Esai Budaya

Budak Dopamine

“Jangan-jangan dopamine lah yang membuat kita bertahan di dunia yang brutal ini,” kawan saya menduga satu ketika. Tidak! Saya merespons mantap. Senyawa itu, dopamine, punya fungsi lain daripada sekadar untuk bertahan hidup. Ia juga membuat kita tak pernah puas, mendorong kita ingin ini itu; mengupayakan apa yang bisa kita capai di dunia. Dengan kata lain, dopamine menjelma semacam daya kreatif yang menuntun kita mencipta ulang dunia sebagaimana kita mau.

Sayangnya, dopamine sering disalahpahami. Kebanyakan orang, termasuk saya, kerap berpikir kalau zat tersebut merupakan semacam stimulan yang memicu perasaan bahagia—dopamine telah lama diasosiasikan dengan kesenangan. Orang membayangkannya mirip kokain, yang begitu nemplok di reseptor otak, langsung membuat kamu merasa terbang melayang.

Nyatanya tidak. Dopamine lebih tepatnya merupakan zat yang mendorongmu untuk berekspetasi dan mengantisipasi sesuatu di masa depan. Dopamine membuatmu mengharapkan hal-hal baru, yang mengejutkan—dan yang lebih baik. Simpulan tersebut tentu tidak jatuh begitu saja dari langit bak wangsit. Para ilmuwan sampai pada pemikiran itu setelah serangkaian eksperimen. Sebagaimana yang B.F. Skinner lakukan pada merpati-merpati percobaannya.

Pada dekade 60-an, Skinner melakukan percobaan dengan menempatkan merpati dalam sebuah kotak. Di kotak tersebut, ia memasang sebuah tuas. Kala tuas itu dipatuk, sebutir makanan akan keluar. Sang peneliti merancang dua jenis percobaan: Di satu eksperimen hewan coba hanya perlu mematuk sekali untuk sebutir makanan, di percobaan yang lain hewan coba mesti mematuk sepuluh kali demi sebutir makanan.

Si peneliti tak mengubah perlakuan tersebut dan burung-burung dalam kotak kudu menjalaninya selama beberapa waktu. Hasilnya? Merpati-merpati itu ogah-ogahan mematuk tuas, bak buruh pabrik boneka yang sudah dua puluh tahun kerja dan setiap harinya mesti menggambar dua mata di sebuah boneka.

Skinner agaknya penasaran, bagaimana bila si merpati tidak pernah tahu pada patukan ke berapa butir makanan bakal keluar. Dia pun mengatur ulang perangkat percobaannya, menyetelnya agar makanan keluar secara acak. Hasilnya di luar dugaan. Merpati-merpati itu jadi lebih bersemangat mematuk tuas, seakan semacam kekuatan gaib mendorong mereka mematuk lebih keras dan lebih cepat—persis orang kecanduan judi slot yang tak henti-henti memencet layar ponsel.

Dan daya gaib itulah kuasa dopamine. Senyawa kimia tersebut membuatmu menginginkan lagi, lagi, dan lagi. Bila kamu biasa jalan kaki, kamu menginginkan sepeda. Lalu, setelah punya sepeda, kamu kepengin punya motor. Bosan dengan motor, kamu mau mobil, lalu pesawat jet pribadi, lalu UFO.

Namun, patut diakui, berkat kecenderungan macam itulah peradaban berkembang. Manusia pun tak diam di gua, tapi membangun rumah dari tanah liat, kemudian istana, gedung-gedung bertingkat, lalu IKN—eh. Tanpa dopamine, hominid nenek moyang kita mungkin tak bakal mau turun dari pohon untuk berjalan dengan dua kaki dan menentukan takdir evolusinya sendiri.

Tidakkah fakta-fakta itu membuatmu menyadari bahwa dopamine merupakan senyawa yang membuatmu berpikir jauh ke depan. Kamu selalu mengidamkan apa yang bisa kamu dapatkan—sesuatu yang lebih dari sebelumnya. Kamu tidak berfokus kepada stroberi di hadapanmu, tapi kamu membayangkan apel atau malah buah khuldi yang bisa kamu nikmati di masa depan. Bagi dopamine, apa-apa yang ada di hadapanmu kini tak cukup menggoda. Apa yang bakal kamu dapatkan lah yang benar-benar berarti.

