Esai Budaya

Anjing Makan Anjing

Rasanya tak berlebihan jika berkata bahwa manusia dapat lebih biadab daripada anjing. Pasalnya, meluruskan manusia yang anjing lebih menyita emosi dibandingkan anjing yang anjing. Anjing yang pada dasarnya anjing tentu tak salah jika mewarisi segala sifat ke-anjing-annya sebab memang seharusnya begitu. Namun, jika manusia mewarisi sifat anjing, tentu beda lagi duduk perkaranya.

Manusia bisa lebih anjing daripada anjing itu sendiri. Namun, persoalan mendasar muncul di sini: Mengapa anjing yang digambarkan hewan setia justru acapkali menjadi simbol kebiadaban dan kebobrokan moral? Sebuah paradoks yang berputar-putar layaknya lingkaran setan. Jika memang perlambangan itu muncul atas dasar wujud penciri atau kebiasaan yang tampak, maka sudah barang tentu masih ada banyak jenis hewan yang menyerupai anjing: mulai dari kebiasaannya menjulurkan lidah, penciri fisik yang relatif buruk, dan semacamnya. Jadi, tidak mengherankan jika anjing menjadi simbol sarkasme—yang mengakar—yang biasa digunakan untuk menggambarkan kebobrokan moral. 

Puisi “Anjing” yang terhimpun dalam kumpulan puisi Telepon Genggam karya Joko Pinurbo menyiratkan kritik terhadap realitas sosial yang terbalik. Penggunaan diksi anjing yang repetitif dan pengasosiasian sebagaimana di atas, cukup mengindikasikan bahwa diksi ini memiliki konotasi yang negatif. Bahwa terdapat sebuah misi untuk mengkritik ketimpangan realitas yang terjadi. Sebuah logika terbalik yang telanjur mengakar dan menjadi kelumrahan yang konyol dan ironis.

Gaya tutur naratif “Anjing” membuat pembacaan puisi ini cenderung ringan. Namun, seberapapun ringannya pembacaan puisi naratif tetap membutuhkan penafsiran yang tepat sasaran. Meski bertajuk “Anjing”, puisi ini tidak secara mentah dan gamblang menceritakan anjing dengan segala pendeskripsiannya. Dalam hal ini, diksi anjing justru menjadi simbol yang berusaha dipertentangkan, ditabrak, sekaligus diperdebatkan oleh penyair. Dengan menggunakan diksi anjing yang sudah biasa digunakan untuk mengungkapkan sarkasme dan kebobrokan moral, penerimaan terhadap makna ini sepenuhnya tersampaikan. Simbol-simbol anjing yang menjadi nyawa dalam puisi ini saling bertentangan, indikasi bahwa puisi menghendaki pembacaan dan penafsiran secara berulang dan juga mendalam. Jika semua diksi anjing di sini dimaknai secara literal, maka esensi puisi ini tidak akan tersampaikan sepenuhnya, atau boleh jadi tersampaikan secara dangkal. Hal ini berdampak pada pemaknaan yang bias sehingga nilai puisi ini pun gagal diterjemahkan.

Lebih dalam, bait pertama puisi ini berisi orientasi antara dua sisi kehidupan sosial yang timpang.

Rumahku dijaga dua anjing cerdas:
anjing sungguhan dan anjing-anjingan.

Bagian pembuka yang menjadi gerbang pembuka untuk babak-babak setelahnya, tidak membutuhkan pemaknaan yang terlalu rumit. Hanya saja diksi rumahku di sini butuh perenungan lebih lanjut. Secara literal, kata tersebut berarti sebuah bangunan tempat bernaung dan berlindung. Namun secara simbolis, kata tersebut mewakili ruang kehidupan yang luas dan kompleks. Luas di sini berarti ia tidak hanya terkungkung dalam satu konteks saja, tetapi mencakup berbagai konteks (selayaknya ruang kehidupan yang ditopang oleh berbagai aspek kehidupan). Sementara pada larik yang sama, frasa anjing cerdas kembali memainkan fungsi paradoks yang menyiratkan pertentangan antara dua simbol anjing: anjing sungguhan dan anjing-anjingan.

Anjing sungguhan sungguh cerewet
dan mudah panik. Melihat sepi berkelebat
sedikit saja, ia menyalak keras sekali. 

Pada bait yang sama, anjing sungguhan digambarkan cerewet dan mudah panik. Hal ini merupakan pendeskripsian yang apa adanya, natural, dan tidak dibuat-buat. Namun, cerewet dan mudah panik di sini dapat berarti sikap terlalu rewel yang pada akhirnya dinilai terlalu berlebihan. Mereka sensitif terhadap suatu permasalahan, sering bereaksi cepat terhadap anomali dan peka terhadap perubahan sekecil apa pun. Dalam bait ini, anjing sungguhan-lah yang justru paling peduli, memerhatikan, dan punya empati. Selayaknya anjing sungguhan yang sejatinya memang anjing, anjing sungguhan disimbolkan sebagai representasi manusia yang absolut, nyata berkarya, hidup, berjuang, dan tidak ada kepalsuan sedikit pun. Anjing sungguhan di sini merupakan penggambaran pada anjing yang kemudian diasosiasikan dan merepresentasikan sifat manusia sejati. Lalu konsekuensi dari larik ini terjawab pada larik setelahnya, melihat sepi berkelebat/ sedikit saja, ia menyalak keras sekali. Merupakan sifat manusia sejati jika ia menentang adanya kerusakan, kebiadaban, dan situasi-situasi “mencekam” lainnya. Diksi sepi di sini menyiratkan segala situasi mencekam yang timpang dan kontras dengan kebisingan. Juga, diksi ini bisa dimaknai sebagai penindasan dan hal-hal bobrok lainnya. Manusia sejati akan bersuara paling lantang untuk menentang dan melawan kebiadaban. Tidak seperti anjing-anjingan yang digambarkan pada larik:

Anjing-anjingan sungguh kalem lagi pemalu. 
Maklum, tubuhnya terbuat dari waktu, eh batu.

Berkebalikan dengan manusia sejati, anjing-anjingan justru penuh dengan intrik, kekosongan, simbol kekuasaan yang bobrok, dan penuh pencitraan. Hal ini ditandai dengan larik kedua pada potongan di atas. Diksi pemalu di sini tidak hanya bermakna literal saja, tetapi lebih dari itu. Diksi ini lebih mengarah pada sifat pecundang, pengecut, dan penakut yang biasa dimiliki oleh manusia-manusia besar mulut. Kaum ini akan diam ketika melihat adanya ketimpangan dan kebobrokan guna mengamankan posisi pribadi. Mengapa diam saja? Sebab tubuhnya terbuat dari waktu, eh batu. Sebuah strategi sindiran yang menyatakan secara terang-terangan, dengan tujuan mengejek, namun dibungkus dengan bahasa jenaka: satirisme. Keterangan terbuat dari waktu menyiratkan kebobrokan moral dan kemunafikan sosial telah menjadi bagian dari kebiasaan atau tradisi lama yang telah mengakar, beku, dan sulit direkonstruksi.

Bait kedua berisi perdebatan antara dua anjing yang berusaha dimunculkan oleh penyair melalui dialog langsung untuk strategi klimaks. Penyair membidik sudut pandang serba tahu untuk mewakili anjing sungguhan atau manusia sejati. Dalam hal ini, penyair tampaknya condong pada sisi manusia sejati. Keberpihakan ini tentu bukan tanpa alasan, sebab memang perlu adanya kekuatan yang menopang untuk turut membela kebenaran dibanding pencitraan kosong. Hal ini menjadikan representasi manusia sejati mempunyai gaung untuk bersuara, meski hanya “diwakilkan” oleh subjek lain. Kebiadaban sosial dapat dilihat pada larik:

Entah mengapa malam lebih takut pada
anjing-anjingan ketimbang kepada
anjing sungguhan

Jelas bahwa ruang kehidupan yang kompleks dewasa ini lebih menghormati dan menyanjung yang kosong, penuh pencitraan, dan cenderung palsu dibandingkan yang sejati. Dalam larik ini, penyair juga melemparkan kebingungannya pada pembaca dengan menyatakan ketidaktahuannya akan fenomena tersebut. Sebuah kritik terhadap realitas sosial yang terbalik, di mana kekosongan dan bualan lebih dihargai dan dihormati. Figur manusia sejati tidak bisa mengambil bagian sebab terlalu banyak kekosongan yang disegani sehingga orang yang sejatinya berjuang dan bekerja keras justru diabaikan.

Kemudian konflik mulai dimunculkan di sini. Melalui pemodelan konflik dengan gaya dialog, nuansa perdebatan yang berusaha ditampilkan penyair terasa lebih realis dan emosional. Penyair seakan melimpahkan seluruh gaya intonasi penceritaan dalam larik ini kepada pembaca agar dapat mengekspresikan ketegangan masing-masing.

…sehingga anjing sungguhan 
cemburu: “Aku yang capek menjaga rumah ini,
kau yang lebih ditakuti. Dasar anjing!”

Tampak pada potongan tersebut terdapat nada sinisme yang mengandung kecemburuan sosial dari anjing sungguhan atau manusia sejati. Strategi sindiran yang digunakan penyair berhasil menyampaikan kritik yang mengejek secara terang-terangan. Di sini juga terlihat bahwa penyair tampak berusaha menyatakan kekecewaannya pada kemunafikan sosial yang terjadi, meski harus mengatasnamakan anjing sungguhan. Meski demikian, gaya dialog seperti ini boleh dikatakan ampuh untuk mengungkapkan kritik terhadap objek dengan lebih lugas dan langsung.

Kemudian strategi sindiran lainnya yang tampak pada potongan larik di atas ialah sarkasme: dasar anjing! Tampak bahwa sindiran ini tidak lagi mengindahkan norma kesantunan untuk melontarkan hinaan dan merendahkan yang lain. Kelugasan bahasa yang digunakan pada umpatan tersebut justru menjadikannya sebagai sarkasme tanpa perlu menggunakan kata kiasan untuk menyampaikan maksud. Alih-alih memutarbalikkan makna, sarkarsme menggunakan konstruksi yang sebenarnya. Kesatuan pada potongan kutipan di atas ialah perkara perdebatan antara dua sisi realitas sosial yang saling mencoba mempertahankan eksistensinya: si anjing-anjingan yang terus berlaku fiktif dan manipulatif namun tetap disegani, sementara si anjing sungguhan yang bersusah payah menuntut hak yang sama sebagai sesuatu yang sejati. Dari sini, dapat dimaknai bahwa manusia bisa lebih anjing daripada anjing.

Puisi “Anjing” berhasil menyentil sisi tergelap dan terbobrok dari sistem pengkastaan yang hanya berdasar pada konstruksi sosial semata. Kubu yang pandai menjilat, membungkuk-bungkuk, dan merangkak-rangkak justru mendapat pengakuan yang lebih tinggi, sementara kubu yang bersikap apa adanya, objektif, dan melawan (hal yang cenderung tidak disenangi oleh kubu-kubu mayor) justru tersisihkan dan dicap negatif. Sebuah ketimpangan sosial yang sangat ironis, di mana yang sejati justru tidak mendapat kedudukan dan label baik di ruang publik. Kebobrokan sistem yang seperti inilah yang berusaha dijadikan nyawa penceritaan oleh penyair. Dengan menukil konflik sosial yang faktual (atau bahkan aktual), bukan tidak mungkin akan ada banyak pihak yang merasa kebakaran jenggot dan gerah hati menanggapi puisi ini. Tapi, sebagaimana misi semua karya sastra yang utile (mendidik), pemaknaan terhadap puisi ini diharapkan menjadi katarsis atau penyucian jiwa. Jika pun ada kubu-kubu yang kebakaran jenggot, maka misi karya sastra tersebut telah berhasil tersampaikan.

Sepenuhnya diyakini bahwa pengadopsian isu ini bukan untuk menegangkan atau mengadu domba kubu-kubu yang disebutkan, melainkan sebagai sindiran keras terhadap sistem mengotak-ngotakkan yang cenderung mendewakan anjing-anjingan yang fiktif dan manipulatif. Jika selamanya sistem seperti ini dibiarkan, maka bisa dipastikan tidak akan ada lagi ruang untuk kebajikan.

Pada bait terakhir, puncak ketegangan telah sampai pada klimaks. Dengan menghadirkan sudut pandang orang ketiga serba tahu, narasi penceritaan dibuat seolah sedang menyaksikan pertarungan antara dua realitas sosial yang berbeda, yang sama-sama ingin mempertahankan eksistensinya. Di sini, penyair tampak gelisah menyaksikan konflik batin itu:

Aku sering terbangun dari tidurku
mendengar dua ekor anjing bertengkar hebat
di depan pintu.

Diksi pintu dapat dimaknai sebagai ambang batas antara luar dan dalam, yang dekat dengan titik di mana subjek diceritakan. Hal ini menyiratkan bahwa pertarungan dua realitas itu lekat dengan kehidupan sehari-hari, dan sangat mungkin terjadi di sekitar kita. Frasa di depan pintu dimaknai bahwa pertarungan itu sudah lumrah terjadi, dan boleh dikatakan dapat terjadi di mana saja (cenderung tak tahu tempat dan sikon). Hal ini mengindikasikan bahwa kecemburuan sosial itu dapat menjadi bom waktu yang dapat meledak kapan dan di mana pun, tergantung seberapa intens kemunafikan sosial itu terjadi. Dipahami pula bahwa pertentangan itu datang dari anjing sungguhan yang merasa selalu dianaktirikan, mendapat ketidakadilan, dan selalu diperlakukan berbeda.

Sebagaimana kedua sisi kehidupan yang ingin selalu eksis, anjing sungguhan dan anjing-anjingan pun ingin eksis: dengan mencari afirmasi dan validasi, misalnya. Namun bedanya, eksistensi anjing-anjingan harus dipertahankan dengan menjatuhkan sebagian yang lain, sementara anjing sungguhan hanya menjadi kubu minoritas dalam praktik penindasan oleh kubu-kubu mayor. Sebab, seberapa vokalnya mereka memberontak sebagai kubu minoritas, anjing sungguhan juga akan mencapai titik jenuh dan frustasi meladeni “simbolisme kekuasaan” yang sejatinya “kosong”. Adu verbal yang digambarkan pada larik ini sebenarnya merupakan tindakan yang sia-sia—namun sesekali diperlukan agar menjadi sebuah gertakan—sebab simbol kekuasaan yang kosong tidak akan kalah hanya karena gertakan. Itulah mengapa:

Dari suaranya aku tahu
bahwa anjing sungguhan makin lama
makin frustrasi.

Pada bait terakhir, penyair seolah membagi perenungannya kepada pembaca. Narasi yang dibangun sejak awal seakan dipertentangkan dan dipertanyakannya sendiri dengan nada memvalidasi bahwa anjing-anjingan bisa lebih anjing daripada anjing sungguhan. Hal itu benar, sebab jika berkiblat pada konflik di atas, maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa simbol kekuasaan yang kosong itu bisa lebih anjing daripada anjing itu sendiri. Bagaimana tidak? Citra yang kosong, bobrok, manipulatif, dan fiktif kiranya cukup menegaskan kalau mereka lebih anjing daripada anjing. Hal yang semacam inilah yang kemudian berusaha diperjelas oleh penyair lewat larik:

Aku baru sadar, anjing-anjingan
bisa lebih anjing dari anjing sungguhan.

Utamanya, larik ini seolah menegaskan semua rentetan konflik pada larik-larik sebelumnya. Rentetan konflik yang dinarasikan hingga berlarik-larik, disimpulkan menjadi satu kalimat yang mampat namun sarat akan makna. Dengan begitu, pemaknaan anjing-anjingan bisa lebih anjing dari anjing sungguhan telah sepenuhnya mewakili keseluruhan isi puisi. Dari narasi ini, dapat dipahami bahwa penyair memvalidasi fenomena ketimpangan sosial yang terjadi di sekitarnya, yakni yang diam dan pasif bisa saja lebih dingin dan membahayakan secara moral dibandingkan yang bekerja keras namun sering tersisihkan dari atensi masyarakat. Hal ini tentu merupakan sindiran terhadap kemunafikan, kebobrokan kekuasaan, dan kepalsuan moral.

Selain menampilkan sindiran yang tajam, puisi ini juga sekaligus memberikan penawarnya. Alih-alih egoistis dan berapi-api, penyair justru memberikan resolusi yang bijak. Meski tidak secara terang-terangan, resolusi itu dapat menjadi bahan berpikir yang manis.

Tapi kalau tak ada anjing sungguhan,
anjing-anjingan pasti sangat kesepian.

Larik ini bisa kita analogikan pada hal-hal konkret di sekitar. Misalnya, jika semua orang berkelakuan baik, maka aparat dan penegak hukum akan kehilangan esensinya dalam memberantas pelanggaran. Atau sesederhana tanpa godaan, kita mustahil mengerti hakikat iman. Begitupun hal ini, tanpa kejahatan, tidak akan ada ruang untuk kebaikan. Jika semua orang berkelakuan baik, maka tidak akan ada yang menguji ambang dan kadar kebajikan orang-orang baik. Untuk itulah diberikan ruang pada setiap keburukan agar kebaikan tidak kehilangan esensinya. Keduanya berjalin-kelindan membentuk satu poros kehidupan yang berkausalitas: pasti akan ada kejahatan di setiap kebaikan dan pasti akan ada kebaikan di setiap kejahatan. Itulah yang kemudian disebut nekrofilia dan biofilia, yakni harmonisasi antara yang merekonstruksi dan yang mendekonstruksi.

Analogi inilah yang kemudian menjiwai larik tersebut. Bahwa anjing-anjingan tidak akan berarti apa-apa jika tidak ada anjing sungguhan. Manusia sejati akan selamanya menjadi target empuk bagi manusia manipulatif untuk direndahkan dan didiskreditkan. Mengapa demikian? Jika manusia manipulatif mendiskreditkan sesamanya, tentu mustahil sebab keduanya akan merasa paling tinggi dan jelas bertabrakan. Lain halnya dengan manusia sejati. Manusia sejati cenderung mengalah untuk menghindari konflik yang tidak perlu, dan utamanya untuk tujuan kedamaian batin-psikologis. Maka dari itu, sifat “pemaaf” inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh anjing-anjingan untuk menunjukkan kekuasaannya, yakni pada kubu yang lemah. Lebih dari itu, citra dan status tidak akan berhasil eksis jika tidak ada realitas sejati yang menopangnya. Dunia simbol tidak akan bermakna apa-apa tanpa kenyataan. 

Sementara dari sudut pandang anjing sungguhan, hal yang demikian juga bertautan, sebab telah menjadi misi moral untuk menentang kejahatan tanpa merespons dengan hal yang sama. Bagi kubu ini, diam bukan berarti pasif, melainkan membiarkan kejahatan menemui kehancurannya sendiri lewat tindak-tanduk yang diperbuatnya. Jika anjing sungguhan merespons semua yang dilabelkan, lantas apa bedanya anjing sungguhan dengan anjing-anjingan? Keduanya ada sebagai simbol antara dua sisi realitas manusia yang bersinggungan, dan bisa saja bertabrakan. Pembedanya terletak pada respons yang dilakukan. Dengan demikian, antara yang nyata dan yang palsu akan saling bergantung menjalin hubungan kausalitas yang saling “ada” dan “meniadakan” sebab dunia tidak bisa sepenuhnya hitam atau putih saja.

Kemudian untuk menutup puisinya, penyair menggunakan model reflektif atau perenungan yang dalam konstruksi larik ini menggunakan gaya retoris. Gaya ini digunakan untuk memberikan pertanyaan tanpa harus mendapat jawaban sebab jawaban yang diharapkan pun belum tentu didapat.

Bisakah kalian berdamai, hai anjing-anjingku?

Alhasil, merupakan sebuah langkah cerdik dari seorang penyair ketika melempar kebimbangan atau ketidaktahuan pribadinya kepada pembaca agar bersama-sama melakukan refleksi sebagai langkah berbenah diri. Sebuah ajakan untuk menyatukan dua sisi agar dapat hidup lebih seimbang dan manusiawi, sebab bisa jadi kedua simbol yang menjadi isu cerita ini dapat tinggal dan berakar di kepribadian masing-masing. Larik ini juga membawa misi agar manusia dapat berdamai dengan dua sisi realitas sosial yang ada: yang jujur dengan yang manipulatif, dan yang nyata dengan yang fiktif. Lebih luas lagi, larik ini juga merupakan seruan bagi siapa saja di dunia agar berhenti menilai berdasarkan citra saja, sebab yang ditampilkan bisa saja berlainan dengan realitas aslinya. Bisa dibayangkan jika sistem kehidupan ditopang dengan seleksi alam yang tidak objektif. Sungguh kacau.

Melalui perumpamaan dua anjing sebagai representasi dari dua sisi moralitas manusia, puisi ini telah berhasil mengecam kebobrokan sistem lewat permainan kata yang sepenuhnya apik. Strategi sindiran yang digunakan juga sesuai porsi dan sudah sebagaimana mestinya: tidak ada yang dilebih-lebihkan (sebab memang sudah sebobrok itu), dan juga tidak ada yang dikurang-kurangkan (sebab memang sudah demikian adanya). Puisi ini seakan menertawakan sistem dunia yang lebih menghormati citra daripada yang nyata, yang lebih mendewakan penjilat daripada yang apa adanya. Lewat metafora yang bisa dibilang unik ini, penyair menyingkap ironi kehidupan: bahwa dunia lebih takut pada yang diam (simbol) daripada yang bekerja (realitas). Dunia berpikir bahwa yang diam itu lebih berdampak dibandingkan yang bekerja. Namun bijaknya, penyair tidak menyangkal salah satunya, juga tidak mempertentangkan, tetapi mempertanyakan sekaligus mengajak keduanya untuk saling berdamai dan menciptakan atmosfer kehidupan yang harmonis.

Choirul Anam adalah pemuda asal Sampang yang memilih keluar dari tradisi keluarganya yang numerik.

Editor: Ikrar Izzul Haq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *