Kira-kira sepekan yang lalu, Nano Banana Pro, mesin pembuat gambar mutakhir besutan Google, dirilis. Selang beberapa waktu, sebuah akun mengunggah perbandingan hasil gambar Nano Banana dengan Nano Banana Pro di X. Terjadi kehebohan di jagat maya karena gambar yang dihasilkan si Nano varian baru ini sangat realistis. Di antara yang heboh itu ada techbro yang takjub, fotografer yang cemas, dan saya yang bingung. Ada juga orang yang, mungkin, merasakan kebingungan yang sama dan mengungkapkannya lewat sebuah pertanyaan yang kira-kira berbunyi seperti ini: “Tujuan akhirnya apa, sih, orang bikin hasil akal imitasi (AI) serealistis itu? Kan bisa ambil foto? Kenapa harus menggantikan yang ‘nyata’?”
Untuk pertanyaan pertama, agaknya sudah jelas. Tujuan AI generatif macam Nano Banana ini adalah untuk “mempermudah” pekerjaan manusia. Atau, dalam sudut pandang yang lebih seram, menggantikan pekerjaan manusia.
“Kan bisa ambil foto? Kenapa harus menggantikan yang ‘nyata’?” Ini menarik. Dalam kerjanya, foto juga berada dalam koridor yang relatif sama. Salah satu fungsi utama foto adalah untuk dokumentasi, untuk mencerabut peristiwa atau pun objek keluar dari lini masa waktu yang terus berjalan untuk kita simpan sendiri. Di sinilah letak persamaannya. Mengambil foto merupakan tindakan menggantikan hal-hal yang nyata menjadi lembar kertas seukuran dompet atau berkas digital sekian megabyte. Lantas, apakah kemudian antara foto dan gambar hasil AI sama saja? Kita tunda dulu soal ini.
Pada kolom komentar cuitan pertanyaan soal hasil gambar AI yang makin realistis itu, ada satu komentar menarik— sekaligus mengkhawatirkan. Katanya, “Akhir dari realitas objektif adalah ketika “seeing is believing” tak lagi berlaku, foto tak lagi membuktikan apa pun, dan kebenaran tak lagi berkelindan dengan sesuatu yang fisikal, melainkan konsensus serta narasi.”
“Seeing is believing”. Dari adagium ini kita tahu bahwa sebelum kepercayaan dan pengetahuan, pada mulanya adalah mata. Jika ada yang bilang, “Pada mulanya adalah kata,” sebaikanya jangan langsung percaya, sebab John Berger sudah memberikan satu catatan: “Seeing comes before words.” Sebelum kata (bahasa/pengetahuan) lahir, segalanya bermula dari mata yang melihat.
Lalu, apa hubungannya dengan foto dan hasil gambar buatan AI? Seperti yang telah disebut sebelumnya, foto adalah duplikat realitas. Ia begitu dekat dengan kenyataan. Sifat inilah yang kemudian membuat foto hampir tidak diragukan sebagai bukti atas kejadian-kejadian lampau atau eksistensi benda-benda. Kira-kira demikian kata Susan Sontag.
Zaman sudah bergeser dan sekarang foto mulai diragukan. Sebenarnya sudah sejak cukup lama gejala ini muncul: ketika perangkat lunak macam Photoshop mulai mempercanggih fitur-fitur di dalamnya. Perangkat lunak seperti ini memungkinkan orang-orang untuk membelokkan “realitas”. Namun,untuk benar-benar mengelabui orang menggunakan alat ini, butuh keterampilan tingkat tinggi. Tak semua orang bisa memanipulasi gambar dengan baik— jika bisa dikatakan baik. Mentok, sebagian besar orang hanya akan mampu membuat foto diri mereka tampak sureal dengan menambahkan sayap di punggung mereka.
Sedangkan sekarang, di masa perusahaan teknologi berlomba-lomba mengembangkan mesin pembuat gambar, manipulasi foto makin awur-awuran. Otoritas foto perlahan melemah ketika AI mampu mereproduksi foto dengan tingkat kecacatan mendekati nol. Butuh kejelian ekstra untuk membedakan mana foto betulan dan mana hasil AI, terutama ketika Nano Banana Pro dirilis beberapa waktu lalu. Dan tak semua orang bisa membedakan. Fenomena semacam ini pernah juga dikemukan oleh Sontag dalam esainya, “In Plato’s Cave”. Dalam esai itu, ia mengkritik fotografi yang membuat kita bingung. Manakah citra, manakah realitas? Antara keduanya kabur sejak ditemukannya kamera.
Lahirnya AI pembuat gambar seperti saat ini barangkali akan membuat Sontag harus menelan parasetamol lebih banyak saking pusingnya. Yang awalnya hanya perbadingan antara citra dan yang nyata, kini mengerucut secara aneh menjadi citra vs. citra. Boro-boro bisa membuktikan sesuatu secara meyakinkan, kita akan lebih dulu bertanya, “Ini bukan AI, kan?” Ada satu lapis tembok baru yang membuat foto semakin berjarak dengan realitas, pada akhirnya.
Kembali ke pertanyaan awal, apakah foto dan hasil gambar AI sama saja? Se-candid apa pun pose dan setebal apa pun bedak, foto diambil pada situasi riil. Ia berkelindan langsung dengan realitas. Dari situ foto mendapat otoritas. Di sisi lain, gambar bikinan AI tidak bersentuhan dengan kehidupan nyata. Yang ia hasilkan adalah polesan daur ulang data-data hasil nyolong. Maka dari itu, gambar-gambar AI sering kali dianggap tak bernilai dan tak relevan.
Namun, yang kita hadapi sekarang bukanlah hal-hal di balik foto atau gambar, seperti “Apakah ini bersentuhan langsung dengan realitas?” atau “Bagaimana mesin ini menghimpun data?”, melainkan citra yang manipulatif dan mengecoh. Sulit untuk tak menaruh curiga pada foto-foto yang beredar di dunia maya pada hari-hari mendatang ketika foto tak lagi dipercaya sebagai bukti atas realitas yang objektif. Berada di posisi seperti ini, foto mesti disandarkan pada otoritas lain untuk mendongkrak lagi kredibilitasnya. Misal, siapa yang melepasnya ke arena publik, Iwan si mahasiswa ilmu komputer yang lagi belajar machine learning atau seorang fotografer Tempo?
Ikrar Izzul Haq adalah pembaca.
Editor: Putri Tariza



