Mengoreksi tugas sering kali jadi bagian paling melelahkan dari mengajar. Kegiatan ini tidak hanya menguras waktu, tapi juga tenaga dan bahkan emosi. Hitunglah jumlah kelas dikalikan jumlah siswa. Semakin banyak bilangannya, semakin banyak pula “pendongkrak suasana hati” yang diperlukan. Memberikan nilai tampaknya saja sederhana, padahal ada proses panjang untuk membaca tugas satu demi satu dengan sungguh-sungguh, menjaga keadilan antarsiswa, menimbang antara materi yang diajarkan dan realitas tugas yang dikumpulkan, serta keinginan untuk memberi umpan balik bermakna yang bukan sekadar angka.
Celakanya, kendati sudah diakui kerap bikin suntuk dan menjemukan, hasrat pribadi guru yang ingin karya siswa hidup lebih lama, ingin kelas punya jejak, ingin pembelajaran tidak menguap begitu saja setelah dikoreksi dan dikembalikan, berujung pada tambahan beban kerja tanpa diminta, lalu lelah tanpa bisa menyalahkan siapa-siapa sebab sumber masalahnya adalah “idealisme” sendiri.
Belakangan ini, saya sedang sibuk mengatak kumpulan tugas siswa untuk membuatnya menjadi semacam “album tanaman”. Pada materi berita dengan pembelajaran mengumpulkan informasi, saya meminta siswa mengamati lingkungan sekitar. Fokus saya sederhana, tetapi sering luput dari perhatian: tanaman yang hidup di taman sekolah tanpa pernah benar-benar kita kenali.
Isu keanekaragaman hayati, yang sedang digelisahkan anak semua bangsa di bumi manusia ini, saya pikir layak diketengahkan dalam pembelajaran.
Di mana sebenarnya kita harus mencari keanekaragaman hayati? Apakah kita mesti pergi jauh ke kebun raya? Lalu, seperti apakah kebun raya yang ideal itu?
Bayangan saya tentang kebun raya selalu kembali pada kisah hutan samida yang dibangun Sri Baduga Maharaja Sunda Galuh, yang kemudian menjadi cikal bakal Kebun Raya Bogor, yang berkembang pesat pada masa kolonial di bawah kendali Thomas Stamford Raffles. Di sana, berbagai jenis tumbuhan dari beragam penjuru dikumpulkan, ditanam, dirawat, dan diberi nama. Sebuah pusat pengetahuan botani yang rapi, teratur, dan ilmiah. Namun pertanyaannya kemudian, di mana saya bisa menemukan kebun raya semacam itu di belantara Sumatra hari ini?
Saya hidup di kota kecil, di antara tebing dan lembah, di antara sungai dan lubuk, di antara hutan dan kebun. Di tempat seperti ini, batang-batang tumbuhan kini berebut ruang dengan batang-batang beton yang makin masif ditanam. Alam tak lagi menjadi rujukan utama pengetahuan, tapi latar belakang yang pelan-pelan dilupakan.
Dari situ saya membayangkan, bagaimana jika sekolah menjadi kebun raya (versi kecil)? Tempat tumbuhan khas tempatan dikumpulkan, dikenali, dan dirawat. Tempat masyarakat bertemu dan belajar. Tempat siswa tumbuh sebagai manusia yang hidup di dalam ekosistem.
Saya pernah tinggal di dua tempat yang namanya berasal dari tumbuhan. Di Plaju, sebuah kawasan yang lebih dikenal sebagai kilang minyak yang direbut Jepang pada 1942, nama tempat itu konon berasal dari sejenis rumput yang dahulu tumbuh di sepanjang aliran sungai: pelajau (Pentaspadon velutinus Hook.f.). Tumbuhan itu kini tak lagi bisa ditemui di tempat asalnya.
Begitu pula dengan Lubuklinggau. Setelah ditelusuri, nama kota ini dipercaya berasal dari sejenis umbi-umbian leng-kao atau lingge yang dahulu banyak tumbuh di wilayah tersebut. Itu dulu. Kini kita bahkan tak bisa lagi menunjuk tanah mana yang pernah menyimpan lingge. Nama tinggal nama, terlepas dari tubuh alam yang melahirkannya.
Malapetaka paling besar, barangkali, adalah nama pulau ini sendiri, Sumatra, yang dahulu disebut Andalas. Nama itu berutang pada pohon besar menjulang, pohon andalas (Morus macroura), kayu yang dikenal sangat kuat, bahkan lebih kuat dari jati, dan digunakan sebagai tiang utama rumah gadang Minangkabau. Ironisnya, pohon yang memberi nama pada pulau ini kini nyaris tak dikenal oleh penduduknya. Kita mengucap namanya tanpa pernah terbayangkan wujudnya.
Ingatan saya tentang tumbuhan di sekolah dimulai sejak kecil. Setiap tahun, saya diminta membawa tanaman dari rumah untuk ditanam di sekolah dasar. Tanaman yang saya bawa macam-macam, seperti suplir, sri gading, cocor bebek, lidah buaya, lidah mertua, apa saja yang tumbuh di pekarangan. Kadang saya diminta membawa tanah bakar, tanah sisa pembakaran daun yang sudah menjadi kompos dan biasa dijual dalam karung.
Pernah suatu kali saya lupa menyiapkannya. Tengah malam baru teringat. Terpaksa saya menciduk-ciduk tanah bekas pembakaran sampah di dekat rumah. Agak memalukan, tapi begitulah cara kami belajar mencintai tanaman, dengan cara yang seadanya.
Di sekolah dasar, ada kebun tanaman obat keluarga (toga) yang mungil tetapi tertata rapi. Serai, jahe, kencur, temulawak, kunyit, lengkuas, lidah buaya, jeruk nipis, daun sirih, brotowali, kumis kucing, sambiloto, daun salam, daun mint, daun betadin, semuanya tumbuh dan dimanfaatkan. Guru dan siswa memetiknya saat diperlukan. Tumbuhan bukan hiasan, melainkan bagian dari hidup sehari-hari.
Di sekolah menengah atas, pengalaman saya berbeda. Pohon-pohon diberi papan nama, papan putih dengan tulisan bercat hitam yang dipakukan ke batangnya. Dari situlah saya mengenal nama-nama sebelum pelajaran Biologi memaksa saya menghafalnya. Salah satu yang paling saya ingat adalah papan Ficus benjamina, beringin dengan tajuk besar, akar menjuntai, dan daun yang tak pernah berhenti gugur. Siswa yang mendapat hukuman menyapu halaman pasti akan berhadapan dengan kemustahilan, sebab halaman itu tak akan pernah benar-benar bersih.
Pohon itu kami anggap angker. Konon, ia sudah ada bahkan sebelum sekolah berdiri. Kawasan itu disebut-sebut sebagai bekas benteng pertahanan dari masa kesultanan hingga masa pendudukan Jepang. Beberapa kali pohon itu hendak ditebang karena membuat kelas lembap dan atap rusak, tetapi selalu gagal. Rencana itu akhirnya tak pernah lagi terpikirkan.
Bertahun-tahun kemudian, saya mendengar pohon itu roboh karena disambar petir. Hilanglah guguran abadi daun dari lapangan kami. Ruang menjadi lapang, tetapi ada sesuatu yang terasa ikut tumbang, papan nama Ficus benjamina itu. Sejak saat itu, satu pengetahuan ikut hilang bersamanya.
Kini, di sekolah tempat saya mengajar, hanya beberapa tanaman populer yang diketahui siswa. Selebihnya berdiri tanpa dikenal namanya. Saat memotret untuk album, saya meminta siswa memilih objek berbeda. Tetap saja ada puluhan foto tanaman yang sama. Saya minta mereka mencari lagi.
Beberapa siswa datang, menunjukkan potret, dan bertanya, “Pak, ini pohon apa?” Dari balik jendela kelas, saya memandang pohon itu, batangnya besar, kokoh, daun lebar mengilap, tapi belum berbuah. Saya ragu. Jambu air? Jambu bol? Kami mencoba Google Lens. Sayang batangnya baru saja dipangkas, Google Lens pun menyerah.
Saya tahu harus bertanya kepada siapa. Tukang kebun sekolah. Ia tersenyum dan menjawab singkat, “Alpukat.”
Saya tertawa. Di kelas pun saya tertawa ketika menceritakannya. Betapa bodohnya warga kota yang dikenal sebagai penghasil alpukat, tetapi tak mampu mengenali pohonnya sendiri.
Dari situlah album tanaman menjadi penting. Dengan mengumpulkan gambar, mendeskripsikan bentuk, mencari nama, dan mencatat manfaatnya, siswa belajar bahwa tumbuhan bukan sekadar latar. Ia adalah pengetahuan, sejarah, dan sumber kehidupan.
Memang dalam pembelajaran, idealisme itu tidak selalu tiba di tangan guru dalam rupa yang diangankan. Sebagian tugas dikumpulkan asal-asalan. Fotonya buram, diambil sekadarnya, tanpa upaya menemukan sudut pandang terbaik. Deskripsinya tidak sungguh-sungguh berangkat dari apa yang dipotret. Bahkan ada yang menyalin bulat-bulat informasi dari Wikipedia atau hasil jawaban ChatGPT, lengkap dengan sisa dialog yang lupa dihapus, “Jika mau, aku juga bisa …. Tinggal bilang berikutnya.” Kendati demikian, ada pula hasil tugas yang menakjubkan, lahir dari siswa yang tak pernah diperhitungkan sebelumnya, dan dari sanalah kegembiraan mulai berkecambah.
Beberapa rekan guru setiap pagi memanen bunga telang di taman sekolah. Di atas meja kantor, bunga ungu itu diseduh menjadi minuman herbal. Taman sekolah tak lagi sekadar indah, tetapi berguna. Syukur-syukur, suatu hari ia benar-benar menjadi kebun raya (versi kecil), menghimpun varietas unggulan daerah, menyimpan nama, dan merawat ingatan. Jika banyak sekolah melakukannya, barangkali dari halaman-halaman kecil itulah keanekaragaman hayati bisa bertahan, tetap hidup, dan tetap punya nama. Nama yang indah, seperti alam yang melahirkannya.
Wendy Fermana mengajar dan menulis buku cerita.
Editor: Ikrar Izzul Haq
Foto: Ikrar Izzul Haq



