“History repeats itself, the first as tragedy, then as farce.”
—Karl Marx, Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte.
Sejak duduk di bangku sekolah dasar, menengah, bahkan hingga perkuliahan, mayoritas penghuni kelas—termasuk saya sendiri—mengaku sering mengantuk saat mata pelajaran sejarah. Kami sepakat, guru/dosen mengajar layaknya sedang berkhotbah. Sejarah disampaikan secara satu arah oleh “si paling tahu” dan murid—mau tidak mau—menyerap segunung informasi tanpa mereka tahu apa gunanya.
Cara belajar yang membosankan seperti demikian akan selalu membuat sejarah hanya penting bagi segelintir manusia. Di luar yang segelintir itu, mereka akan buta soal asal-usul tanah air, negara, budaya, sampai siapa diri mereka sebenarnya.
Namun, entah roh kolonial mana yang merasuki, saya merasa ketagihan dengan sejarah penjajahan Belanda di Sumatra Barat ketika baru membaca seperempat novel Leiden: 2020-1920 (GPU, 2025) karya Hasbunallah Haris, novel yang manuskripnya lebih dulu memenangkan juara 2 Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2023. Butuh kesabaran selama dua tahun untuk mencicipi karya apik ini. Selama itu juga saya seperti anak kerbau yang dipaksa puasa sekian lama. Lalu ketika dilepas, langsung menyambar susu induknya. Namun, saya rasa Leiden: 2020-1920 sengaja terlambat karena “bintang selalu datang terakhir”.
Agaknya, Hasbunallah Haris sebagai penulis punya trik jitu supaya menikmati sejarah seenak makan mi instan di kala hujan. Maka, saya akan meresensi novel ini seperti makan mi instan juga.
Bagian Nagihnya
Tokoh Syamil, seorang mahasiswa sejarah, akan membawa pembaca berpetualang memecahkan teka-teki potongan catatan harian kuno yang ditulis pada 1919. Catatan harian itu merupakan peninggalan seorang mantan tentara Belanda bernama Alex van der Meer. Isinya mulai dari kedatangannya ke Hindia Belanda sampai mengerucut ke lokasi harta karun hasil korupsi Letnan Hendriks.
Novel setebal 550 halaman ini dibagi menjadi tiga babak. Babak pembuka menceritakan perjumpaan pertama Syamil dengan Kasman dan Maryati, sebuah pertemuan yang sejak awal diselimuti rahasia. Dari merekalah Syamil bersentuhan dengan sebuah manuskrip karya Alex van der Meer yang memuat laporan perjalanan dan misi-misi rahasia di masa Hindia Belanda, termasuk petunjuk tentang lokasi penyimpanan kekayaan kolonial. Proses menelusuri naskah ini menyeret Syamil ke rangkaian peristiwa tak terduga, sampai akhirnya ia dan Maryati harus terbang ke Leiden demi menemukan bagian lanjutan catatan tersebut. Di kota itu, jejak Alex bersinggungan dengan Eddie, sahabat lama Maryati yang juga menekuni riset serupa. Dari sinilah Syamil tanpa sengaja menemukan fragmen manuskrip kuno lain yang memberi isyarat tentang keberadaan negeri bernama Ambas.
Pada babak kedua, mereka kembali ke Padang untuk meneruskan penelusuran jejak harta karun. Namun, upaya tersebut perlahan bergeser menjadi pencarian atas negeri Ambas yang penuh teka-teki. Sedangkan babak ketiga mengisahkan kepulangan Syamil dan kawan-kawan dari ekspedisi ke negeri Ambas yang mengubah banyak hal. Situasi yang mereka hadapi tak lagi sama seperti sebelumnya, sampai pertarungan di Kerkhof Sawahlunto.
Novel ini punya daya pikat dari segi cerita yang kuat dan pilihan gaya bahasa yang sengaja dibuat ringan. Hasbunallah Haris menulis dengan bahasa yang mengalir dan mudah dicerna, seolah ingin memastikan pembaca tidak perlu mengerutkan dahi seperti membaca ensiklopedia sejarah. Ada upaya menjadikan sejarah sebagai sesuatu yang menyenangkan untuk dipelajari, bukan beban yang harus ditanggung. Leiden: 2020–1920 juga mampu menjaga rasa penasaran pembaca dan mendorong mereka terus mengikuti petualangan yang ditawarkan hingga halaman terakhir.
Meski demikian, akan tidak adil jika novel ini hanya dibaca dari sisi gurih dan kelebihannya. Tak ada gading yang tak retak.
Keganjilan pertama muncul dari motivasi Syamil pada awal cerita. Ketertarikannya pada sejarah memang menjadi alasan utama ia terlibat, tetapi alasan itu terasa terlalu tipis untuk menyeretnya sejauh itu. Bayangkan, seorang pemuda yang baru saja berkenalan dengan orang asing di dalam bus antarkota, lalu tanpa banyak curiga memenuhi undangan ke suatu tempat terpencil di Pantai Gandoriah, Pariaman. Tak lama kemudian, situasi mendadak berubah jadi adegan tembak-menembak. Dalam logika saya, ini bukan petualangan, melainkan tanda bahaya. Akan tetapi, Syamil tetap melangkah seolah semuanya wajar dan patut diikuti. Semua bak dibenarkan oleh “jiwa petualang yang membara di dalam dada”. Keberanian semacam ini terasa kurang waras bagi saya.
Satu Kurang, Dua Enek
Dari kekayaan kandungan informasi sejarah novel ini, bisa kita lihat penulis adalah sosok yang gila bin candu akan sejarah. Namun, di titik tertentu, kecanduan ini terasa seperti porsi mi instan. Satu kurang, dua kebanyakan—dan bikin enek.
Ada beberapa bagian di mana sejarah tidak lagi hadir sebagai penggerak cerita, tetapi berdiri sendiri sebagai ceramah. Informasi disajikan terlalu panjang, bahkan sampai dua lembar halaman, tanpa benar-benar memberi dampak langsung pada konflik atau perkembangan tokoh. Sejarah yang seharusnya menjadi tulang punggung cerita justru sesekali berubah menjadi beban bagi pembaca.
Contohnya bisa dilihat pada deskripsi panjang tentang kehebatan Siti Manggopoh di babak 1 bab 9. Sebagai figur sejarah, tentu ia adalah sebuah kebanggaan. Namun dalam konteks novel ini, penjelasan tersebut terasa tidak begitu penting dalam batang tubuh cerita. Kita dibuat kagum? Iya, tapi kekaguman itu tidak berujung pada ketegangan baru, pilihan tokoh, atau perubahan arah cerita. Akibatnya, alur seperti berhenti sejenak, memberi ruang kepada sejarah untuk berpidato, sementara cerita menunggu giliran bicara dari tepi. Di sinilah satu hal yang terasa kurang dramatik dalam pemanfaatan detail sejarah, kebanyakan informasi yang sebenarnya bisa diringkas, diselipkan, dibiarkan menjadi misteri, atau diamputasi saja sekalian.
Selain soal kepadatan informasi, ada pula beberapa ketidaklogisan kecil yang cukup mengganggu kenikmatan membaca. Bukan kesalahan fatal, tapi terasa ganjil dan menggangu. Salah satunya adalah adegan Syamil, seorang pemuda Minangkabau, yang digambarkan sarapan dengan selembar roti dan selai yang dibuat oleh kakaknya.
“Mau ke mana? Ganteng amat,” goda Liani sambil mengoles roti dengan selai pandan.
…
“Kali ini benar akan cepat.” Syamil meyakinkan kakaknya dan mencomot sepotong roti.(Halaman 265)
Adegan ini mungkin sepele, tapi dalam novel yang begitu bersemangat memperjuangkan kedaerahan, detail seperti ini terasa janggal. Syamil mendadak tampak seperti turis Eropa yang tersesat di dapur sendiri. Padahal, di Minangkabau kampungnya, sarapan punya kebiasaan menu tersendiri, dari lontong pical, serabi, kacang padi, nasi, gulai, hingga sisa lauk semalam yang dipanaskan kembali.
Kekurangan lain yang cukup terasa dalam novel ini terletak pada penokohan dan dialog. Hampir semua tokoh hadir tanpa tubuh yang benar-benar bisa dibayangkan. Bahkan, Syamil sebagai tokoh utama tampil seperti sosok abstrak, tidak punya rupa, gestur, dan ciri yang membekas.
Sandungan tersebut kian diperkuat oleh penggambaran karakter yang terlalu sempurna seperti malaikat. Mereka cerdas, tangguh, sigap, dan nyaris tanpa cela. Konflik jarang lahir dari kelemahan personal sehingga tokoh-tokohnya berjalan mulus dari satu peristiwa ke peristiwa lain tanpa hambatan yang berarti.
Keseragaman ini juga melebar ke cara mereka berbicara. Dialog antartokoh terdengar sama, tanpa penanda karakter yang kuat. Tidak ada bedanya cara berbicara Syamil dengan Eva, cara berbicara orang Indonesia dengan orang Belanda.
Bahkan ada momen yang terasa tidak masuk akal, seperti ketika Liani, gadis Minangkabau, berkata “ganteng amat”. Ungkapan ini terdengar Jakarta alih-alih Minang. Detail kecil semacam ini mungkin sepele, tetapi cukup mengganggu rasa dan mengikis kepercayaan pembaca terhadap dunia cerita yang dibangun.
Setiap Mi Instan Punya Rasanya Sendiri
Leiden: 2020–1920 tetaplah sebuah novel yang nikmat dibaca, terutama bagi pembaca yang selama ini alergi terhadap sejarah karena trauma jam pelajaran yang membosankan. Hasbunallah Haris berhasil membuktikan bahwa sejarah bisa diramu dan dialihwahanakan menjadi petualangan melalui gaya cerita detektif, seperti catatan penilaian Dewan Juri Sayembara Novel DKJ 2023:
“Di samping elemen-elemen naratif yang digarap dengan cukup baik, Leiden: 2020-1920 memiliki keunggulan pada aspek genre, yakni menghadirkan narasi sejarah kolonial melalui gaya penceritaan novel detektif.”
Namun, seperti mi instan yang terlalu sering disantap, kenikmatan itu berisiko berubah jadi rasa bersalah jika porsinya tidak dijaga. Terlalu bersemangat menyampaikan sejarah membuat beberapa adegan kehilangan ruang untuk bernapas. Cerita sesekali kalah dengan informasi, konflik kalah dengan penjelasan.
Dan untuk sebuah novel sejarah, bukankah itu tujuan paling ideal: membuat pembaca ingin kembali, bukan sekadar tahu.
Johan Arda menulis prosa dan sangat benci dengan tikus.
Editor: Ikrar Izzul Haq
Foto: Johan Arda



