Tak ada yang lebih sial daripada 84 hari melaut tanpa hasil. Kebanyakan orang tentu bakal frustrasi dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri soal apa yang ia kerjakan. Akan tetapi, bagi Santiago, setiap fajar adalah kehidupan baru dengan kemungkinan yang baru pula. Maka, keesokan harinya, pak tua itu kembali melaut seolah nasib sial tak pernah menghantuinya—padahal ia masih terus di sana, mengintai diam-diam dari bawah permukaan.
Apa yang Santiago lakukan pada hari ke-85 menjadi jantung cerita The Old Man and the Sea karya Ernest Hemingway. Bukan perkara kegigihan semata, barangkali novela itu juga punya muatan spiritual—sebagaimana tercermin dari diri seorang lelaki tua yang, walau terkucil serta telah dikhianati tubuhnya sendiri, terus menjalani takdir dengan martabat penuh.
Tak mengherankan kalau dalam waktu singkat si karya dan juga penulisnya diganjar penghargaan bergengsi: Pulitzer pada 1952 dan Nobel dua tahun setelahnya. William Faulkner, penulis Amerika masa itu bahkan menyebut kisah lelaki tua dan laut Hemingway sebagai karya terbaik sang pengarang. “Kali ini, dia menemukan Tuhan,” komentar Faulkner.
Sekilas, catatan Faulkner mungkin terdengar berlebihan. The Old Man and the Sea tidak seperti Life of Pi yang memang bicara soal iman. Santiago sendiri mengatakan kalau ia bukan pribadi yang religius. Lantas apa yang membuat Faulkner berpendapat demikian? Apa yang tersirat dari sosok Santiago dan pertarungannya melawan ikan-ikan besar?
Pertama, kita bisa curiga kalau karakter Santiago tak lain adalah cerminan pribadi ideal seorang pria versi Hemingway; seseorang yang ia ingin jadi seperti—kukuh, punya harga diri tinggi, menolak kalah meski telah hancur berkeping-keping.
Akan tetapi, menjadi tokoh ideal di luar halaman-halaman fiksi jelas bukan perkara gampang. Takdir, bagaimanapun, tak pernah bisa dibaca dan tak semua orang bisa tahan menanggung derita. Bertahun-tahun setelah karyanya terbit dan namanya masyhur, Hemingway malah mengakhiri hidupnya.
Namun Santiago, bagaimanapun, bukanlah Hemingway. Penderitaan yang dialaminya sepanjang narasi, ia sambut dengan penuh keberanian. Padahal, tidak hanya keberuntungan yang menjauh dari Santiago, tapi juga kepercayaan diri. Di tengah laut, semesta menguji si pria tua nyaris hingga batas kemampuannya.
Syahdan, laut pun jadi arena eksistensial bagi Santiago—sebuah tempat pembuktian bahwa dirinya masih ada. Laut menarik si pria tua jauh dari daratan, dari hiruk pikuk peradaban. Di sana, dia tak bertemu siapa-siapa selain kawanan ikan, burung laut, dan lumba-lumba—yang sesekali dia ajak ngobrol seolah makhluk-makhluk itu paham bahasa manusia. Selebihnya, Santiago berbicara pada dirinya sendiri dan larut dalam momen kontemplatif—merenungkan banyak hal yang mungkin tak terbayang sebelumnya.
Situasi yang melanda Santiago mengingatkan kita pada para pertapa atau nabi yang menjauh dari ingar bingar dunia demi satu kesadaran baru. Keterasingan menghubungkan pak tua itu dengan kosmos—dengan realitas yang lebih besar dari dirinya. Oleh karena itu, bagi dia, alam tak tampil sebagai objek belaka, tapi juga subjek yang patut dihormati.
Santiago menyebut laut sebagai “la mar”, sebutan feminin yang dalam bahasa Spanyol untuk samudra—layaknya ia adalah seorang kekasih. Bagi dia, segara tak ubahnya seorang perempuan: gerak-geriknya bergantung pada siklus bulan. Selain itu, dia juga menganggap ikan sebagai saudara. “Mereka saling bermain, bercanda, dan bercinta. Seperti ikan terbang, mereka adalah saudara kita,” pikir pak tua itu tatkala melihat dua ekor lumba-lumba mendekati sisi sampan kecilnya. Bahkan, ia menaruh hormat dan iba pada ikan todak yang menggigit kailnya.
Logika macam itu mengingatkan kita pada konsep participation mystique yang ditawarkan antropologi, yakni saat manusia belum melihat dirinya sebagai entitas terpisah dari unsur kosmik lainnya. Santiago yang hidup di dunia modern kembali merasakan kekuatan primordial itu tatkala menyadari kalau dirinya cuma noktah kecil di tengah samudra.
Mungkin, di titik inilah komentar Faulkner mulai masuk akal. Apa yang dialami Santiago di tengah segara tak sekadar upaya bertahan hidup, tapi juga pengalaman yang nyaris spiritual; sebuah perasaan yang hanya muncul tatkala seorang manusia berhadapan dengan realitas yang lebih agung dari dirinya. Lautan pun bisa ditafsir sebagai ruang spiritual, jauh dari zona profan di daratan. Namun, momen sakral seperti itu bukan tanpa ujian—ia penuh penderitaan. Dari kedalaman samudra, ikan todak datang untuk menguji sampai mana kesungguhan pak tua itu; relakah ia mati demi tujuannya?
Dan Santiago menerima tantangan itu. Ya, dia rela mempertaruhkan segalanya walau mesti menahan sakit. “Wahai, Ikan. Aku akan tetap bersamamu sampai mati,” kata pak tua itu lembut; seolah tali pancing menautkan nasib keduanya. Bagaimanapun, ikan itu adalah tujuan yang mesti ia bawa pulang—bukan demi validasi orang lain, melainkan demi dirinya sendiri. Sayangnya, nasib berkehendak lain.
Jika sang marlin merupakan satu-satunya tujuan yang mesti diraih, kawanan hiu yang menggerogotinya di tengah jalan adalah kehendak lain sang takdir. Rahang-rahang yang lapar itu tak hanya menggerogoti buruan Santiago, tapi juga jiwa si pak tua. Hasil kerja kerasnya seolah sia-sia. Ikan marlin yang ia ikat di samping perahu tinggal kerangka belaka. Di sinilah ujian sebenarnya dimulai. Ketika tak ada lagi yang tersisa, masihkah seorang manusia sanggup bertahan?
Seorang lelaki boleh hancur lebur, tapi ia tak bisa dikalahkan. Frasa tersebut merupakan kalimat paling ikonis dari The Old Man and the Sea. Sejenak, kata-kata itu seperti penghibur belaka bagi kekalahan yang tak terelakkan. Akan tetapi, ia memaksa kita mempertanyakan kembali perkara mana yang lebih penting antara hasil dan proses.
Penderitaan adalah sesuatu keniscayaan bagi umat manusia. Dalam situasi krisis, seseorang dipaksa memilih sikap—menerima dan terus maju, menjadi gila, atau malah mengakhiri hidup. Santiago yang dihancurkan oleh kawanan tiburon, memilih untuk melawan sampai tak ada lagi yang bisa ia lakukan. “Ambil itu, galanos. Dan bermimpilah bahwa kau sudah memakan seorang lelaki!” katanya seraya meludah ke laut. Tak ada dendam, tak ada kegilaan, Santiago terus berlayar pulang membawa kerangka—ia belum benar-benar kalah.
Santiago memang pulang tanpa hasil, tapi ia berhasil melalui proses penderitaan berat yang nyaris membunuhnya. Kita tahu, bagi manusia penderitaan tak pernah benar-benar kosong. Alih-alih, ia mesti diisi dengan makna. Sebab, hanya dengan cara demikian ia dapat diterima. Tanpa arti apa-apa, penderitaan bakal absurd dan tak tertahankan. Lantas, apa makna penderitaan Santiago? Entahlah, barangkali cuma pria tua itu yang tahu. Akan tetapi, mungkin kita bisa membacanya lewat apa yang ia lihat dalam tidurnya.
Berkali-kali Santiago bermimpi tentang sekelompok singa yang bermain di tepi pantai—sebuah memori dari perjalanannya di Afrika sewaktu muda. Binatang buas itu, dalam mimpi Santiago, tak tampak seram. Alih-alih, mereka bermain-main bak anak kucing. Pak tua itu selalu senang jika dia memimpikan mereka.
Kita bisa curiga kalau citra imajiner tersebut merupakan sesuatu yang tak pernah sungguh-sungguh hilang dalam diri Santiago. Singa acap menjadi simbol vitalitas, kejayaan, kekuatan yang memungkinkan orang menjalani hidup dengan gagah berani. Namun, singa-singa itu bermain seperti anak kucing. Bisa jadi, mereka adalah manifestasi kerinduan si pria tua akan masa muda yang sudah jauh terlewat. Bagaimanapun, singa itu ada di sana—di dalam jiwa Santiago tua.
Sepertinya, itulah yang dia coba buktikan; bukan kemenangan, melainkan sesuatu yang masih hidup dalam dirinya. Dan mungkin memang seperti itulah dia: seekor singa yang menolak kalah dengan mudah. Bahkan ketika nasib buruk mengoyaknya habis-habisan, ia masih sanggup bertahan. Sama seperti orang-orang tua yang masih giat bekerja walau hasil tampak tidak sepadan, seakan hanya dengan bekerja mereka menegaskan eksistensinya—aku bekerja maka aku ada.
Asief Abdi adalah seorang naturalis dan penulis buku Hikayat Mitobotani (2025).
Editor: Ikrar Izzul Haq
Foto: Ikrar Izzul Haq



