Esai Budaya

Toko Kelontong, Obsesi dan Trauma

Sebagai pemuda yang terbawa arus budaya setempat (Sumenep, Madura), saya sempat bermukim di Jakarta, Bogor, Depok, dan Tangerang (Jabodeta). Di empat kota tersebut saya tinggal selama tiga sampai lima bulan, bahkan di Tangerang hampir satu tahun. Istikamah menjadi bakul toko kelontong, dari milik juragan yang satu ke milik juragan yang lain, ada banyak wajah pelanggan yang kekal di tubir ingatan. Sebagian di antara mereka, masih saya ingat namanya sampai sekarang, meski momentum itu sudah sekian tahun berlalu.

Sebenarnya saya tergolong spesies yang tidak betah berlama-lama tinggal di luar kampung halaman. Andai saja ada lapangan kerja yang cukup menjanjikan di Sumenep dan tanpa syarat memperlihatkan ijazah SMA (karena saya cuma tamatan SMP), tentu saya bakal lebih memilih tidak beranjak ke mana-mana dalam jangka yang relatif panjang. Dengan kata lain, merantau hanyalah seremoni kekalahan bagi saya.

Tidak ada obat mujarab bagi orang yang psikenya menolak keras berada di suatu tempat tertentu. Setidaknya itulah yang terjadi pada diri saya. Ada saja alasan yang melatarbelakangi ketidakbetahan saya di tanah seberang. Yang paling tak bisa ditoleransi adalah kerinduan saya pada kucing(-kucing) peliharaan saya di rumah. Selain itu, perjalanan pulang-pergi yang memaksa saya harus mengurung diri di dalam tubuh bus selama tak kurang dari 20 jam, membuat saya seperti mengalami siksa kubur.

Di dalam bus yang memeras jiwa-raga saya, waktu berjalan begitu lamban. Terutama ketika dalam perjalanan pergi. Seakan-akan tangan kampung halaman mencoba menahan laju bus, tetapi di saat yang bersamaan tangan kota tujuan menarik bus jauh lebih kuat. Dalam situasi itulah saya benci bunyi dering ponsel, obrolan penumpang lain, lagu lawas dari pelantang, di samping mengidap trauma akut terhadap bau bus dan udara buruk AC.

Sial, dalam kehidupan sehari-hari pun saya tidak bisa sepenuhnya menghindar dari hawa jail AC. Itu sebabnya saya selalu ingin buru-buru keluar ketika masuk swalayan atau ruang ATM, misalnya. Di lain perkara, selera menonton saya terganggu selama duduk di bangku bioskop. Sebagai antisipasi agar mood tetap terjaga, sekali waktu saya pernah memakai helm sepanjang menikmati film layar lebar. Saya tidak tahu dan memang tidak mau tahu reaksi penonton lain tatkala melihat gelagat saya. Tapi yang jelas, keputusan agak laen itu saya pastikan hanya terjadi sekali seumur hidup.

Lantas, apakah alergi saya pada bau bus dan udara buruk AC membuat saya menyerah begitu saja? Tidak.

Di bawah obsesi kesuksesan yang dibentuk oleh hegemoni keduniawian lingkungan sekitar, trauma sebatas trauma. Ia sama tak berdayanya dengan pikiran saya setiap membayangkan apa itu “sukses”. Saya merantau lagi bersama istri. Kali ini perjalanan kami sedikit lebih mujur. Pertama, kami hendak membuka usaha toko kelontong sendiri walau separuh modalnya masih hasil ngutang. Itu artinya, tidak akan ada lagi aturan dan pertanyaan ini-itu dari seorang juragan yang sering kali bikin kami risi. Kedua, tempat yang kami tuju tak lain adalah kota yang sejak dulu saya impikan: Yogyakarta.

Di benak saya, ada banyak gambaran sugestif tentang Yogya yang menggoda untuk dinikmati secara langsung. Bersua dengan para sastrawan Yogya merupakan satu di antara rimbun bayangan itu. Dan alhamdulillah teramini. Dua tahun lebih ngelontong di Kota Gudeg itu, saya juga dapat mencicipi menu angkringan dan warung burjo, sempat memandang rupa asli Tugu Yogya, bangunan purba di Titik Nol KM, pesona Gunung Merapi, Malioboro, Candi Prambanan, Situs Ratu Boko, Hutan Pinus Pengger, serta satu lanskap ajaib: sawah-sawah ditumbuhi kafe!

Pun saya dapat mendengar langsung getaran bahasa, dialek dan gaya tutur masyarakat pribumi yang amat halus dan lembut, yang saban hari berinteraksi dengan saya sebagai relasi pedagang-pembeli. Kalau di daerah Jabodeta saya kerap adu jutek dengan pelanggan yang suka songong, protes dan komplain, sebaliknya, di Bumi Bakpia saya mencitrakan diri sebagai pribadi si-paling-santun setiap kali melayani pembeli. Namun, Yogya bukan cuma soal pribuminya apalagi angkringan belaka. Dari sekian problem yang menimpa Yogya, saya sangat terusik dengan kehadiran perantau lain yang “mencemari” kelembutan Yogya yang telanjur saya sanjung.

Berbagai modus penipuan yang pernah saya alami di Jabodeta, kembali saya alami di Yogya. Lebih parah lagi, di Yogya saya mengalami sesuatu yang tidak pernah saya alami di Jabodeta dan belum pernah saya bayangkan sebelumnya, yakni pemalakan. Ini juga terjadi pada teman saya yang pernah menggantikan saya menjaga toko. Mertua saya juga mengalami aksi kekerasan kendati tidak bisa disebut sebagai pemalakan. Lantaran itulah cinta saya kepada Yogya jadi goyah. Rasa tidak kerasan merayap hingga mendorong saya mendefinisikan ulang apa itu ketenangan, kebebasan, dan kesuksesan.

Saya mulai kerap merenung, ternyata saya lebih banyak memikul ekspektasi tinggi orang lain ketimbang harapan-harapan kecil saya sendiri. Selama ini saya didikte oleh paradigma mereka tentang bagaimana cara menjemput rezeki yang paling ideal, yaitu harus ngelontong (24 jam) di perantauan. Seolah hanya dengan begitulah kesuksesan bisa dicapai. Kesuksesan seperti apa? Punya rumah megah, mobil mewah, lalu menunaikan ibadah umrah. Gaya hidup semacam itu memang lagi ngetren di kampung saya.

“Nonstop, Bang?” Itu pertanyaan yang lazim dilontarkan oleh pelanggan kepada saya. Antara bangga dan rikuh, saya selalu menjawabnya dengan senyum rasa-jeruk-peras, “Iya, Bang.”

“Wah, orang Madura mah hebat-hebat.” Itu pernyataan yang tak kalah galibnya saya dengar. Alih-alih meladeninya secara serius, saya malah cengengesan sambil membatin, “Seandainya dia tahu kalau saya sering ketiduran di atas kursi.”

Bahlul. Selama ini saya cuma pontang-panting demi apa-apa yang mesti saya raih tanpa menyadari apa saja yang telah tercuri. Saya kehilangan “kebahagiaan” versi saya. Kebahagiaan itu meliputi kebersamaan saya dengan orang tua dan kucing, kenikmatan akan suasana kampung halaman, kehadiran saya di setiap acara penting atau kebutuhan krusial keluarga maupun kerabat, keterlibatan saya dalam berkomunitas, dan hal-hal lain yang tidak akan pernah saya dapatkan di rantau. Kesadaran tersebut pada akhirnya mengantarkan saya pada sebuah keputusan bulat: saya menjual toko dan angkat kaki dari Yogya.

Sejak saat itu saya tidak tertarik untuk merantau lagi. Cukuplah Yogya menjadi kota terakhir yang mengikat saya dalam hubungan “kawin kontrak”. Saya ingin mengukuhkan diri sebagai Madurawan sejati. Akan tetapi, saya belum menemukan mata pencarian yang tepat selain ngelontong. Karenanya saya tetap menjalankan aktivitas perkelontongan di Sumenep meskipun rada-rada bosan. Toh yang penting, saya sudah menemukan kembali unsur-unsur kebahagiaan yang sempat raib.

Walau demikian, Tuhan menguji kesabaran saya dengan cara yang lain. Apa yang saya alami persis nukilan puisi M. Aan Mansyur: nasib baik cuma mampir dari hampir ke hampir. Memangnya, siapa yang bisa sepenuhnya lepas dari ujian? Hidup yang tidak diuji tidak layak dijalani, petuah Mbah Socrates.

Buka usaha di Sumenep—yang notabene kota kecil sekaligus kabupaten termiskin ketiga di Jawa Timur menurut data BPS tahun 2024—ternyata tak seberuntung mengundi nasib di perantauan, tentu saja jika dinilai dari segi ekonomi. Omzet toko saya sangat kecil. Untuk memenuhi kebutuhan pokok memang terbilang cukup. Hanya saja tidak berbanding lurus dengan tingginya biaya sewa ruko yang harus saya keluarkan pertahunnya.

Kenyataan pahit tersebut, tampaknya, berjalan beriringan dengan segala macam pengalaman yang berhasil saya nikmati di tanah kelahiran. Sesekali saya dan istri pulang ke rumah orang tua (atau mertua) untuk sekadar saling memastikan kesehatan masing-masing. Kadang juga menginap berhari-hari apabila ada suatu kepentingan atau ada keluarga yang sakit. Celakanya, setiap kali berpapasan dengan kerabat atau tetangga, tak jarang kami dibedili pertanyaan-pertanyaan yang membuat dada berlubang: Katanya kamu buka toko di Sumenep? Kenapa tidak di Jakarta saja? Omzetnya berapa? Nyampek tiga juta?—kemudian dipungkasi wejangan-wejangan yang sayangnya lebih terkesan sebagai kesinisan ketimbang kepedulian.

Begitulah adanya. Sejauh yang saya amati, orang-orang Sumenep—setidaknya di kampung saya dan istri—dapat dipastikan hampir tidak ada yang menolak “pemberhalaan” terhadap dunia perkelontongan di rantau. Terbukti memang, dalam kurun waktu lima belas tahun terakhir, jalan ikhtiar yang satu ini jauh lebih menjanjikan daripada mata pencaharian yang lain. Maka tak heran bila masyarakat banyak berpaling dari pekerjaan asalnya, seperti bertani, beternak, dan melaut. Acap kali saya mendengar rumor bahwa berdagang di kota besar selama satu bulan jauh lebih menguntungkan ketimbang beternak sapi satu tahun di kampung.

Sayang, kejayaan di bidang finansial membuat masyarakat agraris dan maritim itu pelan-pelan mulai tercerabut dari akar budayanya. Bagaimana tidak, tak sedikit tanah-tanah tegalan sudah berpindah ke tangan investor. Perahu-perahu juga dijual dan yang tersisa di kampung pesisir kini bisa dihitung dengan jari. Banyak rumah tak berpenghuni. Orang-orang hilir-mudik merantau secara bergantian, di mana tidak ada lagi waktu untuk menetap seutuhnya di kampung seperti dahulu.

Banjir bandang migrasi itu pun berimbas pada ranah pendidikan. Sebagaimana saya, banyak pemuda lebih memilih bekerja di luar sana daripada melanjutkan pendidikannya. Begitu pun anak-anak yang terpaksa tidak sekolah lantaran dibawa orang tuanya ke perantauan. Demi sesuap nasi, katanya. Tapi, tetap saja, mereka tak juga pulang dan menetap di rumahnya meski hidupnya sudah makmur. Malah semakin memperlebar sayap di kota orang. Barangkali benar kata Mark Manson, bahwa semakin mati-matian kita berusaha ingin kaya, kita akan merasa semakin miskin dan tidak berharga, terlepas dari seberapa besar penghasilan kita sesungguhnya.

Itulah mengapa, orang-orang di kampung saya sangat sensitif soal pekerjaan. Mereka tidak peduli kepada pemuda yang gagal dalam hal pendidikan, tetapi akan tampak risi ketika berhadapan dengan pemuda atau siapa pun yang tidak punya pekerjaan mapan. Ya, mereka memandang seseorang bukan dari segi pendidikannya ataupun kualitas kepribadiannya, melainkan dari seberapa sukses ia di bidang usahanya. Penilaian ini lantas melahirkan pertanyaan primitif: Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya bekerja kelontongan juga? Kemudian pertanyaan tersebut gayung bersambut dengan sebuah fakta di mana banyak sarjana malu-malu bekerja toko kelontong. Bahkan ada seorang teman yang cukup idealis berusaha merahasiakan pekerjaan ngelontong-nya itu dari kawan-kawan tongkrongannya.

Demikian kiranya. Manakala seseorang dihadapkan dengan tuntutan hidup atau kebutuhan yang mendesak, jangankan gengsi, idealisme pun dilabrak. Begitu pula keadaan yang menimpa diri saya. Karena satu dan lain hal, akhirnya saya gagal menjadi Madurawan sejati. Saya memutuskan kembali merantau. Dengan langkah terhuyung-huyung. Dengan jiwa yang tersandung-sandung. Terbentur, terbentur, terkapar ….


Daviatul Umam bergiat di Komunitas Damar Korong dan Malate Artspace, Sumenep.

Editor: Putri Tariza
Foto: Asief Abdi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *