Esai Budaya

Reinkarnasi Guru Honorer

Tikus yang meloncat dari boks ompreng MBG di SMKN 8 Semarang itu bukanlah Ratatouille dalam film besutan Brad Bird. Di negeri korup, akhlak hewan pengerat tak sekarimah tikus-tikus dunia fiksi. Di Indonesia, mereka bukan tikus Cinderella yang menjelma kuda kencana, Mickey-Minnie yang menyambutmu di kastil Disneyland, atau Jerry yang melawan kucing penindas. Mamalia jorok itu telah lama menjadi simbol klise watak loba pejabat negara. 

Tikus-tikus itu, di rezim politik-perut macam sekarang, telah menggerogoti dapur MBG. Sebagai inkubator hama cindil, MBG memangsa pajak dan menggilas kesabaran rakyat. Namun, yang paling hina di atas segala kehinaan, bisnis makan “bergizi” dan “gratis” itu, di samping memangkas anggaran pendidikan, juga telah menginjak-injak martabat pendidikan. 

Pertama-tama, kau meletakkan martabat pendidikan di punggung para guru sebagai kaum yang memanggul tanggung jawab paling gigantik atas masa depan generasi emas sebuah bangsa. Tapi, guru honorerlah yang selama ini telah tabah-setia memikul salib derita di sepanjang via dolorosa. Dengan status WNI, menjadi guru honorer akan membuatmu merasa bahwa di kehidupan sebelumnya, kau adalah pejabat keji yang menggelapkan dana haji. Setelah mati, kau bakal terlahir kembali menjadi guru honorer sebagai azab dan sengsara atas dosa-dosamu di masa lalu. Jangankan “honor”, nasibmu malah “horor”. 

Menjadi guru honorer, kau tak cuma disiksa upah keropos sehingga perlu kerja serabutan agar tetap waras. Takdirmu juga akan dilecehkan oleh gaji pegawai SPPG yang lebih layak, sepeda listrik yang membuat menteri keuangan kebakaran jenggot, dan rencana rumah bersubsidi untuk karyawan MBG. Jadi, secara harfiah, benarlah lagu Sartono bahwa guru (mestinya guru honorer) adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Dikiranya guru honorer tak butuh makan. Untuk memenuhi nutrisi, guru honorer cukup berfotosintesis seperti enceng gondok atau cocor bebek. 

Maka, di rezim MBG, “Himne Guru” jatuh menjadi mitos menyesatkan. Menyalakan “pelita dalam kegelapan” dianggap tak butuh bahan bakar. Walhasil, di rezim anti-pendidikan, kas negara tidak dikonversi jadi bahan bakar sang pelita. Ia dihamburkan-hamburkan untuk membuncitkan perut segelintir orang. Itulah mengapa, visi “Himne Guru” tak pernah mencapai tanah yang dijanjikan. Alih-alih menjadi “kandil kemerlap di malam gelap”, guru honorer justru “tinggal kerdip lilin di kelam sunyi”.

Jika suatu saat muridmu punya cita-cita mulia, kau tak perlu menganjurkannya untuk repot-repot membangun panti asuhan di Uganda. Kau cuma perlu bilang bahwa iktikad luhur itu begitu mudah diwujudkan: Jadilah guru honorer. Pahalanya abadi, berlimpah ruah, karena amal jariah. Sebab, semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku, sebagai prasasti terima kasihku tuk pengabdianmu

Bagiku, penistaan sistemik proyek MBG tidak sekadar menikam lambung guru honorer. Ia juga menjadi beban guru pada umumnya. “Sejak MBG tiba di sekolah kami, kerja guru bertambah,” keluh kawanku yang seorang guru MTs. “Dalam Permendikdasmen Nomor 11 Tahun 2025 termaktub rincian kegiatan pokok guru, yaitu merencanakan, melaksanakan, menilai hasil pembelajaran, membimbing dan melatih murid, serta melaksanakan tugas tambahan yang melekat. Di senarai tugas tambahan pada Pasal 10 dan Pasal 11, tak satu pun menyebut urusan menghitung, menerima, membagikan, menghitung ulang, lalu mengembalikan ompreng.” 

Kubayangkan, sekolah yang mestinya disibukkan oleh aktivitas belajar-mengajar, kini diusik deru mobil MBG, digaduhi gemerentang ompreng-ompreng, dan kalang kabut karena diserang tuba makan siang yang jumlah korbannya makin lama kian ngelunjak. Hakulyakin MBG akan tercatat sebagai politik pangan paling ironis dalam sejarah kekuasaan Indonesia. 

Jika di zaman enggak enak, misalnya, banyak orang menderita karena kelaparan, sekarang guru dan siswa bisa mati karena malapetaka yang menyaru kebijakan. Makanan tidak lagi menjadi juru sintas umat manusia, tapi menjelma epidemi, wabah kuliner yang tidak dimasak dari tungku rencana yang matang, tapi dimuntahkan oleh mulut patologis kekuasaan. Mentah dan beracun. Kalau sudah begitu, dapur MBG tak lagi menghidangkan gizi, tapi menyajikan trauma massal. 

Kini, kita boleh percaya bahwa pemicu utama kemarahan publik adalah skandal MBG yang mencemari akalbudi. Murka itu terakumulasi, mengembang, lalu meledak dari akal sehat Saiful Mujani sebagai ide penggulingan presiden. Sebab, aku yakin, opini yang dilontarkan guru besar UIN Syarif Hidayatullah tersebut diam-diam juga tebesit di banyak kepala warga Indonesia. 

Ketika MBG telah menjadi lubang hitam yang menelan segala harapan yang mengapung di orbit tata surya republik ini, di situlah kapasitas kepemimpian sang presiden disangsikan rakyatnya. Aku jadi ingat risalah kuasa Jawa yang ditulis Benedict Anderson. Ilmuwan Inggris itu bilang bahwa kuasa seorang raja akan merosot saat ia dijangkiti penyakit tamak. Riwayat kegagalan MBG, ditambah perangai totaliter yang kerap didemonstrasikan dengan vulgar, sesungguhnya telah menjadi genta ajal yang menggoyahkan takhta kepresidenan.   

Apalagi sekarang rakyat makin insaf bahwa mereka tengah menumpang sebuah pesawat yang disetir oleh sosok-sosok inkompeten. Indonesia adalah kapal udara yang tidak dikemudikan oleh pilot, tapi dikendalikan oleh penunggang kuda. Salah posisi, seperti Petruk dadi ratu. Maka, masuk akal bila para intelektual berhimpun untuk membuka mata kita bahwa cacat peran tersebut telah mengarahkan jarum kompas pesawat ini ke dinding tebing. 

Andai presiden mau mendengarkan alarm peringatan yang berdering kian nyaring itu, barangkali republik ini masih bisa diselamatkan. Katakanlah, dengan membubarkan proyek MBG. Akan tetapi, agaknya orang-orang juga mafhum bahwa itu sulit. Nasihat para pakar sekalipun tak mempan bagi sang pemimpin. 

Meski presiden gemar teriak-teriak ingin membasmi koruptor, kita tahu, omon-omon itu cuma bagian dari lagak seorang drama queen. Jika kau pernah membaca dongeng Eropa tentang kucing bersepatu lars, jelas, sang presiden bukan Puss in Boots yang melahap tikus gergasi dan membawa hoki bagi Marquis of Carabas. Sebab, bila di rezim dahulu tikus diternakkan di gorong-gorong, di rezim ini binatang pengerat itu berkembang biak di dapur-dapur MBG yang ditegakkan di seantero negeri. 

Penulis Amerika Elizabeth Kolbert pernah mencatat sebuah prediksi ilmiah bahwa tikus adalah spesies yang bakal selamat dari kepunahan keenam. Begitu pula di republik ini, para tikus akan tegar menghadapi krisis. Sebab, makhluk-makhluk itu telah menjelma vampir omnivora yang doyan mengisap darah rakyat jelata, melenyapkan nyawa bocah SD di NTT, dan merampok hak guru honorer.


Royyan Julian menulis prosa dan puisi.

Editor: Asief Abdi
Foto: Asief Abdi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *