seseorang. Kekuatannya membabi buta, riuh, dan mendominasi. Begitulah orang acap bertanya: mengapa? Ia merasa jalan menuju cita-citanya terhalang dan melimpahkan kesalahan pada sesuatu yang, biasanya, bersifat eksternal. Alhasil, suara lirih sang Diri kian tenggelam dan jauh dari jangkauan nalar. Oleh karena itu, sang Manusia Agung mesti menempuh cara lain agar sabdanya bisa didengar dan dipahami—suatu jalan yang sunyi dan misterius.
Dalam menyampaikan pesannya, sang Diri acap berbicara lewat mimpi. Semakin kita sadar akan pola dan makna yang muncul darinya, kian mudah kita memahami apa maunya. Yoshie akhirnya menyadari petaka yang mengincar diri dan keluarganya begitu mimpi buruk mulai menghantui. Dalam tidurnya, sesuatu seolah-olah memberitahu dia bahwa boneka jahanam itu bakal mendatangkan nasib sial. Sayangnya, begitu ia sadar semua sudah terlambat.
Apa yang menimpa keluarga Yoshie bisa juga terjadi dalam hidup sehari-hari kita atau orang-orang terdekat. Lebih-lebih, di era rasio macam sekarang, gagasan dengarkan kata hati kian terasa absurd dan lemah. Ia dianggap tak masuk akal dan tidak lagi relevan dalam masyarakat yang memuja logika. Alhasil, banyak orang bertindak atas dorongan ego yang meledak-ledak sampai berujung sesal yang terlambat. Padahal, sesuatu bisa masuk akal tanpa harus menjadi rasional—ketika ia sesuai dengan kehendak sang Diri sejati.
Banyak yang berpikir kalau pencapaian paling tinggi seorang manusia adalah mewujudkan setiap keinginan dalam dirinya. Ego mengendalikan kehendak sadar kita untuk memaksimalkan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup. Namun, cara pikir utilitarian macam itu bisa-bisa malah menghambat tumbuhnya kepribadian. Sama seperti Yoshie yang memilih boneka sebagai pengganti putrinya agar tetap bahagia, ketimbang sikap legawa melepas sang mendiang. Orang kerap lupa kalau pencapaian tertinggi seorang manusia hanyalah sesederhana memenuhi takdirnya.
Akan tetapi, kendati melangkah selaras dengan lintasan nasib terdengar sederhana, ia sebenarnya tidak demikian. Jalur setapak itu acap kabur dan tak jelas juntrungannya. Tanpa situasi batin yang mantap, seseorang rawan tergelincir dan tersesat di tengah jalan.
Oleh karena itu, dalam lika-liku hidup, jiwa kita senantiasa diuji—apakah ia akan mencapai keutuhan yang matang dan membawa kita selaras dengan suratan takdir atau malah terpecah belah dan membuat kita gila. Akankah kita bisa bertindak sesuai suara bijak sang Diri atau sekadar jadi boneka yang dikendalikan ego belaka.
Asief Abdi adalah seorang naturalis dan penulis buku Hikayat Mitobotani (2025).
______________________________________________________________________________________________________
Editor: Putri Tariza
Foto oleh Putri Tariza