Namun, masalah timbul ketika kamu mengganti buah-buahan tadi dengan “manusia”. Apalagi perkara cinta. Hubungan dengan pasanganmu kini bisa jadi tak lagi menimbulkan percik-percik kembang api—setelah hampir dua tahun bersama, misalnya. Sebab, efek dopamine, sebagaimana perasaan, tak bisa menetap lama-lama. Helen Fisher, seorang antropolog Amerika, mencatat kalau efek dopamine tahan paling lama dua belas hingga delapan belas bulan. Kendati begitu, angka tersebut tidaklah mutlak. Sebuah survei yang dilakukan pada anak-anak SMA di Amerika menunjukkan angka lebih dari dua tahun. Entah kalau di Indonesia. Akan tetapi, saya duga hasilnya bakal tak jauh beda.

Maka, dopamine lah yang menggodamu untuk terus-terusan tertarik pada buah kuldi orang lain. Selaras dengan itu, otak punya kecenderungan menyukai kebaruan. Sebagaimana saya singgung di awal, dopamine bukan zat yang secara langsung membuat manusia merasa “nyaman”. Terdapat zat-zat lain yang turut bertanggung jawab atas sensasi macam itu, seperti endorfin dan cannabinoid endogen. Dopamine hanya mendorong, menjanjikan kita sesuatu yang menyenangkan di masa depan—sesuatu yang seharusnya kita kejar. Dan karena itu “janji” belaka, hasilnya tak mesti sesuai dengan khayalmu. Apalagi dopamine punya segudang “muslihat” yang sanggup membuatmu tergerak untuk memilih “yang baru”.

Salah satu siasat dopamine yakni dengan membuat dungu korteks prefrontal (bagian otak yang berpikir secara logis dan waras). Pun pusat kewaspadaanmu, yaitu amigdala, dibikin tak berdaya. Alhasil, kamu akan mudah tergoda untuk mengikuti dorongan-dorongan si manipulator ulung ini: dopamine dan sistem imbalannya.

Sebetulnya, dopamine punya empat jalur, yaitu mesolimbik, mesokortikal, nigrostriatal, dan jalur tuberoinfundibular. Dalam sistem imbalan, yang paling dominan adalah jalur mesolimbik. Di jalur tersebut dopamine yang disemburkan ventral tegmental area (bagian otak tengah yang kaya sel saraf dopaminergik) akan meluncur menuju nucleus accumbens, membuatmu ingin, ingin, dan ingin kepada si orang baru itu—bahkan sampai kencanduan! Tak mengherankan kalau kamu ingin segera ketemu muka dengannya, tak peduli selebar apa jarak yang membentang di hadapanmu. Kamu ingin dekat, lekat, dan lekas menyatakan perasaanmu.

Akan tetapi, masih ada tiga jalur lainnya. Dan jalur mesokortikal adalah salah satu rem internal dari jalur mesolimbik yang lesat dan bebas hambatan itu. Lewat jalur tersebut, dopamine dari ventral tegmental area akan mampir dulu di korteks otak. Di sana, keinginan-keinginanmu bakal dievaluasi. Adakah konsekuensi-konsekuensi yang bakal kamu hadapi? Apakah menemuinya sekarang juga adalah langkah yang tepat? Adakah hal-hal buruk yang bisa saja terjadi dan kamu bakal sesali kemudian hari?

Sayangnya skenario ini hanya bisa terjadi bila korteks prefrontalmu waras. Kalau tidak? Wassalam. Kamu bakal jadi budak dopamine. Dan bila ini soal cinta, kamu bakal jadi seorang bucin yang ngotot mendapatkan si dia, sebagaimana Qais terobsesi kepada Layla hingga jadi majnun.

Meski begitu, tak bisa dipungkiri kalau kita, manusia yang fana ini, butuh dopamine. Berkat senyawa tersebut umat manusia menjadi makhluk kreatif yang berhasil mencipta banyak hal di dunia ini sepanjang sejarah peradaban—sesuatu yang barangkali di masa lampau tak terbayangkan.

Bila dulu Doraemon punya konyaku penerjemah, sekarang kita punya AI penerjemah yang menyarikan hasil terjemahan pakai suara seseksi penyanyi Ello. Di Dubai, Burj Khalifa tegak menjulang di atas bumi yang gersang, di pedalaman rimba dan gunung negeri ini ada Kopdes—lho! Dan berkat kehendak tak terbatas itu, kita ingin tetap “abadi” dalam karya, seperti esai ini, yang kamu baca sambil ngemil cilok.


Sasti Gotama adalah Pemimpin Redaksi sivitaskotheka.org.


Editor: Asief Abdi
Foto: Asief Abdi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *