Esai Budaya

Kearifan Lokal dan Kepercayaan Palsu

Hancurnya keseimbangan ekologis hari ini dan ramalan-ramalan mengenai kondisinya yang akan lebih buruk lagi nanti meluruhkan kepercayaan kita pada modernitas. Modernitas adalah kedok dari antroposentrisme, yakni pandangan bahwa manusia lebih istimewa dari pohon, air, batu, dan sepupu jauhnya, seperti simpanse. Pandangan inilah yang menjustifikasi pembabatan hutan besar-besaran, pembuangan limbah ke sungai, atau “sekadar” menjagal sapi untuk memenuhi kebutuhan protein hewani tubuh.

Kehancuran ekologi tidak boleh dibiarkan. Hidup harus terus berlanjut setidaknya dorongan evolusioner yang tertancap dalam tubuh kita menginginkan demikian. Karena itu, alternatif antroposentrisme harus dicari. Dan, kita menemukannya dalam dunia sebenarnya sejak mula mengitari keseharian kita: kearifan lokal. Tidak heran bila kini semarak sekali seminar dan diskusi yang bertema kritik atas pengetahuan ilmiah (sains) dan rekognisi atas pengetahuan lokal (mitos). 

Mitos sama bernilai dengan sains. Mitos bukanlah omong kosong atau imajinasi tanpa dasar. Adam Bobbette dalam Denlyut Nadi Bumi: Geologi Politik di Jawa bahkan menunjukkan bahwa geologi (sains) berhutang banyak sekali pada kearifan lokal masyarakat Jawa (mitos) tentang gunung berapi. Namun, mereka, para geolog di era kolonial, tidak mengakuinya dan terus berlanjut hingga kini seolah geologi murni diciptakan oleh orang-orang kulit putih.

Kearifan lokal memandang objek non-manusia sama bernilainya dengan manusia atau bahkan lebih tinggi. Objek non-manusia, seperti sumur atau lautan, umumnya dianggap memiliki kehendak (agensi) seperti manusia. Jadi, ia bisa marah, bahagia, atau dan seterusnya. Misalnya, di desa saya, rokat tase’ (rokat: ritual, tase’: laut), dari berdoa bersama sampai melarungkan sesajen ke laut, dilangsungkan agar laut mau bermurah hati melimpahkan ikan dan memberikan keselamatan bagi nelayan.

Mungkin Anda tergoda menyebut praktik kearifan lokal di desa saya itu sebagai praktik animisme, yakni kepercayaan akan roh mendiami objek-objek selain manusia. Anda tidak keliru! Namun, saya enggan memakai kategori tersebut. Alasannya seperti dibabarkan Justine Buck Quijada, antropolog agama dari Amerika, animisme adalah konsep rasis. Pada tahun 1870-an,  antropolog Eropa dan Amerika menciptakan konsep tersebut sebagai label atas masyarakat yang dianggap tak berperadaban. 

Dengan demikian, kembali pada kearifan lokal adalah cara yang mangkus menyelamatkan dunia ini dari krisis ekologis. Bayangkan apabila semua orang meyakini bahwa sebiji beras atau jagung betul-betul menangis ketika dibuang sia-sia—seperti cerita orang dewasa di desa saya ketika saya masih bocah menyisakan remah di piring atau tidak menjilati yang masih menempel di tangan—maka istilah buang-buang makanan tidak akan ada. Begitu pula mereka yang meyakini sungai hidup, tidak akan menjadikannya sebagai tempat pembuangan limbah. Dan seterusnya dan seterusnya.

Sampai di sini tampak seakan semua kearifan lokal adalah benar. Ini adalah gema yang bakal Anda sering jumpai di berbagai seminar atau diskusi ketika berbicara kearifan lokal. Ruang buat kemungkinan keliru lenyap atau tak sengaja terlupakan barang kali. Padahal, common sense pengetahuan apa pun terbagi antara yang benar dan keliru. Begitu pula kearifan lokal, jika ia dianggap sebagai pengetahuan, ada yang keliru selain yang benar. Aneh bila semua pengetahuan lokal dianggap sama dengan benar.

Akan tetapi, pengetahuan yang keliru sesungguhnya bukanlah pengetahuan. Jika kita mengambil pengertian paling lazim dalam epistemologi, pengetahuan ialah keyakinan yang benar yang terjustifikasi. Pengetahuan mensyaratkan kebenaran. Dan, piranti ukur kebenaran paling lazim ialah korespondensi: suatu harus sesuai dengan kenyataan agar benar, dan jika sebaliknya, maka keliru atau nonsens.

Misal, seseorang bijak bestari berujar bahwa hujan adalah berkah. Tapi, hujan menjadi banjir setinggi dua meter di tempat Anda dan tentu saja tak ada banjir yang bukan musibah. Maka, ujarannya bukanlah pengetahuan, lantaran keliru. Sang bijak bestari perlu merevisinya demikian: hujan kadang berupa berkah dan musibah. Barulah ia disebut pengetahuan, sebab kesesuaiannya dengan kenyataan. 

Kearifan lokal adalah kumpulan dari kepercayaan dan sangat mungkin salah satu dari kepercayaan itu keliru. Sebagai contoh, di desa saya beberapa generasi tua masih meyakini bahwa gerhana bulan pertanda bulan sedang sakit. Doa harus dipanjatkan demi kesembuhan bulan, padahal tanpa doa sekalipun bulan akan kembali terang seperti biasa. Gerhana bulan hanyalah kenyataan alamiah yang terjadi per tahun. 

Dalam kasus lain, kepercayaan keliru atau palsu dapat membawa konsekuensi yang besar. Dalam masyarakat yang percaya santet dan sihir mungkin itu terjadi, umum sekali sewaktu orang terdekat mereka sakit keras, mereka akan menuduh tetangga A atau atas dasar sari dari duku B bahwa tetangga A adalah pengirim penyakit itu. Apa yang terjadi kemudian? A amat rentan buat dibunuh. Itu dulunya agak sering terjadi di daerah saya tinggal.

Orang mungkin akan mengklaim cara ini positivistik, materialis, atau kebarat-baratan. Emoh! Pengujian atas keyakinan dengan mencocokkannya pada kenyataan mempersempit dunia hanya pada yang tampak-tampak belaka, padahal ada sesuatu yang benar adanya tanpa perlu menunggu konfirmasi manusia sebagai penampakan. Itu benar adanya. Dan, bahwa segala diungkap sains sejauh ini belumlah keseluruhan pengetahuan yang tersedia di dunia juga benar ada adanya. 

Tetapi, pengujian korespondensi tetap harus dilakukan dengan segala kekurangannya Sebab, ia cara terbaik yang kita punya untuk membedakan mana kearifan lokal yang benar dan kepercayaan palsu yang menyesatkan. Leluhur kita adalah manusia dan pada kodratnya manusia tidak selalu benar. Kekeliruan bahkan bisa diwariskan dan dianut banyak orang generasi ke generasi, seperti pada orang-orang tua di desa saya tentang gerhana. 

Esai ini tidak punya pretensi buat anti-kearifan lokal atau mitos. Sama sekali tidak! Saya hanya ingin mencoba untuk mengambil jarak dan memikirkan ulang bagaimana pembicaraan tentang kearifan lokal (mitos) “baiknya” dibicarakan. Selama ini yang dilakukan, setidaknya dalam berbagai seminar dan diskusi yang saya singgahi, ialah penerimaan buta. 

Itu seolah sikap bijak dan adil yang harus diambil setelah Barat dan kolonialismenya begitu lama menjebak kita hanya pada satu jenis pengetahuan yang mereka buat. Namun, sikap taklid pada apa pun itu, tidak hanya pada agama, pada budaya juga tentulah berbahaya. Taklid adalah turunan dari satu sesat pikir, ad antiquetatem (sesuatu menjadi benar karena telah dilakukan sejak lama; warisan leluhur dari generasi ke generasi).

Kedua, sepertinya muncul penolakan atas pengetahuan ilmiah karena ia datang dari Barat. Ini sesat pikir pula. Ini ad hominem (penolakan atas sesuatu berdasarkan pada personalitas penyampainya). Atau, ini mungkin sebentuk primodialisme, ketakutan terhadap asing yang di dorong syak-wasangka, sebagaimana fobia Amerika terhadap orang muslim, Cina, dan Arab. Tapi, ketakutan itu bisa ditoleransi di negara jajahan seperti kita barangkali. 

Dengan demikian, tanpa kita sadari proyek pengetahuan non-Barat yang tidak kritis malah mempertebal status quo yang tengah mengungkung kita: retorika anti-asing yang diulang terus-menerus oleh presiden, lenyapnya oposisi politik dan tata kelola yang bergaya ala militer, penangkapan aktivis sewenang-wenang, dst. 

Faris Ahmad Toyyib adalah mahasiswa magister di Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada. 

Editor: Asief Abdi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *